A+ A A-

Seri Tulisan Laozi [4] - TAO TEE CING

  • Written by  Hengki Suryadi
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Kitab terkenal Tao Tee Cing dari Lau Zi bersama I Cing (Kitab Perubahan) dan Lun Yu (Kitab Ujaran) dari Confucius merupakan tiga kitab serangkai yang dianggap mencapai puncak karya klasik Tiongkok yang bernilai tinggi. Tao Tee Cing merupakan suatu kitab yang pendek, terdiri dari kurang lebih lima ribu kata, sehingga sering juga disebut 'Naskah Lima Ribu Tanda', dan oleh kebanyakan penerjemah dibagi atas 81 bab pembahasan.

Seri Tulisan Hengki Suryadi Mengenai Laozi :

{module [201]}

Tao Tee Cing dapat diartikan sebagai Kitab tentang Jalan Kebenaran , yang secara harfiah, masing-masing kata berarti; Tao, suatu sumber dari segala benda yang tidak dikenal, suatu Jalan yang menciptakan kehidupan yang melingkupi keseluruhan benda dan makluk di dunia dalam bentuk fisik, mental, dan spiritual. Tee, merupakan perwujudan dari Tao, adalah merupakan kekuatan dari Tao yang terwujud dalam berbagai fenomena di alam semesta ini. Berbagai ciri kehidupan yang mengikuti sifat alaminya merupakan bukti dari Tao yang direalisasikan oleh Tee, seperti harimau yang mengaum, teratai yang berbunga, semilir angin. Demikian juga dengan manusia yang berjuang untuk hidup, dan saling menyayangi, adalah merupakan suatu pencerminan dari kebutuhan dasarnya yang mengarahkan dan menciptakan intuisi, kesemuanya itu merupakan bentuk kebajikan dari Tee. Perkataan Cing sendiri adalah merupakan suatu judul penghargaan yang diberikan terhadap suatu karya klasik, yang mana dapat diterjemahkan sebagai kitab.

Menurut sejarahwan terkenal Tiongkok, Suma Xian, Tao Tee Cing ditulis sendiri oleh Lau Zi atas permintaan dari Yin Hsi seorang penjaga pintu gerbang yang bertemu Lau Zi pada saat Beliau bermaksud meninggalkan kehidupan duniawi menuju ke Barat (India/pegunungan Himalaya). Pada awalnya Lau Zi tidak berniat untuk menguraikan pencapaiannya ke dalam bentuk tulisan, karena menyadari bahwa Tao adalah sulit diuraikan, dan terdapat banyak manusia yang diliputi oleh sifat ke-aku-an, kebencian, dan nafsu keduniawian yang sulit dilepaskan. Penolakan tersebut hampir dapat dipersamakan dengan saat Buddha Gautama mencapai Pencerahan Sempurna, dimana Beliau juga ragu adanya manusia yang mampu mencerna dan menjalankan ajaranNya. Tetapi atas permintaan yang tulus dari Yin Hsi, akhirnya Beliau menunda perjalanannya, dan selama tiga hari menyelesaikan satu kitab yang dinamakan Tao Tee Cing yang terdiri dari 5.250 huruf saja.

Sesudah itu Beliaupun meninggalkan kehidupan duniawi dan tidak pernah terdengar kabar beritanya lagi. Yin Hsi sendiri diceritakan mempelajari Tao Tee Cing dan berhasil mencapai alam Dewata sebagai seorang dewa [Hsien], dan juga kemudian mengikuti jejak gurunya menuju ke Barat, dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Catatan dari Suma Xian menyatakan bahwa Yin Hsi juga sempat menulis satu kitab yang menguraikan mengenai metode meditasi Taois dengan judul Kuan Yin Zi.

Terlepas dari berbagai kontroversi yang ada mengenai asal dan pengarang  dari Tao Tee Cing tersebut, namun karya yang luar biasa ini telah dipelajari selama berabad-abad di berbagai negara. Berbagai penerjemahan juga dilakukan dalam berbagai bahasa. Kebanyakan pada mulanya para penerjemah Tao Tee Cing ataupun yang membacanya sekali tanpa menghayati secara mendalam, akan menemui bahwa ungkapan-ungkapan yang ada sangatlah samar dan aneh, atau seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum (paradoks).

Tetapi apabila kita merenungkannya dan menghayatinya secara mendalam (intuitif) dan benar, akan dapat disadari bahwa terdapat suatu intisari dari Kebenaran yang begitu sempurna. Tao Tee Cing dapat dikatakan merupakan suatu rangkaian perkataan bijak yang dapat diterapkan sampai kehidupan saat ini, dan sangatlah relevan dengan cara pikir dan cara menjalani kehidupan kita. Kitab ini dapat dibaca oleh berbagai kalangan profesi dan kepercayaan agama, karena tidak menunjuk kepada Pencipta ataupun Tuhan tertentu. Selain tidak menyinggung dogma, juga sama sekali tidak mengaitkan adanya dewa ataupun roh tertentu.

Apa yang diuraikan adalah Jalan Kebenaran Sejati, suatu jalan pengolahan diri yang membutuhkan pendalaman intuisi. Tao dapat diumpamakan seperti air gunung yang mengalir ke sungai, terus ke laut membawa serta semua benda yang ada bersamanya.

Bersambung.

Budaya-Tionghoa.Net |


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.



Last modified onThursday, 02 August 2012 05:47
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/936-seri-tulisan-laozi-4-tao-tee-cing

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto