A+ A A-

Seri Tulisan Confucius [4] - Lima Kitab (Five Classics / Wu Cing)

  • Written by  Hengki Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Penyalinan ulang Lima Kitab [Wu Cing] merupakan suatu perwujudan nyata dimulainya era tradisi Confucianisme. Pencantuman naskah pra-Confucianis yaitu Kitab tentang Sejarah [Shu Cing] dan Kitab tentang Sajak [Shi Cing], dan naskah Ch'in Han seperti bagian tertentu dari Kitab tentang Upacara [Li Chi], mencerminkan bahwa semangat dibalik kebangkitan rencana pendidikan inti terhadap ajaran Confucius adalah bersifat menyeluruh. Lima Kitab dapat diuraikan dalam lima konsep pandangan, yaitu metafisikal, politik, puisi, sosial, dan sejarah. Wu Cing yang isinya sangat sulit dimengerti tersebut pada umumnya dipelajari setelah seseorang menguasai naskah yang ada dalam Empat Buku [Shih Shu].

Artikel Terkait :

{module [201]}

Pada tahun 136 SM dalam masa pemerintahan dinasti Han, kaisar Wu-ti mengumumkan ajaran Confucius sebagai ideologi negara China. Gelar Guru kehormatan [po shih] diberikan khusus kepada para pengajar yang diangkat untuk mengajar Wu Cing dimana hal ini masih terus berlanjut sampai memasuki abad ke-20. Pada tahun 124 SM, Wu Cing dimasukkan dalam kurikulum pelajaran inti di perguruan tinggi. Keahlian dalam menyajikan dan menjelaskan naskah Wu Cing menjadi suatu persyaratan mutlak bagi para sarjana yang hendak menjabat di pemerintahan.

Wu Cing terdiri dari I Cing (Kitab tentang Kejadian/Perubahan), Shu Cing (Kitab tentang Sejarah), Shih Cing (Kitab tentang Sajak), Li Chi (Rangkaian Upacara), dan Ch'un Ch'iu (Riwayat Ch'un Ch'iu).


1. Kitab tentang Kejadian/Perubahan (The Book of Change / I Cing)


Kitab ini merupakan salah satu kitab tertua yang diperkirakan sudah ada sejak masa 1100 SM sebagai suatu kitab yang mengandung filsafat hidup yang tinggi dimana menghubungkan kejadian alam semesta dengan berbagai perubahan terhadap kehidupan sehari-hari. Sejarah di Tiongkok mencatat bahwa I Cing banyak dipakai oleh para peramal pada zaman dinasti untuk menasehati para penguasa selama masa perang antar negara. Kemungkinan kitab ini disusun kembali oleh Confucius dan murid-muridnya. Kitab ini terdiri dari 24.707 huruf terbagi atas 64 bab sesuai dengan jenis heksagram Yin (negatif) dan Yang (positif).


Pandangan metafisikal tercermin dalam kitab ini yang merupakan kombinasi seni peramalan dengan teknik perhitungan dan perenungan secara mendalam. Sesuai dengan filosofi perubahan, alam semesta ini terus mengalami perubahan akbar yang disebabkan adanya interaksi konstan dua unsur energi yang saling mendukung ataupun saling bertentangan, yaitu Yin (unsur negatif) dan Yang (unsur positif). Alam semesta yang berasal dari perubahan akbar tersebut senantiasa mencerminkan kesatuan dan dinamisme tujuan. Seorang Budiman akan senantiasa diilhami oleh keharmonisan dan kreativitas dari pergerakan alam semesta ini, sehingga dia dapat menguasai pola perubahan tersebut dengan cara senantiasa memadamkan usaha yang mementingkan diri sendiri (egois) sehingga tercapai realisasi pokok pikiran paling tinggi dalam penyatuan manusia dan Yang Maha Kuasa.

Naskah utama dalam I Cing dipercayai merupakan hasil karya Wen Wang (hidup sekitar abad ke-12 SM), seorang petapa dan perintis dinasti Chou. Kitab ini berisi suatu pembahasan mengenai sistem peramalan yang dipergunakan oleh para peramal dinasti Chou. Terdapat satu bagian pelengkap komentar yang dipercayai sebagai hasil karya para cendekiawan yang hidup pada masa Perang
Negara (475 - 221 SM), dan dalam kedudukan filsafat dapat ditafsirkan sebagai suatu karya yang berusaha mencerminkan prinsip keberadaan alam semesta, sehingga karya ini dapat dianggap mengandung nilai sejarah filsafat China yang tinggi. Bagaimanapun para sarjana modern merasa terusik atas keberadaan I Cing dalam kumpulan klasik ajaran Confucius dengan alasan
Confucius selalu berusaha menghindari membicarakan sesuatu yang bersifat esoterik. Hal ini dapat dimengerti karena para pengikut Confucius pada masa dinasti Han (sekitar abad ke-2 SM) yang sangat terpengaruh oleh praktek Taois mengenai kekekalan, telah melakukan penyesuaian penggunaan I Cing dengan menambahkan beberapa komentar sesuai ajaran Confucius. Selanjutnya mereka memasukkan I Cing sebagai bagian dari Wu Cing.

Walaupun buku ini pada awalnya dipergunakan untuk peramalan, namun I Cing mempengaruhi cara pikir kebanyakan orang China. Kepopularitas I Cing disebabkan antara lain terdapatnya suatu cara pemaparan sistim kosmologi yang menghubungkan manusia dengan alam semesta sebagai suatu kesatuan. Keunikan I Cing dapat dilihat dari caranya menguraikan 64 simbol heksagram yang memiliki arti mendalam terhadap pengaruh kehidupan sehari-hari apabila dipahami dan diinterprestasikan secara benar. Selama berabad-abad, para penganut I Cing menyatakan bahwa kitab tersebut merupakan suatu sarana untuk memahami dan bahkan mengendalikan segala kejadian yang akan datang.

Heksagram I Cing dibentuk dengan menggabungkan secara berpasangan delapan
dasar trigram [pa-kua] antara satu bagian dengan bagian lainnya. Setiap trigram memiliki namanya sendiri yang mengandung arti asal dan arti simbol. Raja legenda Fu Hsi (hidup sekitar abad ke-24 SM) dipercayai telah menemukan trigram tersebut pada punggung seekor kura-kura. Sedangkan Wen Wang diakui sebagai perumus heksagram itu sendiri.

Secara praktek, seseorang 'menciptakan' suatu heksagram yang dituangkan
dalam suatu bentuk tertentu dengan berbagai cara. Heksagram dibentuk secara garis per garis dari bawah hingga membentuk suatu bentuk yang berurutan. Garis penuh memiliki angka sembilan, dan garis putus memiliki angka enam. Garis penuh mewakili Yang (sifat kosmik lelaki), sedangkan garis putus mewakili Yin (sifat kosmik wanita). Dua sifat tersebut menjelaskan bahwa segala makhluk dan segala perubahan disebabkan oleh interaksi yang terus menerus.

Keseluruhan garis dalam suatu heksagram dapat diperbandingkan dengan suatu
bentuk nat dalam musik. Setiap nat mempunyai suatu kualitas dan memiliki artinya tersendiri, dimana kebenaran tertinggi sangatlah tergantung dari tempat dimana suatu musik itu dinilai. Dengan berdasarkan prinsip yang sama yang diterapkan untuk setiap garis dalam suatu heksagram, maka dapat dilihat bahwa I Cing menguraikan terlebih dahulu setiap garis secara terpisah, kemudian memberikan keseluruhan interpretasi terhadap bentuk heksagram tersebut. Naskah I Cing pada umumnya diekspresikan secara tersembunyi, suatu bahasa yang memerlukan pemikiran mendalam, dimana memberikan keleluasan pemakainya untuk menginterpretasikan artinya. Para ilmuwan dapat menemukan hubungan heksagram dengan rumus ilmiah. Ahli matematika Jerman, Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646 - 1716), mendapatkan inspirasi dari delapan trigram tersebut, sehingga dapat menyempurnakan sistim biner dan menemukan kalkulus integral dan diferensial yang merupakan teori pertama dari komputer modern yang sedang saya pakai untuk mengetik saat ini. Martin Schonberger
dalam bukunya The Hidden Key to Life, mencatat bahwa 64 heksagram dari I Cing sangat sesuai dengan struktur 64 DNA yang merupakan kode genetik kehidupan seseorang.

I Cing yang dikenal juga dengan sebutan Zhou Yi (perubahan Zhou) merupakan
sumber budaya Tiongkok yang pengaruhnya sangat luas, dimana sampai saat ini
masih tetap dijadikan sumber inspirasi dari berbagai tindakan yang mampu menciptakan manfaat bagi kebanyakan bidang kemasyarakatan termasuk bidang
anatomi manusia, sibernetika, sistimatika, teori informasi, teori kuantum, teori pemisahan struktur, dan studi jaringan tubuh.

Logika I Cing dapat dimengerti dengan melihat bahwa semua benda dan
peristiwa selalu tumbuh dan berkembang tanpa henti, bahkan suatu benda yang menurut kita paling keras sekalipun seperti batu juga akan hancur dan tidak kekal adanya. Semua benda dan peristiwa selalu memiliki keadaan yang saling berlawanan. Waktu siang kita melihat matahari, dan hanya waktu malam kita melihat bintang dan bulan. Hal yang berlawanan ini kita sebut Yin dan Yang. Namun Yin dan Yang ini bukan juga suatu hal yang selalu berlawanan karena sifat Yin dan Yang juga dapat saling melengkapi dalam alam semesta ini yang disebut persatuan dari yang berlawanan. Setiap perubahan selalu membawa kita kepada suatu situasi yang berlawanan, bahkan siang dan malam harus saling bergantian berubah dengan waktu dan keadaan, begitupun manusia. Jika seseorang hanya mengetahui bagaimana bergerak maju dan tidak pernah mengenal mundur maka niscaya pada suatu hari dia akan menemui jalan buntu. Jika
seseorang yang telah memahami prinsip bahwa saat berada di puncak maka sesuatu itu akan menurun kembali, sehingga dapatlah dikatakan bahwa orang tersebut dapat datang dan pergi dengan bebas atau tanpa adanya suatu keterikatan.

2. Kitab tentang Sejarah (The Book of History/Shu Cing)

Shu Cing yang terdiri dari 25.700 huruf, terbagi atas 58 pasal dalam 4 bab dan disebut juga Shang Su (Sejarah Resmi), Cai Cing atau Piet Cing (Kitab Tembok), merupakan suatu rangkaian susunan catatan dokumen yang terkait dengan berbagai kejadian sejarah kuno di Tiongkok. Walaupun telah diteliti bahwa terdapat beberapa pasal tertentu yang diragukan keasliannya, namun bagian otentik yang ada mencerminkan kitab ini tergolong salah satu tulisan China yang paling kuno.


Terdapat 33 pasal (pada awalnya hanya 29 pasal dimana kemudian beberapa pasal dipecah lagi menjadi pasal tambahan) yang dinamakan naskah 'skripsi modern' yang dipercayai oleh para cendekiawan sebagai karya otentik yang berasal dari abad ke-4 SM atau sebelumnya. Lima pasal pertama dari Shu Cing menyiratkan berbagai pepatah kuno dan mengingatkan banyak keputusan yang

telah diambil oleh kaisar-kaisar yang terkenal saat itu seperti Kaisar Yao dan Kaisar Shun yang telah memerintah selama era keemasan China. Pasal enam sampai pasal sembilan merupakan peninggalan dinasti Hsia (2205 - 1766 SM), yang sejarahnya masih belum terungkapkan. 17 pasal berikutnya berkaitan dengan dinasti Shang yang runtuh tahun 1122 SM. Keruntuhan dinasti Shang merupakan hasil perbuatan kaisar terakhir dinasti Shang yang disebut sebagai penindas, pembunuh, perampas hak rakyat dan tindakan lainnya yang tidak terpuji. 32 Pasal terakhir memuat dinasti Chou bagian Hsi (Barat) yang memerintah Tiongkok sampai tahun 771 SM.

3. Kitab tentang Sajak (The Book of Poetry / Shi Cing)


Kitab ini merupakan suatu kumpulan sajak kuno,dalam bentuk nyanyian yang terdiri dari 305 syair. Syair-syair ini terutama merupakan suatu ungkapan realitas kehidupan bermasyarakat terhadap keberadaan Yang Maha Esa, termasuk tradisi kehidupan berkeluarga dan kehidupan rakyat pada saat itu. Sebagian syair yang ada merupakan kumpulan syair sebelum kelahiran Confucius, malah ada yang berasal dari Dinasti Siang (1766 SM-1122 SM).
Sebelumnya terdapat empat versi Shi Cing namun akhirnya tinggal satu versi yang memiliki kata pengantar Mao Ch'ang dimana sempat terkenal sekitar abad ke-2 SM. Hal ini terjadi setelah Shih Huang-ti (Kaisar Shih) dari DinastiCh'in mengeluarkan perintah terkenalnya berupa pembakaran kitab-kitab pada tahun 213 SM.

4. Kitab tentang Upacara dan Tata Krama (The Book of Rites / Li Chi)


Li Chi merupakan salah satu kitab dari Wu Cing yang dipercayai bahwa naskah aslinya telah disusun kembali oleh Confucius. Kitab ini sempat dimusnahkan oleh penguasa waktu itu (Dinasti Ch'in, pemerintahan Kaisar Shih), dan kemudian disusun kembali oleh Tetua Tai (Ta Tai) dan keponakannya Tai Yunior (Hsiao Tai) pada sekitar abad pertama SM.


Kitab ini terdiri dari 3 bagian utama yang berisi tata cara pemerintahan, tata cara puja bhakti, dan tata cara kesusilaan. Secara umum, Li Chi menguraikan prinsip moral yang berkaitan dengan ketata-negaraan, perkembangan upacara, persembahan dan upacara keagamaan, pendidikan, musik, sikap cendekiawan, dan doktrin Jalan Tengah (Chung Yung).


Pada tahun 1190, Chu Hsi memisahkan dua bab Li Chi dengan judul tersendiri dan menerbitkannya bersama dua naskah Confucianis lainnya dalam kelompok Shih Shu (Empat Buku) yang umumnya dipakai sebagai dasar pengenalan awal dalam mempelajari literatur Confucianisme.


5. Kitab Rangkaian Ch'un Ch'iu (Spring and Autums Annals / Ch'un Ch'iu)


Kitab ini merupakan satu-satunya kitab yang disusun sendiri oleh Confucius, yang mencatat berbagai kejadian dalam sejarah negara Tiongkok pada era Ch'un Ch'iu (722 SM - 481 SM) mulai abad ke - 8 SM sampai wafatnya Confucius pada permulaan abad ke-5 SM.


Ch'un Ch'iu dalam bahasa China yang berarti Musim Semi dan Musim Rontok merupakan suatu rangkaian sejarah yang pertama dikenal dalam kebudayaan Tiongkok, dan dinyatakan berasal dari sejarah tradisi negara bagian Lu sebagaimana telah disusun oleh Confucius . Nama tersebut sebenarnya merupakan singkatan dari Musim Semi, Musim Panas, Musim Gugur dan Musim

Salju, dimana berasal dari kebiasaan lama yang menandai suatu kejadian berdasarkan musim ataupun tahun. Karya ini merupakan suatu karya yang lengkap dan detail dari bulan ke bulan dimana mencatat berbagai kejadian penting yang terjadi selama masa pemerintahan 12 kepala pemerintahan negara bagian Lu, negara asal Confucius. Catatan tersebut bermula dari tahun 722 SM dan berakhir tidak lama sebelum Confucius meninggal dunia (479 SM). Confucius yang mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan, kemudian menyampaikan pesan-pesan moral secara terselubung terhadap berbagai kejadian di pemerintahan yang dituangkannya dalam Kitab Ch'un Ch'iu tersebut.

Diantara beberapa cendekiawan yang mencoba menggali pengertian yang sulit dalam naskah tersebut, tercatat seorang Confucianis yang berasal dari Dinasti Han yaitu Tung Chung Shu (yang hidup sekitar tahun 179 - 104 SM). Tung menyatakan bahwa berbagai fenomena alam yang tercatat dalam kitab tersebut (seperti, gerhana matahari, bintang sapu pada malam hari, musim kemarau) adalah dimaksudkan sebagai suatu peringatan akan apa yang akan menimpa para pemimpin negara apabila mereka terbukti tidak patut dihormati. Para cendekiawan Confucianis yang pada saat itu kebanyakan bertindak selaku penterjemah resmi terhadap kitab ini dan juga karya klasik lainnya, sehingga terkesan bahwa kitab tersebut merupakan suatu cara untuk menanamkan pemikiran Confucianisme dalam pemerintahan.

Kepopuleran Ch'un Ch'iu terutama atas sumbangsih dari Tso Chuan, seorang
komentator [chuan] yang bernama Tso. Dua komentar penting lainnya terhadap
Ch'un Ch'iu adalah Kung-yang Chuan dan Ku-liang Chuan. Ketiga hasil komentar yang disampaikan oleh tiga cendekiawan tersebut terdaftar diantara daftar pilihan Sembilan, Dua Belas, dan Tiga Belas Karya Klasik Confucianisme.

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/684-seri-tulisan-confucius-4-lima-kitab-five-classics---wu-cing

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto