A+ A A-

Kehidupan Kami Di Hongkong (1972-1973) [6] - Kebijaksanaan Sebagai Dasar dan Keluarga Sebagai Sandaran

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Kalau tujuan sudah diputuskan, gunakan kebijaksanaan sebagai dasar dan keluarga sebagai sandaran untuk mensukseskan tujuanmu.[ Dr. Han Hwie-Song]

Budaya-Tionghoa.Net |Penghidupan kami sehari-hari dipengaruhi pertanyaan kapan kami bisa berangkat ke Holland. Kami menunggu dua kabar yang sangat penting ialah telepon dari kantor advokat Inggris di Hongkong dan surat dari Konsolat Jendral Belanda untuk visa masuk ke Holland. Pada akhir bulan Agustus, kami mendapat telepon dari advokat Inggris bahwa permohonan kami diluluskan dengan travel documents buat kami sekeluarga.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Travel documents tersebut berlaku untuk satu setengah tahun sesudah dikeluarkan. Beliau minta agar kami datang kekantornya untuk mengurusnya. Aku menjawab: “terima kasih atas bantuan anda dan kami akan datang ke kantor anda menurut data yang anda berikan padaku.” Advokat itu berkata: ” harap diperhatikan bahwa permohonan anda berlaku tiga bulan lamanya.” Kami dengan sangat gembira mengetahui bahwa satu urusan sudah beres, tinggal visanya. Esoknya aku mendapatkan nota dari kantor tersebut dimana tertulis bahwa aku harus membayar sekian Hongkong dollar, ongkos mengurus dua Travel documents dengan tiga anak. Bagi kami yang bekerja sebagai akupuntur yang tidak menetap, biaya tsb. sangat tinggi preminya. Tetapi apa boleh buat, tanpa bantuan ahli hukum, kami tidak ada jalan lain untuk berangkat ke tujuan kami. Inilah yang dikatakan sistim kapitalis, sistim ekonomi bebas dan birokratisnya. Mengurus sendiri tidak mungkin, tetapi harus keluar uang untuk diurus oleh seorang ahli hukum baru bisa beres. Bagamana kalau kami tidak ada uang untuk minta bantuan pertolongan ahli hukum? Jelas kami tidak bisa berangkat. Istriku berkata padaku, mungkin untuk menghibur aku: ”di daratan Tiongkok kita minta keluar negeri susah sekali, harus setiap dua minggu datang ke kantor polisi untuk menanyakan permohonan kita keluar negeri, mereka bertanya padamu pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab dan kalau jawabnya salah, atau tidak cocok dengan politik yang berlaku, bisa dimarahi, dibentak bentak mengapa mau keluar negeri. Permohonan kita dahulu toh mau memakan lebih dari satu tahun baru ijin keluar kami dapat diberikan. Tiada yang bisa dipilih, yang satu memerlukan uang untuk mengurus, yang lain susah bahkan dengan tekanan dan ketegangan jiwa?” Untuk menghibur aku katakan pada istriku: “Anggaplah ini sebagai investasi kita untuk mendapatkan hari depan yang lebih bagus, orang dagang juga harus investasi, tanpa investasi tidak ada kemajuan didunia kapitalis.”


Aku pergi ke kantor advokat, bertemu dengan seorang advokat yang dahulu mengurus aku, berjabatan tangan, beliau menyilahkan aku duduk dan beliau berkata: “permintaan anda disetujui oleh pihak imigrasi Hongkong, mereka bersedia memberi Travel document buat anda dan keluarga anda.”  “Mengapa tidak diberi paspor?" tanyaku pada ahli hukum itu. Beliau menjawab: ”Anda belum menjadi penduduk tetap Hongkong dan juga belum setahun datang di Hongkong. Menurutku, travel documents yang berlaku satu setengah tahun dapat dipakai untuk anda berangkat ke Holland dengan keluarga.” Aku diberi surat untuk kantor imigrasi dan beliau berkata: ”dengan surat ini anda boleh pergi ke kantor imigrasi, mereka pasti memberi travel documents untuk anda dan keluarga.”Beliau juga memberi tahukan apa yang harus aku bawa, pasfoto, identitas kami berdua dan ongkos tiap travel documents. Aku membayar preminya dan berjabatan tangan untuk berterima kasih dan berpamitan pulang.

Memang benar, dengan surat keterangan dari kantor ahli hukum ini, aku tanpa kesulitan mendapatkan travel documents, dan dengan agak menegakkan diri, aku masih menyempatkan melihat orang yang dahulu menerima aku dengan kakunya. Dia tahu bahwa aku telah mendapatkan travel document yang aku perlukan. Istriku mengandeng aku dan berkata dengan tenang: “biarlah itupun bukan salahnya, kan dia hanya mengerjakan hukum Hongkong. Besarkanlah hati dan jiwamu, ayoh ini sudah beres, kita pulang, sebelum anak-anakmu pulang” Satu halangan yang besar telah kami bereskan, hatiku tenang.

Permulaan bulan September 1973, saya mendapatkan telepon dari konsulat Belanda bahwa visa untuk Anda dapat diambil. Aku bertanya untuk jelasnya : “apakah visa itu hanya berlaku bagi saya sendiri ?”   Beliau menjawab : “Betul, untuk anda sendiri”. Lalu aku bertanya : “Bagaimana dengan keluargaku?"  Beliau berhenti sebentar lalu menjawab: ”ini adalah perintah dari kantor imigrasi Belanda, saya tidak bisa apa-apa.” Aku mengatakan terima kasih dan aku berkata pada Beliau: ”aku mencoba dahulu minta pada direktur Dr. Hamers agar untuk keluargaku diurus juga, sehingga kami sekeluarga dapat berangkat bersama.”  Lalu saya berkata pada istriku mengenai pembicaraanku dengan pegawai konsolat jendral Belanda dan  aku akan ke kantor pos untuk mengirim telegram kepada Dr. Hamers,. Isi dari telegram itu ialah: “visum hanya untuk aku sendiri, tolong diuruskan agar aku bisa berangkat bersama keluargaku. Karena di Hongkong aku tidak ada keluarga lainnya.” Beliau menjawab dengan cepat: ”baik saya urus, tetapi ingat anda harus secepatnya berangkat.” Dalam tiga hari kami mendapatkan telepon dari konsulat Belanda bahwa visa untuk semua keluarga bisa diambil di konsulat Belanda. Tunggulah surat kami dan bawalah surat tersebut kalau anda datang.” Aku berkata keras-keras: ”hura, kami achirnya toh dapat berangkat bersama-sama ke Holland.” Spontan saking gembiranya aku peluk istriku, dia ketawa senyum sambil mengeluarkan air matanya. Sekarang semua sudah beres dan kami mempersiapkan keberangkatan kami ke Nederland.

Waktu anak-anak kami pulang sekolah, kami katakan pada mereka bahwa surat kami semua sudah beres dan harus bersiap-siap berangkat ke Holland. Anak-anakku semua gembira, mereka masih kurang mengerti kesulitan penghidupan yang sebenarnya, yang mereka takutkan hanya bahasanya harus belajar lagi dan meninggalkan teman-temannya. Ibunya mengatakan pada mereka: ”jangan takut, teman bisa dicari asalkan kau baik baik dengan mereka. Bahasa Belanda nanti sampai disana ambil les, lihat, kau disini belum satu tahun, tetapi sudah pandai bicara bahasa Kantonese. Mama juga tidak dapat bicara bahasa Belanda. Janganlah terlalu dipikir.” Ia lalu mencium anak-anaknya satu per satu.

Dr Han Hwie Song
Breda, 12 april 2004

Budaya-Tionghoa.Net |

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/757-kehidupan-kami-di-hongkong-1972-1973-6-kebijaksanaan-sebagai-dasar-dan-keluarga-sebagai-sandaran

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto