A+ A A-

Dewa Pintu

  • Written by  Rinto Jiang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Saya ingin tanya, bagaimana menjawab pertanyaan di bawah ini: Kenapa di kelenteng gambar dipintu masuk selalu ada gambar jendral perang yang wajahnya sanggar?...Karang Terjal


Budaya-Tionghoa.Net |
Itu adalah sebagai simbol dewa pintu. Dewa pintu adalah simbol penghormatan pada benda yang lazim di zaman pra-sejarah Tiongkok di mana semua benda dianggap mempunyai roh. Untuk kemudian dewa pintu diadopsi oleh aliran keagamaan yang berkembang di Tiongkok.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Pintu adalah lokasi yang harus dilewati manusia setiap harinya dan sangat erat kaitannya dengan kehidupan menusia sehingga menjadi salah satu yang dipentingkan. Pintu juga perlambang pertahanan dari luar. Sebagai perbandingan, ada juga dewa dapur yang merupakan wujud penghormatan pada dapur sebagai lokasi yang sangat penting di dalam rumah dan pusat kegiatan manusia sehari2.

Seiring dengan bertambah kompleksnya kepercayaan masyarakat, maka benda2 tadi kemudian di-manusia-kan untuk memberi kesan kedekatan dengan manusia. Dinasti Han, ada 2 tokoh mitologi dari zaman Dinasti Xia, Shen Cha dan Yu Le dijadikan sebagai wakil dewa pintu.

Dinasti Tang ada 3 tokoh yang didewakan sebagai dewa pintu, yaitu Jenderal Qin Shu-bao dan Jenderal Yuchi Gong, ditambah lagi dengan Zhong Kui yang pernah dibahas di milis sebagai pejabat Tang yang berwajah buruk sehingga hantu2 takut kepadanya.

Dewa pintu ini dipercaya untuk menjaga keamanan kelenteng dari oknum2 halus yang tidak berkepentingan. Ini kepercayaan. Bila dilihat dari nilai zaman sekarang ini, dewa pintu bolehlah diterjemahkan sebagai penghormatan terhadap jasa perlindungan pintu terhadap manusia seperti yang dijelaskan di atas.

Di vihara buddhisme, dewa pintu yang digambarkan di pintu vihara lain lagi. Yang menjadi wakil dewa pintu di vihara2 biasanya adalah Bodhisatva Veda (Weituo Pusa) dan Bodhisatva Jialan (Kwan Kong), keduanya dianggap sebagai penjaga Dharma.

Menurut saya sendiri, lukisan di pintu itu lebih berat komposisi seni dan artistiknya daripada penyimbolan religiusnya, sama seperti ukiran dan pahatan sebagai bagian dari arsitektur kelenteng ataupun vihara. Banyak memang bagi kita generasi muda khususnya yang Tionghoa yang tidak bisa menikmati nilai dan makna sebenarnya daripada perlambangan dan simbolisasi tersebut, terutama karena doktrin haram karena dianggap merupakan produk agama (kebudayaan?) lain. Tidak sedikit pula yang takut karena dianggap merupakan perwujudan setan. Kontras memang, yang dianggap dewa oleh kelompok orang ini dianggap setan oleh kelompok orang itu, sedangkan saya menganggap nilai artistik dan pemaknaannya lebih kental. Take it easy, jangan terlalu membebankan diri dan membuat sekat dengan doktrin2 religius.

Saya pernah melihat fenomena yang lucu. Di TV, saya pernah melihat tayangan kehidupan orang Mongol di Yunnan, waktu menyambut hari raya Imlek, mereka menggantikan gambar dewa pintu di pintu rumah mereka dengan gambar Kwan Kong dan Jenghiz Khan. Sekali waktu sewaktu berpesiar ke Lukang, Taiwan, ada sebuah rumah di gang kecil yang di pintunya dilukis dengan gambar "Spiderman" dan "Kura-Kura Ninja" lengkap dengan pakaian kebesaran jenderal perang Tiongkok.

Rinto Jiang

Budaya-Tionghoa.Net | Portal Budaya Tionghua

Last modified onThursday, 04 October 2012 07:08
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/621-dewa-pintu

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto