A+ A A-

CINA UDIK: Lari Dari Pembantaian, Hidup Dalam Ketakutan

  • Written by  Aditya Ramadhan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Air Novi Purnama bukan sejarawan, peneliti, dan tidak pernah belajar antropologi. Namun, ia bisa bercerita soal Cina Udik di Panongan secara rinci. Ia piawai merangkai fakta yang diperoleh dari buku-buku sejarah, dan banyak menghabiskan waktu menelusuri peninggalan-peninggalan yang masih tersisa di Tangerang.


Kepada Republika, Ari Novi � demikian mantan Camat Panongan 2006/2007 dikenal masyarakatnya � mengatakan tidak mudah mengungkap sejarah Cina Udik di Panongan dan wilayah pedalaman Kabupaten Tangerang lainnya. Hampir tidak satu pun dari kalangan tua masyarakat Cina Benteng mewariskan cerita lisan tentang kedatangan nenek moyangnya ke wilayah itu.

"Pengetahuan mereka akan sejarah relatif terbatas pada kehidupan orang tua mereka, atau kakek mereka," ujar Ari Novi. "Yang mereka tahu adalah bertani, dan bertani, menjual hasil bumi jika terjadi kelebihan produksi."

25 Marga

Menurut Ari Novi, terdapat lebih 25 marga di masyarakat Cina Udik di Panongan, Tigaraksa, Legok, dan Curug. Yang terbesar, tapi bukan dominan, adalah marga `Oen'. Lainnya adalah Oey (wie), Tan, Lim, dan dan belasan lainnya.

Dibanding permukiman Cina Benteng lainnya, Panongan paling multimarga. Namun mereka tidak mengenal pemimpin marga atau klan. Bahkan, sebelum desa mereka dibagi ke dalam RT dan RW, mereka tidak mengenai pemimpin permukiman, atau kepala kampung.

Yang mereka ketahui adalah Si A pewaris rumah kongsi yang bertugas menjaga meja abu, dan berhak atas seluruh tanah leluhurnya. Atau Si B yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan marga Lien atau Oey.

Cina Udik, menurut Ari Novi, adalah fenomena. "Mereka sangat berbeda dibanding masyarakat Cina Benteng lain yang dikenal masyarakat selama ini," ujarnya.

Tidak mudah menjelaskan semua ini. Namun, menurut Ari, semua berawal dari Pemberontakan Cina 1740 di Batavia. Pemberontakan yang dipimpin Kapitan Nie Hoe Kong itu direspon secara keji oleh Gubernur Jenderal VOC Adrian Valkenier. Pada 10 Oktober 1740 terjadi pembantaian di seluruh sudut Batavia. Sebanyak 10 ribu orang tewas, ratusannya lainnya terluka.

Nie Ho Kong memimpin pelarian ke Jawa Tengah, dan sampai ke Solo. Ma Uk memimpin rombongan pelarian menyusuri pantai utara Tangerang, dan berhenti di wilayah yang sekarang disebut Mauk.

Rombongan lainnya menyusuri Sungai Cisadane, sebagian berhenti di Sewan, Neglasari, dan wilayah-wilayah sekitar. Mereka yang merasa belum aman di Sewan, dan Neglasari, melanjutkan perjalanan lebih ke udik. Sesampai ke tanah kosong bernama Karawaci, mereka menyeberangi Sungai Cisadane.

"Sesuai Perjanjian Damai 10 Juli 1659, tapal batas Kesulatanan Banten dan VOC adalah Sungai Cisadane," kata Ari Novi. "Sebelah Timur Sungai Cisadane masuk wilayah VOC. Sisi barat Kesultanan Banten."

Jika ingin aman, kata Ari Novi, orang Cina harus menyeberangi Sungai Cisadane. Itulah yang dilakukan nenek moyang Cina Udik di Panongan, Tigaraksa, Curug, Legok, Balaraja, dan lainnya.

Di Kesultanan Banten, Cina pelarian ini dilindungi Sultan Haji. Dimukimkan di wilayah-wilayah tanpa penduduk, dan diberi kebebasan membangun permukiman, mengolah lahan, dan membangun persawahan. Hampir tidak ada panetrasi aparat kesultanan.

Mereka yang tiba di Panongan mendapat perlindungan sepenuhnya dari prajurit Kesultanan Banten, yang biasa datang ke wilayah itu untuk melakukan pengintaian.

Panongan berasal dari noong, kata dalam bahasa Sunda yang artinya intai. Panongan berarti tempat pengintaian. Letak desa ini secara ekstrem jauh lebih tinggi, dari wilayah lain. Dari Panongan, prajurit Banten bisa mengontrol garis dan zona demarkasi, dan melihat pergerakan tentara VOC di seberang Sungai Cisadane.

Tidak sulit membuktikan hal itu. Jika Anda berdiri di depan rumah Oen Tjun Kim, seluruh wilayah persawahan dan perumahan Citra Raya tampak jelas.

Terdapat dugaan rombongan pertama yang sampai ke Panongan masih satu marga, yaitu Oen. Sedangkan marga-marga lain, yang lari dari Sewan, Neglasari, Bogor, atau pindah dari Legok, adalah rombongan dari lain marga.

Kedatangan masyarakat Cina dari lain marga membuat tidak terjadinya incest, atau perkawinan satu marga. Masing-masing marga mengembangkan diri. Oen, Lim, Tan, Oey, dan puluhan lainnya, hidup berdampingsan, saling mengisi, dan melengkapi.

Permukim awal Panongan bercocok tanam dan beternak untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Hampir seluruh hasil panen, padi dan sayuran, serta ternak, dikonsumsi diantara mereka. Kalau pun ada yang didistribusikan keluar, relatif hanya untuk ditukar dengan garam dan gula.

Mereka membangun rumah-rumah pertama secara bergotong-royong, mulai dari menebang pohon, membuat balok-balok kayu, dan papan, sampai mendirikan rumah. Seiring perjalanan waktu, jumlah mereka berkembang biak. Para lelaki tetap tinggal di desa, mewarisi rumah leluhur, kaum perempuan dibawa suami keluar kampung.

Ketika Banten melemah, dan akhirnya dikalahkan VOC, masyarakat Cina Udik di Panongan hidup tanpa perlindungan. Ancaman pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan, menghantui mereka selama sekian puluh tahun.

Ari Novi tidak bisa mengidentifikasi sampai berapa lama suasana ini berlangsung. Ia hanya menemukan sejumlah bukti masih banyak rumah masyarakat Cina di Panongan, Tigaraksa, Legok, dan Curug, dilengkapi lubang perlindungan.

"Bunker terletak di bawah ranjang. Fungsinya untuk bersembunyi tatkala terjadi penyerbuan oleh perampok," kata Ari Novi.

Segalanya menjadi sangat rumit ketika mereka mulai keluar kampung untuk membawa hasil bumi akibat terjadinya kelebihan produksi. Terlebih, tatkala VOC kian mapan, kongsi dagang itu memberlakukan sistem mata uang untuk menarik semua masyarakat ke dalam ekonomi pasar.

Solusi bagi mereka adalah dengan menyewa jawara sebagai pengaman. Jawara menjamin keselamatan permukiman mereka, dan mengawal mereka sampai ke pasar. Poros niaga mereka adalah Pasar Curug dan Cikupa.

"Dua pasar itu menjadi besar karena menjual hasil bumi dan ternak dari sini," kata Budi RKG, pengamat Cina Benteng.

Jawara yang mencalonkan diri sebagai kepala desa akan selalu meminta dukungan, suara dan dana, dari masyarakat Cina. Situasi ini terlihat sampai tiga tahun lalu, ketika seorang calon kepala desa Rancakelapa � dalam kampanye terbuka di depan masyarakat Cina � mengatakan jika dirinya terpilih tidak akan ada maling kerbau, maling gabah, dan padi dipanen sebelum waktunya.

Bahkan ada lurah yang kaya raya karena menikmati uang perlindungan yang disetorkan Cina Benteng ke koceknya. Sang lurah adalah jawara, memiliki banyak anak buah, untuk mengamankan sekaligus mengintimidasi.

Namun, masyarakat Cina Benteng bukan tidak pernah berupaya membuat organisasi kemasyarakatan dan memilih pemimpin. Bukan tidak pernah pula mereka berupaya mengamankan diri sendiri. Upaya itu selalu digagalkan para jawara.

Masyarakat Cina Benteng di Panongan bukan satu-satunya yang harus tergantung pada jawara. Saudara mereka di Cengklong dan Kosambi, keduanya di Kota Tangerang, juga mengalamai nasib sama.

Jawara tidak setiap saat bisa menjaga mereka. Di saat-saat tertentu, ketika penjagaan kampung longgar, orang dari luar akan masuk; mencuri, merampok di siang bolong, atau sekadar membuat onar.

Cerita-cerita pemerkosaan di kampung selalu sampai ke telinga mereka, membuat mereka menjadi kerap merasa terancam. Mereka akan selalu mencurigai pendatang. Jika tak dikenal, mereka hanya mau menerima tamu di halaman rumah.

"Mereka menjadi sensitif. Hampir setiap rumah menutup pintu rapat-rapat setelah matahari terbenam."

Ari tahu semua itu saat dirinya menjadi Camat Panongan 2006/2006. Ia begitu
merasakan bagaimana masyarakat Cina Benteng Panongan memandang dirinya. Ada
semacam kecurigaan aparat akan meminta `uang jago' � istilah untuk membayar jasa
keamanan para jawara.

Bagi mereka yang tak memiliki banyak anak, sikap protektif diperlihatkan dengan menyekolahkan anak-anak mereka ke luar, dan setinggi mungkin. Banyak dari mereka berharap anak-anak mereka mampu hidup di luar dengan layak, dan tidak lagi berada di lingkungan tak aman.

Yang juga lebih menarik adalah tidak terjadi perkawinan campur di desa-desa masyarakat Cina Benteng di Panongan, karena mereka tidak berbaur dalam satu permukiman dengan pribumi. Masyarakat pribumi datang ke tempat mereka hanya untuk membeli hasil panen, dan komoditas tertentu. Tidak ada yang menetap dan beranak pinak.

Kontak dengan pribumi relatif hanya dilakukan di pasar, atau di tempat-tempat tertentu, saat terjadi transaksi. Inilah yang memuat mereka menguasai bahasa melayu, alat komunikasi paling banyak digunakan orang Tionghoa semasa kolonial Belanda.

Satu hal lagi, masyarakat Cina Benteng di Panongan tidak mengenal `pernyaian', seperti saudara mereka di Teluk Naga, Mauk, dan kawasan pesisir Pantai Tangerang lainnya. Kemiskinan, dan status sosial yang rendah dibanding masyarakat Tionghoa lainnya di Tangerang, membuat mereka tak mungkin memiliki ca-bau, wanita pribumi  simpanan.

Mereka tak tersinggung disebut Cina Udik, dan tak menyesal dianggap rendahan, karena merka yakin nenek moyang mereka mengajarkan pentingnya menjaga keaslian genetis. [1]

Aditya Ramadhan

***

Updated

Dalam bahasa Melayu Betawi, termasuk Tangerang (lihat: Chaer, Abdul, Kamus Dialek Jakarta):

Udik = Selatan
Ilir = Utara
Kulon = Barat
Wetan = Timur

Jadi, jangan salah sangka, Udik BUKAN pedalaman, kampung, apalagi rendahan dsb.

Nama-nama tempat di Jakarta secara tradisional juga asalnya Ilir (bukan Hilir) dan Udik, sebelum sekarang diganti menjadi Utara dan Selatan (KECUALI Bendungan Ilir, yang jadi Bendungan Hilir, disingkat BENHILL). Tempat-tempat itu termasuk: Bendungan Ilir-Bendungan Udik, Grogol Ilir-Grogol Udik, Sukabumi Ilir-Sukabumi Udik, Meruya Ilir-Meruya Udik, Kedoya Ilir-Kedoya Udik, Petojo Ilir-Petojo Udik, apa lagi ya?

Rupanya, karena kesalahpahaman ini, banyak yang merasa gerah tempat tinggalnya disebut "Udik". Padahal, makna Udik ya Selatan itu, tak lebih, tak kurang.

Mengapa juga Panongan (termasuk Cukang Galih), Curug (termasuk Ranca Iyuh, Ranca Kalapa, Cirarab, Ciodeng, dan Ranca Kebo), Legok, Tigaraksa (termasuk Sodong), dll disebut UDIK, dan sebaliknya Kampung Melayu, Tanjung Burung, Tegalangus, Lemo, Kedawung, Selapajang, Bojongrenged, Kajangan, Blingbing, Cengklong, Kosambi, Dadap dll disebut ILIR, sehingga orang Tionghoa penduduk aslinya juga disebut CINA UDIK dan CINA ILIR? Lantaran tempat-tempat itu secara GEOGRAFIS memang terletak di SELATAN dan UTARA BENTENG (Tangerang). [2]

David Kwa

***

Budaya-Tionghoa.Net |

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/55521 Aditya Ramadhan

http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/55553 David Kwa

Last modified onWednesday, 14 November 2012 02:51
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/393-cina-udik-lari-dari-pembantaian-hidup-dalam-ketakutan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto