A+ A A-

Makam Genghis Khan di Mongolia

  • Written by  Agah Nugraha
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

¨AKU ada janji dengan Khan, bukan sembarang Khan. Akan tetapi, ia yang memimpin pasukannya melintasi gurun, menyerbu bagaikan angin puting beliung, menaklukkan negeri-negeri di Asia Tengah, sampai ke Eropa Timur. Ya, dialah Genghis Khan, sang pembangun kekaisaran terbesar di dunia.

Budaya-Tionghoa.Net | BEGITU sepenggal tulisan Pam Logan yang dimuat dalam majalah Action Asia. Pam adalah warga Amerika Serikat, petualang sekaligus direktur Research For The China Exploration And Research Society. Seperti yang tercermin dalam tulisan di atas, ia pengagum Genghis Khan. Pam pun pergi bertualang ke Mongolia dengan mengendarai sepeda.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Ia mengayuh pedal sepedanya mulai dari wilayah Tiongkok, melalui Provinsi Yunan, Sichuan, Qinghai, Xinjiang, terus menuju utara, mengarungi Gurun Gobi, menuju tujuan pedalaman Mongolia. Andai Anda pun berminat menjelajahi Mongolia, namun dengan mengendarai kendaraan bermotor, Anda pertama harus pergi ke Beijing dulu.

Dari Ibu Kota Tiongkok ini, tersedia kereta api yang akan menempuh jarak 14 km menuju Dengsheng, yaitu Ibu Kota Provinsi Ordo, kawasan Mongolia yang paling dekat dengan Tiongkok.

Dari kota ini, Anda bisa menyewa kendaraan bermotor atau barangkali Anda ingin seperti Pam, mengayuh sepeda gunung? Kalau begitu, pahami dulu karakter alam gurun pasir. Namun, ada kendala apabila berpetualang ke Mongolia, yaitu masalah komunikasi karena rata-rata orang Mongolia tidak mampu berbahasa Inggris. Uniknya, orang Mongolia banyak menguasai bahasa Jepang. Boleh dikata bahasa Jepang menjadi bahasa ketiga setelah bahasa Mongolia dan Mandarin.

Ketika Anda mengayuh sepeda, lalu kemalaman, jangan harap Anda menemukan penginapan atau hotel. Namun tak usah khawatir, banyak rumah penduduk yang bersedia menampung Anda, orang Mongolia termasuk ramah terhadap pendatang. Bila nanti Anda sampai ke tujuan (Mausoleum Genghis Khan), dan perlu istirahat beberapa hari untuk memulihkan tenaga, Anda lagi-lagi akan kesulitan menemukan penginapan.

Nah, sebagai ganti penginapan, di kawasan Ejin Horo ini Anda bisa menempati yurts, sejenis tenda tradisional para nomaden, terbuat dari kulit hewan ternak. Tenda cukup besar ini sudah dikenal sejak zaman Genghis Khan. Setelah sampai di Mausoleum Genghis Khan, Anda harus menempuh dulu tujuh kota yang disebut ¡¨Seven Banners¡¨, antara lain Otog, Dalad, dan Jungar.

Dalam petualangan Pam yang menyita waktu beberapa minggu, sudah banyak yurts yang disinggahinya dan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Untuk bergaul dengan mereka, Pam tampaknya tidak kesulitan karena ia pakar sejarah. Jadi ia sudah paham karakter masyarakat Mongolia yang dipelajari lewat buku.

Kadang-kadang yurts itu berfungsi semacam kedai minum tempat Pam menegak baijiu, sejenis minuman beralkohol untuk menjamu para tamu. Pam juga didaulat pribumi untuk melantunkan lagu-lagu rakyat Amerika, Pam terpaksa tarik kerongkongan melantunkan lagu-lagu blus. Ia juga pernah menunggang kuda mengarungi padang pasir Gobi. Kuda yang ditungganginya dari jenis ras Mongol asli, badannya kecil namun tahan menanggung beban, ciri khas lainnya adalah ekornya yang panjang sampai mengenai tanah.

Beberapa jam, Pam menikmati tunggangannya, seolah sedang menghayati betapa dulu para tentara Mongol menyeberangi gurun, meninggalkan Tanah Airnya untuk menaklukkan banyak negeri. Menurut catatan sejarah, rahasia kesuksesan bala tentara Mongolia menjarah negeri-negeri yang jauh, terletak pada logistis militernya yang efisien. Mereka sembari berperang, sekaligus menggembalakan berbagai ternak yang beranak-pinak selama perjalanan yang panjang itu.

PRIA MISTERIUS


Setelah menempuh perjalanan sejauh 44 km, etape terakhir petualangannya, pria tangguh ini sampai di Ejin Horo, tempat peristirahatan terakhir sang kaisar legendaris itu. ¡¨Di antara semak-semak yang merimbun, aku melihat bangunan tinggi berwarna merah bata. Di balik pagar tembok itu, tersembul bangunan berwarna kebiruan dengan puncaknya berupa kubah berwarna keemasan. Itulah Mausoleum Genghis Khan, konon disitulah jasad sang kaisar penakluk terbesar itu dimakamkan.

Mausoleum itu tampak sakral dengan sebuah ruang besar agak gelap banyak diziarahi masyarakat Mo-ngolia.

Dalam keremangan di dalam, tampak patung dari batu pualam berwarna putih menggambarkan kaisar Genghis Khan sedang duduk di singgasananya. Tidak jauh di depan patung, berserakan berbagai benda ritual, seperti bunga, dupa, dan benda-benda ritual lainnya.

Seorang kuncen duduk menghadap para peziarah, ia mengenakan semacam jubah tradisional, bertopi kulit, dan mengenakan kaca mata gelap. Para peziarah itu sebagian duduk bersila, sebagian lagi di barisan depan duduk berlutut dalam posisi berdoa.

Konon menurut sejarah setempat, Genghis Khan sendiri yang memilih tempat untuk pemakaman jasadnya setelah meninggal kelak. Bersama para pengawalnya, Khan mengendarai kuda mencari tempat yang indah. Oleh sebab itu, ditemukanlah suatu kawasan di Ejin Horo, tempat kini ia dimakamkan. Namun, sebagian pakar sejarah meragukan Ejin Horo sebagai makam Khan karena versi itu mencatat para pengawal setia Khan memakamkan jasad junjunannya di suatu tempat yang sangat dirahasiakan.

Suatu malam Pam mengunjungi yurts yang berfungsi sebagai kedai minum. Saat ia duduk mencangkung sembari menghirup baijiu, datanglah seorang lelaki berbadan tegap berambut cepak, memakai celana dan jaket dari bahan denim. Ia menghampiri pria Amerika itu dan mengajaknya mengobrol. ¡¨Orang-orang memanggilku Otelai,¡¨ katanya pada Pam.

Dalam sekejap kedua pria itu terlibat pembicaraan hangat, seolah mereka itu dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Menjelang larut malam, pria Mongol itu berkata pada Pam, ¡¨Tuan berempatilah pada negeri ini, masyarakat di sini miskin dan terbelakang,¡¨ katanya.

¡¨Tenanglah sahabat, engkau masih seperti dulu, bersemangat,¡¨ entah bagaimana Pam bisa berkata begitu, seolah ia sudah lama mengenal Ortelai. Setelah Pam berkata begitu, telapak tangan Otelai terasa menghangat di pundak Pam, lantas dalam sekejap Ortelai tak tampak lagi.

¡¨Ke mana dia, permisi pun tidak? Aku lupa tadi tak menanyakan dari mana asalnya. Misterius, semisterius kadatangannya. Aku tak akan lupa kejadian di yurts itu. Barangkali lelaki itu arwahnya Khan,¡¨ tulis Pam menutup buku catatan petualangannya.

**

GENGHIS Khan tercatat dalam sejarah sebagai ¨The Great Warlord¨ atau ¨Sang Penakluk Terbesar¨ dalam sejarah kemiliteran. Jenderal-jenderal lain di dunia ini belum pernah tercatat mampu menaklukkan begitu banyak negeri seperti Genghis Khan. Genghis Khan dikenal sebagai orang barbar sejati, itu karena kekejamannya. Musuh-musuhnya tak pernah diberi pengampunan, asal itu lelaki dewasa maka tak ampun lagi akan dibantai tentaranya.

Dalam sejarah tercatat, setiap negeri yang ditaklukannya selalu dihiasi bukit-bukit kecil terdiri dari kerangka manusia. Namun, ia pun dikenal sebagai negarawan ulung, pembuat undang-undang tegas yang ditaati bala tentara, dan rakyat Mongol serta rakyat negeri yang ditaklukannya. Ia juga toleran terhadap budaya dan agama yang dipeluk negeri yang ditaklukannya. Taklukannya begitu luas terbentang mulai dari Beijing Cina sampai ke Timur tengah dan Eropa timur.

Ia lahir tahun 1167 sesudah Masehi, nama kecilnya adalah Te-mujin, anak salah seorang pemimpin salah satu etnik. Ayahnya dibunuh oleh etnik lainnya. Temujin melarikan diri lalu tumbuh menjadi pemimpin yang setelah dewasa sanggup menaklukan etnik-etnik lainnya, sekaligus menyatukannya. Ia menggembleng bala tentara yang solid.

Negeri pertama yang ditaklukannya adalah Tiongkok  pada tahun 1215. Setelah itu, negeri-negeri lainnya berjatuhan seperti teori domino, mulai dari Beijing sampai Hunggaria. Tak heran bila ia dinobatkan sebagai Universal Ruler, ¡¨penguasa dunia¡¨. Sang penakluk itu wafat tahun 1227 di saat-saat ia tengah mengampanyekan penaklukan negeri berikutnya. (Agah Nugraha)***

TAUTAN INTERNAL :

  1. http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/1488 [Rinto]
  2. http://web.budaya-tionghoa.net/gallery-photoblog/883-fotografi-inner-mongolia-by-jee

Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/868-makam-genghis-khan-di-mongolia

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto