A+ A A-

Gereja , Tempat Ibadah Orang Tionghoa?

  • Written by  David Kwa
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Memang betul, dalam bahasa Tionghoa ada perbedaan antara BIO 廟 (Man. MIAO), KIONG 宮 (Man. GONG), SI寺 (Man. SI), TONG 堂 (Man. TANG), AM 庵 (Man. AN), YNI 院 (baca: “i” dengan bunyi sengau; dalam ejaan Van Ophuijsen biasa dieja IE = Man. YUAN) dan KOAN 觀 (Man. GUAN) untuk berbagai jenis rumah ibadah Tionghoa. Owe rasa hal itu sudah beberapa kali dibahas di milis Budaya Tionghua ini.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Dalam bahasa Melayu Rendah yang banyak digunakan orang Tionghoa Peranakan dalam berbagai terbitan berbahasa Melayu sejak perempat terakhir abad ke-19 sampai tahun-tahun pertama Kemerdekaan RI, sehingga dikenal sebagai bahasa Melayu Tionghoa, istilah yang umum adalah ... GEREJA (GREDJA dalam ejaan Van Ophuijsen).

Istilah yang berasal dari kata bahasa Portugis IGREJA itu lazim dipakai untuk menyebut rumah ibadah Tionghoa, tidak melulu buat rumah ibadah Kristen. Owe pernah melihat, misalnya, ada buku komik cerita silat yang berjudul “Terbakarnja Gredja Siauw Lim Sie � ��'�`林寺.� Seperti kita ketahui bahasa Portugis, dalam bentuknya yang tercampur bahasa Melayu, adalah bahasa yang paling banyak penuturnya di Batavia abad ke-17 dan 18.

Di Jalan Siliwangi, Bogor, di kawasan elit Tionghoa Peranakan djeman doeloe di selatan Jalan Suryakancana, misalnya, ada sebuah kelenteng yang aslinya bernama GREDJA BOELOLOE. Nama kelenteng ini kita ketahui darti sebuah papan nama GREDJA BOELOLOE ini―sekarang bernama Vihara Dharmakaya―tergolong unik karena berupa sebuah villa berarsitektur Belanda yang dijadikan kelenteng, dengan ukir-ukiran pintu, jendela dan meja sembahyang berukir halus dalam gaya Tionghoa Peranakan dari periode kira-kira perempat pertama abad ke-20.

Nama GREDJA BOELOLOE yang belum berapa lama ini masih terpampang di sebuah lukisan kaca, dengan nama Tan Eng Nio 陳永娘 tertera di bawahnya, itu kini sudah dicopot oleh pengurusnya yang sekarang. Tan Eng Nio adalah nama seorang kouwnio �`娘 (biarawati Buddhis, namun tetap memelihara rambut) yang pernah tinggal di sini. Selain papan nama GREDJA BOELOLOE masih ada sebuah altar berupa lukisan kaca yang turut dicopot.

Altar ini dipersembahkan bagi Sam Kauw Kauwtjoe 三教教主 (Man. San Jiao Jiaozhu, yakni Para Pendiri Tiga Ajaran Utama Tiongkok): Khong Tjoe �"� (Man. Kong Zi), Lo Tjoe � � (Man. Lao Zi) dan Djie Lay Hoet 如來佛 (Man. Rulai Fo alias Buddha Tathagata), terletak di sebelah kanan altar utama, di tempat Buddha Amitabha sekarang, dan kini “disimpan� entah dimana. Keberadaan altar ini membuktikan kepada kita bahwa, selain altar berbagai dewa-dewi Sam Kauw yang ada di sini, GREDJA BOELOLOE beraliran Sam Kauw layaknya kelenteng-kelenteng yang lain, sebelum "dipaksa" ke aliran Mahayana seperti sekarang, yang hanya segelintir dari aliran Sam Kauw. Sayang, lagi-lagi bukti sejarah harus dihilangkan akibat ketidaktahuan dan aogansi pengurus …

Dalam bahasa Melayu Tinggi (Indonesia) rumah ibadah Tionghoa dikenal dengan beberapa istilah: KELENTENG, KUIL dan WIHARA (VIHARA). Yang umum adalah KELENTENG, yang menurut Claudine Salmon, seorang sarjana Prancis kenamaan yang pernah meneliti kelenteng-kelenteng di Jawa, berasal dari KOAN-IM TENG 觀音亭 (Man. GUANYIN TING), yang diplesetkan menjadi KELENTENG. Terdapat bukti historis bahwa istilah “Koan-im Teng,� yang artinya “Paseban Koan-im,� doeloe sekali pernah dipakai untuk menyebut Kim Tek Ie �`德院 (Man. Jinde Yuan), Jakarta, dan Tay Kak Sie 大覺寺 (Man. Dajue Si), Semarang, ketika masih berupa bangunan kecil (yakni Kim Tek Ie) dan belum dipindahkan ke tempatnya yang sekarang (yaitu Tay Kak Sie).


Namun pendapat Salmon ini, dalam buku-buku yang terbit selama orde babe, dibantah. Dalam pendapat kedua ini, istilah KELENTENG dikatakan berasal dari bunyi “teng, teng, teng� yang kedengaran dari suatu rumah ibadah Tionghoa. Menurut hemat saya, mengingat pendapat itu timbul pada jaman penindasan oleh rezim orde babe, tak heran kalau pendapat yang menyangkal asal-usul Tionghoa istilah KELENTENG ini mengemuka.

Pasalnya, pada Zaman Kegelapan orang Tionghoa di Indonesia itu nama-nama yang berbau Tionghoa diharamkan; dengan sendirinya istilah yang DIKIRA berasal dari bahasa Tionghoa cenderung dihindari, apalagi kalau nama itu digunakan sebagai nama resmi sebuah rumah ibadah Tionghoa. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagian (atau semua?) rumah ibadah Tionghoa berganti nama menjadi TEMPAT IBADAH TRIDHARMA (TITD) dengan nama aslinya boleh tetap dipakai, sedang di Jakarta dan Jawa Barat VIHARA (WIHARA) dengan nama-nama berbau Pali atau Sansekerta; pokoknya asal bukan KELENTENG. Misalnya, TEMPAT IBADAH TRIDHARMA (TITD) Tjoe Hwie Kiong 慈惠宮 (Man. Cihui Gong), Rembang, dan VIHARA Dhanagun, Bogor, yang sebelum orde babe bernama KELENTENG Hok Tek Bio � 德廟 (Man. Fude Miao). Supaya istilah KELENTENG boleh tetap dipakai―karena tidak terasa “kecina-cinaan� ―maka para penulis buku tentang agama Tionghoa harus mati-matian mempertahankan pendapat bahwa istilah KELENTENG itu asli Indonesia, bukan berasal dari istilah KOAN-IM TENG!

Mengapa bisa terjadi di Jakarta dan Jawa Barat KELENTENG menjadi VIHARA (WIHARA), sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur TEMPAT IBADAH TRIDHARMA (TITD)? Patut diketahui, di Jakarta dan Jawa Barat banyak dewa-dewi tuanrumah KELENTENG dipaksa “pindah agama� dari Sam Kauw 三教 (Man. San Jiao, atau Tri Dharma alias “Tiga Ajaran� ) ke Hoet Kauw 佛教 (Man. Fo Jiao, ajaran Buddha) alias Sek Kauw 釋教 (Man. Shi Jiao), antara aliran Theravada dan Buddhayana, karena hanya Hoet Kauw lah yang diakui oleh pemerintah orde babe; Khong Kauw (Man. Kong Jiao) �"教 alias Djie Kauw �'教 (Man. Ru Jiao), dibiarkan mengambang; diakui tidak, tidak diakui juga tidak; sedangkan To Kauw � "教 (Man. Dao Jiao) tidak, bahkan sampai kini.

Pemaksaan secara sistematis tersebut dilakukan dengan mengintimidasi para pengurus kelenteng, bahwa kelentengnya akan ditutup, kalau tidak mau “pindah agama.� Untuk “pindah agama� caranya mudah, letakkan saja sebuah arca Buddha (Buddharupang) di meja altar paling depan yang menghadap ke dalam, jadilah kelenteng itu sebuah VIHARA (WIHARA)! Akibatnya, generasi muda Tionghoa di Jakarta dan Jawa Barat banyak yang sulit membedakan yang mana KELENTENG, yang mana VIHARA (WIHARA). Padahal sederhana saja, dalam bahasa Inggris KELENTENG adalah “Chinese Temple� dan VIHARA (WIHARA) “Buddhist Temple.�

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur hal itu tidak terjadi; Sam Kauw di sana berhasil melewati “masa-masa sulit� atas kegigihan beberapa tokohnya, antara lain yang saya tahu, Tikno (“Oom� Tik) dari Semarang dan Ong Kie Tjay dari Surabaya, sang ketua Gabungan Sam Kauw Indonesia Jawa Timur, bertahan dengan konsep Sam Kauw-nya. Akibatnya, nama TEMPAT IBADAH TRIDHARMA (TITD) lah yang dipakai.


Lalu, istilah KUIL (TIONGHOA) semata-mata merupakan terjemahan dari istilah Belanda (CHINEESCH) TEMPEL dan istilah Inggris (CHINESE) TEMPLE. Itu saja. Istilah umum ini kurang lazim digunakan bagi rumah ibadah Tionghoa. Selain KUIL Tionghoa, tentu masih ada ada KUIL Buddha, Hindu, Shinto dll.


Kiongchiu,

DK

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 42636


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/545-gereja--tempat-ibadah-orang-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto