A+ A A-

Sutra Yang Belum Dicetak (Anthony de Mello, Doa Sang Katak)

  • Written by  Hengky Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Tetsugen, murid Zen merencanakan karya besar, mencetak tujuh ribu buah buku sutra yang sampai saat itu hanya ada dalam bahasa Tionghoa.

Ia menjelajahi seluruh negara Jepang untuk mengumpulkan dana bagi rencana ini. Beberapa orang kaya memberinya sebanyak seratus butir emas, tapi kebanyakan ia mendapatkan uang receh dari petani. Tetsugen menyatakan terima kasih sama pada tiap penderma, tak peduli berapa jumlah uang yang diberikannya.



Sesudah selama sepuluh tahun, ia akhirnya bisa mendapatkan dana yang diperlukan untuk karya itu, tapi waktu itu sungai Uji meluap dan ribuan orang tertinggal tanpa makan dan perumahan. Tetsugen membagikan semua uang yang ia kumpulkan bagi rencananya untuk rakyat sengsara itu.

Lalu ia mulai mengumpulkan dana lagi. Lagi beberapa tahun lewat, sebelum ia mendapatkan uang yang ia butuhkan. Kemudian ada wabah yang menjalar di seluruh negeri, maka kembali Tetsugen memberikan semua yang ia kumpulkan untuk meringankan penderitaan rakyat.

Sekali lagi ia mengadakan perjalanan, dan duapuluh tahun kemudian, cita-citanya punya Kitab Suci dalam bahasa Jepang akhirnya menjadi kenyataan.

Percetakan yang menerbitkan buku pertama dari sutra itu ada di pertapaan Obaku, Kyoto. Orang Jepang menceritakan kepada anak-anaknya, bahwa Tetsugen menerbitkan tiga cetakan sutra dan bahwa dua yang pertama tidak bisa dilihat, tapi jauh lebih baik daripada yang ketiga.

(Anthony de Mello, Doa Sang Katak)

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/638-sutra-yang-belum-dicetak-anthony-de-mello-doa-sang-katak

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto