Logo
Print this page

Kehidupan Kami Di Hongkong (1972-1973) [4] - Bahaya dan Keuntungan , Wei-ji

Kalau sudah dipikir matang matang suatu keputusan, kerjakan dengan konsekuen  keputusan itu
Kalau tidak berani mengambil risiko, tidak bisa mendapatkan keberhasilan (Wei-Ji, bahaya dan keuntungan)

Budaya-Tionghoa.Net | Istriku berkata padaku: “Fei Shuang, kita harus ke rumahnya koh dan enso Tan, untuk memberi tahu bahwa kami kemungkinan besar pergi ke Belanda untuk bekerja disana. Tilponlah mereka dan janji kapan kita bisa ke sana.” “Benar, aku juga berpikir demikian. Mereka adalah orang yang pertama tama menerima kita sewaktu kita datang di Hongkong. Budi mereka kita tidak boleh lupahkan. Baik saya tilpon mereka” Aku lalu bangun dari tempat dudukku dan menilponnya. Pak Tan gembira menerima kabarku dan mereka akan menerima kami besok malam jam 19.00.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Besoknya kami berdua pergi kerumahnya keluarga Tan dan pak Tan yang selalu aktif dan ramai berkata:”waah, jadi orang Belanda ni, ayoh duduk.” Kami ketawa dan aku  berkata: ” masah si begitu gampang menjadi Belanda.” Kami duduk dan diberi teh dengan kuwe keringan. Taci Tan, seorang totok Hokkian mulai berkata:”Han Yi Sen (dokter Han), saya senang mendapatlkan kabar yang gembira ini. Tetapi pikirlah yang matang matang, saya tidak lama yang lalu bersama koh Tan pergi ke Belanda dan Belgia, disana kehidupan susah. Tidak gampang mencari pekerjaan bagi orang yang datang dari Indonesia.”  Beliau melihat suaminya lalu meneruskan “ Teman kami sdr. Lam, dahulu seorang wartawan di Indonesia, tidak bisa mendapatkan pekerjaan, beliau  bekerja sebagai pegawai restoran Indonesia di Belgia. Istrinya seorang dokter gigi juga tidak bisa bekerja.” Aku mengerti maksud dari ny. Tan adalah baik hati, beliau menganjurkan agar dipikir yang matang dahulu sebelum mengambil keputusan, jangan sampai getun sudah terlambat.

Istriku diam saja tetapi aku bicara:” disini diplomaku tidak diakui, aku hanya bisa bekerja sebagai acupuncturist. Di Holland menurut pengalaman teman temanku disana, sesudah bekerja beberapa tahun bisa diakui. Gaji yang aku trima seperti dokter yang lulusan sana tidak berbedah. Lebih baik dicoba dahulu.”  Sambil bergurau  Pak Tan berkata:”disana ada roti seperti dedek berwarna tjoklat tua, buat kita tidak enak, sepertinya agak pahit. Tetapi menurut kata orang disana katanya sehat dan enak dimakan.”  Istrinya menjawab: “itu sudah kebiasaan mereka, bandingkan kita suka sekali makan babat, maag (lambung) babi, dan mahal harganya, mereka orang Belanda tidak mau makan. Katanya orang Tionghoa disana bisa minta begitu saja tanpa membayar, karena organ organ itu dibuang.” Istriku yang sampai sekarang diam lalu berkata:”kita makan hidung sapi buat rujak cingur dan kuping babi dimasak lu, (masak kecap dengan ngohiang), mereka tentunya lebih geli.” Kita semua ketawa dan lalu kita bicara bicara tentang pekerjaanku dan situasi Tiongkok. Sebelum berpisah kami berjanji untuk memberi tahu pada mereka. Kami lalu berpisah. Mereka masih berkata:”kami doakan sukses di Holland.” Diatas tram pulang, istriku berkata:” maksudnya taci baik, tetapi pekerjaan engkau sudah jelas sebagai dokter asisten dalam pendidikan di RTIT, kopi diplomamu juga sudah kau kirim. Ini tidak bisa salah.”

Di Hongkong aku kenal seorang pedagang Pak Wan, seorang baba, lulusan sekolah Belanda. Pak Wan berdagang import-export barang barang buatan Hongkong dikirim ke Indonesia. Pak Wan, namanya harus diganti menjadi Wanda pada periode Orde Baru. Aku dengar dari teman teman bahwa Beliau adalah famili orang kaya. Istrinya seorang Totok Hakka dari Medan, cantik dan langsing badannya, tidak begitu bisa bicara Belanda tetapi pandai bicara bahasa Kuo-Yi dan Indonesia.
Nyonya Wan mempunyai restoran Indonesia di Kowloon  Keluarga Wan tinggal di Mid-level, daerah elit di Hongkong. Rumah Pak Wan bukan apartemen tetapi rumah di atas bukit dan di rumahnya ada garagenya. Kalau bukan orang kaya, tidak mumgkin tinggal didaerah mid-level ini.  Kebetulan aku ke kantor seorang teman di Queens Rd., keluarga baba, untuk memberitahukan kalau kami sekeluarga mungkin akan bekerja di Holland. Kebetulan pak Wan suami istri juga berada disana. Istrinya sesudah mengetahui bahwa aku mau bekerja di Belanda, beliau lalu berkata: “ sekarang kebetulan ada  beberapa orang kenalan kita dari negeri Belanda datang ke Hongkong dan kami undang makan direstoran saya.” Beliau ketawa dan melihat suaminya lalu meneruskan omongannya:” akan membuat makanan  chas Belanda ialah zuurkool (gubis diasamkan), dimakan dengan sosis dan kentang rebus, diberi saus. Kalau koh Han bisa datang, kami senang menerimanya.”
Pak Wanda menyambung dan berkata:”koh Han, datanglah bersama sama enso (panggilan yang aturan untuk istri sdr. yang lebih tua) sekalian, anda dapat bertanya penghidupan disana. Nanti kalian saya kenalkan, siapa tahu kalau koh Han disana perlu advis atau lainnya, sudah punya kenalan.” Aku mengucapkan:” trima kasih atas kebaikan enso dan koh Wan untuk mengundang kami dan mengenalkan kami dengan mereka. Uwee (aku) rasa istri saya pasti juga mau datang.”
Pak wan lalu meneruskan pembicaraannya: “Datanglah besok lusa jam 4 sore direstoran istriku di Kowloon, koh Han kan tahu adresnya?” Dengan ketawa saya katakan:” tahu, kan uwee pernah datang kesana bersama istriku diundang oleh enso.” Pak Wan lalu menepuk pundakku dan berkata:”sampai ketemu saptu jam 4 sore.” Mereka semua gembira mengetahui bahwa aku sekeluarga akan ke Belanda dan memujikan sukses. Kita lalu berpisahan. Karena aku ingin tahu penghidupan di Belanda aku trima undangan itu dan aku tahu pasti bahwa istriku juga akan pergi.. Ternyata yang datang itu ialah Dr. Tang Pin Nio dari Eindhoven dan Dr. Liang suami istri dari Amsterdam. Dr. Tang aku sudah kenal namanya sewaktu di Indonesia, karena keaktifannya di masyarakat. Ternyata beliau sudah mendapatkan pensiun berhubung pekerjaannya dahulu di pemerintahan di jaman Hindia Belanda. dan Dr. Liang masih bekerja sebagai dokter sekolah.
Ternyata yang buat zuurkool adalah istrinya Dr. Liang. Sambil makan zuurkool, sosis dan kentang rebus, kita sambil bicara bicara keadaan di Holland. Ternyata banyak sekali dokter dokter Tionghoa dan dokter dokter Gigi asal Indonesia yang bekerja di Nederland. Beberapa kolega kolega yang disebut sebut namanya ada yang ku kenal.dan mereka memberikan adresnya padaku. Mereka pula mengatakan pada kami bahwa mereka datang dan bekerja di Belanda masing masing sudah empat dan  tiga tahun yang lalu. Mereka berkata jangan ragu ragu bekerja di Holland, disana tidak ada diskriminasi, dan kalau kau tahu bahwa kau benar, kau harus berani membantahnya, pasti semua akan mendukung kau. Dr. Tang mengatakan:”pokoknya kau harus tahu hak hak kamu dan juga harus tahu kau punya kewajiban.” Dr. Tang tanya padaku, aku akan bekerja di rumah sakit mana dan di kota mana . Aku memberi tahu bahwa aku ditrima bekerja di RTIT dan menunggu visa untuk berangkat. Pembicaraan aku dengan mereka membesarkan hatiku terutama bagai istriku. Dalam hatiku aku sangat bertrima kasih kepada suami istri Wan yang telah mengundang kami sehingga kami sedikit banyak tahu apa yang akan kita hadapi.

Dr Han Hwie Song
Breda, 6 april 2004

Budaya-Tionghoa.Net |

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/753-kehidupan-kami-di-hongkong-1972-1973-4-bahaya-dan-keuntungan--wei-ji?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .