A+ A A-

Catatan Perjalanan Imlek 2011 Part 3 (habis)

  • Written by  AK. Bromokusumo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Hari keempat dan seterusnya. Kami semua bangun agak siang. Sungguh malas keluar dari tumpukan selimut hangat. Sarapan sudah tersedia di meja makan. Mama mertua bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan orang serumah. Sarapan berlangsung hangat sambil makan sambil bertukar cerita dengan asik.

Pembicaraan pagi itu diisi dengan perencanaan harus pergi ke mana saja menyambangi keluarga besar istri. Total keluarga besar istri mencapai sekitar 20 keluarga, mulai dari siblings ayah dan ibu mertua saya, sampai dengan keluarga besar keponakan, sepupu, ipar, dsb, dsb, dsb. Sungguh “mengerikan” bagi saya yang tidak punya keluarga sebesar itu.

Sampai hari ini saya masih bingung akan panggilan atau sebutan keseluruhan anggota keluarga besar istri. Dari paman ke sekian, bibi ke sekian, sepupu yang ini dan itu, misan yang ini dan itu, sungguh memusingkan.

Hari itu kami isi dengan jalan-jalan di kota, berkeliling di kota membeli beberapa keperluan dan singgah ke salah satu ATM untuk mengisi dompet. Detail hari keempat sampai hari kepulangan kami ke Indonesia tidak bisa saya ingat dengan baik, saking banyaknya dan saking membingungkannya.

Yang pasti acara penuh pagi-siang-sore-malam dari satu keluarga ke keluarga lain, dari satu tempat ke tempat lain, dari satu acara ke acara lain, dari satu makan siang ke makan malam yang lain.

Kota ini jauh berbeda dibandingkan di tahun 2007. Waktu itu anak-anak saking bosannya makanan setempat ingin mencari donat saja susahnya bukan main, sementara sekarang toko roti, bakery dan pastry ada di mana-mana. Waktu itu “alternatif” lain hanya ada KFC, dan sekarang ada Pizza Hut, McD, dan yang lainnya. Saya sebut “alternatif” karena di mulut dan lidah terasa lebih enak karena digeber Chinese food setiap saat.

Di salah satu pagi, kami sekeluarga mencari sarapan di luar karena ingin juga mencicipi kuliner lokal di sana. Yang membuat saya sedikit heran adalah yang disebut dengan 豆 腐 花 (pinyin: doufu hua) atau kembang tahu atau wedang tahu. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan wedang tahu yang kita kenal di Indonesia. Wedang tahu yang kita kenal di sini adalah wedang tahu dengan kuah manis pedas jahe. Di sana “wedang tahu”nya lebih mirip bubur ayam.

Bentuk tahu’nya sama persis, rasanya juga sama persis, tapi paduannya yang berbeda langit dan bumi dengan yang di Indonesia. Di sana “wedang tahu” diberi taburan udang kecil-kecil (rebon) garing renyah, sedikit kuah kecap yang asin gurih, irisan sayur asin dan taburan daun bawang.

Kami juga memesan xiao long bao yang mak-nyus sekali, di tiap gigitan mengeluarkan kuah daging gurih yang lumer di dalam mulut.

Ada juga mie dengan kombinasi potongan gluten dan daging, serta pangsit goreng yang ukurannya mantap.

Semakin mendekati Tahun Baru Imlek, “siksaan demi siksaan” mulai berdatangan bertubi-tubi. Kenapa saya sebut siksaan adalah karena kemampuan perut (saya terutama) terbatas untuk menerima semua undangan dan sajian makan beruntun makan siang dan makan malam dari satu keluarga ke keluarga lain.

“Siksaan” tsb semakin lengkap karena semua masakan tsb sungguh sangat generous penggunaan MSG’nya. Sudah sejak lama keluarga kami memasak tanpa MSG, yang membuat saya sangat sensitif dengan MSG. Takaran MSG yang luar biasa sering membuat saya mual dan migraine yang menyiksa. Salah satu cara menetralisir itu semua adalah minum banyak-banyak greentea, sehingga agak mendingan.

Sungguh banyak macam masakannya, yang dimulai dari cold dishes sebagai appetizer dan kemudian hot dishes dari segala jenis daging, sayur dan sup, beruntun dan bertubi memenuhi meja silih berganti. Kalau ditotal sekali makan jenis masakannya bisa mencapai 20-30 macam.

Thousands Years Eggs

 

Jelly Fish Cold Dish

 

Chicken Soup with Mushroom

 

Wild-boar Soy Sauce

 

Luncheon Beef

 

Pork Soy Sauce

 

Stir Fry Sweet-garlic-chives (Suan Miao, 蒜 苗)

Malam tahun baru, kami sekeluarga berkumpul bersama di salah satu resto dengan pertimbangan praktis dan tidak usah repot memasak dan mencuci peralatan makan sesudahnya. Resto yang kami pilih adalah resto hotpot yang paling terkenal di kota itu. Kami menikmati hotpot dengan diiringi saling memberi selamat dengan minuman, saling mengucapkan selamat tahun baru disertai dengan all good wishes. Untuk anak-anak disediakan orange juice sehingga bisa ikut meramaikan saling menyulangi minuman ini.

Kegiatan bersulang arak di malam tahun baru sangat jamak. Di meja sebelah-sebelah kami juga terlihat saling bersulang dengan minuman yang lebih berat lagi, yaitu spirit (sekelas Wu Liang Ye dan Moutai, hampir mirip dengan vodka dengan kadar 60-70% alkohol).

Sejak sore hari pukul 17:00 di malam tahun baru, di seluruh penjuru kota sudah terdengar ledakan mercon dan terlihat kembang api di mana-mana. Suara mercon atau petasan inilah yang sangat membedakan suasananya dengan di Indonesia. Rentetan mercon membahana di mana-mana. Semakin malam semakin intens.

Tepat tengah malam langit seluruh kota seakan menyala bersamaan meriah dengan kembang api dan juga suara mercon bertalu-talu. Kami melihat dan mengamati semua itu di pelataran gedung apartment kakak istri saya. Sayang lokasi yang kurang bagus untuk mendapatkan foto-foto kembang api.

Hari pertama bulan 1 tahun baru Imlek diisi dengan kumpul keluarga inti di apartment kami. Sesuai tradisi, tidak boleh menyapu dan membersihkan rumah. Kami semua bermalas-malasan bangun dan menikmati sarapan telur yang dimasak secara khusus dengan beberapa rempah China. Telur yang disebut dengan 荷 包 蛋 (pinyin: he bao dan), mengandung makna dan doa agar semua lancar di tahun yang baru.

Kemudian kami pergi ke kota dan berjalan-jalan. Di sana sini masih saja ada orang yang menyalakan petasan.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kunjungan dari satu keluarga ke keluarga yang lain untuk 拜 年 (pinyin: bai nian, baca: pai nien), yaitu silaturahmi ke yang lebih tua mengucapkan selamat tahun baru Imlek. Di Indonesia sering disebut dengan paicia (dialek Hokkian).

Anak-anak memanen angpao dari banyak keluarga, mengingat kami juga tidak setiap tahun baru Imlek merayakan di kampung halaman istri, keluarga besar istri tidak segan dan cukup royal dalam memberikan angpao ke anak-anak. Demikian juga saya dan istri juga menyiapkan angpao untuk para keponakan dan barang hantaran untuk para tetua.

Jelas tidak ketinggalan adalah makan, makan dan makan lagi. Di salah satu acara makan-makan ini, saya mencoba arak red bayberry (杨 梅 酒, pinyin: yang mei jiu, baca: yang mei ciu). Arak peraman sendiri yang nikmat, walaupun “pukulan”nya cukup terasa di kepala. Harum dan nikmat rasa arak red bayberry ini.

Salah satu menu dengan latar belakang arak red bayberry

 

Red Bayberry/Yang Mei (Wikipedia)

 

Teknologi dan Budaya

Selama tinggal di sana banyak hal menarik yang saya amati. Kemajuan China dan melambungnya perekonomian China menyebabkan terjadinya booming teknologi di sana. Di mana-mana terlihat kaum muda (baik yang single ataupun keluarga muda) banyak menenteng gadget canggih seperti iPhone dan iPad. Dua gadget ini yang menjadi primadona.

Internet yang di rumah kakak istri, luar biasa cepat dan sangat murah. Kecepatan download 5-koma-sekian Mbps dan upload 3-koma-sekian Mbps dibayar hanya RMB 600 untuk setahun!! Bandingkan dengan tarif di Indonesia! Broadband di rumah dengan download 5Mbps, dan upload 1Mbps, kami harus membayar Rp. 330.000 per bulan.

Di apartment kami tidak terpasang internet karena yang tinggal di situ hanyalah orangtua kami yang tidak membutuhkan internet. Untuk keperluan browsing dan update Baltyra, saya beli USB modem dari provider lokal, harga yang cukup murah sekitar Rp. 500.000 dengan kecepatan download 3-koma-sekian Mbps (walaupun tertulisnya 7.2Mbps), dan upload sekitar 1Mbps.

Sungguh nyaman berselancar internet di China dengan kecepatan yang sangat mumpuni. Tapi…nah ini dia…banyak situs yang tidak bisa dibuka di China. Jangan harap buka youtube dan Facebook. Itu hanya 2 contoh situs yang diblokir pemerintah China.

Untuk Google masih bisa digunakan. Untuk Google Images di mana biasa saya mencari gambar untuk ilustrasi artikel, kadang bisa dibuka kadang tidak bisa. Jika bisa dibuka, kemudian memasukkan keywords gambar yang ingin dicari, memang keluar, tapi jika di’click tidak bisa. Ada yang mengirim artikel melalui Notes di FB yang menyebabkan saya harus sedikit “berputar” untuk masuk ke FB mengambil kiriman artikel tsb.

Jika satu proxy hari ini bisa digunakan untuk buka FB ataupun mencari gambar di Google Images, besoknya pasti sudah tidak bisa. Saya kemudian berganti proxy yang lain lagi, demikian seterusnya harus silih berganti mengakali supaya bisa tetap mengakses Google Images dan FB, yang berarti memang segala aktivitas di internet memang ada yang memantau. Memang sensor internet pemerintah China harus diakui luar biasa.

Masyarakat pengguna internet sendiri tidak pusing dengan blokir pemerintahnya, karena pemerintah China sudah menyediakan “local content” yang setanding canggihnya. Untuk search engine dikenal baidu.com; untuk social media seperti Facebook, dikenal renren.com; untuk video seperti youtube, dikenal youku.com dan masih banyak lagi “local content” di sana. Pengguna renren.com di China mencapai jutaan dan terus tumbuh pesat.

Situs baidu.com sendiri adalah search engine yang sangat powerful. Saya sudah membuktikannya sendiri waktu di sana.

Yang jelas melakukan upload artikel dan update Baltyra.com di China membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding jika dilakukan di Indonesia. Bahkan di Hong Kong sekalipun tidak seribet di China.

Kemajuan ekonomi yang berdampak luas ke segala sisi kehidupan masyarakatnya sungguh terasa. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2007 di tempat yang sama ini. Penetrasi teknologi dan masyarakat yang melek teknologi, masyarakat yang melek mode dan fashion dsb. Pakaian winter di China jauh lebih berwarna-warni dan memiliki gaya tersendiri jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa misalnya.

Perbedaan yang lebih menyolok lagi adalah jumlah mobil yang ada di jalanan. Sungguh luar biasa! Toyota masih menempati urutan atas, disusul berturut Buick, Mazda, Honda dan merek-merek lokal. Untuk urutannya saya kurang jelas, karena hanya pengamatan sekilas saja. Model mobil terbaru berseliweran di mana-mana.

Dan yang paling membedakan lagi adalah attitude para pengemudi mobil tsb. Di kota Hangzhou pengemudi mobil sangat santun dan menghargai pengguna jalan lain serta menghormati dan memberikan prioritas kepada pejalan kaki. Jangan harap di kota ini. Suara klakson bersahutan tak henti-henti bergema di seluruh penjuru kota. Keadaan ini sama persis seperti tahun 2007 lalu.

Beberapa kali saya menjumpai supercars yang diparkir di depan rumah di pedesaan. Sungguh kontras dengan bentuk rumahnya, Lamborghini Gallardo, Porsche, atau Ferrari terlihat terparkir manis di depan rumah di pedesaan. Sportcars atau coupe berseliweran di jalan-jalan sudah biasa, jumlahnya bisa dibilang menakjubkan.

 

Dari awal cerita selalu berkisar ke makanan yang satu ke makanan yang lain, di mana ini perayaan Imlek’nya? Jawabnya adalah: TIDAK ADA! Lho? Tidak ada? Iya, memang tidak ada!

Memang benar budaya Tionghoa di luar China jauh lebih kuat dibandingkan di tempat asalnya sendiri. Jangan berpikir akan melihat segala pernik rangkaian upacara seperti di artikel Rangkaian dan Makna Perayaan Imlek atau melihat sembahyangan dengan segala macam masakan Imlek seperti di artikel Makanan Sincia dan Maknanya.

Di seluruh keluarga besar istri yang kami kunjungi satu per satu, tidak ada satupun yang menjalankan rangkaian perayaan Imlek ataupun menyajikan sajian masakan Imlek seperti dalam 2 artikel tsb di atas. Bukan hanya keluarga besar istri, tapi termasuk beberapa teman dan kerabat lain juga tidak ada lagi yang merayakan seperti di Indonesia.

Tahun Baru Imlek bagi orang China di negerinya sendiri hanyalah sekedar perayaan tahun baru, tak lebih tak kurang. Makna paling dalam yang masih tinggal adalah berkumpulnya seluruh keluarga di malam tahun baru untuk menikmati makan bersama dan saling mengucapkan selamat tahun baru di hari pertama Tahun Baru Imlek. Fenomena mudik di seluruh penjuru China memang nampak, mudik dari tempat yang jauh ke kampung halaman masing-masing.

Mungkin saja, karena Revolusi Kebudayaan (Great Proletarian Cultural Revolution, 无 产 阶 级 文 化 大 革, atau disingkat Cultural Revolution saja) di era Mao tahun 1966-1976 yang menghabiskan semua unsur budaya dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Entahlah…yang jelas tidak satupun unsur budaya yang masih banyak kita jumpai di kota-kota di Indonesia atau kota lain yang masih sangat kental budaya Tionghoa’nya dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Yang ada sekarang adalah berkumpul bersama keluarga inti, kemudian keluarga besar, makan, makan dan makan, plus diiringi bersulang minuman beralkohol saling mengucapkan ucapan selamat tahun baru dan ucapan pengharapan. Ucapan-ucapan yang sudah banyak kita kenal: “gong xi fa cai” (恭 喜 发 财), “wan shi ru yi” (万 事 如 意), “shen ti jian kang” (身 体 健 康), “xin nian hao” (新 年 好), “xin nian kuai le” (新 年 快 乐).

Tak terasa hari kepulangan kami ke Indonesia segera tiba. Di sela-sela acara yang padat kesana kemari, kami masih sempat meluangkan waktu berjalan-jalan sendiri, mengeksplorasi kota yang sudah jauh berkembang dibandingkan ketika kami datang tahun 2007. Kami sempat memborong banyak buku untuk keperluan usaha kami dan juga anak-anak kegirangan memborong film-film kartun yang tidak ada di sini.

Singkat cerita, hari kepulangan kami tibalah. Paginya kami masih sempat keluar sarapan mie yang lezat luar biasa di dekat apartment kami. Harus diakui secara keseluruhan harga makanan di China memang lebih murah dibanding di Indonesia. Empat mangkok (besar) mie dengan berbagai macam garnish hanya perlu membayar RMB 20. Luar biasa murah!

Sekitar tengah hari mobil jemputan yang sudah diatur oleh seorang teman tiba. Kami segera menata koper-koper kami ke dalam van nan lega tsb. Segera kami semua meluncur ke arah Hangzhou.

Hal yang saya perhatikan lagi adalah pada waktu membayar tol. Para petugas jalan tol yang ada di tiap gardu pembayaran akan tersenyum ramah dan mengucapkan “xin nian hao” (新 年 好).

Waktu 2.5jam berlalu dengan cepat. Sore hari kami sudah sampai di Hangzhou International Airport. Beberapa jam lebih awal memang, tapi tidak masalah, daripada penuh ketidakpastian di jalan, lebih baik lebih awal tiba di airport.

Berbeda dengan LCC di Kuala Lumpur, di Hangzhou tidak ada self check in booth, sehingga kami harus menunggu counter check in buka. Kami berjalan-jalan di sekitar departure hall. Tidak banyak yang dilihat. Ada satu mobil limusin kuno buatan China yang dipajang di tengah-tengah hall.

Anak-anak merebahkan diri di deretan bangku yang ada, sementara saya kembali berselancar di internet. Setelah puas browsing, kebetulan jam makan malam tiba. Saya mencari-cari tempat yang enak untuk makan. Akhirnya saya berjalan ke domestic departure hall di mana terdapat fastfood berjudul “Kungfu” dengan gambar siluet Bruce Lee. Makanannya cukup enak dan harganya masih masuk akal.

Para petugas counter check in mulai nampak menyiapkan prosedur check in. Para penumpang mulai mengantre di depan counter. Saya mengantre sambil melihat-lihat jadwal penerbangan yang lain. Ternyata sudah ada beberapa LCC yang penerbangan langsung Hangzhou – Denpasar, dan cukup surprise melihat penumpang yang ke Bali sangat banyak, baik yang berlibur berombongan didampingi oleh travel agent ataupun yang berlibur sendiri, berpasangan ataupun bersama keluarga.

Setelah proses check in beres, kami segera menuju ke bagian imigrasi untuk selanjutnya ke ruang tunggu di dekat boarding gate. Semua penerbangan dari berangkat sampai pulang ini sungguh tepat waktu. Untuk ketepatan waktu memang boleh angkat jempol.

Penerbangan ke Kuala Lumpur berjalan lancar dan nyaman. Setelah sampai di Kuala Lumpur semua berjalan persis seperti waktu berangkat, hanya berbeda di waktu saja, karena jarak dari kedatangan di KL sampai terbang lagi hanya beberapa jam saja. Kami sempatkan mengisi perut sebelum melakukan check in.

Singkat cerita sampailah kami ke Jakarta, dan lagi-lagi tepat waktu. Proses imigrasi lancar sekali, pengambilan bagasi juga sangat lancar. Kami berjalan beriringan keluar lewat Jalur Hijau, tidak ada masalah sama sekali, tidak dipanggil, tidak dicarikan perkara sama sekali. Hanya tas yang ada di tangan yang diminta masuk ke scanner.

Bohong besar dan mengada-ada semua berita yang mengatakan kekuatiran akan dikenakannya pajak import jika membawa oleh-oleh dari luar negeri ini dan itu. Buktinya kami dan para penumpang lain juga lancar saja melewati Customs. Yang penting adalah niat dan hati kita sendiri. Dan yang pasti adalah jangan bertingkah aneh-aneh yang malah menimbulkan kecurigaan para petugas. Petentang-petenteng, celingukan penuh curiga atau was-was, ya jelas saja pasti kena masalah.

Intinya adalah biasa-biasa dan normal-normal sajalah kita, toh tidak membawa barang bawaan yang berbahaya atau dilarang, terus saja berjalan normal.

Jadi janganlah terlalu mudah percaya dan termakan segala macam issue berita-berita dari milis ke milis, dari BBM ke BBM, dari e-mail ke e-mail. Semua kembali ke diri kita masing-masing.

Mobil dan pengemudi kami sudah menanti di luar dan pulanglah kami ke rumah setelah perjalanan yang menyenangkan (walaupun cukup melelahkan) kali ini.

Terima kasih sudah membaca.

[AK Bromokusumo]

Sumber dan Tautan  :

  1. http://baltyra.com/2011/03/11/catatan-perjalanan-imlek-2011-3-habis/
  2. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/56623 [AK Bromokusumo]
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/548-catatan-perjalanan-imlek-2011-part-3-habis

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto