A+ A A-

Surat Dari Jakarta [9] - Makanan Perut dan Selera

  • Written by  Sobron Aidit
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pabila sudah jam 17.00 di banyak jalan - tempat - terminal dan bagian-bagian yang diperkenankan orang berjualan - berjaja - makanan yang lezat-lezat, Jakarta sudah mulai sibuk dengan menggelar dan siap menyajikan makanan. Di Jakarta mau makan apa saja, selalu ada dan tersedia. Asal tahu dan pandai mencari tempatnya di mana - maka makanan apa saja akan dapat ditemui. Sekarang lebih gampang kalau mau tahu, makanan sejenis ini itu, pabila kita tidak tahu, tanyakan saja kepada milis "jalan-sutra",- maka kita akan mendapatkan jawaban yang lebih dari sekedarnya. Tapi jangan tanya kepada saya, sebab saya anggota baru dan lagi tidak berdiam dan berdomisili di Jakarta dan Indonesia. Kalau makana yang di Paris, mungkin saya akan lebih tahu daripada di Jakarta. Dan oleh sebab itulah, saya dengan sangat senang bergabung dengan teman-teman di "jalan-sutra".

Artikel Terkait:

{module [201]}

Dulu tidak ada yang namanya "bakmi - atau mi-bangka". Kini di mana-mana ada mi bangka - sayang saya belum berkesempatan mencicipinya. Sewaktu saya dijamu makan-bersama dengan teman-teman se "jalan-sutra"ada nama makanan yang saya samasekali baru tahu - yang tertulis "tahu nenek-mpyang",- dan sangat enak. Ada di restoran BNI 46 di lantai 46! Kami serombongan sesama jalan-sutra makan bersama di sana. Dan anehnya - semua teman-teman ini kok badannya pada agak kurus! Bayangan saya tadinya, karena pada suka makan enak, pastilah orangnya akan gemuk-gemuk seperti saya. Eh - eh, malah sayalah yang paling gemuk di antara mereka itu. Ternyata orang yang suka makan - pandai makan - belum tentu berbadan gemuk! Tetapi satu hal, mereka bukan hanya berselera tinggi dalam perkara makanan - tetapi juga pandai dan paham dalam soal rasa - taste,- Dan tidak hanya asal makan saja! Mereka tahu dan pandai merasai jenis makanan dan bumbu. Jadi arahan mereka dan kami adalah - gourmandic dan gastronomic dengan titikberat gastronomic seperti pimpinan kami mas Bondan Winarno itu.

Dulu ketika zaman saya - tahun 1950-an dan sampai awal 1960-an, pemusatan makanan akan banyak terdapat di sepanjang jalan Pecenongan - Sawah Besar - Pintu Besi - kota Glodok - dan Jatinegara. Tetapi sekarang lebih banyak lagi. Dan kalau kita sore-sore melewati Depok, sepanjang jalan Margonda itu, penuh makanan - restoran sedang - restoran kecil dan warung setengah darurat dan kakilima - gerobak-dorong yang isinya penuh makanan enak. Kedua sisi jalan, penuh warung makanan.

Tidak heran, karena Depok adalah kota universitas - kota hidup selama 24 jam! Termasuk kendaraan umum selalu ada selama 24 jam itu! Saya ingat akan kota Hongkong. Di Hongkong ada jalanan yang namanya saja jalan-makanan. Sepanjang jalan itu penuh warung makanan dan berjenis masakan dan makanan. Ada lagi yang punya akuarium besar yang penuh ikan hidup dan kita boleh pilih ikan atau udang ataukepiting yang sedang berenang itu. Begitu kita setuju, lalu ditimbang dan sekira setengah sampai satu jam, makanan sudah terhidang dengan lengkap di atas meja-makan di hadapan kita.

Saya sangat suka akan makanan roti-cane - katanya asal mulanya sari Aceh. Rotinya berbentuk ada jaringan - jala, karena itu ada juga yang menamakannya roti-jala. Makannya pakai kuah - saos gulai kambing - acar segar dan sambal khusus. Sangat enak. Tapi jangan sampai kekenyangan kalau mau merasakan enak dan nikmatnya. Dan kalau kekenyangan, lalu tak terasa nikmat sedapnya. Di sepanjang jalan Margonda di kedua sisinya itu, begitu banyak warung dan resto makanan - serta gerobak dorong makanan - tak terasa persaingan secara ketatnya. Sebab pembelinya memang banyak dan sudah tahu masing-masing pilihannya. Perkara sate-kambing misalnya, banyak jenisnya - ada sate-kambing Pak Kumis ada sate kambing Mak Jalal, ada sate kambing Mpok Jarot dan banyak lagi. Masing-masing bumbunya tidak sama dan selalu ada rahasia menunya - hak patennya.

Dan sebagai pembeli - kita masing-masing sudah tahu perencanaan mau beli sate kambing yang mana. Perkara makanan di Jakarta adalah tempatnya! Banyak - enak - sedap dan nikmat. Dan ketika makan kalau benar-benar mau sedap dan menikmatinya, sekali-kali janganlah ingat dieet - ingat kolesterol tinggi dan takut ini takut itu! Berkonsentrasilah pada makanan yang kita hadapi dan nikmati itu! Dan harus banyak gerak = banyak aktivitas badan - olahraga yang tekun dan cukup. Yang paling bahaya yalah, banyak makan tetapi tidak seimbang dengan gerak dan olahraga. Apalagi sehabis makan banyak dan sedap, berjam-jam duduk nonton televisi! Sangat bahaya - menimbun gemuk - mengakumulasi fat di badan.

Makan yang baik - sehat dan sopan - adalah makanlah ketika benar-benar lapar, tetapi berhentilah sebelum merasa kenyang! Saya selalu banyak gagalnya menghadapi bagian keduanya ini, tetapi bisa dengan mudah menjalaini bagian pertamanya - bayangin sedang sedap-sedapnya makan lalu berhenti! Tahan tidak menjalani peribahasa kearifan-lama ini?


Holland,- 26 juni 04,-

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/769-surat-dari-jakarta-9-makanan-perut-dan-selera

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto