A+ A A-

Catatan Perjalanan Imlek 2011 (Part 1)

  • Written by  AK Bromokusumo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Tahun 2010 awal kami sekeluarga sudah merencanakan perjalanan ini. Perjalanan yang sudah dinanti-nantikan istri sejak lama. Sudah 10 tahun istri tidak mudik merayakan Tahun Baru Imlek di tengah keluarganya.

Kami memang beberapa kali mudik ke kampung halaman istri, tapi biasanya pada waktu liburan sekolah anak-anak, belum pernah pas Tahun Baru Imlek di tengah-tengah winter yang menggigit. Pertimbangan lain adalah ingin mengajak anak-anak merasakan winter dan siapa tahu beruntung mereka dapat melihat salju.

 

Tiket sudah dibeli online dari satu Low Cost Carrier dengan rute Jakarta – KL – Hangzhou – KL – Jakarta. Harga tiket yang dibeli jauh hari sebelumnya biasanya lebih bersahabat dengan kantong dibandingkan jika dekat-dekat hari keberangkatan.

Akhir tahun 2010, kami sudah mulai menyiapkan ini itu keberangkatan, terutama “peralatan perang” untuk menghadapi winter yang konon cukup ganas di China sana. Istri sangat kuatir kalau anak-anak tidak tahan dengan hawa dingin karena baru pertama kali menghadapi winter. Saya meyakinkannya bahwa anak-anak akan dengan cepat menyesuaikan diri di luar perkiraan kita.

 

Hari Pertama

Akhirnya hari yang dinantikan tiba juga. Kami berangkat dengan penerbangan malam hari, sampai di Kuala Lumpur tengah malam dan pagi harinya sambung penerbangan ke Hangzhou.

Mulai 01 Januari 2011, tidak ada lagi fiskal ke luar negeri sama sekali. Semua penumpang ke luar negeri bebas fiskal. Di mana tahun lalu hanya yang memiliki NPWP yang bebas fiskal, sementara yang tidak memiliki NPWP diharuskan membayar Rp. 2.5juta.

Penerbangan Jakarta – KL kurang lebih 2 jam ditempuh dengan nyaman dan lancar serta tepat waktu. Ternyata LCC yang satu ini betul-betul memerhatikan sekali ketepatan waktu, karena saya perhatikan mereka menawarkan asuransi yang mengompensasi ketidaktepatan waktu, sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin tepat waktu.

Sampai di KL sekitar tengah malam, mendarat di LCC Terminal Kuala Lumpur International Airport. Yang cukup mengagetkan adalah dari tempat berhentinya pesawat sampai ke arrival hall, jalan kakinya cukup panjang, kira-kira 1.5-2km, terasa cukup melelahkan.

Karena tiket yang dibeli setahun lalu, ternyata kami harus mengambil bagasi dan kemudian check in lagi. Menurut keterangan petugas LCC tsb, mulai tahun ini, sudah banyak tujuan penerbangan yang berkelanjutan, jadi tidak perlu mengambil bagasi dan check in lagi.

 

Hari Kedua

Antrean di imigrasi cukup lancar dan tertib. Sesampainya di luar, ternyata bagasi kami sudah tergeletak di pinggir conveyor. Kami ambil bagasi dan berjalan menuju ke departure hall yang letaknya tepat bersebelahan dengan arrival hall.

LCC ini menawarkan inovasi baru yaitu self check in atau pre-check in melalui internet. Self check in booth ada di seluruh penjuru LCC Terminal, dengan sistem touchscreen yang user friendly memudahkan penumpang untuk check in. Bahkan bila penumpang gaptek akut sekalipun, di sekitar situ banyak sekali petugas yang siap membantu.

Saya segera menuju ke salah satu self check in booth dan melakukan check in untuk mendapatkan boarding pass. Boarding pass di tangan tapi masih menunggu sekian jam untuk check in bagasi, yang baru dibuka kira-kira 3 jam sebelum penerbangan.

Setelah check in, kami menyempatkan diri mengisi perut di salah satu fastfood di sana yang buka 24 jam karena pilihan yang sangat terbatas di jam 2 pagi. Setelah mengisi perut, kami menuju ke departure hall yang penuh manusia beristirahat seadanya. Karena LCC, arrival hall tidaklah seperti Changi atau Chek Lap Kok yang nyaman.

Para penumpang bertebaran merebahkan tubuhnya di mana-mana. Ada yang beralas koran, ada yang beralas jaket, ada yang di kursi. Kami menuju di salah satu pojokan dengan sederet kursi, langsung istri dan anak-anak merebahkan diri dan tidur. Sementara saya membuka laptop dan berselancar di internet.

Menurut keterangan petugas yang saya tanya, di seluruh penjuru Kuala Lumpur International Airport baik yang LCC ataupun non-LCC semuanya WiFi enabled. Dan memang ternyata betul sekali, begitu tersambung dengan WiFi di airport dan membuka browser, keluarlah ucapan selamat datang dan ada keterangan bahwa maksimal berseluncur adalah 2 jam.

Cukup nyaman untuk membaca Baltyra.com namun mengalami sedikit kesulitan waktu meng-upload and meng-update artikel baru di hari itu. Artikel-artikel yang direncanakan untuk hari itu terpaksa diganti semua dengan artikel yang lebih ringan baik teks ataupun gambar/foto ilustrasinya. Bisa dimaklumi karena menurut perkiraan sepintas, ribuan penumpang online secara bersamaan, sehingga maklum jika kecepatan internet sangat terbatas.

Setelah selesai semua, otomatis internet terputus dan selesailah sudah selancar di internet. Segera saya ganti ke handheld yang dilengkapi WiFi juga, melanjutkan berselancar di Baltyra dan beberapa situs lain.

Waktu tak terasa berjalan. Setelah cukup berselancar di internet, laptop saya tutup dan melanjutkan membaca buku yang saya bawa. Pagi menjelang dan counter check in untuk bagasi dibuka. Kami segera melakukan check in bagasi dan menuju ke ruang tunggu keberangkatan pesawat penerbangan ke Hangzhou.

Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Hangzhou ditempuh dalam waktu sekitar 5½ jam dengan cukup nyaman.

Sekitar tengah hari waktu setempat roda pesawat menyentuh landasan pacu di Hangzhou International Airport dan sampailah kami. Segera setelah turun dari pesawat, kami mengeluarkan sweater dan jaket yang sudah kami siapkan dalam traveling bag. Angin dingin segera terasa, bau udara musim dingin mengingatkan saya akan bau yang sama 10 tahun yang lalu.

Setiap musim memiliki bau yang khas. Susah menggambarkannya, tapi menurut saya, bau udara waktu winter, spring, summer dan autumn memiliki ciri dan kekhasan sendiri.

Imigrasi sangat lancar, demikian pula dengan bagasi, sekali lagi sudah tergeletak di samping conveyor yang masih berjalan dengan banyak bagasi lainnya.

Berjalan keluar dari arrival hall disambut dengan angin dingin yang cukup “galak” karena kulit yang baru dari negeri tropis mendadak harus menghadapi angin utara di China. Berdasarkan info sebelumnya dari Pak Kanakin, kami membeli tiket bus ke arah Wu Ling Guang Chang, nama tempat di pusat kota Hangzhou.

Bus segera berangkat ke pusat kota Hangzhou. Perjalanan sekitar 1 jam lebih sedikit dengan diiringi sapaan ramah “pramugari” bus yang memerkenalkan diri dan mengucapkan selamat datang di Hangzhou serta jika ada pertanyaan silakan bertanya kepadanya.

Perhentian kedua (menurut keterangan si “pramugari” bus) adalah tempat yang kami tuju. Tak terlalu lama bus kami disambut kemacetan kota Hangzhou yang penduduknya kelihatan ramah. Kelihatan sekali kesibukan menyambut Tahun Baru Imlek. Tas belanjaan di tangan kanan dan kiri, tentengan minuman alkohol baik untuk hadiah ataupun untuk acara keluarga, berbagai macam barang tampak dalam tentengan mereka.

(istilah pramugari, karena saya bingung bagaimana bilangnya, yang jelas bukan kernet bus…haha)

Setelah turun dari bus dengan semua bagasi yang cukup berat, kami mencari taxi untuk menuju hotel yang sudah dipesankan oleh seorang teman, hotel Wang Hu namanya. Ternyata tidak jauh dari tempat perhentian bus tadi, bahkan bila berjalan kaki juga masih terjangkau. Masalahnya adalah bagasi yang besar dan berat.

Setelah check in di hotel, kami menuju kamar dan beristirahat sebentar, kemudian mandi dan bersiap jalan-jalan di kota Hangzhou. Tak berapa lama kami sudah mulai mengukur jalanan di kota Hangzhou. Ah, sungguh asik dan indah pemandangan kotanya.

Hangzhou adalah kota tua yang modern. Kota Hangzhou didirikan sekitar 2.200 tahun lalu di masa Qin Dynasty dan termasuk dalam daftar Seven Ancient Capitals of China. Hangzhou merupakan ibukota pemerintahan dari tahun 907-978 di masa 5 dinasti dan 10 kerajaan. Sekarang Hangzhou merupakan ibukota dan kota terbesar dari provinsi Zhejiang.

Anak-anak kegirangan berlarian kesana kemari di trotoar lebar sambil menendangi gundukan salju yang turun malam sebelumnya. Sungguh sayang memang kami tidak mendapati turunnya salju yang benar-benar hujan salju dari hari pertama tiba di China sampai kepulangan kami. Hanya malam sebelumnya di Hangzhou turun salju dan malamnya turun salju yang halus lembut, tapi hilang ketika mencapai permukaan tanah.

Kami berjalan santai melihat kiri dan kanan sambil membaca brosur berbahasa Inggris yang kami ambil di lobby hotel. Tiba-tiba kami melihat ada satu tempat di pinggir jalan yang menjual makanan. Segera kami menuju ke sana, dan melihat warung yang menjual beraneka kudapan hangat. Satu kudapan yang menarik adalah sate berukuran raksasa.

Tak berpikir panjang memesan 4 tusuk. Baunya sungguh menggoda selera. Ternyata memang rasanya enak sekali, daging ayam yang lembut dan juicy berpadu lembut dengan bumbu ala kebab membelai lidah. Kudapan panas dengan rasa mantap sungguh pas di tengah petang hari yang bersuhu -7°C.

Sambil menikmati sate raksasa, kami terus berjalan mencari tempat untuk makan malam. Tak lama berjalan tampak di kejauhan sign-board yang cukup menarik hati, bunyinya: 咬不得 (pinyin: yao bu de, baca: yau pu te), yang berarti “tidak tega menggigit” yang menggambarkan betapa enaknya makanan di situ.

(china travel guide)

Langsung kami masuk ke dalam tempat makan itu. Di dalam cukup penuh dan terlihat di sana sini orang makan dengan nikmatnya. Sekilas pandang terlihat bahwa porsi yang disajikan ukurannya di atas rata-rata porsi umum di Indonesia.

Tidak lama kami mendapatkan tempat duduk. Istri dan saya memesan makanan yang kelihatan menarik semua. Malam itu kami memesan beberapa masakan yang direkomendasikan merupakan specialty resto tsb.

Setelah makanan keluar dan difoto, makanan segera disantap dengan nikmat. Citarasa baru yang luar biasa menyeruak di lidah dan hidung kami. Salah satunya adalah hidangan 年糕 (pinyin: nian gao, baca: nien kau). Nian gao jika di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kue keranjang yang manis rasanya. Yang kami jumpai di sana berbeda jauh sekali dengan bayangan kue keranjang. Yang tersaji di depan kami adalah irisan tipis nian gao (yang memang terbuat dari ketan, bahan yang sama dengan kue keranjang), rasanya tawar tapi dimasak dengan model “goreng kwetiau”.

Bubur seafood, ayam rebus, nasi baikut, dan satu sup yang berisi tahu dan berbagai isian mengisi perut kami di hari pertama. Rasanya luar biasa! Sungguh pengalaman kuliner setempat yang mengasikkan dan tak terlupakan. Satu per satu hidangan kami cicipi bergantian sampai semua licin tandas.

Setelah makan, kami berjalan-jalan sebentar melihat-lihat shopping center di sekitar situ, tapi karena kecapekan, kami memutuskan kembali ke hotel dan beristirahat segera. Istri dan anak-anak segera tertidur, sementara saya masih asik berselancar di internet. Tidak terlalu malam saya menyusul tidur.

Bersambung ......

[AK Bromokusumo]

Sumber dan Tautan  :

  1. http://baltyra.com/2011/02/24/catatan-perjalanan-imlek-2011-1/
  2. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/56383 [AK Bromokusumo]
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/458-catatan-perjalanan-imlek-2011-part-1

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto