Logo
Print this page

Bau Wellington di Paris

Budaya-Tionghoa.Net | Kata orang, pabila rumah sering ditinggalkan - kosong, lalu pada suatu kali  kita datang dan menginap,  ada-ada saja berupa gangguan. Mugkin ada segi betulnya, walaupun hanya  secuil saja. Rumah saya, atau lebih tepat aparteman saya memang di Paris.  Tetapi kehidupan saya lebih sering dan lebih lama  di Holland . Perbandinganya begini, 3 minggu di Holland, 1 minggu di Paris.

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

Tetapi selama ini memang  belum pernah saya tinggal di Holland, maupun di Paris sampai satu bulan  penuh. Bahkan ketika ada  hal-hal yang mesti saya harus berada di Paris atau di Holland, pernah sampai  dua tiga kali dalam satu  bulan mondar-mandir antara Paris dan Holland. Tergantung pekerjaan dan  keperluan. Keperluan organisasi - LSM dan kegiatan sosial-budaya lebih  banyak di Holland, rapat-rapat - pertemuan, peringatan tertentu dan gereja.

Gereja kami ada di Holland, kebaktian - misa - PA = Pengenalan  Al-Kitab ada di Holland. Dan, nah, ini cukup penting! Anak-cucu saya  semuanya ada di Holland. Ada sembilan jiwa orang-orang yang dekat saya. Dua  anak dengan lima cucui saya dan dua mantu saya =  ada sembilan orang, semua di Belanda dan semua di satu kampung - di Almere  yang jauhnya sekitar 30 km dari Amsterdam. Kalau sudah lebih lima hari saja  saya di Paris, akan selalu ada tilpun...........

"Kakek, kapan kakek pulang? Kok lama betul sih.......Lekas pulang dong ya.  Jangan lupa bawakan Berry mainan - pokemon - powerrangers....juga croissant  Paris.......sosis kecil ya.......Berry tunggu lho kakek....", demikian  tilpun raja-perang kecil itu. Dan kalau sudah begini, hati saya jadi lemah  dan tunduk. Cucu itu adalah sang diktator dalam kehidupan seorang kakek!

Ada suatu periode, pabila saya sendirian dan tidur di kamar saya, selalu
saja ada bunyi-bunyian yang mengganggu. Bunyi orang berbenah di dapur,  bunyi-bunyian piring-mangkuk-gelas dan sebagainya. Lalu bunyi orang melipat  atau membuka - baca koran. Atau bunyi pintu dibuka atau ditutup. Begitu saya  datangi, tidak ada apa-apa. Takut? Ada juga sih, walaupun tidak banyak. Yang  terang, saya ter-  ganggu. Berperang juga dalam hati, ini bagaimana? Ini kan rumah
saya......saya bayar sewanya! Lalu ada suara-suara - bunyi-bunyi yang  mengganggu. Pernah saya intip dari balik pintu, sudah tentu dengan perasaan  cemas jugalah. Tidak ada bunyi-bunyi yang biasa saya dengar. Tetapi begitu  hampir
tertidur, lalu ada lagi.

Dan saya simak dengan teliti, ya, seperti ada orang  di dapur. Seperti ada orang  sedang membaca koran. Ada orang membuka atau menutup pintu. Lalu saya bangun  dengan sepertiga keberanian...dan lalu keluar kamar. Dan tidak ada apa-apa.  Dengan dongkol saya ngomong.....sudahlah, jangan mengganggu. Ini kan rumah  saya. Saya bayar mahal. Jangan sampai  menimbulkan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu saya. Lau saya berdoa  kepada Tuhan, agar yang menimbulkan adanya berbagai bunyi itu, ditiadakan -  suruh keluar....

Suatu ketika, sudah saya ceritakan pada bagian lain di milis ini,- ada teman
anak saya yang sudah memang pekerjaannya dalam ke-paranormal-an. Dia  bagaikan orang kemasukan dan berteriak sambil  menggeletar. Dia bilang, di rumah ini ada setannya. Saya sebagai tuanrumah  dan penghuni tetapnya, agak heran dan cemas juga mendengar pendapatnya. Dan
sudah tentulah ada rasa sedikit ngerinya. Terutama bagian ini,......jadi  kalau begitu saya ini satu rumah dengan setan-setan itukah? Oo cilaka  sekali.

Pendeknya teman anak saya ada 4 orang itu, berbagi pekerjaan, Baca  ayat kursi - baca doa-doa yang saya tidak mengerti. Dan lalu tanya-jawab  dengan anak saya. Apakah ada barang simpanan yang kiranya sangat aneh dan  misterius? Nita menjawab ada, lalu Nita mengambil beberapa keris yang sudah  karatan dan tua. Melihat beberapa keris tua itu, si Rik, paranormal,  menjerit dan menggelepar lagi.

Dan temannya berbagi kerja lagi. Baca ayat  kursi - baca surat-yasin dan bacaan lainnya. Saya melihat saja peristiwa
ini. Dalam batin saya....lha kok ada di rumah saya sih! Dan memang saya tahu  dalam kamar penempatan barang-barang yang kami jadikan gudang, ada empat  bilah keris. Yang sudah tua - ada yang bersarung lengkap dan ada yang  telanjang-karatan, tetapi tetap runcing dan berbahaya. Tapi semua keris itu  di mata saya, tidak ada apa-apanya. Karena itu saya samasekali tidak  menyangka bahwa katanya di keris itulah setan-setan itu berdiam!

Masyallah...ngerinya mak! Lalu  timbul dalam batin saya. Apakah bunyi-bunyian yang selama ini saya dengar,  adalah setan-setan yang berdiam di empat bilah keris itu? Nah, mengingat ini  semua, barulah saya ada rasa takut dan ngerinya. Tetapi saya tetap  berkeputusan. Ini rumah saya. Saya bayar. Dan sah milik saya dari segi  sewa-pakai!  Kamu tidak bisa mau tinggal bersama saya,- kata saya yang saya tujukan  kepada para setan itu,-

Pendeknya malam itu, sampai paginya, beberapa orang teman Nita dan Rik yang
lebih senior ke-paranormal-annya, akan berusaha sekeras mungkin mengusir  empat setan itu. Dan saya bersama mantu saya yang juga seperti saya, tidak
tahu apa-apa, hanya menunggu perintah saja. Kalau mereka bilang, harus  menghadap ke luar jendela dan jendelanya dibuka luas....buat setan-setan  yang akan diusir itu. Dan kami menurut, apalagi saya. Sebab saya yang paling  berkepentingan agar setan-setan itu pergi dan enyah dari rumah saya. Kami  disuruh membelakangi ruangan dan menghadap ke luar jendela, dan  berdiri....dan berkonsentrasi....berserah, tapi dengan pikiran agar semua  setan itu pergi dan enyah dari rumah saya.

Ketika saya agak sadar bahwa kami dalam keadaan begini itu, adalah sedang
berperang melawan setan. Dan saya tentu saja berusaha keras agar percaya -  agar para setan yang sering bunyi beraneh-aneh itu pergi dari rumah saya!  Tidak bisa lain kan, daripada mengganggu saya - membikin bulu-kuduk saya  berdiri...........

II

Setelah upacara pengusiran setan itu dan empat bilah keris tersebut saya buangkan - hanyutkan di Sungai Seine, memang suatu kenyataan yang saya alami. Tidak ada lagi bunyi-bunyian yang mengganggu seperti malam-malam sebelumnya. Lepas daripada apakah memang karena setan-setannya sudah terusir, apakah karena empat keris itu sudah saya buangkan. Percaya atau tidak percaya, tetapi saya aman-aman saja sudah tidak ada gangguan bunyi seperti dulu lagi. Yang paling penting dari semuanya, saya merasa aman-aman ketika tidur. Kejadian ini ketika tahun 2000 dulu itu.

Tetapi ketika kuartal pertama tahun 2004, ada lagi peristiwa lain yang lain lagi jenisnya. Malam-malam ketika mau tidur atau ketika terbangun dari tidur, ada tercium bau yang entah apa, tetapi bukannya busuk atau tidak enak. Dan bau itu tercium wangi - seperti parfum. Dan terasa pada saya, rasanya saya kenal dengan bau itu. Tetapi saya tidak bisa mengatakan dengan pasti, lalu apa kongkritnya. Apakah saya merasa takut dengan adanya bau itu? Tidak juga. Tetapi tetap menjadi pemikiran, bau apa sesungguhnya. Tapi jelas ini bau sejenis parfum. Tidak ada bunyian-bunyian
seperti dulu. Mungkin lebih tepat, tidak ada bunyian yang mencemaskan dan sangat mengganggu. Lalu apakah terciumnya bau-baun ini tidak mengganggu? Ya, tetap ada rasa gangguan. Tetapi lebih banyak saya mau tahu, apa ini sebenarnya. Kenapa perasan saya terasa mengenal bau ini. Terkadang ada rasa hembusan nafas. Dan berkelanjutan yang saya rasakan. Tercium bau badan seseorang yang rasanya saya kenal, tetapi tetap tidak pasti. Saya gali kenangan saya. Saya berusaha keras buat mengenal apa yang saya rasakan akan bau dan ciuman badan serta bunyi hembusan nafas yang redup-redup saya dengar. Tetap saja tidak berhasil. Belum menemukan kepastian.

Sudah dua malam bau seakan-akan parfum - bau badan - hembusan nafas yang seakan ada sekeliling saya. Dan saya semakin penasaran, apa gejala dan tanda-tanda ini. Dan saya semakin penasaran. Anehnya saya tidak merasa takut dan ngeri seperti dulu itu. Ada terasa pada saya, sudahlah...nanti juga hilang sendiri. Berapa lama dia akan terus bertahan berbau harum wangi seperti itu,- kata saya.

Tetapi mengapa saya katakan dia, terhadap pembawa bau-baun dan hembusan nafas itu. Tidak jelas. Dalam pada itu saya biasakan agar terbiasa dalam keadaan apapun. Tokh saya tinggal di rumah saya, yang sah kepunyaan saya. Biasanya sebelum saya naik ke lantai empat aparteman saya, terlebih dulu saya memeriksa kotakpos kalau-kalau ada surat.

Ternyata banyak surat-surat yang sudah satu minggu ini tidak saya ambil. Sebuah sampul surat menarik perhatian saya. Karena perangkonya bagus sekali. Lalu saya lihat afzendernya - siapa pengirimnya. Darah saya tersirap. Lalu agak kencang jalannya jantung. Saya kenal dengan nama yang menulis. Karel, nama anak muda yang tinggal di Wellington - Selandia Baru, jauh diujung dunia. Karel adalah adiknya Eleane, teman akrab saya sepuluh tahun yang lalu. Eleane pernah tinggal di aparteman saya selama sepuluh hari.

Surat dari Karel saya baca tekun setelah saya di kamar. Saya menarik nafas panjang dan merenung lama. Saya terdiam dan menekurkan kepala dan
mengheningkan cipta tanda berduka dan mengingat orang yang dikasihi. Karel menceritakan, bahwa kakaknya Eleane telah meninggal dua minggu yang lalu karena sakit gagal-ginjal di rumahnya di Wellington.

Saya berkenalan dengan Eleane melalui internet. Dia mempelajari bahasa Indonesia dan sangat mencintai bahasa Indonesia. Dan dia akhirnya menjadi salah seorang fans saya. Begitulah awal mula kami berkenalan. Dan berkelanjutan yang akhirnya dia datang sendirian ke Paris menemui saya. Tadinya saya punya perkiraan, nanti ketika dia melihat saya, tentulah dia akan pelan-pelan menarik diri, lalu berlalu dari sisi saya. Ada baiknya, kata saya dalam batin.

Eleane ketika itu baru berumur 26 tahun. Setelah kami bergaul dalam beberapa hari itu, perkiraan saya semula ternyata keliru. Dia bukannya menarik diri lalu kecewa terhadap saya karena ternyata saya sudah tua - tidak tampan - malah cukup jelek - tidak kaya - tidak bergaya - dan penuh sederhana yang asli.

Tapi malah dia bukan menarik diri dan berlalu dari sisi saya, malah menarik saya ke dekat dia. Dalam hati saya yang dalam, Eleane apa sih yang kau harapkan dari seorang saya yang usianya saja mungkin sama dengan ayahmu. Sedangkan kamu jauh lebih muda dari anak saya yang bungsu. Dan semua ini saya ceritakan pada Eleane. Dia tetawa dan mentertawakan saya. Katanya pikiran saya itu sungguh terkebelakang. Saya menjadi lebih heran dan tak habis pikir, apanya yang terbelakang itu.

Seperti kebanyakan orang-orang Australia - orang-orang Selandia Baru, saya menemukan, bahwa orang-orang ini tidak bisa kita katakan orang Eropa sepenuhnya, tetapi juga tidak bisa kita katakan orang Asia sepenuhnya. Mereka seakan-akan campuran antara keduanya - antara Eropa dan Asia.

Ketika dan selama Eleane di Paris, di tengah orang-orang bule di Paris ini, Eleane akan menampakkan dirinya bahwa dia benar-benar lain dari orang-orang yang saya lihat di Paris. Padahal kulitnya sama-sama putihnya - sama-sama bulenya. Apalagi kalau dia dalam keadaan sedang ngomong - sedang dalam keadaan bergerak. Dan semua ini saya katakan pada Eleane. Dan dia ketawa senang, lalu merapatkan badannya ke saya. Nanti giliran kamu ke rumah saya di Wellington,- kata Eleane mengajak saya agar datang ke rumahnya di Wellington. Tidak saya katakan secara kongkrit bahwa saya mau datang.

Tetapi saya katakan kepadanya, dalam rencana saya mengelilingi dunia nanti, saya memang akan lewat Selandia Baru. Dia terperangah mendengar saya mau mengelilingi dunia yang lamanya tiga bulan. Kontan dia bertanya "dengan siapa kamu...",. Saya katakan belum tahu dengan siapa, itu ketika itu. Sekarang setelah dia pergi buat selama-lamanya, orang itu sudah ada dan sudah tercatat dalam kepala saya. Dan saya belum sempat mengabarkan kepadanya....

------------------------------------------------------

Holland,- 17 mei 04,-

III

Setelah saya menduda selama hampir 15 tahun, dengan kedatangan Eleane ini ke rumah saya selama 10 hari itu, terasa seakan-akan, oh begitu rasanya kalau punya istri kembali ya. Enak juga ya. Diladeni seperti ketika istri masih hidup itu. Dimanjakan dan memanjakan. Rasanya hidup ini betapa nikmatnya - sedap dan selalu ada getaran perasaan, bagaikan tali kecapi cinta. Tapi saya menyadari sepenuhnya, hidup yang begini ini takkan lama - tidak mungkin lama dan tidak boleh lama.

Jadi filsafat saya ketika itu, nikmatilah selagi bisa dan ada kesempatan. Besok kamu jadi lajang lagi - kere lagi - dan sepi sendiri lagi. Dalam pada itu kami berdua bagaikan orang berbulan madu. Sebenarnya saya punya rasa kecemasan dan kekuatiran. Bagaimana sekiranya nanti Eleane mengharapkan dan minta yang lebih dari itu - dari yang pernah kami alami.

Apa yang disukai Eleane, ternyata itulah kesukaan saya juga. Dia selalu pakai parfum yang harum wanginya saya kenal benar. Halus - soft - lunak dan lembut. Dia selalu pakai parfum magnolia, yang juga sangat saya sukai pabila ada wanita memakainya. Dan dia tahu bahwa saya suka dia pakai parfum itu.

Dan tidak usahlah saya bercerita banyak dan bertele, bahwa bau badan Eleane benar-benar menggilakan saya. Saya jadi mengenal dirinya - anatomi tubuhnya. Ingat semua ini benar-benar saya jadi ngeri. Mengapa? Karena saya yakin dan percaya, dia bukanlah jodoh saya! Anak yang begitu muda - begitu segar - begitu cantik dan harum mewangi, tidak mungkin akan kekal dan bertahan bertahun-tahun.

Saya harus tahu diri. Dan perasaan saya ini pernah saya katakan pada Eleane. Kelihatan dia merenung dalam dan jauh sekali. Tiba-tiba saja seperti membrontak, dia bilang sama saya, "kamu rupa-rupanya banyak pacarnya ya........" Saya agak kaget juga. Dengan terbata-bata saya katakan "akh nggak - malah baru kali ini saja barangkali.....dengan kamu ini". kata saya.
"Akh potonganmu....seperti nyamuk",

dan saya agak kaget juga. Setelah dia menjelaskan, kenapa dikatakan nyamuk. Katanya dalam bahasa Selandia Baru, kata nyamuk itu makian yang bersifat memanjakan - tidak kasar.

"Kenapa sih kamu takut betul akan perkawinan dan pernikahan itu.....", katanya pada suatu kali.

"Eleane sayang, yang saya takutkan bukan perkawinan dan pernikahan itu, tapi yang saya takutkan yalah perceraian! Saya takut bercerai, karena itu saya takut pernikahan. Lebih baik tidak usah menikah daripada akhirnya nanti akan bercerai. Dan pabila jatuhnya pada kita, lebih akan segera datangnya kemalangan yang saya takutkan itu. Kamu masih terlalu muda buat saya. Syarat kita sangat berbeda jauh. Tempatnya saja sangat jauh. Kamu diujung dunia........
"Walau kehidupanku di ujung dunia, tapi tokh aku yang datang padamu.......". Dan ketika dia mengucapkan ini, kupeluk dia. Dan tampak wajahnya agak redup. Hari mau hujan. Sudah ada awan kelabu.

Memang saya menjanjikan akan datang ke rumahnya kelak ketika saya melewati Selandia Baru dalam rangka mengelilingi dunia selama tiga bulan itu. Akh banyak sekali kenangan manis bersama Eleane. Dan kini - beberapa hari ini dia datang. Datang dengan bau wangi parfumnya - bau badannya yang sangat menarik - dan bau dengusan nafasnya. Lalu bagaimana ini selanjutnya.

Sudah ada dalam pikiran saya, apa yang harus saya kerjakan buat semua ini. Saya segera menilpun anak saya Nita di Holland. Dan sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Saya bongkar apa saja yang dulu pernah dia tinggalkan di rumah saya. Dengan kepercayaan, katanya semua itu akan menandakan bahwa dia akan kembali lagi. Saya kumpulkan handuknya - kacamatanya dan botol parfum magnolianya yang sudah kosong. Lalu saya letakkan dekat fotonya, dijadikan satu.

Persis seperti dulu ketika saya diminta oleh Nita, agar bersyukur karena ibunya - istri saya sudah dinaikkan ke atas oleh Nita. Dan saya dengan tafakur - dengan khidmad berdoa memanjatkannya kepada Tuhan, agar Eleane mendapatkan jalan yang mudah buat "naik ke atas" dan selalu dalam
perlindungan Tuhan. Kembali ke rumah Tuhan.

Saya tidak tahu, berapa lama saya duduk bersimpuh di depan foto dan barang-barang Eleane sambil dengan konsentrasi tinggi, berdoa - memanjatkan doa dan harapan buat Eleane.

Malam ketiga, apa yang saya rasakan dan tercium wangi parfum dan bau badan serta dengusan nafas itu sudah tidak ada lagi. Syukurlah, bau dan suara Eleane sudah tidak lagi di rumah saya. Apakah karena doa dan harapan saya kepada Tuhan itu? Saya juga tidak tahu. Tapi saya merasa, Tuhan telah menolong Eleane dan menolong saya. Antara Eleane dan saya, ada dunianya sendiri-sendiri, ada tempatnya masing-masing. Terimakasihku ya Tuhan dan terimakasih buat Eleane yang dunia kami sudah kami dapati, mana yang semestinya,-


---------------------------------------------------------------------


Holland,- 18 mei 04,-

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua 3631

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua 3583

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/724-bau-wellington-di-paris?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .