A+ A A-

Tidak Menguasai Bahasa China, Siapa yang Rugi?

  • Written by  Rachma Tri Widuri
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | MENGHADAPI era perdagangan bebas dan globalisasi, ternyata masih banyak kendala yang menghambat peningkatan volume serta nilai ekspor Provinsi Jawa Timur (Jatim). Berdasarkan data perkembangan nilai ekspor-impor tahun 1978-1997, neraca perdagangan Jatim belum pernah mengalami surplus, selalu defisit, bahkan mencapai ratusan persen.

 

 

Artikel Terkait :

{module [201]}

 

Dalam interaksi dengan sesama negara ASEAN saja sudah sangat berat, karena banyak kendala di dalam yang tidak pernah beres dan siap. Padahal, perdagangan bebas tingkat Asia Tenggara atau AFTA ini sudah dimulai awal tahun depan ini.

Sangat menarik apa yang pernah diungkapkan Direktur Pusat Pendidikan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr H Suroso Imam Zadjuli SE. Paling tidak terdapat 10 faktor yang memperlambat laju ekspor Jatim, dan faktor itu harus dihilangkan agar di era perdagangan bebas posisi Jatim tidak semakin terpuruk.

Suroso menyebutkan panjangnya aliran dokumen ekspor, maraknya pungutan liar, persaingan ketat dengan negara tetangga anggota ASEAN, dan belum andalnya kinerja perwakilan atau utusan dagang Jatim di luar negeri, sebagai bagian dari 10 faktor tersebut.

Usut punya usut, berdasarkan perbincangan Kompas dengan sejumlah pelaku bisnis di Jatim, ternyata ketidakandalan kinerja pengusaha Jatim dalam bisnis internasional juga disebabkan oleh peraturan-peraturan masa lalu. Pada masa Orde Baru, Pemerintah RI melarang segala sesuatu yang berbau Cina, termasuk bahasa.

Padahal, untuk bisa bersaing di tingkat Asia harus memperhitungkan kekuatan Cina yang menguasai peta perdagangan Asia. Tak pelak lagi, penguasaan bahasa Cina menjadi amat penting, karena kelancaran bisnis berawal dari kelancaran komunikasi.

Berat benar perjuangan para pengusaha Jatim yang bukan hanya menghilangkan faktor-faktor penghambat, tetapi juga masih ketinggalan kereta komunikasi. Rendahnya penguasaan bahasa Cina akibat upaya nasionalisme sempit masa lalu akan semakin terasa di era globalisasi, terutama bagi pengusaha keturunan Cina.

Paling tidak bahasa Mandarin itu, belum termasuk dialek Cina yang lain, semakin sedikit yang menguasai karena ketakutan masa lalu akan komunisme Cina. Sebagai gambaran, di Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya yang mayoritas mahasiswanya dari etnis Cina, hanya ada 40 mahasiswa yang belajar sastra Tionghoa. Sementara mahasiswa jurusan sastra Inggris mencapai 700 orang.

***

MASIH tergambar jelas dalam benak warga Tionghoa-yang kini telah berusia 50 tahunan-bagaimana ketika pada tahun 1965 itu mereka menjadi sangat bingung. Bagaimana tidak? Saat itu mendadak mereka harus menanggalkan segala identitas Cina-nya tanpa perkecualian.

Ratusan sekolah Tionghoa ditutup, dan segala tulisan, bahasa, kesenian, bahkan warna merah keemasan ciri khas Cina pun dilarang muncul lagi di ranah Indonesia. Bahkan di koran-koran pun tidak diperbolehkan mempublikasikan karakter kecinaan, termasuk foto yang memuat huruf-huruf Cina.

Akibat dari pemberangusan eksistensi segala bentuk kesenian dan kebudayaan Cina selama 32 tahun lebih itu, kini banyak sekali kita jumpai orang Tionghoa yang boleh dibilang Cina bukan, Indonesia pun bukan. Minimnya penguasaan bahasa Cina oleh etnis Tionghoa sendiri adalah salah satu indikator bahwa mereka tengah mengalami krisis pencarian identitas.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat mengapung (floating mass) yang tidak tahu arah. Pasalnya, mereka sudah tercerabut dari akar kebudayaan Cina, tetapi belum dapat masuk dalam kebudayaan Indonesia.

Bukan hal aneh jika dosen Studi Linguistik dan Antropologi Unair Dede Oetomo mengatakan bahwa dirinya patut dikasihani karena sama sekali tidak memahami bahasa Cina. Nenek moyang dosen bernama asli Oen Tiong Hauw itu asli Tiongkok, tetapi karena pemerintah melarang segala sesuatu yang serba Cina, Dede pun tidak lagi kenal budaya Cina.

***

BAGAIMANAPUN, budaya ini ternyata juga menyentuh sendi-sendi bisnis yang notabene menjadi pilar utama perekonomian setiap negara. Banyak pihak, termasuk Asisten Direktur Corporate Public Relations PT Maspion H Soeharto mengakui betapa eratnya kaitan bahasa dengan iklim usaha.

"Kunci utama dalam berbisnis adalah komunikasi. Kelancaran komunikasi akan membawa kelancaran dalam berbisnis pula, dan itu hanya bisa dicapai jika satu bahasa. Pak Alim Markus sendiri (Direktur PT Maspion-Red) menguasai bahasa Cina, Inggris, Korea, Perancis, dan Jepang, sehingga lancar dalam berbisnis," katanya.

Dalam sebuah seminar bertajuk "Migrasi Orang Tionghoa dari Tiongkok ke Indonesia hingga Tahun 1945" di Hotel Majapahit, Surabaya, baru-baru ini, dosen Program Studi Cina Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) Eddy Prabowo Witanto SS MSi mengakui hal ini.

Menurut Eddy, peraturan pemerintah Orba yang sangat mengekang perkembangan kebudayaan Cina justru membawa kerugian bagi bangsa Indonesia sendiri. Minimnya penguasaan bahasa Cina oleh penduduk pribumi, bahkan warga keturunan Tionghoa, membuat hubungan bisnis antara pengusaha Indonesia dengan pengusaha dari Cina seperti ada jurang pemisah yang dalam.

Padahal, industri Cina kini merajai dan mendominasi bisnis di dunia, termasuk Indonesia, karena ekspansi besar-besaran yang dilakukan sejak program industrialisasi mereka sukses. Jatim pun tidak dapat lari dari serbuan produk Cina yang tiba-tiba saja menjadi begitu bergigi di percaturan bisnis internasional.

Oleh sebab itu, mau tidak mau Jatim harus menggenjot ekspornya ke Cina agar devisanya tidak tersedot habis ke negeri tirai bambu itu. Walaupun sejumlah pengusaha Jatim mengakui bahwa hingga saat ini hubungan dagang mereka dengan Cina belum maksimal.

Apabila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, jumlah realisasi transaksi Indonesia-Cina masih kalah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia-termasuk Jatim-juga kalah dari Malaysia dan Singapura yang notabene para pengusahanya juga dikuasai keturunan Cina.

Perekonomian di Malaysia dan Singapura berkembang lebih pesat karena penguasaan bahasa Cina di negara-negara tersebut sangat baik, sejajar dengan bahasa nasional di negara-negara tersebut.

Di Malaysia, bahasa Melayu yang merupakan bahasa nasional, justru jarang sekali digunakan. Masyarakat di sana, mulai anak-anak hingga kakek-nenek-baik dari etnis Tionghoa maupun bukan Tionghoa-justru lebih banyak berkomunikasi dengan bahasa Cina dan bahasa Inggris.

Oleh karena itu, ketika industriawan Cina merambah Malaysia, mereka sudah dapat berkomunikasi dengan lancar sehingga urusan bisnis pun mudah. Akibatnya, jika dibandingkan iklim bisnis dan pertumbuhan ekonominya, Malaysia jauh lebih mantap dibandingkan Indonesia.

Siapa pun pasti sependapat jika dikatakan bahwa deal-deal dan tawar-menawar bisnis dilakukan dalam suasana yang akrab dengan bahasa yang sama. Mereka sama-sama tidak perlu merasa saling curiga dan bisa bersama-sama membangun kepercayaan.

Kunci utama dalam dunia usaha adalah kepercayaan, dan kepercayaan itu akan tumbuh dengan lebih mudah dan cepat jika syarat kesamaan bahasa sudah dipenuhi. Oleh sebab itu, bukan hal yang aneh jika hingga saat ini hubungan bisnis Jatim dan Cina relatif stagnan. Meskipun selama lima tahun terakhir transaksi perdagangan ekspor impor Jatim-Cina meningkat drastis, hal itu dirasa belum maksimal.

***

HARUS diakui, kesadaran akan pentingnya penguasaan bahasa asing di luar bahasa Inggris-termasuk Cina-sudah sedikit terlambat. Namun, pengusaha swasta sebagai tulang punggung perekonomian negara harus mampu bangkit dari lamunannya. Bagaimanapun, di era global peta persaingan sangat ketat, sehingga mau tidak mau kita harus selalu mengikuti perkembangan dunia dengan niat dan usaha keras.

Penyesalan panjang warga Tionghoa akan hilangnya nilai-nilai luhur mereka, yang selama ini hanya merupakan romantisme belaka, harus mulai ditinggalkan. Sudah terlambat untuk hanya menyalahkan pemerintah atas segala keputusan yang dibuatnya di masa lampau. Globalisasi sudah di depan mata.

Indonesia bukan hanya terkena krisis ekonomi berkepanjangan, kemiskinan, dan semakin terpuruk akibat bencana alam. Dengan modal awal yang buruk, tercabik, terpuruk, pada awal tahun depan sudah harus bertarung dengan negara-negara tetangga. Siapa yang rugi kalau bahasa Cina dilarang? (Rachma Tri Widuri)

Budaya-Tionghoa.Net |1219

Catatan Admin : Tulisan ini berasal dari arsip lama milist di tahun 2004. Sehingga sumber tulisan ini tidak diketahui selain nama penulisnya.

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
More in this category: « 7 Pedang dari Gunung Thian
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/690-tidak-menguasai-bahasa-china-siapa-yang-rugi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto