A+ A A-

Tradisi Sembahyang Rebutan di Palembang

  • Written by  William | David Kwa | Rinto Jiang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di Palembang ada banyak sekali kelenteng . Setiap tahun disekitar bulan Juli dan Agustus ada acara Sembahyang Rebutan. Banyak sekali makanan yang akan disajikan , baik berupa beras , daging , buah-buahan.Di masa lampau , setiap kali acara itu selesai sekitar jam 10 malam, ada ritual yang membakar sebuah boneka dari kertas yang berwajah seram, dengan lidah menjulur, rambut yang berwarna merah, berdiri tegak dengan sebuah tangan di pinggang dan tangan yang satu lagi terangkat keatas . Masyarakat setempat menyebutnya  “te su”.

 

Pada awal acara “te su” ini dibawa dari kelenteng yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi, kemudian dibawa dengan berjalan kaki sampai ke kelenteng yang mengadakan sembahyang ini. Di perjalanan “arakan” ini di dampingi dengan  musik “tanjidor  “ dan alat musik tradisional. Ada juga pertunjukan badut. Kemudian setelah sampai di kelenteng tujuan, maka acara selanjutnya adalah “pemberkatan” oleh biksu. “Te su” tesebut diberi tanda titik merah di beberapa bagian. Ada sosok "Kwan Im" diatas kepala boneka tersebut.  Setelah acara selesai “te su” tersebut diletakan di atas sebuah panggung yang mana banyak orang yang sembahyang di hadapannya.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Menurut cerita orang tua  jaman dulu setelah acara selesai , semua makanan tersebut menjadi rebutan semua orang. Tapi pada jaman sekarang ini semua makan tidak langsung menjadi bahan rebutan, mungkin untuk menghindarkan hal hal yang tidak di inginkan. Dan juga tentunya banyak makanan tradisional yang disajikan , seperti lemeng,pempek, telok ukan dan masih banyak lagi.

Semua acara ini berlangsung pada jaman Orde Baru yang katanya semua kegiatan yang berbau tionghoa itu dilarang tapi pada kenyataannya hal ini berlangsung aman aman saja ( atau hal inilah bukti terjadi kolusi yang nyata?).Memang setelah kerusuhan mei 1998, acara seperti ini tidak semeriah dulu

Dari semua hal ini, yang jadi pertanyaan adalah, hubungan antara kebudayaan Tionghoa dengan agama Buddha itu sampai sejauh apa ?  karena  di setiap kelenteng itu pasti ada patung Buddha dan namanya juga bukan kelenteng tapi vihara . Mungkin ini adalah strategi dari pihak pengurus kelenteng agar semua kegiatan ini menjadi legal.

***

Patung kertas berwajah seram itu adalah Thai-su Ia/Taishi Ye. Orang Bangka menyebutnya Thai-se Dja. Ia merupakan figur yang sedang diawasi oleh Kwan Im dengan menempelkan gambar Kwan Im di kepalanya.  Hut-cou/Guanyin Fozu dalam tugas beliau untuk mengawasi setan-setan yang dilepas selama bulan tujuh (chit-goeh/qiyue) menurut perhitungan im-lek/yinli, sesuai dengan penuturan Zhang-jie di atas. Kalau tidak ada yang mengawasi, setan-setan itu tentu akan berbuat seenaknya.Untuk "memberi roh" kepada patung kertas yang masih kosong tersebut dengan roh Thai-su Ia/Taishi Ye, maka diadakan upacara Tiam-gan/Dianyan (Menotol Mata), dimana patung ditotol di beberapa tempat di bagian muka dengan tinta merah/gincu atau darah jengger ayam.

Agama Buddha Mahayana berasal dari India. Di Tiongkok ia mengalami sinifikasi sehingga menjadi Tionghoa, bahkan Buddha, Bodhisattva serta dewa-dewi asal India tadi diberi wajah dan dandanan Tionghoa, selain tidak memakai alas kaki.

Berbeda dengan dewa-dewi asal Tiongkok asli. Begitu pula penanggalan yang dipakai untuk memperingati hari- hari raya Buddhis adalah kalender lunar-solar Cina (im-yang-lek/yinyangli) bukan lagi kalender India. Vihara Buddha, seperti kuil Taois pun dibangun dalam gaya arsitektur Tiongkok. Dengan demikian agama Buddha lebih mudah diterima oleh rakyat Tiongkok dan tidak terasa asing. Itulah yang terjadi pada waktu agama Buddha disebarkan ke Tiongkok. Tidak terjadi pemaksaan di sini.

Perubahan kelenteng berubah menjadi vihara, ini hanya terjadi di Indonesia masa rejim Orde Baru, memcerminkan campur tangan negara dalam kehidupan beragama. Karena hanya agama Buddha saja yang "diakui" negara, maka semua tempat ibadah yang bukan dari agama Buddha harus "pura-pura" menjadi vihara dengan:

1) mengganti namanya menjadi vihara X (nama berbau Sanskerta);

2) menempatkan sebuah patung Buddha. Jadilah kelenteng itu sebuah "vihara". Kalau tidak bersedia melakukan hal tersebut maka pengurus ditakuti-takuti izin kelenteng akan dicabut, alias kelenteng tersebut akan ditutup untuk selama-lamanya! Yang lebih gila lagi, nama dewa-dewi di kelenteng yang Tionghoa ada yang diganti oleh pengurusnya sendiri, saking takut, dengan nama-nama yang "aneh" dan "menggelikan". Misal, Koan Kong/Guan Gong diganti menjadi Satyabuddhi Bodhisattva, Giok Hong Siang Te/Yu Huang Shangdi menjadi Dewa Indra, dll. Akibatnya, banyak generasi muda yang tidak mampu membedakan kelenteng dengan vihara, keduanya dikacaukan. Padahal Kelenteng adalah kuil Tionghoa (Chinese temple kata wong sana) dan vihara adalah biara Buddha (Buddhist Monastery). Itu saja.

***

Selain yang disebut Ke-xiong sebagai yang bertugas mengawasi hantu-hantu yang datang ke dunia pada bulan tersebut, masih ada beberapa tokoh yang juga bertugas menangkapi hantu-hantu yang jahat dan nakal misalnya Ba Jia Jiang (8 Jenderal) dan Zhong Kui.

Ba Jia Jiang walaupun bernama 8 Jenderal, namun tidaklah berarti harus terdiri dari 8 orang penari. Biasanya terdiri dari kumpulan penari 4 orang sampai 32 orang.

Sedangkan Zhong Kui ada ceritanya. Dikisahkan pada zaman Dinasti Tang, Zhong Kui adalah seorang yang sangat luas pengetahuannya. Setelah ia lulus ujian kenegaraan menjadi zhuang-yuan (scholar), ia kemudian diperintahkan menghadap Kaisar. Namun Kaisar terkejut sekali melihatnya adalah seorang yang berupa buruk dan kemudian tidak meluluskannya sebagai pejabat pemerintahan. Zhong Kui kemudian menjadi sangat marah dan bunuh diri dengan menubrukkan kepala ke pilar di istana.

Kaisar kemudian sangat menyesal dan memberikan gelar "Zhuo Gui Da Jiang Jin" yang berarti Jenderal Penangkap Hantu kepadanya untuk menjaga keamanan di dunia manusia dari gangguan hantu2 jahat dan diperbantukan kepada Dewa Yan Luo Wang (Giam Lo Ong = Hokkian) di alam baka. Hantu-hantu memang sangat takut akan rupanya yang buruk dan akan menyingkir jauh2 bila mendengar nama Zhong Kui.



Budaya-Tionghoa.Net |

Partisipan : William , David Kwa , Rinto Jiang ,

Tautan Internal :

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5554
  2. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5581
  3. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5569
  4. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/5603
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/467-tradisi-sembahyang-rebutan-di-palembang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto