A+ A A-

Fortifikasi Bangsa Tiongkok Kuno [2] : Parit dan Tembok Pertahanan Di Masa Neolitikum

  • Written by  Huang Dada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Saya sering terkagum-kagum dengan ukuran Great Wall yang serba raksasa. Tetapi bagaimana konsep tembok itu bermula lebih awal di Tiongkok dan bagaimana masyarakat kuno yang mulai berkembang membangun sistem pertahanan mereka pada konteks jaman itu menarik untuk ditelusuri.

 

Masyarakat Tiongkok kuno mulai hidup menetap dan berangsur-angsur meninggalkan kehidupan berburu untuk menuju masyarakat agraris. Muncul kantong-kantong kultur regional dengan populasi terbatas dengan cirinya sendiri. Kultur regional terus berkembang sampai saling bersinggungan satu sama lain yang memungkinkan interaksi kultural.Dengan sumber makanan dan kekayaan alam Tiongkok  yang melimpah populasi berkembang dengan pesat. Disisi lain bencana alam memaksa masyarakat yang sudah menetap ini untuk memacu kreativitas mereka. Mereka tidak bisa lagi seenaknya melarikan seribu kaki mereka dengan perahu kuno atau kuda sebagaimana kaum nomaden hidup berpindah-pindah mengejar matahari. Mereka harus mempertahankan lahan pertanian mereka dan juga hewan yang sudah terdomestikasi. [1]

Selain interaksi kultural [2] , perkembangan dan persinggungan antara kultur regional ini memungkinkan meletusnya konflik atau bahkan perang untuk memperebutkan klaim atas sumber daya alam. Kemungkinan konflik lain muncul  serangan dari bangsa nomaden yang datang untuk merampas apa saja. Pertumbuhan populasi secara fundamental mempengaruhi sejarah peperangan. Populasi meningkat dan muncul perbedaan kelas social serta kelas elite penguasa. Beberapa diantaranya mengembangkan kekuatan militer dan pusat administrasi wilayahnya. Konsumsi bukan lagi sebatas kebutuhan pangan , melainkan kebutuhan sekunder dan tersier .

Dalam kultur Longshan , Lungshan Wenhua 红山文化 [3000-2000 SM] , tembok sebagai sarana pertahanan sudah mencapai dimensi yang mengagumkan dimana lebarnya bisa melampaui 25 meter. Kendala muncul dari sumber daya manusia yang terbatas.  Soal alokasi yang bisa diturunkan sebagai pekerja konstruksi dan juga pasukan sejenis infantri. Kendala lainnya adalah dukungan teknologi dalam bentuk alat pertahanan masih dalam bentuk yang sederhana.[3]

Selain tembok bertahanan, parit memiliki fungsi sebagai pengaliran air dan juga pertahanan.  Parit pertahanan dapat ditelusuri di masa pertengahan Neolitikum [7000-5000 SM] , ditemukan dikawasan selatan Inner Mongolia, barat Liaoning , dan timur-laut Hebei. Dalam perkembangan berikutnya , parit pertahanan menjadi ukuran pertahanan utama di masyarakat kultur regional Xilongwa [c 6200 – c 5500 SM]  , Hongshan [3500-3000 SM] . Walau sudah mengarah ke masyarakat agraris , tapi belum sepenuhnya meninggalkan kegiatan berburu , sehingga parit belum menjadi sarana pertahanan efektif.

Kultur Yangshao

Kultur Yangshao [Yangshao Wenhua 仰韶文化 , 5000-3000BC] merupakan kultur neolitik  pertama yang ditemukan di Tiongkok (1920). Lebih dari ribuan situs arkeologi di temukan dan tersebar di sepanjang sungai Kuning dari Zhengzhou di Timur sampai Gansu dan Qinghai. Pertanian yang berkembang adalah millet. Sudah menganut kepercayaan shamanism. Figur naga juga banyak di temukan dalam situs tersebut dan kultur Daxi.dan kultur Xinglongwa[4]

Salah satu parit terkuno berasal dari kultur Yangshao , yang terletak di modern Hunan . Parit ini melindungi kawasan yang sudah dihuni selama ribuan tahun yang kemudian ditinggalkan.  Pemukiman ini terlindungi oleh parit pertahanan yang mengelilingi mereka dan juga menandakan awal kombinasi parit dan tembok. Situs ini memiliki panjang 200 meter [utara-selatan] dan 170 meter [barat-timur]. Tembok pertahanan masih dalam tahap yang sederhana berupa tembok yang dibangun dari tanah . Tembok itu memiliki dimensi tinggi 0.5-1 meter , lebar 6 meter dengan puncak kemiringan 20-30 derajat. Paritnya sedalam 1-2 meter . Perkembangan selanjutnya tembok melebar sekitar 7.5 meter dengan tinggi tetap.

Disitus Yangshao yang lain , ditemukan bekas pemukiman Neolitik di Gansu timur dan dihuni secara tetap selama 3000 tahun mulai dari tahun 5800 SM. Pemukiman di Gansu ini sangat terlindungi dengan parit sirkular selebar 5-8 meter dam sedalam 3.5-3.8 meter .

Disitus Banpo , ditemukan  struktur yang masih tersisa dan sejumlah artefak termasuk anak panah . Terletak di 800 meter dari sungai Chan dan dekat dengan lokasi Xian. Parit pertahanan disitus ini selebar 6-8 meter di bagian atas dan 1-3 meter dibagian bawah dengan kedalaman 5-6 meter yang mengelilingi pemukiman dengan panjang keliling 600 meter yang membatasi area seluas 50ribu meter persegi. Parit pertahanan dibangun kokoh dengan kontur defensive.

Di waktu yang bersamaan , parit interior semi-sirkular dibangun untuk melindungi sekitar sepertiga dari hunian dengan skala yang lebih kecil dengan lebar 1.4-2.9 meter di bagian atas dan 0.45-0.84 meter di bagian bawah sedalam 1.5 meter atau setinggi bahu manusia. Pagar kayu yang ditemukan juga diparit interior menunjukkan perhatian yang besar masyarakat pada masa itu tentang masalah keamanan. Situs Banpo menandai masa transisi konsep pertahanan dari mengandalkan parit , pagar dan tembok yang hanya terbuat dari tanah ke konsep fortifikasi kota.

Kultur Xinglongwa

Dalam kultur  Xinglongwa [6200-5400 SM]  , parit memiliki radius 20 sampai 100 meter, dua meter dalam lebar, dan kedalaman satu meter. Dibelah oleh satu akses entrance menuju barat laut. Disatu salah satu situs ditemukan parit yang dibatasi oleh sebuah sungai di sisi barat. Unit yang lebih kecil dalam situs sirkular dalam bentuk susunan pemukiman  ditemukan di Inner Mongolia dan bagian barat semenanjung Liaodong. Pemukiman tersebut terkonsentrasi kedalam delapan baris dari sepuluh, masing-masing terdiri dari area seluas 50-80 meter persegi , dan dua baris tersisa mencapai area seluas 140 meter persegi.

Parit menjadi ukuran pertahanan utama dalam banyak situs bahkan setelah tembok pertahanan dibangun. Misalnya , sebuah parit besar berkisar antara 15 -20 meter dalam lebar dan kedalaman 2.5-3.8 meter ditemukan di Hubei , didekat Suichou. Beberapa diantaranya berbentuk oval dengan panjang 316 meter dari utara ke selatan dan lebar 235 meter dari timur ke barat untuk menutupi satu situs seluas 57 ribu meter persegi.

***

Jalannya peperangan dalam masa Neolitikum masih belum diketahui . Pada masa Dinasti Shang praktek taktis dan berbagai bukti dari situs arkeologi dapat disimpulkan bahwa fortifikasi yang masif dinilai efektif untuk menghalau serangan. Pihak yang agresif akan lebih memilih opsi menyerang kota yang tanpa perlindungan daripada memaksakan menyerang dan menganeksasi kota dengan tembok dan parit pertahanan yang kokoh.

Penyimpanan padi yang ditemukan di Wuan yangdiperkirakan dari 6 milenium SM , ekuivalen dengan 50 metrik ton milet , menunjukkan bahwa dimasa itu terjadi surplus pertanian. Hal tersebut adalah salah satu ukuran dari kekuasaan dan vitalitas di masa Tiongkok kuno.Cadangan serupa didapat dari situs Hemudu , bukan sekedar surplus , tetapi juga bisa buat memenuhi kebutuhan untuk tahun berikutnya.

Periode dari tahun 5000-3000 SM dianggap sebagai masa neolitikum akhir [5]. Fitur parit masih menjadi fitur dari regional kultur dimasa ini. Beberapa situs seperti Banpo 半坡, Lintong [6], memiliki ciri pemukiman yang sudah didiami selama beberapa abad di periode Hongshan .

 

Catatan Kaki :

  1. Budaya Tionghoa , " Asal Mula Tiongkok " , 2010 , http://web.budaya-tionghoa.net/the-history-of-china/san-huang-wu-di-/36-asal-mula-tiongkok-
  2. ibid
  3. Pada masa itu juga belum ada menara pengawas[watch tower]  dan senjata statis untuk meluncurkan panah [seperti meriam di masa modern]  sehingga konstruksi “tembok raksasa” yang menakjubkan itu tidak begitu efektif . Kegunaan “tembok raksasa kuno” dalam konteks perang ,  baru akan dibutuhkan kelak  di masa negara berperang atau warring states [zhanguo]. Pada masa negara berperang , perkembangan senjata memiliki kekuatan destruktif yang lebih besar. Sedangkan untuk masa pra-dinasti , lebih penting dimensi tinggi daripada dimensi tebal.    Kegunaan tembok pertahanan lainnya adalah sebagai “sanctuary” ,  melindungi masyarakat kuno dari bencana alam dan juga kontrol sosial.
  4. ibid
  5. Sawyer , Lintong masih terus di huni sampai masa Zhanguo yang terlindungi oleh parit sirkular melingkupi kawasan seluas 55 ribu meter persegi . (lihat Honan Sheng Kung-yi-shih Wen-wu Pao-hu Kuan-li-suo, KK 1995:4, 297-304)
  6. Sawyer , periode neolitikum secara umum dianggap berlangsung dari tahun 10000-3500 SM . Beberapa pihak meneruskannya sampai ke masa pendirian Dinasti Xia.

Referensi :

  1. Cambridge , "The History Of Ancient China" ,
  2. Sawyer , Ralph , " Ancient Chinese Warfare " , 2011

Budaya-Tionghoa.Net |


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/779-fortifikasi-bangsa-tiongkok-kuno-2--parit-dan-tembok-pertahanan-di-masa-neolitikum

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto