A+ A A-

Bau Wellington di Paris [III]

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

Budaya-Tionghoa.Net | Setelah saya menduda selama hampir 15 tahun, dengan kedatangan Eleane ini ke rumah saya selama 10 hari itu, terasa seakan-akan, oh begitu rasanya kalau punya istri kembali ya. Enak juga ya. Diladeni seperti ketika istri masih hidup itu. Dimanjakan dan memanjakan. Rasanya hidup ini betapa nikmatnya - sedap dan selalu ada getaran perasaan, bagaikan tali kecapi cinta. Tapi saya menyadari sepenuhnya, hidup yang begini ini takkan lama - tidak mungkin lama dan tidak boleh lama.

.

Artikel Terkait  :

{module [201]}

Jadi filsafat saya ketika itu, nikmatilah selagi bisa dan ada kesempatan. Besok kamu jadi lajang lagi - kere lagi - dan sepi sendiri lagi. Dalam pada itu kami berdua bagaikan orang berbulan madu. Sebenarnya saya punya rasa kecemasan dan kekuatiran. Bagaimana sekiranya nanti Eleane mengharapkan dan minta yang lebih dari itu - dari yang pernah kami alami.

Apa yang disukai Eleane, ternyata itulah kesukaan saya juga. Dia selalu pakai parfum yang harum wanginya saya kenal benar. Halus - soft - lunak dan lembut. Dia selalu pakai parfum magnolia, yang juga sangat saya sukai pabila ada wanita memakainya. Dan dia tahu bahwa saya suka dia pakai parfum itu.

Dan tidak usahlah saya bercerita banyak dan bertele, bahwa bau badan Eleane benar-benar menggilakan saya. Saya jadi mengenal dirinya - anatomi tubuhnya. Ingat semua ini benar-benar saya jadi ngeri. Mengapa? Karena saya yakin dan percaya, dia bukanlah jodoh saya! Anak yang begitu muda - begitu segar - begitu cantik dan harum mewangi, tidak mungkin akan kekal dan bertahan bertahun-tahun.

Saya harus tahu diri. Dan perasaan saya ini pernah saya katakan pada Eleane. Kelihatan dia merenung dalam dan jauh sekali. Tiba-tiba saja seperti membrontak, dia bilang sama saya, "kamu rupa-rupanya banyak pacarnya ya........" Saya agak kaget juga. Dengan terbata-bata saya katakan "akh nggak - malah baru kali ini saja barangkali.....dengan kamu ini". kata

saya.
"Akh potonganmu....seperti nyamuk",

dan saya agak kaget juga. Setelah dia menjelaskan, kenapa dikatakan nyamuk. Katanya dalam bahasa Selandia Baru, kata nyamuk itu makian yang bersifat memanjakan - tidak kasar.

"Kenapa sih kamu takut betul akan perkawinan dan pernikahan itu.....", katanya pada suatu kali.
"Eleane sayang, yang saya takutkan bukan perkawinan dan pernikahan itu, tapi yang saya takutkan yalah perceraian! Saya takut bercerai, karena itu saya takut pernikahan. Lebih baik tidak usah menikah daripada akhirnya nanti akan bercerai. Dan pabila jatuhnya pada kita, lebih akan segera datangnya kemalangan yang saya takutkan itu. Kamu masih terlalu muda buat saya. Syarat kita sangat berbeda jauh. Tempatnya saja sangat jauh. Kamu diujung dunia........
"Walau kehidupanku di ujung dunia, tapi tokh aku yang datang padamu.......". Dan ketika dia mengucapkan ini, kupeluk dia. Dan tampak wajahnya agak redup. Hari mau hujan. Sudah ada awan kelabu.

Memang saya menjanjikan akan datang ke rumahnya kelak ketika saya melewati Selandia Baru dalam rangka mengelilingi dunia selama tiga bulan itu. Akh banyak sekali kenangan manis bersama Eleane. Dan kini - beberapa hari ini dia datang. Datang dengan bau wangi parfumnya - bau badannya yang sangat menarik - dan bau dengusan nafasnya. Lalu bagaimana ini selanjutnya.

Sudah ada dalam pikiran saya, apa yang harus saya kerjakan buat semua ini. Saya segera menilpun anak saya Nita di Holland. Dan sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Saya bongkar apa saja yang dulu pernah dia tinggalkan di rumah saya. Dengan kepercayaan, katanya semua itu akan menandakan bahwa dia akan kembali lagi. Saya kumpulkan handuknya - kacamatanya dan botol parfum magnolianya yang sudah kosong. Lalu saya letakkan dekat fotonya, dijadikan satu.

Persis seperti dulu ketika saya diminta oleh Nita, agar bersyukur karena ibunya - istri saya sudah dinaikkan ke atas oleh Nita. Dan saya dengan tafakur - dengan khidmad berdoa memanjatkannya kepada Tuhan, agar Eleane mendapatkan jalan yang mudah buat "naik ke atas" dan selalu dalam
perlindungan Tuhan. Kembali ke rumah Tuhan.

Saya tidak tahu, berapa lama saya duduk bersimpuh di depan foto dan barang-barang Eleane sambil dengan konsentrasi tinggi, berdoa - memanjatkan doa dan harapan buat Eleane.

Malam ketiga, apa yang saya rasakan dan tercium wangi parfum dan bau badan serta dengusan nafas itu sudah tidak ada lagi. Syukurlah, bau dan suara Eleane sudah tidak lagi di rumah saya. Apakah karena doa dan harapan saya kepada Tuhan itu? Saya juga tidak tahu. Tapi saya merasa, Tuhan telah menolong Eleane dan menolong saya. Antara Eleane dan saya, ada dunianya sendiri-sendiri, ada tempatnya masing-masing. Terimakasihku ya Tuhan dan terimakasih buat Eleane yang dunia kami sudah kami dapati, mana yang semestinya,-

---------------------------------------------------------------------

Holland,- 18 mei 04,-

Budaya-Tionghoa.Net | 3631

Catatan Admin : [Seri Tulisan Untuk Mengenang Sobron Aidit Dapat Anda Telusuri di Section Writing dan Kategori Sobron Aidit ]

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/723-bau-wellington-di-paris-iii

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto