A+ A A-

Bahasa Tionghoa : Sebuah Tinjauan Sejarah (Kompilasi)

  • Written by  Rinto Jiang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Melengkapi anggota milis Budaya Tionghua yang masing2 punya spesialis di bidang dialek maupun bidang sastra, saya ingin menurunkan satu tulisan tentang bahasa Tionghoa. Mohon koreksi dan tambahannya bila dalam tulisan ini ada kesalahan maupun kekurangan. Sebelumnya saya dan Sdr. KH pernah berargumentasi mengenai perbedaan pandangan mengenai dialek2 dalam bahasa Tionghoa dalam satu kesempatan.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Bahasa Tionghoa (Hua Yu) yang kita kenal sebenarnya adalah bahasa Han (Han Yu). Selain itu, bahasa Han juga dikenal dengan sebutan bahasa nasional (Guo Yu), bahasa China (Chung Wen). Bahasa ini karena penggunaannya sangat luas sehingga juga mempengaruhi bahasa lainnya di sekitarnya seperti bahasa Jepang, Vietnam dan Korea yang masih mempergunakan banyak frase dan tulisan Han dalam bahasa mereka.

Bahasa Han adalah salah satu dari bahasa piktograf dunia yang berkembang sempurna. Walaupun pelafalan (prononsiasi) tiap2 dialek sangat berbeda namun dalam penulisannya (literatur), bahasa Han mempunyai tata dan struktur bahasa yang sama. Sebelum peristiwa 4 Mei (Wu Shi Yun Dong) tahun 1919, literatur (penulisan) karakter bahasa Han disebut "Wen Yan" atau literatur klasik dan setelah itu, bahasa Han dalam tulisan yang kita kenal sekarang adalah bentuk "Bai Hua" atau bentuk umum yaitu bahasa yang dipergunakan sehari2. "Bai Hua Wen" ini didasarkan atas tata bahasa Han dialek Utara.

Bahasa Han yang kita kenal sebagai bahasa Mandarin sekarang menggunakan dialek Beijing sebagai dasar pelafalan (intonasi), kosa kata dan tata bahasa. Sekarang ini digunakan sebagai bahasa resmi di Mainland China, Taiwan dan Singapura. Sedangkan HK dan Macau menggunakan dialek Kanton sebagai bahasa resmi mereka selain bahasa Inggris dan Portugis. Namun dalam literatur, Mainland China dan Singapura menggunakan Simplified Chinese (Jian Ti Zih) sedangkan Taiwan, HK dan Macau menggunakan Traditional Chinese (Fan Ti Zih). Simplified Chinese diperkenalkan oleh pemerintah Komunis pada tahun 50-an sebagai penyederhanaan dari Traditional Chinese.


Karena wilayah Tiongkok yang luas, walaupun literatur yang dipergunakan ada keseragaman dan bisa dimengerti oleh semua orang Chinese di baik di utara maupun selatan, namun dalam perkembangannya, pelafalan dan logat yang berbeda menghasilkan dialek yang berbeda juga. Malah bila sekilas didengar, maka setiap dialek sama sekali tak ada hubungannya dengan dialek lain maupun bahasa Han itu sendiri. Di utara, penduduk yang menggunakan bahasa Han dialek utara walaupun terpisah ratusan kilometer, masih bisa saling mengerti satu sama lain. Namun, di selatan terutama di propinsi Fujian, kadang2 penduduk yang sama2 menggunakan bahasa Min (Hokkian) yang cuma terpisah puluhan kilometer antara satu desa
dengan desa lainnya tak dapat mengerti satu sama lain, inilah yang dibahas Sdr. KH dalam tulisannya tentang logat2 dalam dialek Hokkian.

Bahasa Han yang kita kenal sebagai bahasa Tionghoa (Hua Yu) sekarang terdiri dari berbagai macam dialek. Saya lebih suka menggunakan kata dialek daripada bahasa daerah karena antara satu dialek dan dialek lainnya masih ada hubungannya. Lain dengan bahasa daerah Batak yang sama sekali lain dari bahasa daerah Jawa di Indonesia.


Kembali ke topik, antara satu dialek dengan dialek lainnya terdapat perbedaan yang jelas dalam pelafalannya. Misalnya orang HK yang berdialek Kanton tak dapat saling mengerti dengan orang Beijing yang berdialek Beijing. Namun di antara dialek2 ini masih dapat disatukan dan disebut bahasa Han karena adanya kosa kata, struktur, tata bahasa dan penulisan (literatur) yang sama. Karena itu, walaupun antar dialek tak dapat saling mengerti satu sama lain, namun mereka dapat berkomunikasi dengan tulisan yang sama.


Menurut ahli bahasa (linguis) luar negeri, bahasa Han sering dikelompokkan menjadi 1 dialek tersendiri yang setingkat dengan dialek lainnya. Namun ahli bahasa China sendiri lebih suka mengelompokkan dialek2 tadi sebagai dialek dari bahasa Han, sedangkan bahasa Han mengambil dialek Utara sebagai sumber kosa kata, struktur, tata bahasa dan nada (intonasi). Ahli bahasa mengelompokkan dialek2 dari bahasa Han tadi menjadi 7 dialek utama. Di dalam dialek utama tadi masih ada sub-dialek yang berbeda dalam pelafalan namun masih dapat dikelompokkan ke dalam dialek utama tadi. Sub-dialek inilah yang saya sebut sebagai logat karena masih dalam satu dialek. Logat Tai Shan dalam dialek Kanton adalah sedikit lain daripada logat orang HK.



MACAM DIALEK

Ketujuh macam dialek tadi adalah :

  1. Dialek Utara (Bei Fang Fang Yan) : Ini digunakan hampir seluruh penduduk di utara seperti Hu Bei, She Chuan, Yun Nan, Gui Zhou, Hu Nan utara, Jiang Xi, An Wei, Jiang Su. Wakil dari dialek ini adalah logat Beijing, Xi An, Nan Jing dan Cheng Du. Dialek utara menjadi standar dari bahasa Han yang sekarang kita kenal. Dialek utara dikenal dengan nama Pu Tong Hua di Mainland dan Guo Yu di Taiwan. Istilah Pu Tong Hua telah ada sejak penghujung dinasti Ching untuk memasyarakatkan dialek ini. Dialek ini digunakan hampir 80% penduduk China. Inilah salah satu faktor ditetapkannya dialek Utara (logat Beijing) sebagai bahasa persatuan di antara dialek2 yang berbeda.
  2. Dialek Wu (Wu Fang Yan) : Dialek ini digunakan di selatan Jiang Su, Zhe Jiang dan Shanghai. Logat Shanghai menjadi wakil dari dialek ini. Digunakan sekitar 8.4% penduduk China.
  3. Dialek Hakka (Khe Jia Fang Yan) : Dialek ini digunakan secara luas oleh orang Hakka di selatan, seperti timur Guang Dong, utara dan barat Fu Jian. Jiang Xi dan Guang Xi. Wakil dari dialek ini adalah logat Mei Hsien. Dialek ini terbentuk semasa perpindahan penduduk besar2an dari utara ke selatan. Di dalam dialek ini masih banyak ditemui frase dan kosa kata dari dialek Utara kuno. Dipergunakan oleh 4% penduduk.
  4. Dialek Min (Min Fang Yan) : Digunakan di Fu Jian, Taiwan, Hai Nan, timur Guang Dong dan banyak orang China di Asia Tenggara. Dialek ini adalah dialek yang punya perbedaan besar antara logat2nya. Dibagi atas logat Min Utara (Min Bei), logat Min Timur (Min Dong) diwakili oleh logat Hokkian, logat Pu Hsian, logat Min Tengah (Min Chung) dan logat Min Selatan (Min Nan) diwakili oleh logat Xia Men. Perbedaan logat inilah yang telah diterangkan oleh Sdr. KH dalam tulisan sebelumnya. Masih ada argumentasi antara yang menganggap dialek Min adalah suatu bahasa yang sama sekali tak ada hubungannya dengan bahasa Han dan yang menganggap dialek Min adalah satu dialek dalam bahasa Han. Para pendukung pro-kemerdekaan Taiwan terutama ingin membuktikan bahwa dialek ini merupakan bahasa tersendiri karena ingin menghapuskan ciri2 ke-tiongkok-an pada mereka. Sedangkan saya merasa bahasa Min adalah salah satu dialek dalam bahasa Han karena saya masih dapat membaca karakter2 China dengan lafal Hokkian yang menunjukkan hubungan di antara kedua dialek tersebut. Pemerintah Kuomintang sebelum tahun 1980-an melarang penggunaan dialek Min (Taiwanese) dan Hakka selain daripada dialek Utara yang dianggap sebagai Guo Yu (bahasa nasional). Ini menyebabkan ekses2 negatif yang menjadikan banyak orang Taiwan merasa dialek Utara sama dengan bahasanya orang Mainland Chinese yang idem dito dengan penindasan. Namun saat ini, dialek Min, dialek Hakka adalah setingkat dengan dialek Utara (Mandarin) dalam penggunaannya di Taiwan. Taiwan Selatan banyak menggunakan dialek Min (Taiwanese) dalam kehidupan sehari2 dan Taiwan Utara mayoritas menggunakan dialek Utara (Mandarin).
  5. Dialek Kanton (Yueh Fang Yan) : Diwakili oleh logat Guang Zhou, terutama digunakan di Guang Dong, HK, Macau dan orang2 China di Amerika Utara dan Asia Tenggara. Dialek ini adalah salah satu dialek yang punya intonasi (9-10 nada) paling rumit di antara dialek dalam bahasa Han. Dialek ini merupakan dialek yang masih mengandung struktur bahasa dan pelafalan dialek Utara kuno dari masa dinasti Sui dan Tang (abad 7-10 Masehi). Jadi semasa kedua dinasti tadi, hampir penduduk China (utara dan selatan) berbicara dalam dialek Kanton. Inilah yang menyebabkan mengapa orang2 China di Amerika Utara dan beberapa negara di Asia Tenggara masih berbicara dalam dialek Kanton (dan mereka menyebut dirinya sebagai orang Tang). Dialek Kanton digunakan sekitar 5% dari jumlah penduduk. Ada penelitian yang menganalisa bahwa puisi2 dalam 300 Puisi Tang (Tang Shih San Bai Shou) dari dinasti Tang adalah lebih terasa maknanya dan lebih cocok bila dinyanyikan dalam dialek Kanton
  6. Dialek Hsiang (Hsiang Fang Yan) : Digunakan di Hu Nan. Dibagi menjadi logat Hsiang Lama dan logat Hsiang Baru. Logat baru lebih menyerupai dialek Utara. Diwakili oleh logat Chang Sha dan dipergunakan sekitar 5% penduduk.
  7. Dialek Gan (Gan Fang Yan) : Digunakan di Jiang Xi, selatan Hu Nan dan diwakili oleh logat Nan Chang. Digunakan sekitar 2.4% penduduk. Masih ada dialek kecil lainnya yang masih menjadi bahan perdebatan apakah dapat menjadi dialek atau hanya logat dari sebuah dialek. Namun tak jadi soal apakah menjadi dialek atau logat karena antara tiap logat maupun dialek masih ada hubungan yang dapat ditelusuri dari sejarah Tiongkok.


Menelusuri sejarah perkembangan bahasa Han adalah suatu hal yang sangat menarik. Pengertian bahasa Han sebenarnya bukan hanya sekedar bahasa yang digunakan oleh orang Han semata. Bahasa Han boleh dikatakan adalah bahasa resmi yang digunakan oleh setiap pemerintahan dinasti di China mulai dari Dinasti Zhou pada abad 11 sampai 7 SM sampai dengan sekarang. Karena pada setiap dinasti, pusat pemerintahan hampir seluruhnya berada di Utara, maka dengan sendirinya dialek Utara-lah yang digunakan sebagai wakil dari bahasa Han yang mempunyai peranan sebagai bahasa resmi dan bahasa pemersatu. Itu sebabnya kita tidak pernah mendengar bahasa Tang, bahasa Ming, bahasa Yuan atau lain2nya karena bahasa Han tidak sekedar berarti bahasa yang digunakan semasa Dinasti Han.



BAHASA HAN KUNO

Awal Bahasa Han Kuno Awal mulai ada sejak Dinasti Zhou awal dan pertengahan (sekitar abad 11 sampai 7 SM). Tulisan2 mengenai bahasa Han kuno di masa ini dapat kita lihat di peninggalan dari masa tersebut berupa tulisan2 pada perunggu, kumpulan2 Puisi (Shih Jing Ji), Books of Changes (I Jing) dan buku2 Sejarah. Penelitian terhadap bahasa Han kuno ini dilakukan terutama pada masa Dinasti Ching. Peneliti Barat yang terkenal dan ahli akan bahasa Han= kuno ini adalah ahli bahasa berkebangsaan Swiss, Bernhard Karlgren. Ia terutama meneliti tentang nada, intonasi dalam puisi2 dari masa itu dan sejarah perkembangan karakter Han.

Di masa Musim Semi dan Gugur, bahasa Han pertama mempunyai satu bentuk bahasa pemersatu yang disebut "Ya Yan", artinya bahasa lembut, bahasa klasik. Bentuk bahasa inilah yang digunakan Konfusius dalam buku-bukunya dan digunakan secara luas pada masa tersebut. Namun bahasa Han pertama kali dipersatukan secara sistematis oleh Qin Shih Huang pada masa Dinasti Chin. Ia memperkenalkan (mempersatukan) sistem tulisan, bahasa resmi dan pemerintahan yang akhirnya mempengaruhi China selama beribu2 tahun.


Bahasa Han kuno pada masa itu utamanya menggunakan satu kata/nada (monosyllable). Itu makanya kita merasa puisi2 atau catatan2 di masa lalu kesemuanya sangat singkat namun pada mengandung maksa. Kata bijak Konfusius yang cuma 4 kata bila diterangkan dengan bahasa Han yang kita kenal sekarang dapat diterangkan berkalimat2. Kemudian pada masa2 berikutnya, banyak sekali perkembangan yang menyebabkan bahasa Han menjadi seperti yang kita kenal sekarang.


Bahasa Han Kuno Akhir Bahasa Han ini mulai berkembang pada masa dinasti Sui, Tang dan Sung (abad 7 sampai abad 10 M). Nada, intonasi dan struktur dalam bahasa Han di masa ini telah dapat lebih jelas direkonstruksi oleh para peneliti dan ahli bahasa. Rekonstruksi ini dapat didasarkan pada keragaman dialek yang ada sekarang dan penerjemahan dari dan ke bahasa luar pada masa tersebut. Dialek- dialek yang ada pada zaman sekarang seperti dialek Yueh (Kanton), Hakka (Khek) dan Min (Hokkian) masih mengandung nada2 dan intonasi dari masa tersebut. Nada2 akhiran seperti -p, -t, -k yang telah punah di dalam dialek Utara (bahasa Han) yang kita kenal sekarang masih ada dalam ketiga dialek tersebut. Di dalam dialek Wu (Shanghai) juga masih terdapat satu nada akhiran dengan menyumbat tenggorokan yang juga telah punah di dialek Utara.


Pada masa ini, Pu Tong Hua yang kita kenal sekarang belum ada, jadi struktur, kosa kata dan pelafalan yang digunakan para penyair puisi pada masa Dinasti Tang adalah dialek Kanton yang kita kenal sekarang. Dialek Kanton akhirnya tergeser ke selatan dan tetap mengandung nada2 dan struktur bahasa yang berasal dari bahasa Han Kuno Akhir. Jadi, ada benarnya bila ada peneliti dan ahli sastra yang menyatakan bahwa menyanyikan syair puisi Li Bai atau puisi lainnya dari zaman Dinasti Tang adalah lebih cocok dinyanyikan dengan lafal Kanton.


Dialek Min (Hokkian) juga terbentuk mulai masa ini karena ada 3 gelombang migrasi besar2an dari utara ke selatan pada masa tersebut : Migrasi pertama adalah sewaktu penyerbuan bangsa Barbar ke China Utara pada abad ke 4. Ada 8 keluarga besar (marga Lin, Huang, Chen, Zheng, Chan, Ping, He dan Hu) dari utara yang melakukan migrasi besar2an ke Cyuan Zhou di Fu Jian. Saat inilah terbentuk dialek Min dengan logat Cyuan Zhou. Migrasi kedua adalah pada abad ke-tujuh, pada saat itu ada pemberontakan di daerah Chau Zhou (Teochiu). Tang Gao Zong memerintahkan Chen Jeng dan Chen Yuan-kuang (ayah dan anak) untuk memadamkan pemberontakan. Saat ini terbentuklah dialek Min dengan logat Zhang Zhou. Migrasi ketiga adalah pada abad ke-sembilan. Penghujung dinasti Tang, terjadi kekacauan di selatan. Kekaisaran kemudian memerintahkan Wang Chau, Wang Shen-bang dan Wang Shen-tze (3 bersaudara) untuk memadamkan pemberontakan. Setelah berhasil dipadamkan, mereka diberi pangkat dan menetap di Fu Jian.


Jadi dialek Min, Kanton, Hakka memang terbentuk dari bahasa Han Kuno dan masih melestarikan struktur, tata bahasa dan nada intonasi bahasa Han Kuno dari Dinasti Sui, Tang dan Sung. Inilah yang menyebabkan saya tidak menganggap dialek2 tadi sebagai bahasa daerah. Lain dengan bahasa Tibet atau bahasa Manchuria yang saat ini menjadi bahasa daerah di dalam lingkup negara PRC. Disebut bahasa daerah karena antara bahasa Tibet, Manchuria dan bahasa Han memang tak ada hubungan sama sekali.



BAHASA HAN PERTENGAHAN


Bahasa Han pada saat ini telah disempurnakan menjadi lebih dekat dengan bahasa dialek Utara yang kita kenal sekarang. Ini tercatat dalam buku "Phonology of Chinese" atau "Chung Yuan In Yun" tulisan Zhou De-qing pada tahun 1324 zaman Dinasti Yuan. Pada saat ini, akhiran yang ada pada bahasa Han Kuno telah ditiadakan. Pelestarian akhiran dari bahasa Han Kuno yang paling sempurna adalah pada dialek Kanton yang juga mempunyai nada intonasi paling banyak di antara dialek2 dalam bahasa Han. Pada zaman ini, cikal bakal dialek Utara yang sekarang menjadi Pu Tong Hua diletakkan dan mengalami perkembangan selama beberapa abad sampai seperti Pu Tong Hua yang kita dengar sekarang.


Bahasa Han Modern Bahasa Han Modern yang kita kenal sekarang adalah berdasarkan dialek Utara yang digunakan mayoritas penduduk di China (80%). Sejak masa pemerintahan Dinasti Ming dan Qing, kekaisaran menetapkan dialek Utara sebagai bahasa resmi yang disebut "Guan Fang Yu Yan" atau "Official Language". Inilah yang menyebabkan adanya sebutan bahasa Mandarin oleh bangsa Eropa kepada dialek Utara karena Mandarin menunjuk pada pejabat kekaisaran Dinasti Ming dan Qing. Penghujung dinasti Qing, pejabat kekaisaran demi memasyarakatkan dialek Utara ke seluruh Tiongkok menetapkan istilah Pu Tong Hua (bahasa umum) untuk dialek Utara supaya penggunaannya sebagai bahasa resmi bisa dapat lebih memasyarakat dan menjembatani antara penduduk dari dialek berbeda.


Gerakan 4 Mei 1919, mahasiswa di Beijing, Shanghai dan kota2 besar lainnya memaksa pemerintah menetapkan penggunaan literatur bahasa Han yang lebih umum berdasarkan bahasa sehari2 pada masa itu (Bai Hua Wen). Ini berguna untuk lebih memasyarakatkan penulisan bahasa Han pada seluruh rakyat Tiongkok karena sebelum saat itu, literatur bahasa Han masih dalam bentuk klasik (Wen Yan Wen) yang telah berlangsung ribuan tahun sejak zaman Konfusius.


Dalam masa2 pembentukan Republik setelah Revolusi Sin Hai oleh Dr. Sun Yat-sen berhasil. Dr. Sun yang berdialek Kanton dalam suatu kesempatan menganjurkan untuk tetap menggunakan dialek Utara sebagai bahasa nasional karena penggunaannya yang luas dan memiliki struktur, kosa kata dan nada yang lebih rapi dan mudah dipelajari. Ini merupakan salah satu sikap nasionalisme yang jarang ada pada politikus lainnya walaupun pada waktu pusat pemerintahan Republik bukan di Utara (pusat revolusi di Guang Dong, pemerintahan Republik di Nanjing). Juga pada masa tersebut ada suara2 yang mendukung dialek Kanton dijadikan sebagai acuan bagi bahasa Han (bahasa Nasional).


BAHASA HAN MASA DEPAN

Bahasa Han sejak tahun 1950-an melalui Konferensi Nasional untuk Reformasi Bahasa Han di Mainland China telah mengalami perubahan dramatis dengan ditetapkannya penyederhanaan penulisan karakter Han menjadi Simplified Chinese yang kita kenal sekarang. Alasan mereka adalah lebih memasyarakatkan tulisan dan literatur Han pada seluruh rakyat China. Namun sebenarnya lebih ditekankan pada pemutusan hubungan sastra, kebudayaan dan pemikiran rakyat dengan hal2 yang dianggap kuno di masa lalu serta untuk membedakan diri dari pihak nasionalis. Di masa depan, mungkin dalam perihal komunikasi, Simplified Chinese akan menjadi populer sejalan dengan bertambah kuatnya kekuatan politik PRC di dunia. Namun eksistensi Traditional Chinese tetap akan tak tergoyahkan karena sastrawan dan budayawan baik dari dalam dan luar Tiongkok tetap akan condong ke Traditional Chinese untukmemperlajari makna dan filsafat asli dari masa lalu.

Rinto Jiang

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/85-bahasa-tionghoa--sebuah-tinjauan-sejarah-kompilasi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto