A+ A A-

Perbedaan Pengucapan Baihua dan Wenyan

  • Written by  Rinto Jiang | King Hian
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya Tionghoa.Net | Apa perbedaan pengucapan baihua dan wenyan ? Untuk membahas ini, kita harus dulu membedakan antara bahasa klasik (wenyan) dengan bahasa vernakular /percakapan sehari2 (baihua). Bahasa klasik pada dasarnya sudah dimuseumkan sejak tahun 1919 bertepatan dengan Gerakan 4 Mei 1919 yang berisikan tuntutan penyamarataan hak untuk mendapatkan pendidikan bagi seluruh orang Tiongkok. Dulu, bahasa klasik itu adalah monopoli orang-orang terpelajar dan kalangan pejabat pemerintahan. Jadi ada perbedaan status sosial dalam hal penggunaan bahasa klasik dan bahasa vernakular tadi. Ini dari segi status sosial.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Tujuan gerakan 4 Mei 1919 itu adalah penggunaan bahasa tulisan baihua (baihuawen) untuk menggantikan bahasa tulisan wenyan (wenyanwen). Pada saat itu tulisan ditulis dengan menggunakan wenyanwen, sementara orang berbicara menggunakan bahasa percakapan yang strukturnya berbeda dengan wenyanwen. Jadi perbedaan utama baihuawen dan wenyanwen adalah tatabahasanya.

Sementara, perbedaan pelafalan dalam bahasa Hokkian yang dibahas sebelumnya adalah pelafalan bunyi baihua (baihuayin) dan bunyi wenyan (wenyanyin).

Dari sekian banyak kelompok dialek bahasa Tionghoa, dialek yang mengenal perbedaan pelafalan huruf Tionghoa (baihuayin dan wenyanyin) adalah dialek Min (terutama Minnan).
 
Pada dialek-dialek lain seperti dialek Xiang di Provinsi Hunan, dialek Gan di Provinsi  Jiangxi dan dialek Wu di Jiangsu atau Shanghai --  juga dikenal perbedaan baihuayin dan wenyanyin, walau sedikit sekali. Sedangkan dialek Yue (Konghu), dialek Kejia (Hakka), dan Mandarin, bisa dikatakan tidak mengenal perbedaan baihuayin dan wenyanyin.
 
Perbedaan baihuayin dan wenyanyin ini mirip dengan bahasa Jepang yang mengenal pelafalan kunyomi (pelafalan menurut bahasa Jepang asli) dan onyomi (pelafalan yang berasal dari bahasa Tionghoa). Contoh: karakter (orang) dibaca: HITO (kunyomi) dan JIN (onyomi).

Dari segi perkembangan, maka jelas saja bahasa vernakular adalah lebih dinamis daripada bahasa klasik karena bahasa vernakular biasanya mengikuti evolusi bersama dengan evolusi kemasyarakatan. Perkembangan dan kemajuan di masyarakat akan mempengaruhi ini bahasa vernakular, baik cara pengucapan, kosa kata maupun tata bahasa. I

tu makanya dapat dimengerti bahwa bahasa Mandarin yang kita dengar dan bicarakan sekarang adalah bahasa Mandarin yang baru sempurna perkembangannya di zaman Ming dan Qing. Bahasa Mandarin yang kita kenal sekarang ini baru muncul di zaman Yuan.

Nah, dari paragraf - paragraf di atas maka dapat kita mengerti mengapa ada perbedaan pengucapan antara bahasa klasik dan vernakular dikarenakan bahasa klasik relatif tidak berkembang dibanding dengan bahasa percakapan sehari-hari.

Pertanyaannya, apakah bahasa klasik pernah sama dengan bahasa vernakular? Jawabannya pernah, di zaman Dinasti Zhou , yaitu waktu permulaan terbentuknya bahasa Han. Di zaman Konfusius, bahasa klasik itulah bahasa percakapan sehari-hari.

Itu makanya di zaman dulu, orang-orang Han itu bicaranya singkat dan padat, hanya dengan beberapa karakter. Inilah yang menyebabkan 4 karakter ucapan Konfusius itu dapat diterjemahkan jadi puluhan karakter kalau dengan bahasa Mandarin sekarang. Lafalnya juga sama antara klasik dan vernakular.

Dalam perkembangannya, bahasa klasik dan bahasa vernakular berkembang terpisah baik dalam pengucapan, kosa kata, tata bahasa dan strukturnya. Menjawab pertanyaan  tentang wenyan dan baihua, saya jelaskan bahwa tiap dialek punya cara baca wenyan dan baihuanya sendiri.

Dialek Kanton punya cara baca wenyan dan baihuanya. Dialek Hokkian dan yang lainnya juga. Kosa kata bahasa klasik juga lebih sedikit daripada bahasa vernakular. Jadi tidak mengherankan bila kakek saya dapat membaca karakter mandarin dengan lafal Tiochiu, namun ada beberapa kata percakapan dalam dialek Tiochiu yang tidak ada karakter Han-nya.

Artinya, bila ada karakter, pastilah dapat dilafalkan dalam dialek apapun, namun bila ada lafalnya, belum tentu ada karakternya. Ini perbedaan terbesar daripada bahasa klasik dan bahasa vernakular. Baihua Minnan yang tidak ada wenyannya, itu sebenarnya adalah wenyan.

Namun, bahasa klasik Han itu besar sekali pengaruhnya terhadap kebudayaan Tionghoa karena dengan terpisahnya perkembangan bahasa klasik dan vernakular, menyebabkan bahasa klasik yang relatif tidak berkembang menjadi modal para linguis, sejarahwan dan lainnya dapat mendalami sejarah Tiongkok dengan mudah. Jadi, ucapan Konfusius dapat dibaca dan dimengerti dengan mudah walau sudah beribu2 tahun hanya karena masih ada warisan bahasa klasik yang statik.

***

Umumnya dikatakan bahwa Baihua adalah pelafalan huruf Han sama seperti pada percakapan, sedangkan Wenyan adalah pengucapan huruf Han pada pembacaan karya sastra, misalnya pada pembacaan puisi (shi) dan kitab suci (jing).

Contoh perbedaan perlafalan baihua dan wenyan dalam bhs. Hokkian dialek Zhangzou dan (Xiamen):

Hanzi                  Pinyin Baihua Wenyan Arti
大                             da tua tai besar
生              sheng sne(sni) seng(sing) lahir
玉                        yu gek(gik) giok batu giok
chang tng tiang(tiong) panjang
人                       ren lang jin(lin) orang
安                              an wna an selamat
黃                      huang wni(ng) hong kuning
hong ang hong merah
xiang hnio(hniu) hiang(hiong) harum
yue gueq(geq) guat bulan
yuan hnui(hng) wan taman
shan snua san gunung
shui cui sui air
jing knia keng/king ibukota
lin na lim hutan
tian chan tian sawah
tian tni thian langit
long leng(ling) liong naga
fu pe hu ayah

catatan:

1. n setelah konsonan menunjukkan bunyi sengau, misalnya: TNI dibaca TI dengan bunyi sengau
2. k diujung diucapkan dengan bunyi k, bukan untuk menunjukkan vokal pendek (lihat catatan no 3 di bawah), misalnya: GEK, diucapkan GEK dengan k ikut diucapkan z

3. q diujung adalah untuk menunjukkan vokal pendek, misalnya: GUEQ dibaca GUE dengan E pendek

Untuk sne atau marga, umumnya digunakan bunyi baihua, misalnya: Huang 黃 Wni(Ng), sering ditulis Oei, Oeij atau Oey. Marga Zheng 鄭 Tne(Tni), sering ditulis The Ada juga sedikit sne yang menggunakan bunyi wenyan, misalnya marga Lin 林 Lim , di Jawa Tengah dan Jawa Timur ditulis Liem. Contoh lain marga Ye 葉 Yap

Untuk nama orang, umumnya digunakan bunyi wenyan, misalnya: Yuexiang 月香 Guat-hiang (Guat-hiong) , Xuefang 雪芳 Suat-hong , Yushan 玉山 Giok-san

Nama tempat, bisa menggunakan bunyi wenyan dan baihua, tergantung kebiasaan. Hal ini akan membingungkan bagi yang belum tahu bagaimana pengucapan nama yang benar, jika ia hanya melihat hurufnya saja. Misalnya:  華安 dibaca: Hua An, 南安 dibaca: Lam Wna. Terlihat bahwa huruf 安 dibaca menjadi AN (pada Huaan) dan WNA (pada Lamwna).

Pada percakapan sehari-hari, banyak juga digunakan istilah-istilah yang menggunakan bunyi wenyan, misalnya: aijin (kekasih), liamkeng (membaca kitab). Penyebutan angka untuk nomor telepon dan angka tahun digunakan byuni wenyan, misalnya: 1986 adalah: yit kiu pat liok (bukan cit kao peq lak).

Selain itu, ada beberapa istilah yang diucapkan dengan bunyi wenyan pada satu tempat, tetapi diucapkan dengan bunyi baihua di tempat lain. Misalnya:

- Daxue 大學 (universitas) di Taiwan diucapkan 'tai hak', di Xiamen diucapkan 'tua oq'
- Shangban 上班 (berangkat kerja) di Taiwan diucapkan 'siong pan', di Xiamen diucapkan 'cniu pan'

Bahasa di Anhui tidak termasuk kelompok bahasa Hokkian. Bahasa di Anhui adalah bahasa Huizhou dan bahasa Gan. Dalam dialek di Hefei (ibukota propinsi Anhui), nama  Liang Dezeng (梁德增) dibaca: Lnia Taq Cen. Catatan bahwa "Lnia" dibaca Lia dengan bunyi sengau dan Taq dibaca Ta dengan A pendek. 

King Hiang & Rinto Jiang , 12151

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 03 October 2012 17:38
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/590-perbedaan-pengucapan-baihua-dan-wenyan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto