Logo
Print this page

Mengunjungi Negeri Dali - Negerinya Kisah Pendekar Taili [Part I]

Budaya-Tionghoa.Net | Untuk penggemar cerita silat, Selain To Liong To, Pendekar Negeri Taili  yang  dikarang juga oleh Jin Yong (Chin Jung) sangat popular di Indonesia.  Meskipun penerjemahnya berbeda. Yang pertama OKT dan yang kedua Gan KL. Sedikit yang tahu bahwa Jin Yong itu adalah Mancu, etnik minoritas yang pernah memerintah Tiongkok jaman  Sin Tiao Hiap Lu (Pemerintahan Kim) dan Dinasti Qing (Ching dulu Tjeng).

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

 Tulisan di bawah adalah kesan-kesan saya berkunjung ke “negeri Taili” itu, yang sekarang termasuk Keresidenan Otonom Etnis Bai  Dali di Propinsi Yunnan (Inlam = Yinlam)  dibagian barat dayaTiongkok yang berbatasan dengan tiga negara lain, Vietnam, Laos dan Myanmar.

 Keresidenan Dali (Hokkian: Taili)  dengan keresidenan Nu Jiang yang merupakan keresidenan Tiongkok terbarat yang berbatasan dengan Birma Utara,  terhalang pegunungan  tinggi yang memanjang ke selatan dari utara. Dengan lembah dan  sungainya yaitu Lembah Nujiang dan   Sungai Nu atau Nu Jiang . Di sebelah barat lembah ini ada pegunungan lagi yang parallel dengan yang tadi. Setelah itu sampailah ke Myanmar. Jarak lurus terdekat dari Dali ke Myanmar kurang dari 50 km, tapi jangan dibayangkan mudah menyeberang.

Dari Dali ke Nujiang saja tak ada jalan raya. Kalau mau ke Nujiang harus ke utara atau ke ujung selatan baru belok balik lagi masuk ke Lembah Nujiang. Lebih sulit lagi dari Nujiang ke Myanmar.  Tapi di sinilah tentara Tiongkok berbasis pada saat perang melawan Jepang dalam Perang Kedua Pertama. Negara Barat mensuplai bantuan lewat daerah ini. Tentara berjalan berhari hari mengarungi gunung dan lembah yang penuh hutan belantara tak dihuni manusia, lalu menyeberang dari Myanmar ke Tiongkok.

Sebagai ilustrasi sulitnya mencapai Nujiang ini kita lihat rencana pembangunan jalan kereta api di Yunnan:  Dalam waktu 15 tahun (dari tahun 2007),semua 16 ibukota keresidenan dan kota yang setingkat keresidenan sudah harus mempunyai jalan kereta api yang menghubungkan dengan keresidenan dan kota setingkat keresidenan lain, kecuali Lujiang ibukota keresidenan Nujiang.  Sekarang dari  dari 16 ibukota keresidenan dan kota setingkat keresidenan sudah 13 yang mempunyai atau sedang dibangun highway, hanya tiga yang belum, termasuk Nujiang.

Dari nama daerah Dali, yaitu keresidenan etnis Bai, sudah kelihatan bahwa daerah ini dihuni oleh berbagai etnis minoritas, di antaranya yang terbesar adalah etnis Bai. Kata orang disebut etnis Bai atau putih, karena wanitanya senang menggunakan gaun putih, polos ataupun berkembang padahal bagian atasnya berwarna-warni.

Kalau mereka berpakaian biasa, etnis ini tak beda dengan orang Han, mayoritas penduduk Tiongkok, hanya saja, iklim yang beda, menyebabkan kulit mereka lebih hitam. Tapi jangan disangka kalau yang lebih hitam itu pasti orang Bai, orang Han sendiri yang tinggal di sini, jauh lebih hitam dari di pedalaman.

Hanya tiga hari di sini, dan empat hari di Lijiang ( keresidenan etnis Naxi di utara Dali),  bagian terbuka dari tangan saya jauh berbeda dengan bagian atas yang tertutup kemeja tangan pendek (maklum musim panas), seperti tangan dua orang saja . Dua bulan kemudian barulah tangan saya tak belang lagi. Hitamnya beda dengan hitam orang Afrika, tapi hitam terbakar, mirip orang-orang Tibet. Pantas wanita muda di sana senang menggunakan payung. Akibatnya pakaian bercorak payung sangat popular di antara para gadis.

Kunming:

Meskipun tujuan ke Dali dan Lijiang dua keresidenan otonom di sana, mau tak mau kami mampir dulu ke ibukota propinsi, karena pesawat luar negeri semua mendarat di Kunming. Ada lapangan terbang dan setasiun kereta api ke Dali, di samping highway. Tapi semua itu juga tetap harus melalui  Kunming lalu menuju  ke arah barat.

Kunming beda dengan ibukota propinsi lain. Iklim subtropik, musim panas tak terlalu panas dan musim dingin tak terlalu dingin. Meskipun tak seterik Dali, tetap orang di sini kelihatan agak hitam terbakar. Terik bukan terlalu panas tapi sedikit awan, sehingga cahaya matahari langsung kena badan kita.

Kunming terkenal kota turis, karena di sini dihuni oleh campuran berbagai etnis.  Etnis minoritas memang sulit dibedakan karena kebanyakan memakai pakaian biasa seperti etnis Han. Hanya kalau ada pesta, hari raya dll baru mereka memakai pakaian tradisional. Atau guide rombongan tour yang diharuskan mengenakan pakaian resmi etnis minoritas.

Karena banyak etnis, kabarnya ada sekitar 26 etnis di propinsi Yunnan.  Kunming terasa lain, karena hampir tiap jenis etnis ada di kota ini dan hampir sama banyak. Di propinsi lain, misalnya di Xinjiang, etnis Han dan Uighur sudah hampir 95%. Jumlah penduduk minoritas banyak tapi jumlah etnis sedikit.

Di mana-mana kita hanya melihat orang Han dan Uygur.  Tambahan lagi bentuk fisik mereka  dan agama jauh berbeda . Ini yang menyebabkan ada gap antara kedua etnis itu. Di Kunming kebalikannya, jumlah penduduk etinis tak terlalu banyak (Han yang dominan) tapi jenis etnisnya banyak.

Karena itu kalau kita pergi Taman Mininya Kunming (Minzu Cun), kita segera akan melihat banyak sekali orang berpakaian tradisional, sehingga  penduduk Kunming sendiri kalau di tanya itu pakaian etnis apa biasanya tak tahu, terlalu banyak jenisnya, tambahan lagi etnis yang sama kalau  kampung halamannya berbeda corak  pakaiannya juga berbeda,   apalagi  kalau mereka berpakaian biasa, wajahnya, fisiknya tak dapat dibedakan, untuk orang sana mereka bisa membedakan kalau bicara, logatnya beda.

Kunming tadinya kota kecil di pegunungan. Karena letaknya di pedalaman (jauh ke laut ), lalu lintas sulit, tanah penuh dengan pegunungan. Jalan raya, meskipun highway sukar dibuat lurus benar, karena lembah dan jurang yang sangat dalam, kadang-kadang kita merasa ngeri kelihat ke bawah, bagaimana kalau bis terperosok ke jurang?

Sekarang kota Kunming menjadi kota modern yang sedang berkembang pesat. Gedung-gedung modern baru dan tinggi mencuat di mana-mana, jalan raya penuh sesak, apalagi bis kota. Jalan di pinggir kota sudah bertumpuk sampai tiga tingkat, proyek prasarana lalu lintas dikerjakan di mana-mana.

Kota Kunming dulu, hanya akan menjadi pusat dari kota raksasa yang sedang dibangun, yang luasnya beberapa kali Kunming lama. Bandar udara Kunming sudah menjadi bandar udara  Internasional, meskipun belum banyak pesawat asing langsung kecuali dari Asia Tenggara.

Yang saya lihat ketika lewat di jalan ada gedung konsulat Thailand dan Laos di sana. Untuk kesekian kalinya saya terjebak oleh kesan dari media bahwa Kunming kota di pedalaman ini adalah kota yang tertinggal pembangunannya dalam rangka modernisasi di Tiongkok.

Dulu ke Chengdu demikian, ke Nanning juga demikian sekali ini ke Kunming juga demikian. Entah pers bias, atau perkembangan yang terlalu pesat. Dalam situasi sekarang, saya kira dalam lima tahun mendatang Kunming harus sudah membuat kereta api bawah tanah, kalau tidak jalan raya utama yang sudah 6-8 jalur itu akan macet total.

Yang mengesankan adalah Kunming malam hari. Di taman-taman, di lapang yang besar terlihat kelompok masyarkat yang bernyanyi dan menari. Ada yang bawa alat musik sendiri, ada yang membawa rekaman lagu.

Lalu mereka bernyanyi dan menari di sana, sifatnya terbuka, semua orang boleh turut bernyanyi dan menari. Kelompok demikian banyak. Dua malam kami pergi keluar, pertama ke danau Cui tidak jauh dari hotel di seberang Unversitas Yunnan, ada empat rombongan yang demikian. Semua menari dan bernyanyi lagu-lagu rakyat (folk-song) .

Orang yang berjalan-jalan menghirup udara malam yang segar (maklum musim panas) banyak yang ikut bernyanyi dan menari, dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek-nenek. Tidak yang menertawakan atau memperdulikan kalau anda salah, semua dilakukan dengan rela dan bebas, sebelum mereka berangkat lagi untuk berjalan-jalan. Lagu yang dibawakan kebanyakan lagu-lagu dan tari rakyat popular  (folksongs dan folkdances)  , sehinga orang yang lewatpun bisa turut bernyanyi dengan riang.

Di malam kedua kami datang ke Dongfeng guangchang, tanah lapang luas dibeton, hanya banyak pohon-pohon di antaranya. Lapang ini di tengah kota. Tidak jauh dari jalan raya yang ditutup pada malam hari untuk yang berjualan di sana. Sehingga ramainya bukan main. Dari 8 kelompok  yang sedang menyanyi dan menari, saya temukan hanya satu kelompok yang bernyanyi jazz, terdiri dari beberapa anak muda. Dua kelompok yang bernyanyi lagu-lagu revolusioner yang memuja tanah air bahkan Ketua Mao, yang lainnya lagu rakyat termasuk lagu etnis minoritas.

Di pinggir lain banyak orang tua juga yang bermain layang-layang malam hari dan lampu kecil berbentuk kupu-kupu dan terbang. Karena gelap saya tak dapat melihat mengapa bisa terbang, atau pakai benang karena bisa ditarik.

“ Tak  heran”, pikir saya mengapa turis ke Kunming khususnya, dan wilayah propinsi Yunnan umumnya, yang makin lama makin popular. Tapi dari pengamatan saya, turis domestik dan Asia Tenggara plus Korea dan Jepang yang paling banyak. Turis kulit putih sedikit kecuali back packer. Karenanya hotel backpacker tak mudah dapat tempat tanpa booking jauh hari sebelumnya.  Awal tahun ini  di Chengdu, ibukota propinsi Sichuan , di hotel backpacker, saya adalah satu-satunya tamu non-putih.

Malam hari di seberang  Universitas Yunnan, di pinggir jalan penuh manusia yang berkerumun. Mula-mula saya kira ada kecelakaan lalu lintas, atau ada yang berkelahi. Menurut mahasiswa yang mengantar, keduanya bukan, mereka belajar bahasa Inggeris. Rupanya ada konsensus semua yang datang ke tempat itu harus mengobrol dalam bahasa Inggeris.

Semua orang boleh datang, tanpa absen, tanpa batas, bertemu dengan siapa saja di situ harus bicara bahasa Inggeris. Cari pacarpun boleh asal bicara bahasa Inggeris. Haha. Saya berhenti sebentar, mereka benar-benar taat konsensus, tanpa harus diawasi .Tak ada yang mengganggu, semua serius, tapi kadang-kadang terdengar tertawa riang kalau ada yang bicara tapi tak bisa melanjutkan.

Atau mengucapkan kata Ingeris tapi temannya tak mengerti. Anda tak usah malu atau takut, tak ada yang kenal anda, tak ada absen. Belajar dengan gembira.  Terus terang saya sangat kagum atas semangat belajar mereka, meskipun seperti umumnya orang Tiongkok yang belajar bahasa Inggeris selalu kesulitan untuk membuang nadanya, karena bahasa Tionghoa, dialek atau Mandarin, bahasa minoritas, kecuali Mongol dan Xinjiang, semua bahasa bernada.    (Bersambung)

Catatan: Usulan, komentar, bantahan  akan saya terima dengan senang hati, ini kisah kesan perjalanan pribadi bukan hasil research

LIANG U

Bersambung : Seri 2: Kota Lijiang, kota tua yang indah.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onFriday, 05 October 2012 02:19
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/631-mengunjungi-negeri-dali-negerinya-kisah-pendekar-taili-part-i?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .