A+ A A-

Kehidupan Kami Di Hongkong (1972-1973) [3] - Kalau Merencanakan Ratusan Tahun , Didiklah Manusia

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email


Kalau kita merencanakan satu tahun, tanamlah  padi
Kalau kita merencanakan sepuluh tahun, tanamlah pohon
Kalau kita merencanakan ratusan tahun, didiklah manusia. (kultur Tionghoa)

Budaya-Tionghoa.Net | Pada bulan april 1973, kira kira lima bulan sesudah kami tinggal di Hongkong, kami sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan penghidupan di Hongkong. Kami mempunyai ruang berpikir lebih luas dari beberapa bulan sebelumnya. Untuk mempertinggi Qin (cinta kasih dalam keluarga) kadang kadang pada hari minggu kami sekeluarga pergi ke pantai atau makan direstoran untuk “Yam Cha”. Atau pergi ke teman lalu  bersama-sama menonton bioskop atau makan bersama. Dengan demikian jiwa dan pikiran anak anakku menjadi sehat dan juga mereka mulai dapat menyusuaikan dengan penghidupan di Honkong. Mereka kadang kadang menggunakan  kata kata kantonis dalam bahasa mandarin dalam komunikasi antar saudara. Pagi anak anakku berangkat sekolah dengan bus dan membawa makanan yang sebelumnya sudah disediakan oleh ibunya, sore mereka pulang diantar dengan bus sampai depan gedung apartemen kami. Mereka lalu  bermain bertiga dengan bebas tanpa takut takut. Atau menonton TV. Kami tahu bahwa untuk hari depan anak anak kita, kita harus investasi baik tenaga maupun materiil. Segala tindakan kami yang kami kerjakan seperti Weiguo, lalu Chuguo semua dengan tujuan untuk hari depan anak cucu kami.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Sesudah anak anakku berangkat sekolah istriku mengerjakan rumah tangga dan belanja untuk kami makan. Kalau belanja hanya turun saja kebawa dimana dapat beli semua keperluan sehari hari. Ongkos untuk makan di Hongkong kalau normal biasanya hanya 70% dari harga sewah apartemen. Aku gembira bahwa keluargaku sudah bisa menjesuaikan penghidupan yang baru di Hongkong meskipun masih belum ideal dalam pikiranku. Istriku dan putriku mulai beli kembang agar suasana rumah mengeluarkan sinar kesenangan, beli bunga dalam pot ditempatkan di depan cendela. Aku senang karena aku sadar bahwa di Hongkong tidak mampu tinggal dirumah dengan kebun (pelataran). Aku melhat bunga bunga dipot didepan cendela, cukup memuaskan hati. Perasahaan ini tentunya agak janggal bagi orang yang tinggal di Indonesia dimana setiap rumah biasanya ada kebunnya. Apalagi bagi seorang yang masih muda, padahal aku ingat bahwa di Indonesia dirumahku dahulu ada pohon kedongdong dan banyak bunga melati, mawar dan bunga anggrek, dan di pinggir jalan menju ke rumah kami banyak pohon pohon palm.


Sekarang aku dan istriku mulai membicarakan apa yang akan kami kerjakan mau menetap di Hongkong atau mencari jalan untuk keluar negeri. Kami berharep agar keputusan ini kali adalah yang terachir dan jangan sampai salah. Sebagai migran yang baru memakan banyak tempo untuk bisa menyesuaikan diri dan terutama akan menyulitkan pendidikan anak anak kami. Bagai istriku anak Totok lulusan sekolah Tionghoa pikirannya lain dengan aku yang mendapatkan pendidikan Barat. Aku berpikir satu satunya jalan bagi anak anakku ialah beremigrasi ke negara Barat dan berhubung bahasa yang ku kuasahi,  Negara yang aku pilih ialah negari Belanda atau Amerika serikat. Untung juga istriku tetap beranggapan yang sama dengan aku bahwa kita harus mencari jalan keluar negeri, ke Holland atau ke USA seperti yang aku usulkan padanya.

Dari pengalamanku dalam sepuluh tahun achir ini, ialah sinusoida jatuh dan bangun, bahkan jatuhnya hebat, dan memerlukan waktu yang lama dan tenaga yang besar untuk bisa bangun lagi. Dari pengalaman ini aku sangat sadar teori Kong Fu-Zhi bahwa basis dari masyarakat adalah keluarga, aku mengerti betul betul kalau semua keluarga hidup gembira negara akan aman. Waktu aku berdiskusi dengan teman teman academici lulusan Indonesia, aku ditanya teman temanku ttg. hubungan negara dan keluarga. Dengan agak repot dan dengan mengaruk-garuk kepalaku aku berkata: “ja, kalian menanyakan padaku pertanyaan yang emosionil. Jawapannya ada dua yang satu riil dan jujur keluar dalam hati kita. Yang kedua hipokrit untuk menyenangkan massa dan menunjukkan “harga dirinya” sebagai seorang patriotis.” Aku agak ragu ragu namun aku bicara terus terang pada mereka:” untuk menjawab pertanyaan saudara Lin, aku tidak lupa dari pengalamanku dahulu sampai sekarang, kalau aku  boleh jujur, maka negara adalah kedua dibawa keluargaku. Hari depan anak anakku pertama tama tergantung dari istri dan aku dan sebagai seorang Tionghoa kita baru sukses dalam penghidupan kalau anak cucu kita juga sukses. Sukses mereka dalam pendidikan dan penghidupan adalah satu hadiah kehormatan yang paling besar yang mereka berikan pada kita.” Perkataanku ini sebetulnya tidak enak didengar sebagai rakyat yang patriotis, namun keadaan yang sebenarnya didalam masyarakat adalah keras dan kompleks. Dengan tidak terduga mereka semuanya dengan ketawa setuju dengan ide pikiranku ini. Satu teman saudara Zhao yang sekarang tinggal di USA berkata: “memang demikian, ini pengalaman kita semua kan, mengapa kita dahulu beratusan ribu Weiguo lalu berbondong-bondong Chuguo lagi. Sekarang kita mencari jalan untuk keluar negeri lagi dimana kita bisa menetap dengan baik. Bukankah demikian?” Yang lainnya setuju dengan jawaban kami berdua, namun ragu untuk mengutarakan pikirannya. Kita mengetahui bahwa semua dokter dokter, apoteker lulusan universitas dari Indonesia, dapat dikatakan semua keluar dari RRT dan kebanyakan sekarang tinggal di Belanda dan USA. Namun demikian negara Indonesia dan Tiongkok tetap merupahkan keluarga atau wanita yang cantik dan tetap dicintai oleh kita yang lahir di Indonesia dan pernah tinggal di RRT. Sebagian besar dari mereka ini dapat dikatakan setiap tahun mengunjungi Indonesia.


Hubungan negara dengan aku
Aku akan menjadi rakyat yang baik
Aku mengenal kewajibanku, dan
Aku juga mengenal hak-hak aku
Kalau negara kuat dan makmur
Keluarga aman dan gembira
Maka aku akan menjadi patriot

Negara adalah besar dan penting

Bagai keluargaku yang tercinta
Aku lebih penting dari negara
Aku adalah anggota keluargaku
Aku lebih kecil dari keluargaku
Tanpa keluarga aku bukan apa apa.


Aku dengar dengarkan teman temanku yang baik dengan aku dahulu, sekarang berada dimana. Hubunganku dengan para Hua Chiao sekolahan Belanda di Hongkong seberapa bisa kukembangkan terus. Dan juga aku menulis saudara saudarku di Indonesia  untuk tanya siapa diantara teman-temanku yang sudah keluar negeri dan kalau tahu berikan adresnya kapadaku.


Dr Han Hwie-Song
Breda, 31 maret 2004

***
Dari hubungan-hubungan ini aku mengetahui beberapa alamat temanku. Ternyata ada satu yang aku kenal baik dan aku tahu sifatnya yang jujur yaitu dr. Ny. The Lan Hing. Dahulu sewaktu mahasiswa aku pernah membantu Beliau dalam menghadapi ujian Candidat II, yang terkenal berat dan bisa dikeluarkan kalau tidak lulus 3 kali. Dr. Ny The Lan Hing, adalah turunan keluarga Peranakan Tionghoa ternama di Surabaya, ialah keluarga Tjoa. Rumahnya besar sekali di jalan Kembang Jepun, Surabaya. Seawaktu aku menjadi pandu, kita berkumpul dikebunnya. Aku lalu menulis surat pada Beliau, apakah dia dapat membantu aku untuk mencarikan pekerjaan di Holland. Disamping itu aku menulis pada kementerian kesehatan Belanda untuk mencari pekerjaan. Aku mendapatkan balasan dari keduanya.

Ibu The menulis padaku bahwa dia bekerja di rumah sakit Maria ziekenhuis di Tilburg, sebagai asisten, untuk mendapatkan pendidikan sebagai internis (ahli penyakit dalam). Ibu The mendengar bahwa di Radiotherapeutisch Instituut Tilburg (RTIT), sedang mencari seorang dokter asisten untuk dididik menjadi ahli kedokteran nuklir. Beliau memberikan alamat dan nama direktur RRTI dan menganjurkan agar aku melamarnya.

Dari Pemerintah Belanda aku diberi formulir untuk diisi, dan biasanya diterima sebagai dokter sekolahan, yang terakhir ini banyak sekali para dokter dari Indonesia bekerja sebagai dokter sekolahan dan banyak dokter gigi dari Indonesia bekerja sebagai dokter gigi sekolahan.. Sementara aku melamar pada RTIT dan tidak lama aku menerima balasannya bahwa mereka mau menerima aku. Aku diminta untuk mengirim data-data lengkap dan copy dari ijasah kedokteranku. Dengan demikian mereka dapat mengajukan ke inspeksi kesehatan agar aku diijinkan bekerja sebagai dokter di Holland dibawah pimpinan dan tanggung jawab Dr. H.P. Hamers direktur RTIT, sampai diplomaku diakui sepenuhnya di Belanda.

Selain itu, kami juga menulis surat pada temanku dr. Bhe Kian Ho di USA agar aku dicarikan pekerjaan disana. Beliau juga mengatakan kesediaannya untuk membantu dan mengirimkan buku Texbook of Internal medicine untuk dibaca. Demikian pula aku masih mendapatkan undangan dari negeri Belanda dimana aku bisa bekerja sebagai asisten chirurg di Limburg. Namun karena aku pandang pekerjaan di RTIT yang paling menarik dan dalam surat menyurat dengan Dr. Hamers menunjukkan keseriusannya dan memberitahukan bahwa gaji yang akan aku terima sebagai asisten yaitu F 24000 setahunnya dan  bahwa segalanya sedang diurus.

Aku secara iseng bertanya pada istriku: ”aku mempunyai praktek akupuntur yang sudah berjalan dengan baik disini, ijin untuk praktek juga sudah ada, anak-anak kita sudah sekolah dengan baik di Hongkong, toh kita mau pergi ke Holland, negara yang belum kita kenal. Apakah ini tidak suatu avontur (adventure), suatu kedaan yang tidak menentu? Bagaimana pikiranmu?” Istriku menjawab: “keadaan yang asing dan tidak menentu memang betul, kalau kita di Holland tidak bisa terus bekerja di RTIT, karena suatu atau hal lainnya, kau bisa mencari pekerjaan di rumah sakit lain. Aku rasa penghidupan lebih sulit lagi dari di RRT dan Hongkong tidaklah mungkin.” Lalu aku menjawab: ”Nah, kalau memang sudah tetap hatimu untuk bekerja di Holland, kita coba bekerja disana, sambil melihat bagaimana perkembangannya. Kalau teman-temanku di Belanda bisa bekerja dengan baik di Holland, pasti bagiku juga tidak akan menjadi persoalan.

Sebetulnya aku hanya ingin mengetahui apakah kau sudah mantap.” Kita berdua tertawa terbahak-bahak dan aku memegang tangannya dan berkata: ”asalkan kita bekerja sama dengan baik, bersatu hati dalam menghadapi segala kesulitan, semuanya akan dapat kita atasi untuk hari depan anak-anak kita. Aku rasa tidak perlu terlalu banyak dipikirkan” Dengan terharu aku mencium istriku dan memegang erat-erat tangannya. Kita kemudian berbicara dengan anak-anak kami bahwa kemungkinan besar kita semua pindah lagi ke Holland dan kita hanya menunggu visa masuk. Aku ceritakan pada mereka bahwa aku dahulu sekolah Belanda di Surabaya, maka lebih baik kami bekerja di Holland daripada USA berhubung aku lebih bisa bicara bahasa Belanda daripada bahasa Inggris. Kami berdua membesarkan hati mereka agar mereka dengan senang hati dan tanpa takut-takut menghadapi situasi baru yang tidak jauh lagi didepan kita. Kami berdua sering mengatakan pada mereka dengan bersendau gurau bahwa di Holland kemungkinan mereka untuk masuk sekolah ke universitas lebih besar dari Hongkong, karena gajiku di Holland lebih besar dari di Hongkong. Di Tiongkok untuk masuk sekolah ke universitas lebih sulit lagi bagi Hua Chiau (orang Tionghoa Perantauan) sesudah RBKP, kalau bukan berasal  dari kelas buruh, tani dan militer.

Kami menelpon orangtuaku bahwa kemungkinan besar kita bisa bekerja di Holland, karena RTIT sudah bersedia menerima aku bekerja sebagai dokter disana. Dan kita hanya menunggu visa masuk disana. Mereka gembira dengan berita ini dan ibu mertuaku berkata bahwa Beliau akan datang ke Hongkong sebelum kita berangkat ke Holland. Beliau berpesan agar jangan berangkat terlebih dahulu. Beliau berkata: ”kalau visa kalian sudah dapat, beritahukan padaku secepatnya.”

Suasana ini memmbuat kami sekeluarga gembira dan aku melihat hari depan keluargaku cerah, meskipun entry visa belum kami terima. Pekerjaan tetap aku kerjakan seperti biasa, ini penting karena untuk berangkat ke Holland memerlukan uang yang tidak sedikit.

Dr Han Hwie-Song
Breda, 2 april 2004

Budaya-Tionghoa.Net |

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/755-kehidupan-kami-di-hongkong-1972-1973-3-kalau-merencanakan-ratusan-tahun--didiklah-manusia

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto