A+ A A-

Wayang Potehi, Dulu Terpasung, Kini Merana

  • Written by  Martinus Herwiratno
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email
Budaya-Tionghoa.Net | Salam bahagia rekan-rekan sekalian,Tulisan tentang wayang potehi ini sangat menarikbuat saya, tulisan serupa juga pernah dimuat di harian Kompas (mungkin tahun lalu). Saya hanya ingin menambahkan beberapa hal tentang wayang potehi di Jawa, khususnya yang ada sangkut pautnya dengan dalang Thio Tiong Gi.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Karena dalam empat tahun ini saya sering bertemu dalam berbagai perayaan/acara di , Semarang, Lasem dan Jakarta, maka saya kenal baik dengan dalang wayang potehi Thio Tiong Gie - Semarang ini. Terakhir saya bertemu bulan Juli lalu  di Institut Kesenian Jakarta ketika dalang Thio menjadi bagian dalam Tarian Bedaya Chengho. Saya sendiri akrab memanggilnya Om Thio.


Setahu saya, dalang Thio Tiong Gie sekarang ini juga menjabat sebagai Seksi Penerangan Kelenteng Tay Kak Sie (Da Jue Si) atau yang juga terkenal disebut Kelenteng Gang Lombok-Semarang.

Rumah dalang Thio yang sangat sederhana  di daerah Petudungan tak jauh dari kelenteng tersebut. Jadi bagi Anda yang ingin mencarinya, lebih baik menuju dan bertanya dulu ke kelenteng Tay Kak Sie. Beliau sendiri sering berada di kelenteng ini dan memimpin beberapa ritual perayaan. Dan beliau tak segan-segan mengantarkan dan memberi penjelasan kepada Anda yang ingin bekeliling di daerah sekitar jalan Gang Lombok dan Gang Pinggir yang memang dijejali banyak kelenteng. Atau bagi Anda yang benar-benar perlu, bisa bertanya nomor handphone-nya kepada saya.

Memang benar, Thio Tiong Gie adalah satu-satunya  dalang wayang potehi asli yang tersisa di Jawa (saya tidak tahu persis yang di luar Jawa).Yang saya maksud asli di sini  adalah dalang tionghoa yang masih bisa menggunakan bahasa hokkian dalam memainkan lakon wayangnya.

Wayang potehi sendiri memang berasal dari Cina bagian selatan (daerang Guangdong dan Fujian), jadi tak heran kalau kesenian ini tak begitu populer di daerah Beijing dan sekitarnya. Taiwan termasuk yang berusaha melestarikan kesenian ini.Sebenarnya masih ada beberapa dalang wayang potehi di Jawa, tetapi mereka bersuku Jawa dan hanya bisa memainkan wayang potehi dalam bahasa Indonesia saja.
[Foto Ilustrasi  : Bromokusumo , Citraland , Jakarta , Januari 2011]

Dalang Thio sendiri juga lebih sering memainkan wayangnya dalam bahasa Indonesia dengan logat Semarang-nya. Ini tentu saja dimaksudkan untuk memudahkan para penonton, terutama kaum muda, yang  tak mengerti bahasa hokkian agar mengerti jalan ceritanya.Tapi dalang Thio masih bisa menyanyikan "suluk" atau semacam nyanyian pembuka / lagu pengantar dalam bahasa Hokkian. "Suluk" tak hanya lagu pengantar, tapi juga semacam mantra pembuka sebelum memainkan lakon tertentu. Hal ini juga ada dalam wayang Jawa.

Ketika suluk dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, bagi saya saja yang bersuku Jawa dan tak mengerti bahasa Hokkian  merasa aneh dan janggal, bahkan telinga saya merasa seperti ditusuk-tusuk.Aneh dan janggalnya sama seperti suluk wayang bahasa Jawa yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia.

Jadi menurut saya, di sinilah ke khas-an dalang Thio. Silahkan menceritakan lakon wayangnya dalam bahasa Indonesia, tapi suluknya sebaiknya tetap dalam bahasa asli. Kalau kemudian diterjemahkan (tanpa dilagukan) untuk membuat penonton mengerti, itu sah-sah saja.Menurut dalang Thio, mengenai lamanya pertunjukan, sekarang mau tak mau harus menyesuaikan dengan pasar. Tidak seperti dulu yang bisa berbulan-bulan, sekarang bisa dipangkas menjadi hanya beberapa hari sampai hanya 3-4 jam.

Saya pernah melihat pertunjukan wayang Potehi dengan durasi 3-4 jam ini ketika dalang Thio memainkannya di Pekan Raya Jakarta 2003.Mungkin keunggulang dalang Thio yang lain adalah masih bisa memainkan cerita-cerita yang tidak umum dimainkan. Misalnya cerita San Guo (Sam Kok) episode meninggalnya Guan Yu (Koan Kong). Menurut beliau, ini merupakan bagian pantangan untuk dimainkan, tapi kalaupun harus memainkannya haruslah disertai dengan ritual tirakat tertentu yang lebih khusus dari tirakat memainkan lakon umum.

Beberapa buah wayang potehi tua kesayangan dalang Thio adalah hasil pembeliannya dari wayang potehi kuno yang di jual seseorang ke sebuah kelenteng. Jadi bagi Anda yang kebetulan memiliki atau menemukan wayang potehi kuno yang tak terawat, mungkin lebih baik diberikan kepada dalang Thio yang bisa merawat (dan memainkannya).

Masalah regenerasi, sebenarnya, ada sebuah kelenteng di Surabaya (hayo.. tolong saya mengingat-ingat nama kelentengnya) yang setiap hari mempertunjukkan wayang potehi. Saya pernah melihat ke sana. Yang memainkan adalah para pemuda kelenteng sendiri dengan bergiliran. Ini memang sebuah regenerasi dan estafet kesenian yang baik, tapi entah kenapa kok saya belum pernah mendengar nama yang menonjol sebagi dalang wayang potehi.

Dari hasil pembicaraan dengan dalang Thio selama ini, saya bisa menyimpulkan bahwa walaupun benar bahwa pemasungan budaya Cina di Indonesia oleh Orde Baru menghambat estafet budaya Cina di Indonesia, tapi khusus estafet kesenian wayang potehi lebih pada hambatan tekad geneasi muda Tionghoa Indonesia sendiri.

Menurut dalang Thio, sejak dulu dan apalagi sekarang ini, sulit sekali menemukan generasi muda yang mau mengabdikan hidupnya untuk menekuni bidang kesenian wayang potehi ini.
Kalau melihat keadaan dan perkembangan jaman sekarang ini, memang hal ini bisa dimengerti.

Regenerasi memang sering menjadi masalah, atau memang inilah saatnya kepunahan kesenian wayang potehi di Indonesia. Saya merasa beruntung masih sempat menikmatinya, tetapi juga sekaligus sedih ketika harus menyaksikan proses kepunahannya.

Salam,
Herwiratno.

 


Budaya-Tionghoa.Net | ADALAH Sun Go Kong si kera sakti. Lahir dari belahan batu dan tidak ada orangtua yang mendidik. Keliaran dan keberaniannya menyebar onar di Nirwana. Buku nasib yang berisi daftar jatah waktu hidup di dunia dicoreti supaya ia bisa hidup abadi. Karena nakalnya, dewa
menjatuhkan hukuman. Supaya impas, haruslah ia mencari Kitab Tripitaka.


ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

DEMIKIAN, ringkasan lakon Sun Go Kong Membuat Onar di Nirwana yang dibawakan Subur dengan fasih dari balik kio, serupa panggung mini bernuansa serba merah. Dari depan, panggung itu tak ubahnya sebuah jendela.

Subur, dalang wayang potehi itu dan rombongannya yang biasa bermain
di kelenteng-kelenteng, pekan lalu unjuk gigi di auditorium Universitas Kristen Petra. Mereka memenuhi panggilan para mahasiswa Jurusan Sastra Tionghoa yang tengah menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Tionghoa.

Subur dengan lihai menggerakkan sebuah boneka seukuran telapak
tangan yang disarungkan ke tangannya. Kepala boneka mini itu terbuat dari kayu dengan tubuh berjubah kain berornamen khas Negeri Tirai Bambu. Di dekat pria berkulit hitam itu terentang sebuah tali. Puluhan wayang lain tergantung siap dimainkan.

Kelihaian tangan Subur membuat boneka Sun Go Kong terasa hidup.
Kedua tangannya bergerak-gerak sesuai dengan adegan dan kepalanya terangguk-angguk.

Bahkan, ketika tiba adegan pertarungan, si kera sakti mini tersebut
dapat dengan tangkas memainkan golok panjangnya. Dua boneka saling berkelabatan. Irama dari alat musik khas Cina semakin mengeras.

Ada yang memainkan siauw ku (kecer besar), membunyikan al hu (musik
gesek mirip rebab), memukul dong kauw (semacam ketipung), dan meniup terompet. Mengiringi dua buah boneka mini yang tengah berperang.

Umumnya, musik wayang potehi mengalunkan lagu khas Tionghoa, seperti
lagu syahdu pak syen ko hai yang digunakan untuk mengiringi adegan para dewa serta lagu lain, misalnya, se cie ke atau empat musim.

WAYANG potehi yang mulai marak kembali dipertunjukkan, sebenarnya
mempunyai sejarah yang panjang di negeri asalnya, Tiongkok.

Seni budaya yang ada kemiripan dengan wayang golek tersebut lahir
pada masa Dinasti Jin, yakni pada pertengahan abad ke-3 sampai awal abad ke-5. Kemudian berkembang pada masa Dinasti Song antara abad ke- 10 dan ke-13.

Jauh pada masa Dinasti Ming, abad ke-16, wayang potehi tersebar ke
Provinsi Taiwan dan negara Asia lainnya. Wayang potehi diduga masuk ke Indonesia mulai abad ke-16 sampai kira-kira pertengahan abad ke- 19.

Pada Seminar bertajuk "Warna Budaya Tionghoa dalam Mosaik Budaya
Indonesia dalam Kesenian dan Musik", Prof Dr Leo Indra Ardiana mengungkapkan dalam makalah berjudul Wayang Potehi:Identitas Dan Fungsi. Masuknya orang Tionghoa ke Indonesia setidaknya terdiri dari empat suku bangsa, yakni Hokkien, Teo-Chiu, Hakka, dan Kanton.

Mereka membawa kebudayaan suku bangsanya masing-masing dengan
perbedaan bahasanya. Wayang potehi diduga masuk bersama dengan mereka. Bagi keturunan Tionghoa, pertunjukkan tersebut selain
mempunyai fungsi hiburan, pendidikan, dan kritik sosial, juga sarat fungsi ritual.

Leo mengungkapkan, di Kelenteng Kampung Dukuh, Surabaya, misalnya,
pementasan wayang potehi dilaksanakan hampir setiap hari dalam rangka bagian ritual tridharma.

Umat tridharma dalam mengekspresikan ritualnya memanfaatkan wayang
potehi sebagai penyampai segala hal yang berhubungan dengan Sang Pencipta, seperti pengaduan gagal usaha, penderitaan, dan
kegembiraan hidup.

Pementasan ritual tersebut tidak membutuhkan penonton karena
ditujukan kepada yang kuasa. Pementasan di Kelenteng Kampung Dukuh, misalnya, sering dilaksanakan tanpa penonton.

Struktur pementasan wayang tersebut tidak rumit seperti halnya
wayang kulit dan wayang orang. Diungkapkan Leo, pertunjukan dibuka dengan musik yang lazim disebut lo tay yang dimainkan hampir
setengah jam lamanya. Kemudian berlanjut dengan penceritaan.

Pada pertunjukan di kelenteng, cerita didahului semacam ritual yang
disebut ke kwan, yang menggambarkan adegan dewa sedang bersembahyang di kelenteng.

Adegan ini mencerminkan penghormatan kepada para dewa. Pertunjukan
diakhiri dengan adegan penutup berupa dua boneka laki-laki dan perempuan dengan busana merah, lambang kegembiraan, memberikan penghormatan kepada penonton atau sang dewa.

Cerita yang dimainkan dalam pertunjukkan di kelenteng kebanyakan
dari Tiongkok, seperti legenda Dinasto Tong, Dinasti Song, dan Dinasti Ming.

Sedangkan untuk pertunjukkan di luar kelenteng, dalang dapat
mengambil cerita di luar legenda Si Jin Kui, pendekar gunung Liang San, bahkan cerita seperti legenda kera sakti, dan Sam Pek Eng Tay.

Hal serupa diakui Subur, sang dalang. Ia mengatakan, cerita yang
sangat digemari penonton di antaranya adalah kisah Jenderal Sie Djin Koei dan legenda kera sakti, Sun Go Kong. Subur sendiri setidaknya menguasai tiga belas lakon.

Cerita dalam potehi, kata Subur, biasanya dibawakan secara serial.
Ada kisah yang setelah tiga bulan disampaikan baru selesai secara keseluruhan.

Sesomo, salah seorang dalang wayang potehi lain yang telah bergelut
dengan kesenian tersebut sejak tahun 1950-an mengatakan, memainkan potehi harus mengikuti pakem yang ada.

"Pernah saya membuat variasi baru yakni dengan membawakan cerita Koo
Ping Hoo. Yang muda-muda senang dengan variasi tersebut. Hanya saja penonton yang sudah berumur umumnya protes karena merasa bukan begitu sebenarnya kisah dalam potehi," katanya.

PADA masa pemerintahan Orde Baru, wayang potehi seperti halnya
kebudayaan Tionghoa lainnya mengalami tekanan. Sesomo mengatakan, wayang potehi sempat mengalami masa kesuraman sekitar tahun 1970- 1990-an berkaitan dengan pelarangan pemerintah terhadap kebudayaan Tionghoa.

"Pada waktu itu, para dalang potehi sangat sulit untuk mendapat
kesempatan bermain. Terkadang ada yang telah menyediakan dana, tetapi justru perizinannya sulit keluar, "katanya.

Subur juga berkata hal yang senada. Ia mengatakan, ada juga daerah
yang mengizinkan wayang potehi mengadakan pertunjukan dengan persyaratan kelenteng ditutupi seng agar tidak terlihat oleh pribumi.

Angin segar reformasi yang berembus pada tahun 1998, sejak
dicabutnya larangan pemerintah terhadap budaya Tionghoa, tak dapat dimungkiri membuat kebudayaan Tionghoa kembali bergeliat. Termasuk wayang potehi.



[Foto Ilustrasi  : Bromokusumo , Citraland , Jakarta , Januari 2011]

Setelah keterbukaan tersebut, Subur dan Sesomo serta para pemusik tidak pernah sepi order. Sepanjang tahun 2002, misalnya, 75 persen waktunya dihabiskan memainkan wayang potehi, berkeliling kelenteng. Hampir seluruh daerah di Pulau Jawa pernah merasakan keandalannya
mendalang. Juga di luar pulau seperti Sumatera dan Kalimantan.

Bulan tiga atau sagwee hingga bulan sepuluh merupakan masa-masa
ramai permintaan pertunjukan wayang potehi. Hal itu antara lain karena banyaknya kelenteng yang berulang tahun.

"Biasanya, pengurus kelenteng terlebih dahulu akan mendaftar jumlah
umat yang ingin menanggap wayang potehi untuk selametan. Kemudian, kami bermain sesuai dengan jumlah pendaftar tersebut," ujarnya.

Terkadang, karena ramainya umat yang ingin mementaskan wayang itu,
Subur dan rombongannya kerap harus tinggal berbulan-bulan di satu kelenteng. Pada saat ia bermain di sebuah kelenteng di Tuban, Subur tinggal tujuh bulan lamanya dan setiap hari memainkan wayangnya.

Sekali pentas, Subur memasang tarif Rp 2-3 juta. Penghasilan
tersebut dibagi untuk tiga orang pemain musik dan seorang asisten.

Komunitas potehi di Jawa Timur sendiri menurutnya berkembang dengan
baik dan jumlahnya jauh lebih benyak di banding daerah lain, seperti Semarang, Jakarta, dan Sumatera.

Uniknya, sebagian besar para dalang tersebut bukan keturunan
Tionghoa, termasuk Subur. Kedekatan pria asal Madura itu dengan potehi terjadi lantaran tempat tinggalnya berdekatan dengan Kelenteng Dukuh.

Sehingga, ia pun akhirnya berkenalan dengan komunitas wayang potehi
di sana. "Dari melihat dan ada pula yang mengajari, kelamaan saya jadi bisa mendalang," ujarnya. Ia mengatakan, hanya menekuni kegiatan tersebut sebatas sebagai pekerjaan.

Jangan bayangkan ada yang namanya sekolah ndalang atau kursus
potehi. Regenerasi di komunitas tersebut terjadi, diungkapkan Subur karena spontanitas.

Uniknya, Sesomo, seorang dalang lainnya ketika ditanya mengapa
memilih menjadi dalang potehi hanya menjawab," sudah kodrat".


(Indira Permanasari)

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/465-wayang-potehi-dulu-terpasung-kini-merana

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto