A+ A A-

Puisi Alam [9] - Dua Lirik Alam | Wang Pan , Chen Chongxiang

  • Written by  Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Sebuah bentuk sastra yang sempat begitu populer di suatu masa, pasti akan meninggalkan gaungnya di kemudian hari, demikian pula dengan Puisi Lirik. Puisi lirik juga masih berkembang pada dinasti sesudah Yuan, bahkan dengan gaya yang semakin bervariasi, Puisi Lirik lebih merasuk pada kehidupan sehari2 masyarakat dinasti Ming dan Qing. sering dilantunkan di berbagai perjamuan. Di bawah ini adalah dua Lirik alam dari dinasti Ming dan dinasti Qing, sekaligus sebagai penutup dari Serial Puisi Alam. Selamat menikmati, Zhou Fy

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}


MALAM  BERSAMPAN  DI  TELAGA
Wang Pan ( 1470ï-1530 ; Ming )



Perahu berwarna penuh mengangkut penyair,
kemanakah tuan hendak meluncurkan sampan?
Mendengar seruling di tengah istana kristal,
membalik kayuh di ujung Istana Rembulan.

Suruhlah ikan naga tenang bertiduran,
meski senggang ombak jangan dilepaskan.
Malam ini Pak Tua akan mengolak angin resah,
menguras bahan sajak,
sarang mega di air habis dikoyak.

Gugus bintang di satu angkasa tumpah berserak.
di dasar telaga katak perak berkilau bergolak.
Di tempat ini kujaring dengan tangan,
tak sadar terbalik menjatuhkan badan.
Raga dan sukmaku semuanya begitu menakjubkan,
terbang menaiki kura raksasa yang ungu keemasan.


LAGU  TURUN  JERAM  ( petikan )
Chen Chongxiang ( ?-1831-? ; Qing )


Di sungai embun putih sedang melintang,
satu sampan mengarung menuruni Yuan’Xiang,
mengapit musim gugur di jauh suara jeram melantang.


Bukit musim gugur setengah usang,
hutan musim gugur separo kerontang,
kabut musim gugur menyeka sepasang dayung digoyang.
Putih meremang remang,
salju bergulung bunga beterbangan,
menikung melaju di arus yang kencang.

Di tengah lamunan barisan kuda menghembusi tiang,
bukit liar menyambut menghantar bak skesel penghalang.
Di jeram dangkal batu mengertap guruh menghentak,
di jeram dalam tebing berebut menyentakkan ombak.


Berangin-angin berhujan-hujan semakinlah bimbang,
kabut ombak meningkat semakin merintang pandang.
Ringan mengetuk sampan,
degup semangat layang renungan,
semua diserahkan pada gelombang yang usang.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/710-puisi-alam-9-dua-lirik-alam-%7C-wang-pan--chen-chongxiang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto