A+ A A-

Sejarah Perkembangan dan Seluk Beluk Agama Tao

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email
Budaya-Tionghoa.Net | Confusianisme juga membahas mengenai Tao ini. Hanya saja masing-masing ahli filsafat memiliki pengertian yang berlainan. Di Tiongkok, Taoisme merupakan salah dari apa yang dinamakan "Tiga Ajaran" (bersama-sama dengan Buddhisme dan Konfusianisme). Taoisme mengalami perubahan secara bertahap secara perlahan dan merupakan penyatuan yang terus menerus antara berbagai macam aliran pemikiran kuno.

Artikel Terkait:

{module [201]}

PERIODE AWAL - ASAL USUL TRADISI SHAMANISTIK  (3000-800 SM)


Kita tidak mengetahui tanggal yang pasti mengenai kelahiran Taoisme, dan tanda-tanda keberadaan unsur-unsur luar yang diserap tidak pernah lenyap darinya. Apabila kita memandang unsur-unsur luar yang memperkaya Taoisme (yang diperoleh melalui inspirasi-inspirasi baru), maka kita akan melihat betapa terbukanya agama ini.


Taoisme adalah agama yang selalu mengalami perkembangan dan evolusi, sehingga selain sulit untuk menentukan waktu kelahirannya, juga sulit untuk menentukan batas-batasnya. Sehingga Livia Kohn mengatakan: "Taoisme tidak pernah merupakan suatu agama yang terpadu, dan terbentuk dari kombinasi [berbagai] ajaran yang didasarkan atas beraneka macam sumber asli" (lihat buku karyanya yang berjudul "Taoist Mystical Philosophy: The Scripture of Western Ascension," Albany: State University of New York Press, 1991)

Meskipun tidak dapat menentukan tanggal yang pasti dari kelahiran Taoisme, namun untuk mengetahui asal muasalnya kita dapat kembali pada 5000 tahun yang lalu, tatkala sekelompok suku berdiam di tepi Sungai Kuning (Huang He) di Tiongkok Utara. Suku bangsa ini masih belum memiliki identitas kebangsaan. Mata pencaharian sehari- hari mereka adalah berburu, memancing, memelihara ternak, serta bercocok tanam gandum dan padi-padian. Pada masa itu mereka masih harus menaklukkan kekuatan-kekuatan alam, seperti amukan Sungai Kuning atau hewan-hewan buas yang memangsa ternak mereka. Legenda menyebutkan mengenai pemimpin-pemimpin mereka (kepala suku) yang memiliki kekuatan gaib luar biasa, di mana pemimpin- pemimpin tersebut mampu menaklukkan kekuatan gaib serta banjir Sungai Kuning.


Salah satu pemimpin tersebut adalah Yu. Legenda mengatakan bahwa Yu tidak memiliki ibu dan ia muncul secara langsung dari tubuh ayahnya yang bernama Kun. Saat itu Kun ditugaskan oleh pemimpin suku bernama Shun, untuk menanggulangi banjir Sungai Kuning. Ketika gagal Kun dihukum mati dan mayatnya dibiarkan tergeletak pada sisi gunung. Sementara itu selama tiga tahun, Yu berada dalam tubuh ayahnya yang sudah meninggal. Ajaibnya, ternyata Kun dapat hidup kembali dan menjelma menjadi seekor beruang coklat, ia membelah perutnya sendiri dan mengelurkan putranya, Yu.


Dengan segera, Yu berubah menjadi beruang pula dan legenda mengatakan bahwa selama hidupnya Yu berubah-ubah wujudnya antara manusia dan beruang. Pada masa Dinasti Zhou, kira-kira seribu tahun setelah masa Yu yang legendaris, para pendeta masih berpakaian kulit beruang dan menari-nari seperti beruang untuk menghormati Yu yang Agung. Kalau bicara beruang ,masih ada hubungan dengan marga Huang Di yaitu Xiong dan kerajaannya disebut Xiong juga alias beruang.Kisah selanjutnya menyebutkan keberhasilan Yu di dalam menyelesaikan tugas yang gagal diselesaikan oleh ayahnya, yakni menanggulangi banjir. Keberhasilan ini dikarenakan ia diberi sebuah buku berjudul Shuijing (Kitab Kekuatan atas Air) oleh para makhluk-makhluk suci. Dikisahkan pula bahwa Yu mengadakan perjalanan secara teratur ke langit untuk mempelajari sesuatu dari para makhluk-makhluk kedewaan yang berdiam di angkasa (celestial spirit). Yu tidak hanya dapat berubah menjadi binatang, namun ia mengerti pula bahasa mereka. Shun, sebagai pemimpin pada masa itu pada akhirnya menyerahkan kekuasaannya pada Yu.


Ketika banjir telah berhasil ditanggulangi, Yu melihat seekor kura-kura merangkak keluar dari sungai. Pada punggungnya terdapat gambar yang disebut dengan Loshu Bagua, yang menggambarkan perubahan serta transformasi yang terjadi di alam semesta ini. Pola ini menjadi dasar bagi teknik peramalan di Tiongkok pada masa-masa selanjutnya hingga kini.

Legenda-legenda yang dihubungkan dengan Yu memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang shaman. Mircea Eliade dalam studinya mengenai shamanisme menyebutkan hal-hal berikut, yang merupakan pengalaman spiritual umum seorang shaman: terbang ke langit, melakukan tarian untuk mendatangkan kekuatan (seperti yang dilakukan dukun Indian Amerika serta suku-suku di Afrika), penerimaan pesan- pesan dari para makhluk suci, kemampuan untuk berbicara dengan hewan, kekuatan atas unsur-unsur alam, penyembuhan, serta pengetahuan mengenai tanaman obat-obatan.

Pada kenyataannya, masyarakat Tiongkok kuno pada jaman ini memiliki sekelompok orang yang disebut "wu." Tugas mereka menyerupai tugas-tugas seorang shaman. Dari fakta-fakta di atas, yakni legenda tentang Yu serta keberadaan para "wu", kita dapat menyimpulkan bahwa agama asli Bangsa Tionghoa adalah sejenis shamanisme. Ajaran yang tergolong shamanisme ini merupakan akar bagi perkembangan pemikiran- pemikiran berikutnya. Hal lain yang bisa kita gali adalah para pemimpin suku (yang berikutnya menjadi para kaisar ?lihat bab 1 mengenai sejarah Tiongkok) juga merupakan seorang shaman. Tugas seorang shaman ini kemudian makin berkembang, pada masa Dinasti Zhou tugas mereka adalah: memanggil roh-roh halus, menafsirkan mimpi, membaca tanda-tanda untuk peramalan, memanggil hujan, menyembukan, serta menafsirkan makna peristiwa-peristiwa yang terjadi di angkasa (misalnya nampaknya komet atau bintang jatuh).




MASA KLASIK  (700 - 220 SM)


(i) Latar belakang awal, Lao Zi dan Tao Te Cing


Kini kita meninggalkan jaman legenda dan memasuki masa sejarah. Kita tiba pada masa seribu tahun setelah Yu, di mana pada masa itu Tiongkok dikuasai oleh Dinasti Zhou. Saat itu, kaisar tidak lagi merangkap sebagai seorang shaman, melainkan ia mendelegasikan tugasnya pada sekelompok orang yang digaji oleh kerajaan. Kaisar hanya hadir pada dua upacara keagamaan terpenting saja, yakni Upacara Mulai Bercocok Tanam Musim Semi dan Upacara Berterima kasih MusimGugur.


Dinasti Zhou menganut sistim feodal, yakni orang-orang yang pernah berjasa pada raja diberi gelar kebangsawanan secara turun temurun serta tanah-tanah kekuasaan. Jadi timbullah para bangsawan yang memerintah wilayah-wilayan mereka sendiri, namun tetap bertanggung jawab pada kaisar. Para bangsawan tersebut bertugas sebagai kepanjangan tangan kaisar di wilayah mereka dan bertugas untuk menahan serangan suku barbar di perbatasan. Selama kaisar merupakan pemimpin yang cakap dan

kuat, sistim feodal ini dapat berjalan lancar. Pada tahun 770 SM, Dinasti Zhou terpecah menjadi banyak negara-negara feodal yang saling berperang, di mana masing-masing negeri feodal tersebut sebelumnya telah dikuasai para bangsawan secara turun temurun.

Periode Peperangan ini disebut Periode Musim Semi dan Rontok (770 - 476 SM) dan selanjutnya disebut dengan Masa Perang Antar Negeri (475-221 SM), tatkala negara-negara terkuat tinggal tersisa tujuh negara. Para Periode Musim Semi dan Rontok ini lahirlah para filosof besar, seperti Lao Zi yang terlah disinggung pada bab 1. Lao Zi secara umum diakui sebagai pendiri dari Taoisme. Riwayat singkat Beliau telah dibahas pada bab 1, sehingga pada kesempatan kali ini tidak akan dibahas kembali. Sebagaimana yang kita ketahui, Beliau mewariskan sebuah kitab yang disebut dengan Tao Te Cing. Kini kita akan membahas secara garis besar isi Tao Te Cing tersebut.


GARIS BESAR ISI TAO TE CHING


MENGENAI TAO


a.Pengertian Tao


Tao adalah sumber segala sesuatu. Ia tak bernama, tak dapat dilihat, dan tidak dapat dipahami. Ia tak terbatas dan tidak dapat habis atau musnah. Apa yang disebut dengan Tao ini, telah mengatasi segenap perubahan dan permanen. Pengertian mengenai Tao tersebut terdapat pada kutipan berikut ini: "Tao yang dapat dibicarakan, bukanlah Tao yang sebenarnya atau yang abadi; dan nama yang dapat diberikan, bukanlah nama yang sejati." (Tao Te Cing 1:1)


Lao Zi mengakui bahwa nama "Tao" merupakan sesuatu yang terpaksa Beliau berikan. Kata-kata dan bahasa memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan suatu Kebenaran sedangkan, sehingga Kebenaran Sejati atau Terunggul tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata ataupun bahasa. Mencoba memahami Kebenaran Terunggul dengan menggunakan kata- kata yang terbatas tersebut hanya akan menimbulkan penyalah-tafsiran. Dengan kebijaksanaan yang tinggi Beliau mengetahui, bahwa Tao sebagaimana nama yang diberikan tersebut, adalah sumber dari segala benda dan makhluk, sebagaimana dinyatakan berikut : " Tiada nama, itulah kondisi permulaan terjadinya Langit dan Bumi. Setelah ada nama itulah sumber dari segala benda." (Tao Tee Cing I,2).


Meskipun Tao adalah sumber dari segala sesuatu yang hidup, ia bukanlah suatu dewa atau roh. Pandangan ini cukup berbeda dengan pandangan shamanistik mengenai alam semesta. Menurut Tao Te Cing, langit, bumi, sungai, dan gunung- gunung merupakan bagian dari suatu kekuatan yang lebih besar dan mencakup semuanya. Kekuatan ini yang dikenal dengan istilah Tao, dimana ia merupakan sesuatu kekuatan tak bernama serta berada di
balik bekerjanya alam semesta. Meskipun demikian Tao Te Cing mencatat bahwa Tao ini tidak sepenuhnya netral, pada bab 25 dan 81 disebutkan bahwa Tao ini bertujuan untuk memberikan kebaikan pada yang lainnya dan tidak menimbulkan bahaya. "Jalan Langit adalah bertujuan memberikan keuntungan pada yang lainnya dan tidak menyebabkan bahaya." (Tao Te Cing bab 81) "Jalan Langit mengikuti Jalan Tao." (Tao Te Cing bab 25)

Dari hal tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Tao merupakan sesuatu
kekuatan yang bajik.


b.Perbandingan paham mengenai Tao dengan Ajaran Buddhisme Ajaran Buddha juga menyebutkan bahwa ada suatu tingkatan kebenaran yang melampaui segenap kata-kata atau bahasa. SAMDHINIRMOCANA SUTRA bab 2 mengatakan: "Lebih jauh [lagi], Dharmodgata, Aku membabarkan bahwa Makna Terunggul tidak dapat diucapkan/ tak terkatakan, tetapi berfungsinya pikiran [hanya] bergerak di dalam [ruang lingkup] duniawi dari bahasa/ kata-kata (language)."

Analogi untuk Kebenaran Terunggul adalah misalnya rasa mangga. Kita tidak dapat menggambarkan rasa mangga dengan kata-kata. Untuk mengetahui rasa mangga kita harus mencicipinya sendiri, dan tidak dapat diketahui dari penuturan orang lain. Kebenaran Terunggul tersebut adalah juga kedemikianan dari segala sesuatu. Sesungguhnya segala sesuatu di alam semesta ini tidak memiliki nama dan tidak dapat digambarkan dengan cara apapun, namun agar jelas kitalah yang "terpaksa" memberinya nama. Sesuatu benda dinamakan "gelas" adalah karena memang kita ingin menamakannya demikian. Kata "gelas" tersebut sesungguhnya tidaklah mewakili hakekat dari sesuatu yang disebut gelas, inilah yang di dalam Samdhinirmocana Sutra disebut sebagai kata sementara (provisional word). Ada pendapat yang menghubungkan Tao dengan Sabda Sang Buddha yang terdapat pada Kitab UDANA: "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan
Yang Mutlak." (Udana VIII)

Apa yang dimaksud dalam kitab Udana tersebut adalah Nibanna (Nirvana), yang merupakan tujuan akhir Umat Buddha. Namun karena disebutkan bahwa Tao adalah suatu kekuatan yang menjadi sumber dan pengatur segala sesuatu di alam semesta ini, maka tentu saja Tao tidak sama dengan Nibanna. Nibanna bukanlah suatu kekuatan ataupun sumber pengatur segala sesuatu di alam semesta ini, melainkan ia adalah suatu kondisi padamnya segenap hawa nafsu keinginan. Agama Buddha mengenal apa yang dinamakan "niyama" atau hukum alam. Ada beberapa jenis niyama atau hukum alam. Hukum alam inilah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada ataupun tidak ada. Terjadi dan musnahnya alam semesta adalah selaras dengan hukum tersebut. Sehingga Tao tersebut lebih mirip dengan gagasan mengenai niyama. Salah satu jenis niyama tersebut adalah kamma niyama, atau yang lebih kita kenal dengan hukum karma. Hukum karma ini akan memberikan akibat baik bagi orang yang melaksanakan kebajikan dan memberikan hasil yang tidak baik bagi mereka yang melakukan kejahatan. Sedikit perbedaan dengan pengertian Tao yang terdapat dalam Tao Te Cing, adalah sifat netral dari niyama ini, tidak dapat
dikatakan baik atau buruk (contoh lain niyama adalah hukum gravitasi, segala benda pasti jatuh ke bawah apabila dilemparkan). Tetapi tentu saja apa yang dinamakan niyama ini juga tidak menimbulkan bahaya bagi segala sesuatu di alam semesta ini. Persamaan lainnya adalah niyama juga bukan merupakan dewa atau roh dan bukan pula ciptaan suatu makhluk adikodrati. Niyama inijuga meliputi segala sesuatu di alam semesta.



MENGENAI PEMBINAAN DIRI

Tao Te Cing membahas mengenai pembinaan diri bagi mereka yang bersedia mempraktekkannya. Ada dua metode pembinaan diri, yakni teknik-teknik latihan jasmaniah serta melalui tingkah laku sehari- hari. Teknik-teknik pelatihan jasmaniah meliputi pengaturan nafas, melakukan sikap-sikap tubuh tertentu, serta melatih energi seksual sehingga dapat mengembalikan kebugaran dan kemudaan. Sehubungan dengan perilaku sehari-hari, Tao Te Cing mengajarkan bahwa segenap hawa nafsu keinginan, kemelekatan pada hal- hal duniawi, serta kegiatan-kegiatan yang menimbulkan rasa ketertarikan, membangkitkan emosi, melelahkan tubuh, adalah merugikan kesehatan. Pesan yang terdapat dalam Tao Te Cing adalah: Kembangkan kualitas-kualitas fisik dan mental seorang suciwan; terlibatlah dan tolonglah yang lainnya dengan cara yang tidak merugikan siapapun;
beristirahatlah setelah pekerjaan terselesaikan. Seseorang masih dapat terlibat di dalam urusan-urusan duniawi (seperti politik), asalkan jangan tergiur oleh kekayaan dan kemashyuran.


(ii) Perkembangan berikutnya di bawah Zhuangzi dan Liezi


Ahli filsafat terkenal lainnya yang berkontribusi terhadapperkembangan Taoisme adalah Zhuangzi (369 SM ?286 SM) serta Liezi
(abad 4 SM). Dengan adanya kedua ahli filsafat tersebut, Taoisme memasuki tahapan baru. Ada perbedaan ajaran-ajaran mereka dengan Taoisme yang lebih awal ataupun filsafat yang terdapat dalam Tao Te Cing.

Sebelumnya keterlibatan seseorang di dalam politik masih dimungkinkan, namun Zhuangzi dan Liezi mengajarkan bahwa seorang suciwan mustahil untuk terlibat dalam politik. Pengertian wuwei (secara harafiah berarti "tidak berbuat") berubah menjadi "tidak terlibat" ataupun "membiarkan sesuatu sebagaimana adanya." Para suciwan tidak lagi memperdulikan hal-hal duniawi. Apabila orang awam terperangkap dalam kemashyuran serta kemewahan, sebaliknya para suciwan menghindarinya, sehingga mereka benar-benar bebas. Perbedaan berikutnya, sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, Tao menurut Tao Te Cing adalah kekuatan yang baik. Namun Zhuangzi dan Liezi, memandang Tao sebagai kekuatan yang bersifat netral. Ia masih merupakan dasar bagi keberadaan segala sesuatu, tetapi tidak lagi merupakan suatu kekuatan yang bajik. Lebih jauh lagi menurut keduanya, Tao tidak lagi memegang kendali atas segala sesuatu di muka bumi ini, apa yang akan terjadi, pasti terjadi; dan tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Terlepas dari semua perbedaan tersebut, Ajaran Zhuangzi dan Liezi, masih memiliki banyak kesamaan dengan Ajaran Taoisme dari periode sebelum mereka. Tao masih dipandang sebagai sesuatu yang tak bernama, tanpa bentuk, serta tak dapat dipahami dengan rasio manusia biasa. Mereka yang dapat memahami hakekat Tao beserta cara bekerjanya, adalah orang yang tercerahi.

Di dalam Tao Te Cing, Tao dipandang sebagai asal muasal segala sesuatu. Pandangan ini lebih dikembangkan lagi pada masa ini, dimana dikembangkan pemikiran bahwa segala sesuatu memiliki asal muasal yang sama. Tidak ada sesuatupun yang lebih berharga dibandingkan yang lainnya. Begitu pula manusia tidak lebih berharga dibandingkan hewan. Prinsip "kesetaraan status segala sesuatu" diperkenalkan oleh Zhuangzi. Zhuangzi juga mengajarkan bahwa hidup ini mengalami transformasi yang terus menerus dari Tao. Zhuangzi meninggalkan sebuah kitab yang juga berjudul Zhuangzi, judul lain dari kitab tersebut adalah Nanhua zhenjing (Kitab Klasik Kemurnian dari Nanhua). Di dalamnya juga terdapat pandangan shamanistik mengenai para suciwan, misalnya dikatakan bahwa mereka dapat terbang ke langit, berbicara dengan hewan, serta memiliki kekuatan-kekuatan atas unsur-unsur alam. Sedangkan Liezi meninggalkan sebuah kitab yang juga diberi judul sesuai dengan namanya. Sebagai tambahan, kitab yang ditulis Zhuangzi tersebut terdiri dari 33 bagian, yang masih dibagi lagi menjadi bagian "luar" dan "dalam." Bagian "dalam" meliputi tujuh bagian pertama. Sebagian besar dari tujuh bagian pertama ini menurut para ahli dikatakan sebagai asli, sedangkan bagian selanjutnya diduga sebagian besar palsu. Relativitas dari segala sesuatu juga merupakan ajaran dari Zhuangzi, berikut ini akan dikutipkan salah satu ujaran paling menariknya yang dikutip dari Kitab Zhuangzi (lihat Merriam Webster's, Encyclopedia of World Religions hal 238): "Suatu kali, aku, Zhuang Zhou (nama pribadi Zhuangzi ?penulis),bermimpi bahwa aku menjadi kupu-kupu dan merasa bahagia sebagai kupu- kupu. Saya merasa sadar bahwa saya merasa cukup puas dengan diri saya sendiri, namun saya tidak mengetahui bahwa saya adalah Zhou. Tiba- tiba aku terjaga, dan jelas sekali aku adalah Zhou. Saya tidak tahu apakah apakah Zhou yang bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah sang kupu- kupu yang bermimpi menjadi Zhou. Antara Zhou dan kupu-kupu pastilah terdapat perbedaan. Inilah yang disebut transformasi segala sesuatu."




Proses perubahan Taoisme filsafat menuju pada suatu agama yang terorganisasi (20 SM-600 M)


Taoisme baru menjelma menjadi suatu agama yang terorganisasi pada masa Zhang Daoling yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Meskipun demikian proses transformasi ini tidak akan terjadi apabila tidak ada faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini kita akan mempelajari hal-hal apa saja yang menjadi pendorong bagi proses tersebut.

Pada masa akhir Dinasti Zhou yang terpecah menjadi beberapa negara, banyak orang yang terpelajar yang berkeliling untuk menjajakan kemampuan mereka sebagai ahli ketata-negaraan maupun penasehat politik. Mereka berkeliling untuk mencari raja atau penguasa yang bersedia memanfaatkan jasa mereka. Profesi mereka pada masa sekarang dapat disamakan dengan para konsultan dari berbagai bidang. Dengan penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin, maka praktis jasa mereka tidak diperlukan lagi. Dinasti Han yang merupakan kelanjutan dari Dinasti Qin juga memerintah seluruh Tiongkok. Sama dengan Dinasti Qin, mereka menerapkan sistim pemerintahan yang terpusat serta membatasi kekuasaan para bangsawan. Dengan demikian persatuan negara menjadi kuat. Sistim pemerintahan terpusat tersebut tetap menjadikan kaum terpelajar yang sebelumnya berkeliling menjajakan jasa tidak diperlukan lagi keberadaannya.

Sebelumnya banyak dari mereka yang juga menguasai kemampuan mistis, seperti misalnya meramal, penyembuhan, dan menambah umur panjang. Karena jasa mereka dalam bidang ketata-negaraan serta politik tidak diperlukan lagi, maka dilakukanlah alih profesi dengan memanfaatkan kemampuan lain mereka tersebut. Pada masa Dinasti Qin dan Han awal, mereka membentuk suatu kelompok masyarakat tersendiri yang disebut dengan "fangshi." Kata "fangshi" berarti "ahli ilmu gaib" (masters of formulae). Secara umum mereka terbagi menjadi dua, yakni yang mengkhususkan diri pada ilmu gaib, peramalan serta penyembuhan dan mereka yang mengkhususkan diri pada ilmu pemanjang umur serta hidup abadi. Adanya dua golongan ini untuk memenuhi keinginan dua kelompok masyarakat yang berbeda. Kaum kaya lebih menginginkan umur panjang serta hidup abadi, sedangkan kaum miskin tidak memerlukannya. Hidup bagi mereka adalah penderitaan, sehingga memperpanjang hidup bagi mereka sama saja dengan memperpanjang penderitaan. Sebaliknya kaum miskin yang antara lain terdiri dari petani, lebih menghendaki jaminan panen yang baik, serta kesehatan diri dan anggota keluarganya, sehingga mereka dapat bekerja di ladang dengan lancar. Para fangshi yang menjawab keinginan mereka menggunakan jimat yang ditulisi simbol-simbol tertentu serta kata- kata yang dipercaya mengandung kekuatan gaib. Tujuannya adalah untuk mengundang roh-roh agar menyembuhkan serta memberikan perlindungan. Jadi kaum fangshi ini kemudian menjadi semacam kelas pendeta di tengah-tengah masyarakat pada masa itu, dimana sebelumnya kelas kependetaan semacam ini sebelumnya belum dikenal dalam Taoisme.


Sebagai tambahan :

jimat atau fu itu berasal dari kebiasaan jaman purba , dimana setiap menjelang pergantian musim semi itu selalu dibuat ujar2 yang bersifat baik dan mengundang hal2 yang baik ke dalam rumah. Dalam perkembangannya , fu itu menjadi semacam jimat yg memiliki kekuatan2 tertentu , misalnya dengan menaruh gambar2 rasi2 bintang. Atau juga gambar2 dari elemen kekuatan alam.

Faktor pendorong lain, adalah ajaran seorang ahli filsafat bernama Mozi (lahir sekitar tahun 470 SM dan wafat sekitar tahun 391
SM). Beliaulah yang mengawali tradisi suatu agama terorganisasidengan mendirikan altar-altar guna memuja roh-roh setempat. Para pengikut Mozi yang disebut kaum Mohis, mengajak rakyat untuk memuja altar-altar tersebut. Meskipun Ajaran Mozi (Mohisme) kehilanganpengaruhnya pada masa Dinasti Han, tetapi tetap saja rakyat masih menyembah altar-altar tersebut. Taoisme kemudian meneruskan sistim pemujaan dengan menggunakan altar-altar tersebut. Faktor ketiga yang mendorong perubahan Taoisme menjadi suatu agama, adalah melemahnya upacara ritual kerajaan yang dilakukan oleh para shaman. Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, para raja

Dinasti Zhou memanfaatkan jasa para shaman untuk melakukan upacara keagamaan bagi mereka. Lambat laun makna dari upacara keagamaan tersebut menjadi tidak dikenal lagi, sehingga upacara tersebut merosot menjadi semacam rutinitas belaka, sehingga akhirnya upacara- upacara semacam itu tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyakarakat pada jaman itu. Akhir dari upacara-upacara yang diorganisasi perusahaan, terjadi pada masa Dinasti Han, di mana kaisar memutuskan untuk menganut Taoisme, dengan mendirikan altar pada tahun 150 M guna menghormati Laozi. Posisi para shaman penyelenggaran upacara ritual kerajaan digantikan oleh para fangshi. Demikianlah tiga prasyarat untuk menjadikan Tao suatu agama tersedia sudah: kelas kaum pendeta, sistim pemujaan, dan dukungan kerajaan.

Pada masa inilah Zhang Daoling tampil ke panggung sejarah. Pada mulanya Zhang Daoling mempelajari kitab-kitab klasik Konfusius, namun kemudian ia beralih pada Ajaran-ajaran Laozi serta ilmu memperpanjang umur. Zhang Daoling kemudian berpindah ke Propinsi Shu (Yunnan sekarang), yang pada masa itu merupakan daerah terpencil serta bergunung-gunung. Daerah tersebut didiami oleh suku- suku yang mempraktekkan kepercayaan shamanistik kuno. Bagi orang yang tinggal di desa-desa terpencil, roh-roh adalah merupakan sesuatu yang nyata dan ilmu gaib adalah pusat dari kehidupan mereka. Zhang Daoling menyatakan bahwa ia menerima ajaran dari Laozi sendiri, yang juga memberikannya kekuatan untuk menyembuhkan penyakit serta menaklukkan roh-roh jahat. Dengan menggunakan air yang telah dibubuhi abu hasil pembakaran jimat, Zhang berhasil mendapatkan banyak pengikut. Jimat tersebut adalah sehelai kertas kuning yang ditulisi simbol-simbol tertentu dengan warna merah. Kebanyakan simbol- simbol tersebut merupakan sarana untuk memanggil roh-roh atau makhluk suci. Zhang Daoling menciptakan suatu agama yang berpusat di sekeliling dirinya sendiri, ia memberikan gelar Laozi sebagai Taishang Laojun (Penguasa Agung nan Tinggi).



Tambahan:

Zhang DaoLing juga memasukkan HuangDi sebagai pendiri Taoism. Dan konon TaiShang LaoJun menjelma menjadi Guang ChengZi dan mengajarkan Taoism kepada HuangDi. Yang mana ketika konsep San Qing lahir , maka YuanSe TianZun itu menjelma menjadi Pan Gu.

Zhang Daoling dan keturunannya kemudian menjadi pemimpin gerakan keagamaan tersebut.
Gerakan keagamaan ini disebut dengan "Jalan Lima Gantang Beras," karena orang yang ingin bergabung diharuskan membayar sumbangan sejumlah lima gantang beras. Oleh karena Zhang Daolinglah Taoisme menjadi suatu agama. Pujaan utamanya adalah Laozi yang dipandang sebagai pendiri Taoisme dan disebut TaiShang LaoJun. Zhang Daoling dan keturunannya menyebut diri mereka sebagai "Guru- guru kedewaan" (dianshi) dan menjadi perantara antara para dewa dan umat awam. Namun, hal terpenting di atas semua itu adalah agama baru ini dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat. Zhang Daoling dan pengikutnya menciptakan suatu sistim keagamaan lengkap dengan kaum pendeta, kitab suci, upacara ritual, dan ilmu gaibnya. Mereka memerintah bagaikan paus atas sistim keagamaan baru tersebut. Kitab yang muncul pada masa itu adalah Taipingjing (Kitab Perdamaian dan Keseimbangan), yang membahas berbagai hal, seperti penciptaan dunia, pentingnya upacara ritual, aturan moralitas, pahala- pahala, hukuman, serta ilmu menambah kesehatan dan umur panjang. Dinasti Han runtuh pada tahun 220 dan terpecah menjadi tiga negara, yakni Wei, Wu, dan Shu. Organisasi keagamaan yang kini dipimpin Zhang Lu, cucu dari Zhang Daoling menerima pengakuan dari Kerajaan Wei sebagai Zhengyi Mengwei (Aliran Ortodoks Utama) dari Taoisme. Pada masa selanjutnya aliran tersebut juga disebut dengan Tianshi Dao (Aliran Para Guru Kedewaan).


Pada masa Kerajaan Wei inilah timbul kitab yang berjudul Taishanglingbaowufujing (Kitab Pewahyuan Tertinggi Lima Jimat dari Roh Suci). Ini merupakan kitab pertama dari kumpulan kitab- kitab "Lingbao" (Roh Suci). Di dalam kitab ini dapat dijumpai mengenai jimat untuk melindungi serta memanggil roh-roh suci, penggambaran kosmologi alam kedewaan, teknik meditasi, serta resep- resep untuk meramu obat menuju keabadian.

Berikut ini kita akan membahas tokoh-tokoh yang terkenal dari Aliran Dianshi Dao. Sima Yan mempersatukan Tiongkok kembali dan mendirikan Dinasti Jin. Namun pada tahun 317 M, mereka terpaksa melarikan diri ke selatan oleh karena serangan suku bangsa barbar dari utara. Dengan didukung oleh orang-orang yang masih setia pada Dinasti Jin, mereka mendirikan Dinasti Jin Timur. Di antara para pengikut setia Dinasti Jin, terdapatlah Sun Yin dan Lu Dun. Mereka berdua adalah pengikut Aliran Dianshi Dao yang didirikan oleh Zhang Daoling dan dipandang sangat berjasa di dalam menegakkan kembali Dinasti Jin. Kerajaan kemudian memberikan perlindungan bagi aliran tersebut, sehingga menjadikannya makin berkembang.


Tokoh lainnya adalah Kou Qianzhi, yang merupakan seorang sarjana serta pendeta Taois yang hidup pada masa Kerajaan Wei Utara. Ia merupakan penasehat spiritual bagi para raja Kerajaan Wei Utara. Kou Qianzhi lalu mendirikan cabang utara dari Aliran Tianshi Dao. Aliran yang didirikannya ini lebih mementingkan pada upacara dan liturgi keagamaan dan berbeda dengan Aliran Dianshi Dao asli yang mementingkan ilmu pembuatan jimat. Dengan diilhami oleh sila-sila dan vinaya Buddhisme, Kou Qianzhi menciptakan aturan mengenai apa yang dilarang dan harus dilakukan oleh seorang praktisi Tao. Para penguasa Kerajaan Wei Utara sangat terkesan dengan Kou Qianzhi dan menjadikan bentuk Aliran Dianshi Dao yang diperkenalkannya sebagai agama negara. Lu Xiujing, merupakan tokoh Aliran Tianshi Dao di Tiongkok Selatan. Jasa pentingnya adalah pengumpulan menjadi satu kitab-kitab Taois, yang menjadi inti bagi kanon kitab suci Taoisme pada masa sekarang. Pada masanya jumlah kitab suci Taois telah semakin banyak jumlahnya. Disamping Tao Te Cing, Zhuangzi, dan Liezi yang telah dibahas di atas, timbul pula kitab-kitab mengenai ramuan-ramuan serta teknik untuk mencapai keabadian yang diwariskan oleh para fangshi. Selain itu masih terdapat pula kitab-kitab Lingbao, yang pada jaman Lu telah berjumlah 50 jilid. Sebagai tambahan timbul pula jenis kitab-kitab baru yang disebut Kitab-kitab Shangqing. Kitab-kitab inimerupakan dasar bagi timbulnya Taoisme mistis.


Dengan diilhami oleh kanon Tripitaka Buddhis, maka Lu menyusun kanon Kitab Suci Taois (Daozang) yang dipublikasikan pada
tahun 471. Susunannya terbagi menjadi dua bagian besar, yakni "bagian besar" dan "bagian kecil." Bagian besar terbagi menjadi tiga bagianm yang disebut "Gua Realisasi" (Dongzhen), "Gua Rahasia-rahasia" (Dongxuan), dan "Gua Roh-roh suci" (Dongshen). Empat bagian kecil terbagi lagi menjadi empat, yakni "Misteri Agung" (Taixuan), "Keseimbangan Agung" (Taibing), "Kemurnian Agung" (Taiqing), dan "Kitab-kitab Klasik Ortodoks" (Zhengyi). Kanon ini telah mencakup semua naskah dari tiga bentuk utama Taoisme masa itu, yakni aliran yang mengembangkan ilmu memperpanjang usia, ilmu gaib dan upacara-upacara dari Aliran Dianshi Dao, dan Taoisme Mistik yang kemudian dikenal sebagai Aliran Shangqing. Pada saat kematian Lu Xiujing pada tahun 477, Taoisme telah memiliki pengaruh penting di Tiongkok Selatan, atas jasanya tersebut Taoisme menjadi agama yang dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat.




BERKEMBANGNYA TAOISME MISTIK  (Aliran Shangqing) (300-600M)


Mistisisme berupaya menciptakan suatu pengalaman religius yang lebih mendalam, dengan berusaha untuk mencapai pengalaman mistis. Ada banyak definisi mengenai pengalaman mistis tersebut, namun secara umum adalah dengan berusaha mencapai ekstase, atau pengalaman keagamaan yang melampaui segenap kesadaran indrawi dan logika. Perasaan bahagia luar biasa yang tidak dapat diterangkan dengan akal juga merupakan sesuatu yang sering menyertai pengalaman- pengalaman mistis. Ajaran penting lainnya adalah konsep mengenai apa yang disebut dengan "Yang Tunggal." Ia tidak dapat dipahami oleh

orang biasa dan merupakan dasar bagi segala sesuatu. Meskipun tidak dapat dipahami, namun ia hadir dalam diri kita, dan dengan menyadarinya secara internal kita dapat mencapai kemanunggalan dengan segala sesuatu di sekeliling kita. Tujuan tertinggi umat manusia adalah menyatu dengan "Yang Tunggal" tersebut.

Aliran Shangqing mengatakan bahwa tujuan tertinggi dalam hidup adalah menyatu dengan Tao dalam rasa bahagia yang luar biasa serta ekstase. Jadi Tao diidentikkan dengan "Yang Tunggal" tersebut. Mereka juga mengajarkan bahwa di dalam tubuh manusia (pada tiap-tiap organnya) terdapat roh-roh penjaga, menyerap energi bulan dan matahari untuk mencapai keabadian. Sebelum melanjutkan pembahasan kita, perlu diingat bahwa sesuatu yang disebut "Yang Tunggal" tersebut menurut Aliran Taoisme Shangqing sekalipun, juga merupakan kekuatan yang tidak berpribadi (impersonal), sehingga tidak dapat disamakan dengan Tuhan Personal. Ajaran Aliran Shangqing ini lebih mirip dengan Brahmanisme, dimana tujuan akhirnya adalah penyatuan dengan suatu esensi tertinggi impersonal bernama Brahman. Aliran Shangqing meyakini bahwa "Yang Tunggal" tersebut adalah Tao yang berada dalam diri setiap orang. Ini juga mirip dengan ajaran Brahmanisme yang mengatakan bahwa tiap makhluk merupakan pancaran dari Brahman, jadi dari dalam tiap makhluk terdapat Brahman. Aliran Shangqing ini didirikan oleh seorang wanita bernama Wei Huacun YuanJun pada masa Dinasti Jin. Nyonya Wei dikatakan telah menerima pewahyuan dari para dewa dan mencatat ajaran mereka pada sebuah kitab yang berjudul Shangqing Huangding Neiqing Yujing (Kitab Klasik Batu Giok Istana Kuning Mengenai Gambaran-gambaran Internal atas Alam Murni nan Tinggi) pada tahun 288 M. Meskipun demikian gagasan mengenai adanya roh-roh penjaga pada tiap-tiap organ tubuh manusia serta penyatuan dengan "Yang Tunggal" telah dikenal sebelumnya. Kitab Taipingjing yang telah ada sebelumnya menyebutkan: "Jika tubuh berada dalam ketenangan dan roh dijaga di dalamnya, maka penyakit tidak akan bertambah banyak. Anda akan berumur panjang, oleh karena roh-roh yang baik melindungi Anda."


Pada kitab komentar atas Tao Te Cing yang ditulis oleh He Shanggong, disebutkan apabila seseorang dapat membina roh-roh penjaga yang terdapat dalam tubuhnya, maka ia dapat mencapai keabadian. Kelima roh- roh penjaga yang berdiam dalam organ manusia itu adalah sebagai berikut:

  1. Hati tempat berdiam roh manusia
  2. Paru-paru tempat berdiam jiwa manusia
  3. Jantung tempat benih roh abadi
  4. Limpa tempat berdiam keinginan-keinginan manusia
  5. Empedu tempat berdiam energi pembangun


Tambahan:

dalam perkembangannya , sistem ini berubah menjadi pemikiran bhw ke 5 organ itu adalah 5 setan(wu gui) dimana melatih diri sehingga 5 setan itu berubah menjadi 5 dewa( wu shen).Apabila kelima organ tersebut mengalami gangguan, maka kelima roh
tersebut akan meninggalkannya. Orang yang berjasa menyebarkan Aliran Shangqing ini adalah Yang Xi. Dikatakan bahwa ia telah menerima penampakan dari Nyonya Wei yang saat itu telah menjadi dewi atau yang sering disebut Wei HuaCun Yuan Jun.
Ia kemudian mencatat ajaran-ajaran dari Nyonya Wei tersebut dan selanjutnya diwariskan kembali pada Xu Hui dan Xu Mi (ayah dan anak). Kitab-kitab Aliran Shangqing lainnya adalah Taishang Baowen (Tulisan Suci dari Yang Tertinggi), Dadong Zhenjing (Kitab Sejati dari Gua Agung), dan Basu Yinshu (Kitab Tersembunyi mengenai Delapan Kesederhanaan). Para penganut Aliran Shangqing ini berhubungan satu sama lain melalui ikatan keluarga atau perkawinan. Xu Hui dan Xu Mi ini berkerabat dengan Ge Hong, yang menulis kitab Baopuzi. Anggota lain keluarga Ge yang ikut berjasa dalam Aliran Shangqing adalah Ge Xuan. Ia mengumpulkan menjadi satu Kitab- Kitab Lingbao dari Taoisme. Bentuk awal dari Aliran Shangqing menggabungkan banyak aspek dari Aliran Tianshi Dao. Mereka menggunakan jimat-jimat dan menjadikan Yuanshi Tianzun ,sebagai dewa tertinggi mereka. Mereka juga memakai kitab-kitab Taipingjing,Zhengyi Fawen (Aturan-aturan dan Kitab-kitab dari aliran Dianshi Dao), Taishang Lingbao Wufujing, dan kitab-kitab Lingbao lainnya sebagai kitab utama mereka.

Hal-hal yang membedakan Aliran Shangqing dengan Tianshi Dao
adalah:

  1. Aliran Shangqing mengajarkan penyatuan dengan "Yang Tunggal" dan memelihara roh-roh penjaga dalam tubuh, demi tercapainya kesehatan tubuh umur panjang. Aliran Dianshi Dao tidak mengenal paham penyatuan dengan "Yang Tunggal," mereka berpendapat bahwa penggunaan jimat dan ramuanlah yang bertujuan menyembuhkan penyakit.
  2. Aliran Tianshi Dao menggunakan jimat untuk menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan melindungi diri terhadap roh jahat, sedangkan Aliran Shangqing menggunakan jimat untuk memanggil dan memvisualisasikan roh-roh penjaga di dalam tubuh serta mengadakan perjalanan menuju alam realita yang lainnya.


Meskipun terdapat perbedaan, hal ini tidaklah mengundang permusuhan dari Aliran Tianshi Dao yang lebih tua. Memang, toleransi beragama telah dijunjung tinggi di Tiongkok semenjak jaman dahulu. Tokoh selanjutnya yang ikut mengembangkan Aliran Shangqing adalah Tao Hungqing. Beliau dilahirkan pada tahun 456 dan wafat pada tahun 536 saat berkuasanya Dinasti Liang. Tatkala berdiam di Maoshan, sebuah gunung di Propinsi Jiangsu, ia menulis kembali silsilah Aliran Shangqing, mencatat otoritas pewariskan ajarannya, mencatat susunan penghuni alam kedewaan beserta jabatan-jabatan dan wewenang di dalamnya. Oleh karena itu Tao Hungqinglah yang berjasa menetapkan kosmologi kedewaan Taois. Tingkatan para dewa tersebut dibagi-bagi seturut tingkat pencapain kesucian mereka. Tao Hungqing juga tertarik dengan ilmu alkimia (nenek moyang ilmu kimia) dan ia mempunyai sebuah laboratorium di Maoshan yang dibiayai oleh kerajaan. Dengan laboratorium itu ia berusaha menciptakan pil panjang umur dan memperkenalkan penggunaan mineral serta rempah-rempah untuk menjaga kesehatan dan memperpanjang usia ke dalam Aliran Shangqing. Aliran Shangqing yang didirikan oleh Tao ini dikenal sebagai Cabang Maoshan atau lengkapnya Aliran Maoshan Shangqing (Aliran Maoshan Shangqing ini berbeda dengan Aliran Maoshan yang menekankan ilmu gaib pada masa Dinasti Ming).

Kini kita akan sedikit membahas ajaran Aliran Shangqing. Ajaran aliran ini dibagi menjadi tiga hal: "alam semesta bagian

dalam", "alam semesta bagian luar", dan perpaduan keduanya. Alam semesta bagian dalam meliputi tubuh manusia sendiri,

yang dipenuhi oleh makhluk suci, roh, dan monster. Sehingga dengan demikian Aliran Shangqing meyakini bahwa terdapat makhluk suci dan roh-roh yang menjaga tubuh dari penyakit. Hal ini menarik sekali, mengingat ilmu kedokteran modern, juga menemukan keberadaan darah putih, yang juga menjaga tubuh manusia dari penyakit (fungsi kekebalan tubuh). Apabila para roh-roh penjaga ini telah meninggalkan tubuh, maka hal tersebut dapat menyebabkan tubuh melemah dan mati. Oleh sebab itu, Aliran Shangqing sebagian besar menitik beratkan pada usaha untuk menjaga agar roh-roh penjaga tersebut tidak lemah atau pergi. Selain adanya makhluk-makhluk suci tersebut, mereka juga meyakini keberadaan tiga monster yang menjaga tiga titik pada tulang punggung. Monster-monster tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat jalan energi kita, namun mereka menjadi kuat dikarenakan oleh makanan yang kita makan. Oleh karena itu untuk menjaga agar monster tersebut tidak terlalu kuat, para praktisi melakukan puasa atau diet tertentu.

Tambahan:

Dalam perkembangannya , pemahaman ini masih ada tapi 3 iblis itu menjelma menjadi fenomena2 pengganggu para praktisi meditasi. Karena itu ada yang menggunakan sistem vegetarian agar po2 binatang tidak mempengaruhi tubuh.Alam semesta bagian luar meliputi segala sesuatu di luar kita yang juga dihuni banyak roh dan dewa. Yang terpenting dari mereka hidup di matahari, bulan, dan bintang-bintang.



BERKEMBANGNYA TAOISME ALKIMIA (200 ?200)


Alkimia merupakan nenek moyang dari ilmu kimia, dan telah diterapkan pada sebagian besar belahan dunia ini jauh sebelum ilmu kimia yang berdasarkan metode ilmiah berkembang. Aliran Taoisme yang menitik-beratkan pada alkimia ini juga disebut sebagai Taijing. Aliran Taijing membagi alkimia menjadi dua, yakni alkimia eksternal dan internal. Alkimia eksternal berarti penggunaan rempah- rempah dan mineral-mineral tertentu untuk menjaga kesehatan, memperpanjang usia, atau bahkan menjadikan orang yang meminumnya tidak dapat mati. Rempah-rempah dan mineral tersebut kemudian diolah
menjadi pil. Alkimia internal menunjukkan bahwa segala macam unsur untuk menjadikan seseorang sehat, panjang umur, atau bahkan hidup abadi telah terdapat dalam tubuh manusia itu sendiri. Sehingga alkimia internal lebih bertujuan untuk mengembangkan energi hidup di dalam tubuh tanpa bantuan obat-obatan dari luar. Sesungguhnya, perhatian Taoisme pada kesehatan dan umur panjang dapat ditelusuri pada karya-karya Laozi dan Zhuangzi. Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, terdapat dua golongan kaum fangshi. Yang pertama mengkhususkan diri pada penggunaan jimat- jimat untuk kesembuhan dan mereka merupakan pendahulu dari Aliran Dianshi Dao. Sementara kelompok lainnya menekankan pada teknik-teknik utuk memperpanjang usia, menjaga kesehatan, dan mencapai kehidupan abadi dengan bantuan ramuan-ramuan dan merupakan pendahulu bagi Aliran Taoisme Alkimia (Taijing). Tokoh terkenal aliran ini adalah Wei Boyang yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Ia bereksperimen menciptakan pil hidup abadi. Ketika yakin telah berhasil, ia memberikan pil tersebut pada anjingnya. Anjing tersebut terjatuh dan nampaknya telah mati. Wei Boyang sendiri kemudian menelan pil tersebut dan juga terjatuh tak sadarkan diri. Wei Boyang mempunyai dua orang murid, yang seorang setelah melihat kejadian tersebut menjadi kehilangan kepercayaan dan meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu murid lainnya yang memiliki keyakinan kuat, menelan pil terakhir dan juga jatuh bagaikan mati. Tak lama kemudian mereka bertiga hidup kembali, merasakan tubuhnya ringan dan selanjutnya terbang ke langit menjadi dewa. Wei meninggalkan sebuah kitab yang berjudul Cantongqi (Kesatuan Rangkap Tiga).

Sama dengan ajaran yang terdapat pada Aliran Taoisme sebelumnya, Candongqi menyebutkan bahwa Tao adalah sumber segala sesuatu, termasuk kehidupan. Ketika alam terus menerus memperbaharui dirinya sesuai dengan Tao, begitu pula manusia dapat memperbaharui dirinya terus menerus dan mencapai keabadian dengan cara menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip ini. Tokoh lainnya adalah Ge Hong, yang juga merupakan tokoh Aliran Shangqing. Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, ialah yang memperkenalkan penggunaan mineral dan rempah-rempah ke dalam Aliran Shangqing. Pada perkembangan selanjutnya para kaisar dari Dinasti Tang (618-906) benar-benar tergila-gila pada pil yang dapat membuat hidup abadi. Jumlah kaisar Dinasti Tang yang mati keracunan obat-obatan pembuat hidup abadi melebihi dinasti-dinasti lainnya. Obat pembuat hidup abadi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan dan kerajaan menunjang eksperimen untuk menciptakanobat semacam itu.

Pada masa akhir Dinasti Tang, orang mulai bertanya-tanya apakan pembuatan pil semacam itu merupakan hal yang masuk akal. Hal ini menyebabkan orang untuk memikirkan kembali mengenai makna keabadiaan. Salah satu makna keabadian ini disumbangkan oleh Agama Buddha: keabadian merupakan hasil dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tanpa akhir. Definisi lainnya adalah umur panjang dan kesehatan yang baik. Pandangan-pandangan baru tersebut di atas yang menyebabkan para penganut Aliran Taijing berpaling pada yoga dan meditasi. Setelah runtuhnya Dinasti Tang, usaha manusia untuk mencari keabadian dengan jalan mengkonsumsi dan mengolah berbagai rempah- rempah dan mineral berakhir sudah, dan dengan demikian alkimia eksternal turut pula berakhir.

Keruntuhan Dinasti Tang diikuti masa kacau selama 50 tahun, dan sesudahnya Dinasti Sung (960 ?1279) berhasil mempersatukan Tiongkok kembali. Masa pemerintahan Dinasti Sung ini merupakan jaman keemasan ilmu alkimia internal. Tokoh terkenal alkimia internal pada masa ini adalah Lu Dongbin yang merupakan murid Zhongli Quan. Lu Dongbin mewariskan ajarannya pada berbagai muridnya. Salah satu dari mereka adalah Chen Xiyi yang terkenal dengan pelatihan Qigongnya, di mana teknik ini merupakan penggabungan Yijing serta usaha untuk melanjarkan aliran energi. Murid lainnya adalah Wang Chongyang yang mendirikan Aliran Realitas Sempurna. Wanglah yang menggabungkan Ajaran Tao, Buddha, dan Konfusianisme (sebagaimana yang akan dibahas pada bagian 7.7). Tokoh-tokoh alkimia internal berikutnya adalah Zhang Boduan, Qiu Changchun, Wang Zhe atau yang dikenal sebagai Wang ChongYang, Qiu Chuji, dan Zhang Sanfeng. Zhang Sanfeng inilah yang menggabungkan antara alkimia internal dan ilmu bela diri, di mana ia merupakan pencipta Taiqichuan. Wang Zhe (1123 ?1170) merupakan pendiri Aliran Quanzhen, meskipun aliran tersebut baru dinamakan dinamakan demikian setelah kematiannya. Salah seroang penerusnya adalah Qiu Chuji (1148 ?237) yang diundang oleh Genghis Khan, karena tertarik oleh obat keabadian. Ia mengatakan pada sang Khan, bahwa obat semacam tersebut sebenarnya tidak ada dan kebenaran terunggul adalah penyatuan Tao dengan dunia ini.

PENGGABUNGAN ANTARA TAO , BUDDHISME , KONFUSIANISME  (1000 - sekarang)


Pada masa akhir Dinasti Tang, impian untuk menciptakan pil keabadian berakhir sudah. Masa kacau yang mengakhiri Dinasti Tang (907 ?960) menyebabkan banyak sarjana melarikan diri untuk menjadi pertapa. Mereka meresapi filsafat Tao serta mengagumi Ajaran Buddhisme Zen, namun tidak mau meninggalkan ajaran Konfusianis mereka. Untuk itulah mereka menciptakan sintesa antara ketiga ajaran tersebut.


KOSMOLOGI TAO


Setelah membahas sejarah perkembangan Taoisme, kini tibalah saatnya kita membahas mengenai kosmologi Tao. Taoisme membagi alam kedewaan menjadi 36 tingkatan sebagai berikut:


Surga tingkat 1 s/d 6 sering disebut surga Yu , yang mana surga tersebut masih memiliki keinginan , bentuk, jenis kelamin. Surga tingkat 7 s/d 24 disebut surga Shi , masih memiliki bentuk tapi keinginan sudah mulai padam. Surga tingkat 25 s/d 28 , disebut juga surga Wu Shi,tidak berbentuk dan tidak berkeinginan. Surga tingkat 29 s/d 32 disebut surga Fan Tian. Surga tingkat 33 s/d 35 disebut surga San Qing. surga 36 disebut surga Da Luo.Surga Da Luo dan san Qing disebut 4 surga suci.

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/78-sejarah-perkembangan-dan-seluk-beluk-agama-tao

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto