A+ A A-

Perkembangan Buddhisme di Jepang

  • Written by  Golden Horde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Kedatangan agama Buddha dari Tiongkok ke Jepang telah membawa pengaruh yang luas dan mendalam terhadap sisi peradaban lainnya di Jepang, tidak saja sisi agama Buddha sebagai sistim kepercayaan , tetapi juga sisi lembaga politik, bahasa, tulisan, perencanaan kota serta serta gaya hidup sehingga membawa Jepang naik ke tingkat perkembangan kebudayaan yang lebih tinggi. Agama Buddha disini berfungsi sebagai katalisator dan jembatan peradaban yang menghubungi antara Tiongkok dan Jepang yang mengtransformasi nilai- nilai budaya, kepercayaan, teknologi, gaya hidup (way of life) dan produk peradaban lainnya dari Tang ke Jepang, hampir sama dengan peranan agama Kristen yang mengtransformasi peradaban Mediterania (Lautan Tengah) ke Eropah Utara.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Pengalaman dan proses Sinifikasi ini telah meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapus. Dinasti Tang (618-907) yang merupakan salah satu dinasti yang terkenal dan termashur di Tiongkok telah menjadi model negara bagi Jepang, produk-produk peradaban Tang telah diadopsi oleh Jepang selama periode Nara dan Heian. Dinasti Tang diketahui sebagai salah satu negara yang termaju dan terluas wilayahnya didunia pada jaman itu, negara-negara tetangga Asia lainnya (Korea) selain Jepang juga banyak mengambil ide-ide dari Tang.

Walaupun demikian tidak pernah timbul ide atau ambisi dari pemerintahan Tang untuk menguasai Jepang, kecuali kaisar Kublai Khan dari dinasti Yuan (Mongol) pada abad ke-13. Negarawan terkenal yang berperan dalam proses Sinifikasi dan penyebaran agama Buddha di Jepang adalah Pangeran Shotoku Taishi (574-622), anak dari kaisar Yomei. Dibawah Pangeran Shotoku ini agama Buddha (selain Shinto) menjadi agama resmi negara, peranannya dapat disejajarkan dengan Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawi pada abad ke-4 yang meresmikan agama Kristen di kekaisarannya, Shotoku juga mengadopsi sistim penanggalan Tiongkok pada tahun 604 dan mengirim siswa-siswa Jepang ke Tiongkok, mulai sejak dari dinasti Sui hingga Tang. Dokumen penting yang dikeluarkan oleh Shotoku adalah Undang- Undang Dasar Tujuh Belas pada tahun 604 –"Seventeen Article Constitution" (Jushichijo no Kempo). Dokumen ini membawa pembaharuan kedalam sistim tata-negara dan birokrasi Jepang dengan mengambil model dari Tang serta memasukkan nilai-nilai Buddhisme dan Konfusius kedalamnya.

Awalnya agama Buddha menurut versi resmi, diperkenalkan dari Tiongkok ke Jepang pada abad ke-6 melalui Korea dan aliran Buddha yang berkembang di Jepang umumnya seperti di Tiongkok adalah aliran Mahayana. Perkembangan dan penyebaran agama Buddha selanjutnya di Jepang secara garis besar dibagi dalam tiga periodesasi yaitu periode Nara (710-794), Heian (794-1185) dan periode Kamakura (1185- 1333) serta sesudahnya. Setiap periode diperkenalkan atau melahirkan sebuah doktrin baru yang membawa pembaharuan, dan tidak jarang menggantian doktrin-doktrin lama yang sudah tidak praktis atau populer lagi.

[Foto Ilustrasi : User:PHG , "Tile with seated Buddha, Nara Prefecture, Asuka period, 7th century",  Tokyo National Museum. Japan , 2004 , Public Domain ]

 


PERIODE NARA

Sekte Hosso (Yogacara) atau disebut sebagai sekte Faxiang dikembangkan oleh murid Xuanzang (Hsuan-tsang) yang paling berbakat yaitu Kuei-chi merupakan salah satu dari enam sekte agama Buddha di Jepang pada periode Nara. Sekte Hosso dibawa ke Jepang oleh biksu Dosho dan memiliki dua biara yang terkenal di nara yaitu Kofukuji dan Horyuji yang didirikan oleh Pangeran Shotoku pada abad ke-7. Enam sekte agama Buddha tersebut adalah sbb: Kegon (Hua-yen), Ritsu (Vinaya), Jojitsu (Satyasiddhi), Kusha (Abhidharma), Sanron (Madhyamika) dan Hosso (Yogacara / Faxiang). Kesemua sekte ini berasal dari Tiongkok.

Sekte Ritsu adalah sekte yang diperkenalkan oleh biksu Chien-chen / Jianzhen (Ganjin) dari Jiangsu, Tiongkok yang buta, ia diundang datang ke Jepang untuk mengajar Buddhisme dan tiba pada tahun 754 setelah gagal lima kali usahanya untuk datang mencapai ke Jepang. Chien-chen mendirikan biara Toshodaiji, murid Chien-chen yang dibawa dari Tiongkok membuat patung dari lacquer untuk mengabadikan beliau pada abad ke-8, sampai kini orang dapat melihat patung ini di biara tersebut. Sekte Ritsu dalam sejarah Buddha Jepang adalah sekte yang terakhir dari enam sekte tersebut yang dibawa ke Jepang.

Selam periode Nara banyak biara yang dibangun, bangunan-bangunan sakral tersebut mengikuti Arsitektur Tang seperti biara terkenal Todaiji (terkenal dengan patung besar Buddha -Nara Daibutsu) dan biara Horyuji yang dibangun dengan bahan dari kayu dan berdiri sampai kini, biara Horyuji adalah bangunan yang dianggap tertua didunia yang dibuat dari kayu. Bangunan-bangunan yang bergaya arsitektur Tang lebih banyak dijumpai di Jepang daripada di Tiongkok sendiri, hal ini disebabkan oleh peperangan-peperangan atau bencana alam yang sering melanda Tiongkok dan bangunan-bangunan dari kayu lebih mudah terbakar.

Pada periode Nara, pengikut sekte-sekte ini masih dikalangan golongan elit penguasa dan bangsawan dan belum merakyat, karena ritualnya masih rumit, perlu pengetahuan yang mendalam untuk mempelajarinya dan teks-teks ajaran Buddhanya masih menggunakan bahasa Mandarin klasik serta tidak praktis.

File:Yakushiji Toto.jpg

[Foto Ilustrasi (by Admin) : KENPEI , " 日本語: 薬師寺 東塔" , 13 September 2008 , Creative Commons ]

 


PERIODE HEIAN

Pada periode ini diperkenalkan dari Tiongkok dua sekte yang paling berpengaruh pada jaman itu yaitu sekte Tendai (Tian-tai) dan Shingon (Zhenyan).Sekte Tendai (Tientai) didirikan di Tiongkok oleh biksu Zhiji pada tahun 550 M. Pada tahun 804 seorang biksu Jepang bernama Saicho atau Dengyo Daishi (767-822) datang ke Tiongkok dan belajar di gunung Tiantai, propinsi Jejiang dan kembali pada tahun 805 lalu mendirikan biara Enryakuji di gunung Hiei. Doktrin Tendai didasarkan pada Lotus Sutra dan populer di kalangan atas termasuk Kaisar Kammu. Sekte Tendai ini berpengaruh terhadap perkembangan sekte-sekte lainnya.

Sekte Shingon (Zhenyan) atau "Kata Kebenaran" didirikan oleh biksu Kukai atau Kobo Daishi (774-835). Dia juga pergi ke Tiongkok dan belajar Buddhisme di Changan selama dua tahun dan kembali pada tahun 806, ia adalah seorang biksu yang berasal dari kelas bangsawan serta populer dan terkenal di Jepang. Kukai mendirikan biara di gunung Koya dekat Osaka. Sekte Shingon ini berfokus pada Buddha universal (Mahavairocana) atau Dainichi.

[Foto Ilustrasi : PHGCOM ,"Fugen_the_life_preserver : Musee Guimet , Samantabhadra is one of the Thirteen Buddhas of Shingon Buddhism. " , 2007 ,  Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported ]


PERIODE KAMAKURA DAN SESUDAHNYA

Pada periode ini ada dua aliran yang diperkenalkan di Jepang dari Tiongkok yaitu sekte Tanah Murni (Jodo Shu ) atau Jingtu dan Zen (Chan), kedua sekte ini berfokus pada ajaran Amida (Amithaba atau O- mi-to-Fo) sebagai jalan menuju keselamatan manusia dan yang terakhir adalah sekte Nichiren. Ritual dan ajaran sekte-sekte ini lebih praktis, mudah diikuti dan tidak terlalu rumit serta popular dikalangan rakyat kebanyakan.

Sekte Jodo Shu (Tanah Murni - Jingtu) didatangkan dari Tiongkok oleh biksu Honen (1133-1212), ia mendirikan sekte ini pada tahun 1175. Honen mengecam formalisme dan kecendrungan biara Buddha yang menyendiri pada masa hidupnya. Mantan pengikut Honen yang bernama Shinran (1173-1262) mendirikan sekte Tanah Murni Sejati (Jodo Shinsu), Shinran membawa pandangan selangkah lebih jauh. Nama atau mantera Amida (Amithaba) cukup diucapkan sekali saja untuk mendapatkan keselamatan asal dilakukan dengan penuh keyakinan. Shinran bahkan mengambil seorang istri dan mendapatkan lima orang anak. Biara Honganji Barat dan Honganji Timur di Kyoto adalah pusat kedua sekte tersebut. Sekte Jodo Shinsu ini adalah sekte Buddha yang terbesar di Jepang diikuti oleh Jodo Shu.

Sekte Zen (Chan) juga berasal dari Tiongkok, sekte ini terbagi dalam dua cabang aliran yaitu aliran Rinzai (Linji) dan aliran Soto (Tsao- tung/Caodung). Sekte Zen ini dibawa ke Tiongkok dari India pada abad ke-6 oleh seorang biksu India Bodhidharma, berbeda dengan wajah Buddha yang dikenal oleh umum, Bodhidharma berwajah sangar dan seram, penuh berewok wajahnya, sorotan matanya tajam dan menakutkan. Ia bersemedi selama sembilan tahun disebuah biara sebelum mulai mengajar di biara Shao-lin, ia juga dikenal sebagai pelopor aliran Kung-fu Shao-lin. Sekte Zen asli di Tiongkok diteruskan sampai ke generasi kepemimpinan ke-6 Hui Neng. Setelah itu terpencar di Tiongkok dan ke Jepang. Sekte Zen memiliki keyakinan bahwa pencerahan yang sempurna dicapai dengan meditasi dibawah tuntunan seorang guru. Zen popular dikalangan Samurai yang menghargai disiplin diri dan tidak mementingkan pelajaran kitab suci.

[Foto Ilustrasi :Stephane D'Alu , " The Kinkaku-ji Temple (aka the Golden Temple) reflecting on the water. It is located in Kyoto, Japan" , 2004 , Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported ]

Sekte Zen aliran Rinzai (Linji/Lin-chi) dibawa oleh seorang biksu Tendai bernama Eisei (1141-1215) dari Tiongkok dan didirikan di Jepang pada tahun 1191. Eisei dikenal juga sebagai orang yang membawa dan memperkenalkan Teh di Jepang. Rinzai menekankan diri pada "Koan", mempelajari sebuah masalah yang tidak dapat dipecahkan menurut logika dan terkenal dengan retorikanya "apa suara yang timbul bila orang bertepuk sebelah tangan?" Eisei mendirikan biara Enkakuji sebagai pusatnya di Kamakura

Sekte Zen aliran Soto (Tsao-tung) dibawa dari Tiongkok oleh seorang biksu Rinzai bernama Dogen (1200-1253), ia belajar di Tiongkok dengan biksu Ju-ching pada tahun 1223-1227 dan pada yahun 1227 ia mendirikan sekte Zen aliran Soto di Jepang. Ia mendirikan biara Eiheiji.

Sekte Zen diperkenalkan ke Jepang ketika Tiongkok dibawah dinasti Sung, sekte Zen memperhatikan hubungan antara Jepang dan Tiongkok, dalam abad ke-13 banyak guru-guru Zen dari Tiongkok diundang ke Jepang atau datang sebagai pelarian dari serbuan Mongol. Pengaruh besar kebudayaan Tiongkok atas Jepang pada masa periode Ashikaga ini adalah berkat peranan dan jasa biksu Zen yang dominan dikehidupan budaya pada jaman Ashikaga, hingga orang menyebutnya sebagai "Zen Culture" (kebudayaan Zen), pengaruh seni, filsafat, arsitektur bangunan dan seni taman Sung atas Jepang pada waktu itu sangat besar. Seni Zen yang terkenal adalah lukisan gaya Sung, gaya seni Zen ini yang minimalis telah mempengaruhi juga seni bangunan arsitektur modern sekarang.

Sekte Nichiren didirikan pada tahun 1253 oleh seorang biksu Tendai berasal dari keluarga nelayan dari Kanto bernama Nichiren (1222- 1282), namanya menjadi nama sektenya sendiri dan dikenal juga dengan nama sekte Lotus (Hokke-shu). Ajaran Nichiren mengutamakan Sutra Lotus daripada Amithaba serta mantera "Nam-myoho-renge-kyo". Sekte Nichiren ini disebut juga sebagai Buddhisme Jepang dan sekte yang berasal dari Jepang sendiri dan pusatnya terletak di gunung Minobu sampai sekarang, pribadi Nichiren sering dianggap sebagai seorang yang berkarakter aggresif, dominan dan tidak toleran terhadap sekte-sekte Buddha lainnya di Jepang. Beberapa cabang sekte Nichiren tertentu dihubungkan dengan tendensi gerakan Nasionalis di Jepang. Salah satu cabang Nichiren membentuk sekte Soka Gakkai pada tahun 1930, Soka Gakkai ini membentuk sebuah partai politik yang bernama Komeito pada tahun 1964 dan pada tahun 1998 partai Komeito lama ini bergabung dengan partai lainnya menjadi partai Komeito Baru dibawah Daisaku Ikeda yang juga seorang pimpinan Soka Gakkai.

Perkembangan agama Buddha di Jepang telah mengalami pasang surutnya dalam sejarah, pada masa pemerintahan Oda Nobunaga (1534-1582) dan Toyotomi Hideyoshi (1536-1598) yang dikenal pernah mengaggresi Korea dua kali pada abad ke-16, agama Buddha mengalami penindasan terutama dengan sekte Jodo. Popularitas dan pengaruh agama Buddha di Jepang berkurang mulai pada pertengahan abad ke-19 atau awal dari restorasi Meiji, karena digantikan oleh pengkultuskan terhadap Kaisar Jepang dan promosi Shinto sebagai agama negara, situasi ini mulai berubah setelah perang dunia kedua dan Jepang memasuki era demokrasi dan negara modern.

GOLDEN HORDE , 19930

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

 

Last modified onThursday, 11 October 2012 06:55
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/772-perkembangan-buddhisme-di-jepang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto