A+ A A-

Perayaan Pe Cun 2011 Tangerang

  • Written by  AK. Bromokusumo
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di salah satu milis yang saya ikut tiba-tiba ada yang posting mengumumkan adanya perayaan Pe Cun 2011 di Tangerang. Setelah membaca dengan teliti dan melihat rundown acaranya, saya memutuskan untuk datang dan melihat. Di daftar acaranya disebutkan ada: lomba perahu naga, musik gambang kromong, memberdirikan telur, melepas bebek di sungai Cisadane, rampak tambur, musik dari Nan Feng Nusantara, dsb.

 

Seumur-seumur saya belum pernah menyaksikan lomba perahu naga! Saya hanya membaca dan melihat di televisi betapa meriah dan serunya lomba perahu naga yang diiringi gebukan tambur ritmis dan kekompakan para pendayungnya mengayunkan dayung mereka. Saya berpikir ini kesempatan baik untuk menyaksikan langsung sekaligus mengajak anak-anak biar mereka juga tahu apa itu lomba perahu naga.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Saya memutuskan ke Tangerang hari Sabtu dan Minggu. Hari Sabtu saya akan ke sana sendiri, melihat situasi dan sekaligus berburu foto supaya lebih puas tidak terpecah perhatiannya. Hari Minggu siang saya berencana mengajak keluarga karena ada parade barongsai, naga, rampak tambur dan lomba perahu naga.

Salah satu panitia yang kebetulan saya kenal baik sudah mewanti-wanti, jangan lewat Tangerang seperti biasa, tapi lewat Karawaci yang walaupun lebih jauh memutar, bisa dipastikan jalannya tidak macet. Hari Sabtu pagi saya meluncur ke Tangerang via Karawaci. Memang lancar sekali dan saya sampai ke Tangerang sekitar pukul 10:00. Kemacetan sudah mulai nampak yang datang dari arah Tangerang, sementara yang dari Karawaci masih sangat lancar. Parkir juga sudah mulai susah dicari. Untungnya sedikit pengetahuan blusukan di sekitar Pasar Lama Tangerang sungguh bermanfaat, saya mendapatkan spot parkir yang sepi dan aman.

Setelah mobil terparkir dengan aman, saya berjalan ke arah pusat acara. Tenda-tenda putih nampak dari kejauhan. Tenda-tenda putih ini adalah stand tempat para peserta berjualan, kebanyakan makanan dan minuman. Di kejauhan terdengar suara musik gambang kromong yang khas. Ternyata musik gambang kromong tsb berasal dari panggung terapung di tengah sungai Cisadane. Di panggung yang lain sedang berlangsung pertunjukan barongsai yang atraktif.

Perayaan Pe Cun ini adalah pesta rakyat Tangerang. Setelah sekian puluh tahun masa represi Orde Baru, perayaan Pe Cun kembali diperbolehkan sungguh merupakan keistimewaan luar biasa. Bukan saja bagi kaum Tionghoa yang merayakannya, tapi lebih luas lagi adalah untuk masyarakat luas. Daerah Benteng di Tangerang terkenal dengan komunitas Cina Bentengnya. Komunitas Cina Benteng sudah tinggal dan berbaur dengan penduduk setempat berabad-abad yang lalu.

 

Kedatangan pertama kali orang Tionghoa di Teluk Naga sekitar 400 tahun yang lalu, kemudian tinggal dan bermasyarakat serta menjadi komunitas yang dikenal dengan nama Cina Benteng.

Sedikit latar belakang perayaan Pe Cun yang saya ambil dari artikel saya sendiri beberapa waktu lalu: Hari Raya Pe Cun

Peringatan atas Qu Yuan

Qu Yuan/屈 原 (339 SM – 277 SM) adalah seorang menteri Raja Huai dari Negara Chu/ di masa Negara Berperang (Zhan Guo Shi Dai/战 国 时 代, 475 SM – 221 SM). Ia adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Ia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi/ untuk memerangi negara Qin/. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusirannya dari ibukota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Yu Luo.

Ini tercatat dalam buku sejarah ‘Shi Ji’ tulisan sejarahwan Sima Qian. Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai Bak Cang sekarang.

Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

Kegiatan dan Tradisi

Lomba Perahu Naga

Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak zaman Negara Berperang (475 SM – 221 SM). Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan diselenggarakan setiap tahunnya baik di Mainland (Hunan), Hong Kong, Taiwan maupun di Amerika. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh peserta-peserta dari luar negeri yang kebanyakan berasal dari Eropa ataupun Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang perahu tersebut.

Makan Bak Cang (肉粽 = Rou Zong; pinyin)

Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Duan Wu sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun bak cang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik festival ini. Bentuk bak cang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bak cang tadi.

Di Taiwan, di zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bak cang yang dibawa oleh pendatang dari Fu Jian adalah bentuk bak cang yang bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bak cang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging, ada yang isinya sayur-sayuran. Ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi untuk kemudian dimakan bersama serikaya.

Di Indonesia lebih sering disebut dengan Pe Cun yang berasal dari dialek Hokkian, yang berasal dari kata Pa Long Chuan/爬 龙 船 yang berarti ‘mendayung/mengemudikan perahu’ naga. Akhirnya “pa long chuan” disingkat menjadi “pa chuan” dan dialek Hokkian berbunyi “Pe Cun”.

Lomba perahu naga pun dimulai. Ternyata tidak sedahsyat yang sering saya baca dan saksikan di televisi. Perlombaan perahu naga di Cisadane dilaksanakan dua-dua, dua perahu tiap kali lomba dan bisa dimaklumi karena baru pertama kali setelah sekian puluh tahun hibernasi, para peserta lomba juga masih kelihatan kurang kompak dan berirama dalam mendayung perahu mereka. Walaupun demikian, sungguh luar biasa perayaan Pe Cun kali ini dan panitia penyelenggara patut diacungi jempol atas terselenggaranya acara ini. Saya yakin di tahun-tahun berikutnya akan lebih baik lagi.

Beberapa stasiun televisi nampak bertebaran di sepanjang pinggiran Cisadane. Dari MetroTV, RCTI, TVRI bahkan Xinhua Agency dari Beijing juga nampak di sana.

Di salah satu titik, saya kebetulan berjumpa dengan Chandra, teman, tetangga dan sekaligus salah satu kontributor di Baltyra yang karya fotonya beberapa kali sempat mejeng di Baltyra. Chandra datang bersama seorang teman baiknya yang mengajak dua anak laki-lakinya. Ternyata Chandra dan temannya tergabung dalam KFT (Komunitas Fotografi Tangerang) yang sedang mencoba berburu foto-foto dari acara itu. Kami berbincang asik sambil sesekali menjepret apa saja di sekitar kami.

 

Tiba-tiba kami nampak seorang fotografer yang sedang menjepret dengan ‘lensa meriamnya’ di atas monopod. Kami menaksir minimal zoom 400mm atau mungkin lebih. Seorang anak teman mendekati sang fotografer dan bertanya-tanya. Saya mendekat dan mendapati ternyata mereka dari Xinhua Agency, kantor berita China. Pembicaraan segera mengalir dan benarlah dugaan kami, lensanya adalah 400mm dan dia adalah pemeluk ‘agama Nikonian’.

Tidak disangka-sangka malah kedua orang dari Xinhua ingin mewawancarai dua bocah tsb. Mereka ingin menanyakan apa yang mereka ketahui tentang perayaan itu. Apa yang mereka ketahui tentang perahu naga, bakcang, Pe Cun dsb. Akhirnya Chandra dan dua bocah itu diwawancara singkat oleh mereka dalam bahasa Inggris, sementara si bapak dua bocah memotret mereka.

 

Nampaknya mereka masih kurang puas dengan hasil wawancara singkat itu, karena mereka merasa kurang menangkap kesan yang diwawancara tentang perayaan Pe Cun. Jadilah malah saya yang terkena giliran diwawancara Xinhua. Dengan bekal sedikit pengetahuan tentang Pe Cun, beranilah saya sedikit meracau ‘cang-cing-cung-cang-cing-cung’. Saya mengatakan bahwa memang kaum Tionghoa generasi sekarang ini sudah kurang mengenal budaya Tionghoa. Perayaan Pe Cun dan perayaan-perayaan lain sudah menjadi asing bagi mereka. Bahkan yang segenerasi dengan saya pun juga tidak banyak yang mengerti mengenai tradisi bakcang, Pe Cun dan perahu naga ini. Kebanyakan yang dipahami adalah perayaan Pe Cun identik dengan makan bakcang.

Saya juga sempat memaparkan bahwa selama Orde Baru, jelas tidak mungkin bisa melihat dan mengalami perayaan Pe Cun seperti hari itu, setelah rezim berganti, mulailah masuk era keterbukaan sampai hari ini kita bisa merayakan perayaan-perayaan tradisi Tionghoa, seperti Pe Cun salah satunya.

Besoknya, saya sekeluarga menuju tempat yang sama. Kali ini tidak mengambil dari Karawaci, tapi langsung ke arah Tangerang. Dan memang kemacetan sudah mengular dari jauh. Berbekal sedikit ilmu blusukan, dari satu gang ke gang yang lain, sampailah saya ke tempat parkir yang sama dan kemudian kami sekeluarga berjalan ke tempat acara. Lautan manusia nampak lebih penuh daripada sehari sebelumnya.

Setelah berjalan kesana kemari, di panggung utama nampak persiapan acara pertunjukan wushu. Jam sudah menunjukkan tengah hari, mendung berarak dari kejauhan, terik matahari sungguh menyengat, tapi tak menghalangi masyarakat luas yang terus mengalir berdatangan ingin menyaksikan perayaan Pe Cun. Tak terlalu lama dimulailah pertunjukan wushu.

Pertunjukan wushu berlangsung cukup lama dan mengasikkan sekali. Seakan menyaksikan adegan pertarungan dalam cerita silat yang tertuang nyata di depan mata. Para pendekar muda bertarung dan beterbangan memamerkan ilmunya di hadapan para penonton.

 

 

 

 

Hari makin panas dan kami memutuskan pulang karena anak-anak sudah nampak capek. Pulanglah kami dengan kepuasan hati, terutama saya yang baru pertama kali menyaksikan langsung lomba perahu naga dan segala pernik perayaan Pe Cun. Sebenarnya puncak perayaan Pe Cun adalah hari ini, 6 Juni 2011 di mana tengah hari akan diadakan sembahyang bersama, memberdirikan telur ramai-ramai, dan juga melepas bebek ke Cisadane.

Terima kasih sudah membaca.

TAUTAN :

  1. http://baltyra.com/2011/06/06/pesta-rakyat-pe-cun-2011/
  2. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/58050 [AK Bromokusumo]
Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/855-perayaan-pe-cun-2011-tangerang

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto