A+ A A-

[Q-A] Apakah Budaya Tionghoa Identik dengan Konghucu dan Buddha?

  • Written by  Ardian Zhang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Ada pertanyaan seperti ini : Apakah Budaya Tionghoa identik dengan Konghucu dan Buddha? Menurut ulama Buddhisme jawabannya adalah bahwa Buddhisme tidaklah identik dengan India. Maka dimana Buddhisme masuk, selalu mengadopsi budaya setempat. Tidak memaksakan budaya tempat asal sebelumnya. Menurut para kutu buku adalah karena di awal-awal masa masuknya ke Tiongkok dianggap sebagai ajaran aneh dan asing. Jadi dalam rangka pemasaran, konsep-konsep lokal harus diadopsi dan kalau bisa dirubah.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Contoh dari interaksi antara penyebaran Buddhisme dengan budaya Tiongkok adalah  hungry ghost festival yang lebih banyak dikenal orang sebagai festival Ulambana, dianggap sebagai festival Buddhisme dengan kisah Mulianjian/Maha Maugdyalana menyelamatkan ibunya dari neraka. Ini adalah kisah sukses "adopsi" karena di kitab Liji jelas-jelas tercatat bahwa bulan 7 tanggal 15 adalah saat persembahan ke leluhur, alias ini aslinya adalah festival Tionghua yang kemudian berhasil diadopsi oleh Buddhisme.

Dimasa Dinasti Tang , kebebasan dalam religi membuat di Tiongkok pada masa itu ada beberapa agama/religi seperti aliran Persia [Mazdaisme , Zoroastrianism , Manicheanism, etcetera] , Islam , Kristen Nestorian , Buddha dan tentunya , Confucianisme dan Taoisme. Dari kemunculan berbagai religi itu , interaksi diantaranya tidak terhindarkan.

Misalkan Kwan Im , ada spekulasi-teori yang berpendapat bahwa Kwan Im , mendapat pengaruh Kristen Nestorian. Pada masa Dinasti Tang , Kristen Nestorian berkembang di Tiongkok , tapi teori ini masih mentah dan tidak berdasar.  Kristen nestorian tidak menitik beratkan pada figur Maria . Dan waktu  masuk ke Tiongkok mereka mau tidak mau harus beradaptasi. Selaen faktor Buddhisme, terutama di kitab pumen pin, lengyan dsbnya, ada faktor lain seperti banyaknya dewi purba seperti Xihe, Xiwangmu, Nv dsb. Buddhisme awal tidak memiliki figur perempuan sebagai penyeimbang. Kalau dalam konteks Brahmaisme , yang namanya Kwan Im adalah pria dan juga menjadi kuda , hayagriva.

Faktor Wu Zetian, pada  jaman dulu rata-rata rupang Kwan Im itu mirip dengan wajah Wu zetian dan sepertinya ada unsur kesengajaan dari Wu sendiri. Lagipula yang terkenal dari Buddhisme sampe jaman Tang itu bukan Kwan Im tapi Maitreya. Guan Yin mulai populer diakhir jaman Tang dan awal Song. Baru di jaman Dinasti Song itu ditulis kisah putri Miao Shan utk melengkapi Kwan Im yang
menjadi wanita itu.

Kwan im yang aslinya pria dibuat menjadi wanita dengan beberapa faktor. Salah satunya adalah  budaya maternalistik yang masih tersisa, juga ada pengaruh dari Wu ZeTian. Yang jelas Kwan Im, seorang pria dirubah habis-habisan menjadi  Kwan Im dengan ciri khas Tionghoa malah dibuat legendanya yang dikenal dengan putri Miaoshan. Deskripsi Kwan Im tidak mirip dengan orang India kecuali titik di dahinya.

Agama Buddha agar mengakar tidak mau melenyapkan Budaya Tionghoa pada masa itu dan  malah bersinergi dengan baik. Dasar dari Budaya Tionghoa adalah penghormatan leluhur sesuai dengan ucapan Kong Zi . Dan dikesempatan lain Kong Zi juga menekankan pentingnya memegang teguh TRADISI.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/496-q-a-apakah-budaya-tionghoa-identik-dengan-konghucu-dan-buddha

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto