A+ A A-

YAP THIAM HIEN: CONTOH POTRET KONSISTENSI

  • Written by  Lily Wibisono
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

via Rio H di  Mailing List Budaya-Tionghua

Budaya-Tionghoa.Net | Adakah pengacara yang selalu mengawali konsultasi dengan calon kliennya dengan, "Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena pasti kita akan kalah. Tapi jika Saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, maka saya mau menjadi pembela Saudara"? Itulah Yap Thiam Hien. Pengacara ulung yang pernah menggetarkan hati lawan maupun kawan dengan komitmennya yang tak kenal kompromi pada keadilan. Pada gilirannya komitmen itu terekspresikan dalam pembelaan hak kaum tertindas. Bertepatan dengan hari Hak Asasi Manusia 8 Desember, kami ajak Anda lebih mengenalnya, tak cuma aumannya di sidang pengadilan, tapi sosoknya yang manusiawi.

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

 

Sore itu, sepulang dari kantor, Yap Thiam Hien istirahat sebentar. Hanya saja, kali ini istirahatnya membuahkan mimpi yang agak di luar kebiasaan. "Tahu enggak, saya mimpi ditunjuk untuk membela Omar Dani (mantan Menteri Panglima Angkatan Udara yang dituduh terlibat gerakan G30S/PKI - Red.)," tuturnya. Tan Gien Khing-Nio, sang istri yang asal Semarang itu, bisa merasakan kegamangan yang dirasakan suaminya.

Mimpi seolah menjadi nyata, ketika saat itu juga terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah mereka di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Khing melongok keluar. Sebuah jip militer besar, bertuliskan "Mahmilub"!

Di masa awal Orde Baru itu, Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) sangat besar peran dan kekuasaannya dalam mengusut kasus-kasus G30S. Tak ada yang tidak dag-dig-dug melihat kendaraan Mahmilub berhenti di rumahnya. Khing membuka pintu sementara di dalam benak menghunjam kegetiran bercampur kekhawatiran. Trauma penangkapan suaminya oleh Pasukan Kalong di awal 1966 belum hilang dari ingatan.

"Lo, ada apa to, Pak?" tanyanya tak tahan lagi sambil mempersilakan tiga orang petugas duduk.

Salah seorang perwira menjawab, "Jangan takut ... Tak ada apa-apa kok. Hanya ada kabar sedikit."

"Ndak diangkat, Pak?"

"Tidak," perwira itu menjawab dengan hormat sekali.

Toh itu belum mengusir kegelisahannya. Untunglah, kekhawatirannya tak terjadi. Perwira tadi menyampaikan kabarnya,

"Kami kemari membawa perintah Mahmilub yang menunjuk Pak Yap untuk membela Soebandrio." Soebandrio adalah mantan wakil perdana menteri pertama merangkap menlu yang dituduh salah satu tokoh utama G30S/PKI. Di masa itu, tak ada hari tanpa caci maki, "Soebandrio Durna! Harus mati! Bunuh!", dst.

Khing dapat melihat suaminya sedikit nervous, tapi perasaan itu tampak dapat ditekannya. Yap hanya menjawab, "Kalau begitu yang diperintahkan oleh Pemerintah, saya tidak ada jalan lain kecuali menerimanya."

Yap menyadari betul konsekuensi tugas itu. Istrinya tak kurang khawatir, sampai ia melarang suaminya keluar setiap kali ada tamu mengetuk pintu. Ia khawatir suaminya ditembak orang yang tak senang hati ia membela Soebandrio. Khing pun dapat merasakan, suaminya mulai dijauhi kolega.


 


PACARAN LEWAT SURAT

Sebulan lebih ia bekerja. Pagi berangkat, makan siang pulang, lalu pergi bekerja lagi dan baru kembali sekitar pukul 21.00. Namun di mata istrinya, perilaku Yap tetap tenang, seperti tak ada beban berat. Dalam kenangan Adnan Buyung Nasution seperti diungkapkan Matra, edisi Maret 1999, saat itu Yap tampil amat mengesankan, karena mutu ilmu hukumnya yang tinggi dan kegigihannya mempertahankan hak-hak terdakwa. Orang tak menyangka kalau untuk kerja yang penuh dedikasi itu tak ada honor sepeser pun diterimanya dari pemerintah.

Persoalan materi sejak awal tidak menjadi daya tarik utama bekas guru ini. Lahir dari keluarga Yap Sin Eng di Banda Aceh, 25 Mei 1913, pria yang panggilan akrabnya John ini sulung dari tiga bersaudara, Thiam Hien, Thiam Bong, dan Thiam Lian. Kakeknya, seperti diungkapkan dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985 - 1986 dulu "Kapten" (salah satu level pemimpin) untuk masyarakat Tionghoa di zamannya. Sehingga ia bisa mengecap pendidikan dasar yang elite.

Setamat Hollandsch Chineese Kweekschool, kondisi keuangan keluarga sudah tak mendukung lagi. Sempat juga ia mengajar sambil mencari order telepon, sampai kemudian ia tertarik masuk sekolah hukum yang baru saja dibuka di Jakarta.

Kira-kira pada masa itu pemuda Yap berkenalan dengan pemudi Khing yang juga tamatan Kweekschool. Suatu hari di tahun 1945, sepupu Khing menikah dengan Thiam Lian. Khing masih ingat benar,

"John dan Bong itu sangat populer, kakak saya bilang. Lalu teman-teman juga menyambung, 'Nanti gua kenalin sama mereka.'" Tapi waktu saya diperkenalkan dengan mereka, kesan saya kok niets aan, enggak ah."

Hanya saja dengan heran gadis ini menyadari, sejak itu dalam pesta-pesta keluarga, kenapa Yap selalu ada? Perang berakhir, kondisi serba tidak menentu, termasuk studi hukum Yap. Kebetulan ada kapal yang siap ke Belanda untuk mengangkut orang-orang Belanda pulang gratis, asal siap menjadi asisten anak buah kapal (ABK) bagian kebersihan. Menjadi tukang pel di kapal, bukan masyaalaah, Yap nekat ikut. Di Belanda, dengan bantuan beasiswa dari gereja di sana, ia lanjutkan studi hukum yang sempat terkatung-katung itu.

Pucuk demi pucuk surat berperangko Kerajaan Belanda terus berdatangan ke meja Khing; lambat tapi pasti luruh juga hatinya. Dari kisah yang "mulanya biasa saja", tibalah sepucuk surat berbunyi, "Saya ingin melamarmu secara resmi." Kepada ayahanda Khing di Semarang Yap melayangkan surat lamaran. Singkat cerita, tahun 1947 surat perkawinan ditandatangani dan saat bertunangan, Khing "bersanding" dengan ayah mertuanya sebagai wali calon suaminya.

Lulus sebagai meester in de rechten, Yap masih harus menghadiri pelbagai konferensi pemuda gereja di Oslo, Swis, dan Inggris. Baru dua tahun kemudian ia pulang, langsung bekerja sebagai pemimpin organisasi kepemudaan di gereja. Tahun berikutnya karir hukumnya diawali dengan bekerja di kantor pengacara John Karwin, Mokhtar Kusumaatmaja dan Komar. Sudah tentu, pernikahan mereka perlu diresmikan di tengah handai taulan, cukup sederhana, di sebuah restoran di Jl. Sabang, Jakarta. Seratusan tamu disuguhi teh dan kue saja.



MERASAKAN BUI SAMPAI DUA KALI

Kehidupan mereka masih berlanjut sederhana. Makan cukup rantangan. Tidak pernah bepergian kecuali ke gereja. Khing tetap bekerja sebagai tenaga administrasi di Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Untuk memperbaiki taraf penghidupan, Yap kemudian menerima ajakan bergabung dengan perusahaan Tan Po Goan (mantan menteri dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946 dan anggota parlemen).

Sebagai rekanan termuda, penghasilan Yap dari firma hukum itu tentu masih cukup kecil sehingga masalah keuangan terus menghantui. Sementara itu Khing berhenti bekerja begitu mereka memperoleh momongan, Hong Gie, lahir tahun 1952, disusul Hong Ay, lima tahun kemudian. Baru sekitar 20 tahunan lagi, keadaan keuangan mereka membaik, saat Yap menyadari betul pentingnya nafkah hidup untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri.

Dalam tataran profesi, reputasinya sebagai pengacara yang tak banyak basa-basi semakin terbentuk. Ketika masih bergabung dengan kantor pengacara Tan Po Goan, di tahun 1950-an, dalam posisi membela beberapa orang Pasar Senen yang kena gusur seorang kaya pemilik gedung, Yap menyerang pribadi advokat lawannya dengan mengatakan, "Bagaimana bisa Anda membantu seorang kaya menentang orang miskin?" Serangan pribadi macam itu tentu melanggar etika antarkolega di sidang pengadilan.

Oleh Majalah Tempo edisi 16 Januari 2000, ia bahkan dijuluki advokat kepala batu; keras dan teguh membela kebenaran, yang selalu dilihatnya hitam-putih.

Salah satu buah kerepotan akibat sikapnya itu ya sekitar tahun baru 1966, saat subuh rumahnya digedor pasukan berseragam hitam yang mengambil Yap begitu saja. Ia sempat menginap di hotel prodeo selama sekitar lima hari, atas tuduhan terlibat Gestapu karena pernah jadi anggota Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia), sebuah ormas yang dicap "kiri".

Yap memang pernah menduduki jabatan wakil ketua, namun sejak sebelum 1960 tak aktif lagi di Baperki karena tak cocok pandangan dengan ketuanya, Siauw Giok Tjhan, seperti dikisahkan dalam Siauw Giok Tjhan (Hasta Mitra, 1999). Sementara di sisi lain Hong Gie (48) meyakini, penahanan ayahnya itu lebih berkaitan dengan pembelaannya dalam sebuah kasus cek kosong, di mana kliennya diperas oleh seorang jaksa tinggi. Belakangan sang jaksa tinggi mengadukannya ke pengadilan, sehingga pada 1968 Yap divonis satu tahun penjara oleh Pengadilan Istimewa Jakarta. Hanya saja, meski lewat proses banding bertahun-tahun, akhirnya ia divonis bebas. Menurut Hong Gie, untuk kasus ini ayahnya tidak pernah sampai ditahan.

Belum lagi riwayatnya berkaitan dengan peristiwa Malari, 1974. Dianggap sebagai salah satu "cendekiawan provokator" peristiwa itu, ia masuk bui juga. Akhirnya, tuduhan itu tak terbukti dan 11 bulan kemudian ia dibebaskan.


BARTER DENGAN MINUMAN KERAS

Konsistensi Yap dalam membela tegaknya hukum sulit dicari tandingannya. Demi prinsip keadilan dan hukum yang diyakininya, tidak ada satu orang atau institusi apa pun yang cukup perkasa untuk menciutkan nyalinya.

Bahkan tak jarang, tindak sewenang-wenang oleh aparat di jalanan terhadap orang yang sama sekali tidak ia kenal pun, akan membuat Yap menghentikan kendaraan untuk mencampuri urusan itu.

Kesetiaannya pada keadilan tidak pandang bulu meski menyangkut anak sendiri. Itu dialami Hong Gie, yang kini mengelola bisnis hotel dan properti. Saat itu sebagai remaja + 16 tahun, ia menabrak seorang anak dengan mobil yang dikendarai tanpa SIM.

Dalam perjalanan ke kantor polisi, ayahnya berpesan, supaya dalam sidang pengadilan nanti ia mengaku bersalah dan meminta maaf kepada hakim atas pelanggaran yang dilakukan. Hong Gie ditinggalkan di sana sampai dijemput ibunya dua malam kemudian. Mengakui itu sebagai salah satu peristiwa paling menakutkan di masa remajanya, Hong Gie belakangan tahu, ibunya terkadang menengok anak yang tertabrak itu.

Betapa pun Yap keras memegang prinsip, tak tabu pula baginya mengaku bersalah. Itu terjadi ketika Hong Gie remaja melancarkan aksi protes terhadap bahasa pukulan sang ayah (bisa sapu lidi, bisa batang pohon). Drama yang berlangsung sampai dua minggu itu berakhir saat sang ayah menyadari kekeliruannya. Ia minta maaf dan berjanji tak akan memukul lagi.

Perihal kedisiplinan Yap, sang istri pun tidak kekurangan cerita. "Suatu sore ada undangan resepsi perkawinan," Khing mengenang. "Kami merencanakan berangkat pukul 18.30. Tapi entah kenapa, sore itu saya terlambat berdandan. Tentu saja saya buru-buru. Begitu selesai, langsung bergegas ke garasi. Apa yang saya jumpai? Garasi kosong. Mobil dan John sudah berangkat, meninggalkan saya. Padahal saya sudah berdandan lengkap!"

Bagi keluarga Yap, berlibur bersama merupakan kesempatan yang amat langka. Sebaliknya, risiko pekerjaan salah satu pendiri Universitas Kristen Indonesia ini tetap ditanggung oleh seluruh keluarga. Misalnya, anjing diracuni, rumah disambiti.

Apalagi saat Yap ditahan karena kasus Malari, ketangguhan Khing, yang disebutnya "Menteri Dalam Negeri" oleh Yap, sungguh diuji. Dengan sisa tabungan Khing membeli mobil untuk dijalankan sebagai taksi jam-jaman. Keadaan yang pas-pasan itu memaksanya juga untuk menukar minuman keras dari bingkisan Natal dan Tahun Baru dengan kebutuhan sehari-hari, di Pasar Cikini.

Tentulah bisa dipahami, ketika ditanya apakah pernah "menyesal" menjadi istri Yap Thiam Hien, tanpa kekurangan selera humor dijawabnya, "Sering ...! Karena kadang-kadang ia lupa bahwa keluarga juga memerlukannya. Sekali waktu ia baru keluar dari penjara untuk kasus Malari. Tiba di rumah pukul 23.00, kami belum lagi duduk santai, ia sudah mengatakan akan membela seseorang yang kasusnya cukup berat dengan risiko dan komplikasi cukup besar, sampai-sampai saya mengancam akan pergi dari rumah kalau dia tetap ngotot menangani kasus itu!"

Betapa pun, sampai sekarang Hong Gie masih merasakan bahagianya saat ia ditengok Papa di Belanda. (Setelah menyelesaikan SMU di sana, Hong Gie melanjutkan ke pendidikan fisioterapi.) Naik kendaraan umum, makan bersama, dan saling bercerita tentang banyak hal, sungguh kemewahan yang tak ia rasakan di Tanah Air. Yap juga tak pernah menyia-nyiakan kesempatan menengok Hong Ay, yang belakangan mengambil jurusan bahasa Inggris di Swis. Biasanya saat ia usai mengikuti konferensi di Eropa.


BERAKHIR DI BELGIA

Penyuka bacaan fiksi, kecuali drama dan roman, ini menyerahkan urusan pendidikan anak-anak kepada istrinya. Namun, tak pernah timbul setitik pun keraguan akan garis kebijakannya.

"(Kejujuran itu) Wah, nomor satu," ungkap Khing. "Dalam suatu kasus pembunuhan di mana ia akan membela, terdakwa harus terlebih dulu mengaku kepada John bahwa ia memang membunuh, baru ia bersedia mencarikan pasal-pasal yang bisa meringankan." Apalagi anak-anaknya. Berbohong atau tidak disiplin sungguh dosa besar.

Puluhan tahun bergelut dengan kasus tak menjadikan mata hatinya tumpul, bahkan empatinya terhadap yang terpidana semakin tumbuh; mendorongnya mendirikan dan mengetuai Prison Fellowship, organisasi yang melayani narapidana. Kepeduliannya pada hak-hak azasi manusia semakin menajam ketika ia bergabung dalam Regional Council on Human Rights in Asia, juga anggota Asian Comission on Human Rights.

Bahkan pada 1987 ia masih berani dan "galak" untuk mulai terlibat dalam InterNGO Conference on Indonesia (INGI). Ini organisasi yang bertujuan mengembangkan partisipasi rakyat dan LSM dalam pembangunan masyarakat dan negara. Justru untuk menghadiri pertemuan INGI ini (April 1989), Yap berangkat ke Belgia. Meski suratan takdir bicara lain.

"Kami berjanji bertemu di Singapura," Khing mengenang saat-saat itu, "karena rencananya kami akan jalan-jalan dulu selama dua hari di sana, sebelum pulang bersama. Kopor sudah selesai saya kemasi, exit permit (waktu itu diperlukan bagi yang akan ke luar negeri - Red.) juga sudah saya urus. Tiba-tiba tengah malam ada kabar bahwa ia sakit. Aortanya pecah dan perlu dioperasi, sehingga dibutuhkan izin dari istri. Saya katakan, 'Jangan tunggu sampai saya tiba di sana. Apa yang menurut dokter baik, lakukanlah.'" Namun, di dalam hati Khing sudah merasa.

Sementara itu nun jauh di sana, sakit Yap semakin parah.

Yap Thiam Hien mengakhiri perjuangannya yang tak kenal lelah pada Senin, 24 April 1989, di RS St. Agustinus, Veurne, 135 km dari Brussels. Jauh dari keluarga, namun di tengah teman dan rekan seperjuangan, seperti yang sering terjadi di sepanjang hidupnya. (Lily Wibisono)

TAUTAN INTERNAL :

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/2840[Rio H]
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/851-yap-thiam-hien-contoh-potret-konsistensi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto