A+ A A-

Kehidupan Kami Di Hongkong (1972-1973) [2] - “A Friend In Need Is A Friend Indeed”

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email


Mendengar perkataan yang manis, jangan lantas percaya
Orang yang bicara itu belum tentu adalah temanmu yang baik
Lihatlah apakah kata katanya  dipraktikkan menurut janjinya.

Budaya-Tionghoa.Net | Kami tinggal di Hongkong namun berhubung kesibukan kami dalam perjoangan hidup kami tidak ada ketika untuk melihat dan menikmati pemandangan Hongkong yang terkenal didunia, sebagai New York kedua. Pemandangan malam penuh dengan sinar lampu yang bergermerlapan dari ribuan lampu lampu reclame tidak sedikitpun menyadarkan keindahan pulau Hongkong padaku.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Juga kami belum betul betul menikmati dengan keluarga cuisine Hongkong, cuisine Tionghoa dipulau koloni Inggeris ini terkenal kualitasnya baik untuk kelenjar rasa dimulut maupun dipandang dengan mata. Perberkembangan membuat masakan chas Tionghoa maju dengan pesatnya, lebih maju dari RRT, karena sering makan direstoran di RRT dan mengembangkan tingkat makanan adalah  pikiran kapitalism; makanan rakyat itulah yang di propagandakan. Di Hongkong chef restoran  membuat mie dari tepung trigu sampai menjadi Mie yang halus semuanya dibuat dengan tangan didepannya pengunjung restoran. Suatu hidangan mata yang nyaman.

 


Kami beberapa bulan sampai di Hongkong tetapi masih belum dapat menikmati dengan keluargaku. Ini disebabkan terutama karena keadaan keuangan kami, terkecuali diundang oleh beberapa pedagang di Hongkong, yang kami dahulu kenal, karena kita pernah bekerja sama demi masyarakat Tionghoa di Surabaya. Tetapi undangan itu biasanya hanya untuk kami berdua dan anak anak tak dapat ikut. Namun demikian kesenangan makan dengan keluarga jauh lebih nikmat dari makan dengan teman meskipun yang dihidangkan adalah masakan yang berkwalitas; apalagi sebagai orang yang diundang dan belum mampu untuk membalesnya. Karena pengalaman hidup di RRT di periode RBKP, di Hongkong sebelum aku dapat berdikari, aku sadar bahwa makan dengan keluarga meskipun kwalitasnya kurang, namun lebih intiem, cosy, companionable dan bebas. Kalau yang mengundang itu adalah orang yang arogan lebih baik undangan itu ditolak saja secara halus, karena suasana akan mempengaruhi selera makan. Sesudah keadaan tenang baru aku insyaf bahwa teori taoisme yang mengatakan bahwa kedaan jiwa seseorang mempengaruhi jiwa, kehidupan emosionil,  kesenangan hidup manusia.

Baru pindah dua bulan ke apartemenku yang baru datang seorang teman Dr. Lioe dan keluarganya ke Hongkong. Dr. Lioe dahulu bekerja di  Bandung dan Weiguo dan oleh pemerintah RRT dikerjakan di Fuzhou. Dr. Lioe adalah kenalan baiknya Dr. Hao, temanku dan melalui beliau aku dikenalkan padanya.Kalau beliau pergi ke Beijing untuk mengurus permohonan Chu-guo ke Holland, beliau selalu mampir ke Shanghai dan bermalam dirumahku beberapa hari untuk berbelanja. Sewaktu RBKP di Fujian tidak mudah untuk membeli pakean atau  barang barang yang “lux” dalam arti RRT dijaman dahulu. Kalau ke Shanghai kami antar beliau belanja dan ku ajak beliau dan anaknya jalan jalan.
Dr. Lioe selalu berkata padaku kalau ke Shanghai, bahwa kalau dia sudah keluar dan sampai di Holland akan membantu aku agar bisa bekerja di Holland. Beliau berkata bahwa dia mempunyai saudara yang bekerja sebagai direktur dari rumah sakit disana dan banyak temannya. Dan sambil menepok nepok pundakku dia berkata:”jangan kewatir nanti aku usahakan kau agar bisa bekerja di Holland” Kami menjamu keluarga Lioe bersama sama dengan keluarga Dr. Hao untuk makan malam  untuk memujikan keluarga Lioe slamat jalan dan sukses di Holland. Aku akan bicara janji beliau dahulu, tetapi aku berasa sukar untuk mengeluarkannya dari mulutku.
Aku hanya menunggu nunggu agar dia sendiri yang akan mulai menyinggung janjinya.
Aku anggap dia tidak bisa lupa perkataan yang banyak kali diulangi.dahulu. Waktu sebelum pulang dia mungkin berasa janjinya yang dahulu harus dikatakan, dia mengajak aku kedepan pintu agar yang lain tidak dengar, dan berkata:”Hwie-Song kau jangan mengharepkan bisa bekerja di Holland, lebih baik kau cari jalan agar penghidupanmu lebih baik lagi disini. Aku lihat kau sudah bisa berdikari di Hongkong, hasil acupuncturmu lumayan. Aku menjawab: ”betul aku sudah bisa berdikari,  tetapi aku lebih baik keluar dari Hongkong karena kita tidak tahu bagaimana dengan sikap RRT terhadap Hongkong.
Satu waktu pasti diambil oleh RRT dan kita hidup seperti dulu, tertekan jiwa. Pada  itu waktu aku sudah tua, sukar untuk cari jalan. Kalau mau yah sekarang ini” Loe menjawab:”Kau punya diploma dari Airlangga tidak diakui di Holland. Lain dengan aku, aku pernah bekerja di Holland dan mendapatkan gelar Ph..D. dari universitas disana”. Aku berkata :”bagaimana kalau aku bekerja sebagai acupuncturist?” Dia menjawab:” kau jangan kira kalau orang Belanda percaya dengan akupunctur, mereka itu sangat kritis karena pendidikannya sudah tinggi. Maka kau janganlah pikir ke sana yang tidak mungkin, kerjakan dan perkembangkanlah akupucturmu disini dengan baik.” Badanku seperti disiram dengan air dingin mendergarkan apa yang dikatakan oleh dr. Lioe. Aku bertanya pada diriku:” dia belum juga sampai di Holland, mengapah dia sudah bisa mengatakan begitu, padahal dahulu sewaktu bermalam dirumahku di Shanghai selalu berjanji akan membantu aku ke Holland? Aku setengah percaya perkataan dia dan disampingnya aku mempunyai padangan lain terhadap orang ini.

Esoknya aku kunjungi dr. Hao, temanku yang baik, dapat diandalkan sebagai teman, orang yang simpatik dan tenang, aku bicara dengan beliau apa yang dikatakan oleh  Lioe padaku. Beliau berkata: “jangan dengar omongan Dr. Lioe, kerjakanlah apa yang kau pikirkan itu dan jangan ragu ragu. Mencoba kan tidak ada salahnya”  Untunglah aku tidak mengikuti advis Lioe yang aku anggap sebagai advis negatif, bagai aku lebih baik jangan memberi advis yang sembarangan, bisa merugikan orang. Memang sebetulnya dia tidak mau membantu dan dengan omongan demikian maka perjanjian dahulu dihapus dan dihilangkan sama sekali. Dulu ternyata hanya omongan manis saja, agar kami mau menerima dia dengan anaknya tinggal dirumahku di Shanghai dalam perjalanan ke Beijing!!! Sekali lagi teman bukan semua teman akan bersedia membantumu.  Teman yang betul betul dalam arti teman sejati, seperti orang Inggeris mengatakan “a friend in need is a friend indeed” hanya sedikit jumblahnya dan dapat dihitung dengan jari jari tangan  kita..

[Breda, 22-3-2004]

Budaya-Tionghoa.Net |

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/754-kehidupan-kami-di-hongkong-1972-1973-2-%E2%80%9Ca-friend-in-need-is-a-friend-indeed%E2%80%9D

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto