A+ A A-

Seri Tulisan Confucius [12] - Hubungan Antar Teman

  • Written by  Hengki Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pergaulan di luar sangat menentukan dalam membentuk karakter seseorang. Bergaul dengan teman yang tidak baik tentunya akan mempengaruhi perkembangan batin kita juga. Sebagaimana layaknya seekor anak harimau yang semenjak kecil diasuh dan bergaul dengan kelompok anjing, maka harimau tersebut sesudah besar akan bertingkah laku seperti anjing. Kebijaksanaan dalam bergaul sangat menentukan dimana kita mampu membedakan teman yang baik sebagai seorang sahabat sejati dan yang jahat sebagai koreksi kepribadian kita sendiri yang lemah. Keharmonisan dalam kehidupan di dunia ini harus dibina secara bersama oleh seluruh masyarakat. Karena itu menjaga hubunganantar teman merupakan suatu peranan yang sangat penting.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Confucius menilai hubungan dengan seorang sahabat sebagai suatu hubungan yang menyenangkan, sehingga apabila ada seorang sahabat yang dari jauh mengunjungi kita, maka selayaknya kita perlakukan dengan baik.


Guru Khung Fu Zi bersabda,

" Apakah bukan sesuatu yang menyenangkan mempunyai teman yang datang mengunjungi dari jauh ? " (Lun Yu I/1 = awal kumpulan dari Lun Yu).

Orang yang bijak senantiasa berusaha melihat kelemahan temannya untuk mengoreksi dirinya sendiri demikian juga sebaliknya kelebihan temannya akan dipakai untuk memperbaiki kelemahan yang ada dalam dirinya.

Guru Khung Fu Zi bersabda,

" Bila saya berjalan dengan dua orang lain, selalu ada sesuatu yang dapat saya pelajari dari mereka. Kekuatan mereka saya ambil, sedangkan kelemahan mereka saya pakai untuk mengoreksi diri saya sendiri." (Lun YU VII/21).


Bergaul dengan sahabat yang sejati tentunya akan memberikan manfaat yang positif, namun bergaul hanya dengan sahabat yang picik akan membawa celaka pada diri kita sendiri.


Guru Khung Fu Zi bersabda,

" Ada tiga sifat sahabat yang membawa faedah dan ada tiga sifat sahabat yang membawa celaka. Seorang sahabat yang baik, jujur dan berpandangan luas akan membawa faedah. Seorang sahabat yang licik, yang lemah dalam hal-hal yang baik dan hanya pandai bersilat-lidah akan membawa celaka." (Lun Yu XVI/4).



Sang Buddha juga sangat menekankan agar kita senantiasa bergaul dengan sahabat sejati yang berbudi luhur, malahan diminta agar kita tidak bergaul dengan orang jahat yang berbudi rendah.


"Bergaul hanya dengan mereka yang baik, berkumpul hanya dengan mereka yang baik, mempelajari ajaran mereka yang baik, akan memberikan kebijaksanaan yang tak dapat diberikan oleh yang lainnya." (Samyutta Nikaya Vol.I, 17)


"Jangan bergaul dengan orang jahat, jangan bergaul dengan orang yang berbudi rendah; tetapi bergaullah dengan sahabat yang baik, bergaullah dengan orang yang berbudi luhur." (Dhammapada, 78)


Adakalanya kita mengeluh bahwa sulit sekali untuk memperoleh seorang teman yang sejati, tanpa berusaha melihat ke dalam diri kita sendiri. Tingkah laku kita dalam bergaul juga sangat menentukan bagaimana seseorang itu akan menjadi sahabat kita. Untuk itu kita haruslah melatih kebajikan dalam diri kita sendiri, dan kemudian kebajikan tersebut dapat kita refleksikan dalam tingkah-laku kita terhadap teman.


Murid Confucius, Zeng Zi berkata :

" Seseorang yang berbudi mendapat teman dengan membudayakan diri sendiri. Dan melihat kepada temannya untuk membantu mereka melatih kebajikan."

Adakalanya seorang pengemis ataupun seseorang yang menunjukkan sifat yang kurang baik, dapat saja merupakan sahabat kita pada kehidupan sebelumnya. Mereka yang sering dianggap sampah masyarakat, malah kalau kita pandang dari aspek positif, justru mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga moralitas yang baik dalam menjalani kehidupan ini.

Dua Orang Sahabat Yang Setia

Pada suatu kehidupan sebelumnya, Kelana dan Derma merupakan dua orang
sahabat yang sangat setia dimana masing-masing telah berjanji bahwa pada kehidupan berikutnya mereka akan saling mengingatkan agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tanpa mereka sadari, dalam kehidupan saat ini mereka setiap hari bertemu,
namun bukan sebagai sahabat karib karena Derma telah menjadi seorang pengusaha yang kaya, sedangkan Kelana adalah seorang tunawisma yang pemabuk dan pemalas. Derma telah mengenal pengemis Kelana ini jauh hari sebelum dia berhasil menjadi seorang pengusaha yang kaya. Pada waktu itu hidupnya masih tidak menentu dan sering bermabuk-mabukan, tetapi setelah bertemu dengan Kelana yang waktu itu meminta sedekah dalam keadaan yang menyedihkan dan sedang dilanda mabuk minuman keras, maka membuat dia tersadar untuk tidak menjadi seorang pemabuk dan pemalas. Sehingga diapun menjadi bersemangat sekali dalam bekerja, dimana setiap kali semangat kerjanya mulai runtuh, Kelana akan muncul dan dalam keadaan mabuk
meminta sedekah yang tentunya diberikan oleh Derma.

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing-List Budaya Tionghua 1053

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/749-seri-tulisan-confucius-12-hubungan-antar-teman

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto