A+ A A-

Sejarah Perkembangan dan Seluk Beluk Agama Tao [4] - Transformasi Dari Filsafat Menuju Agama

  • Written by  Ivan Taniputera + Xuan Tong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Proses perubahan Taoisme filsafat menuju pada suatu agama yang terorganisasi (20 SM - 600 M). Taoisme baru menjelma menjadi suatu agama yang terorganisasi pada masa Zhang Daoling yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Meskipun demikian proses transformasi ini tidak akan terjadi apabila tidak ada faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini kita akan mempelajari hal-hal apa saja yang menjadi pendorong bagi proses tersebut.

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

 Pada masa akhir Dinasti Zhou yang terpecah menjadi beberapa negara, banyak orang yang terpelajar yang berkeliling untuk menjajakan kemampuan mereka sebagai ahli ketata-negaraan maupun penasehat politik. Mereka berkeliling untuk mencari raja atau penguasa yang bersedia memanfaatkan jasa mereka. Profesi mereka pada masa sekarang dapat disamakan dengan para konsultan dari berbagai bidang.

Dengan penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin, maka praktis jasa mereka tidak diperlukan lagi. Dinasti Han yang merupakan kelanjutan dari Dinasti Qin juga memerintah seluruh Tiongkok. Sama dengan Dinasti Qin, mereka menerapkan sistim pemerintahan yang terpusat serta membatasi kekuasaan para bangsawan. Dengan demikian persatuan negara menjadi kuat.

Sistim pemerintahan terpusat tersebut tetap menjadikan kaum terpelajar yang sebelumnya berkeliling menjajakan jasa tidak diperlukan lagi keberadaannya. Sebelumnya banyak dari mereka yang juga menguasai kemampuan mistis, seperti misalnya meramal, penyembuhan, dan menambah umur panjang. Karena jasa mereka dalam bidang ketata-negaraan serta politik tidak diperlukan lagi, maka dilakukanlah alih profesi dengan memanfaatkan kemampuan lain mereka tersebut.

Pada masa Dinasti Qin dan Han awal, mereka membentuk suatu kelompok masyarakat tersendiri yang disebut dengan "fangshi." Kata "fangshi" berarti "ahli ilmu gaib" (masters of formulae). Secara umum mereka terbagi menjadi dua, yakni yang mengkhususkan diri pada ilmu gaib, peramalan serta penyembuhan dan mereka yang mengkhususkan diri pada ilmu pemanjang umur serta hidup abadi.

Adanya dua golongan ini untuk memenuhi keinginan dua kelompok masyarakat yang berbeda. Kaum kaya lebih menginginkan umur panjang serta hidup abadi, sedangkan kaum miskin tidak memerlukannya. Hidup bagi mereka adalah penderitaan, sehingga memperpanjang hidup bagi mereka sama saja dengan memperpanjang penderitaan. Sebaliknya kaum miskin yang antara lain terdiri dari petani, lebih menghendaki jaminan panen yang baik, serta kesehatan diri dan anggota keluarganya, sehingga mereka dapat bekerja di ladang dengan lancar. Para fangshi yang menjawab keinginan mereka menggunakan jimat yang ditulisi simbol-simbol tertentu serta kata- kata yang dipercaya mengandung kekuatan gaib. Tujuannya adalah untuk mengundang roh-roh agar menyembuhkan serta memberikan perlindungan. Jadi kaum fangshi ini kemudian menjadi semacam kelas pendeta di tengah-tengah masyarakat pada masa itu, dimana sebelumnya kelas kependetaan semacam ini sebelumnya belum dikenal dalam Taoisme.

Sebagai tambahan :

jimat atau fu itu berasal dari kebiasaan jaman purba , dimana setiap menjelang pergantian musim semi itu selalu dibuat ujar2 yang bersifat baik dan mengundang hal2 yang baik ke dalam rumah. Dalam perkembangannya , fu itu menjadi semacam jimat yg memiliki kekuatan2 tertentu , misalnya dengan menaruh gambar2 rasi2 bintang. Atau juga gambar2 dari elemen kekuatan alam

Faktor pendorong lain, adalah ajaran seorang ahli filsafat bernama Mozi (lahir sekitar tahun 470 SM dan wafat sekitar tahun 391 SM). Beliaulah yang mengawali tradisi suatu agama terorganisasi dengan mendirikan altar-altar guna memuja roh-roh setempat. Para pengikut Mozi yang disebut kaum Mohis, mengajak rakyat untuk memuja altar-altar tersebut. Meskipun Ajaran Mozi (Mohisme) kehilangan pengaruhnya pada masa Dinasti Han, tetapi tetap saja rakyat masih
menyembah altar-altar tersebut.

Taoisme kemudian meneruskan sistim pemujaan dengan menggunakan altar-altar tersebut. Faktor ketiga yang mendorong perubahan Taoisme menjadi suatu agama, adalah melemahnya upacara ritual kerajaan yang dilakukan oleh para shaman. Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, para raja Dinasti Zhou memanfaatkan jasa para shaman untuk melakukan upacara keagamaan bagi mereka. Lambat laun makna dari upacara keagamaan tersebut menjadi tidak dikenal lagi, sehingga upacara tersebut merosot menjadi semacam rutinitas belaka, sehingga akhirnya upacara- upacara semacam itu tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyakarakat pada jaman itu.

Akhir dari upacara-upacara yang diorganisasi perusahaan, terjadi pada masa Dinasti Han, di mana kaisar memutuskan untuk menganut Taoisme, dengan mendirikan altar pada tahun 150 M guna menghormati Laozi. Posisi para shaman penyelenggaran upacara ritual kerajaan digantikan oleh para fangshi. Demikianlah tiga prasyarat untuk menjadikan Tao suatu agama tersedia sudah: kelas kaum pendeta, sistim pemujaan, dan dukungan kerajaan.

Pada masa inilah Zhang Daoling tampil ke panggung sejarah. Pada mulanya Zhang Daoling mempelajari kitab-kitab klasik Konfusius, namun kemudian ia beralih pada Ajaran-ajaran Laozi serta ilmu memperpanjang umur. Zhang Daoling kemudian berpindah ke Propinsi Shu (Yunnan sekarang), yang pada masa itu merupakan daerah terpencil serta bergunung-gunung. Daerah tersebut didiami oleh suku- suku yang mempraktekkan kepercayaan shamanistik kuno. Bagi orang yang tinggal di desa-desa terpencil, roh-roh adalah merupakan sesuatu yang nyata dan ilmu gaib adalah pusat dari kehidupan mereka.

Zhang Daoling menyatakan bahwa ia menerima ajaran dari Laozi sendiri, yang juga memberikannya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit serta menaklukkan roh-roh jahat. Dengan menggunakan air yang telah dibubuhi abu hasil pembakaran jimat, Zhang berhasil mendapatkan banyak pengikut. Jimat tersebut adalah sehelai kertas kuning yang ditulisi simbol-simbol tertentu dengan warna merah. Kebanyakan simbol- simbol tersebut merupakan sarana untuk memanggil roh-roh atau makhluk
suci. Zhang Daoling menciptakan suatu agama yang berpusat di sekeliling dirinya sendiri, ia memberikan gelar Laozi sebagai Taishang Laojun (Penguasa Agung nan Tinggi).

Tambahan:

Zhang DaoLing juga memasukkan HuangDi sebagai pendiri Taoism. Dan konon TaiShang LaoJun menjelma menjadi Guang ChengZi dan mengajarkan Taoism kepada HuangDi. Yang mana ketika konsep San Qing lahir , maka YuanSe TianZun itu menjelma menjadi Pan Gu.

Zhang Daoling dan keturunannya kemudian menjadi pemimpin gerakan keagamaan tersebut. Gerakan keagamaan ini disebut dengan "Jalan Lima Gantang Beras,"
karena orang yang ingin bergabung diharuskan membayar sumbangan sejumlah lima gantang beras. Oleh karena Zhang Daolinglah Taoisme menjadi suatu agama. Pujaan utamanya adalah Laozi yang dipandang sebagai pendiri Taoisme dan disebut TaiShang LaoJun.

Zhang Daoling dan keturunannya menyebut diri mereka sebagai "Guru- guru kedewaan" (dianshi) dan menjadi perantara antara para dewa dan umat awam. Namun, hal terpenting di atas semua itu adalah agama baru ini dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat. Zhang Daoling dan pengikutnya menciptakan suatu sistim keagamaan lengkap dengan kaum pendeta, kitab suci, upacara ritual, dan ilmu gaibnya. Mereka memerintah bagaikan paus atas sistim keagamaan baru tersebut.

Kitab yang muncul pada masa itu adalah Taipingjing (Kitab Perdamaian dan Keseimbangan), yang membahas berbagai hal, seperti penciptaan dunia, pentingnya upacara ritual, aturan moralitas, pahala- pahala, hukuman, serta ilmu menambah kesehatan dan umur panjang.

Dinasti Han runtuh pada tahun 220 dan terpecah menjadi tiga negara, yakni Wei, Wu, dan Shu. Organisasi keagamaan yang kini dipimpin Zhang Lu, cucu dari Zhang Daoling menerima pengakuan dari Kerajaan Wei sebagai Zhengyi Mengwei (Aliran Ortodoks Utama) dari Taoisme. Pada masa selanjutnya aliran tersebut juga disebut dengan Tianshi Dao (Aliran Para Guru Kedewaan).


Pada masa Kerajaan Wei inilah timbul kitab yang berjudul Taishanglingbaowufujing (Kitab Pewahyuan Tertinggi Lima Jimat dari Roh Suci). Ini merupakan kitab pertama dari kumpulan kitab- kitab "Lingbao" (Roh Suci). Di dalam kitab ini dapat dijumpai mengenai jimat untuk melindungi serta memanggil roh-roh suci, penggambaran kosmologi alam kedewaan, teknik meditasi, serta resep- resep untuk meramu obat menuju keabadian.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 10 October 2012 07:04
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/737-sejarah-perkembangan-dan-seluk-beluk-agama-tao-4-transformasi-dari-filsafat-menuju-agama

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto