A+ A A-
Han Hwie Song

Han Hwie Song (35)

Dr Han Hwie-Song : Perjalanan Kami Pulang Kekampung Halaman

Budaya-Tionghoa.Net | Pada tanggal 30 November kami berangkat dengan kapal udara Lufthansa ke Jakarta, esoknya kira kira jam 18.30 kami sampai di lapangan udara Soekarno-Hatta. Flight ini kami alami dengan nyaman. Kesatu karena tidak banyak kami di bangunkan untuk diberi santapan atau minuman, dan kedua sesudah kapal udara terbang dari airport  Frankfurt dan sesudah mendapatkan makan malam, saya makan satu kapsul obat tidur. Aku tidur kira kira selama 6 jam. Aku bangun dan penerbangan masih tinggal kira kira lima jam lagi sebelum kapal udara mendarat di Lapangan Udara Soekarno-Hatta. Segi negatifnya dengan penerbangan ini bagi penumpang dari Belanda ialah kami harus naik kapal udara dahulu dari Schiphol, Amsterdam ke Frankfurt dan disana menunggu kira kira dua setengah jam sebelum boarding ke kapal udara yang terbang ke Jakarta. Meskipun demikian kami tokh memilih Lufthansa karena selama aku terbang dengan penerbangan Jerman ini belum pernah terlambat lebih dari setengah jam. Kedua harganya lebih murah dari KLM atau Singapore Airlines.

Read more...

Cinta Kasih Revisited

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak buku-buku roman yang aku baca, terutama roman-romani klasik dan suka -duka dari cinta, buku-buku seperti “Sampek Ing Tay”, “Catatan Kamar Barat”, “Jin Bing Mei”, “Hong Lou Meng”, “Huangdi Neijing” dan berbagai buku-buku roman Barat dan India. Dari buku-buku dan pengalamanku sendiri dapatlah disimpulkan bahwa dasar dari cinta-kasih antar manusia adalah interaksi dan komunikasi.  Kedua hal inilah yang akan membuka pintu antara dua pemuda dan pemudi yang saling cinta. Mengapa demikian? Ini disebabkan karena kebanyakan orang pada semula takut untuk membuka apa yang mereka pikir, keinginannya dan membicarakannya. Takut kalau apa yang dikatakan itu akan berdampak negatif terhadap relasinya yang masih belum kuat. Padahal apabila kita akan mensukseskan relasi itu seharusnya kita buka semua secara jujur. Keterbukaan perasaan hati itulah yang kadang kadang ditunda-tunda karena keraguannya. Juga semua sisi-sisi dari karakternya ditutup-tutupi, takut kalau sifat-sifatnya yang aneh ketahuan.

Read more...

Kong Fu Zhi [2] - RajaTanpa Mahkota Dan Insting Seorang Demokrat

Budaya-Tionghoa.Net | Jika kita membaca buku-buku Kong Fu Zi dan kita hubungkan dengan politik pada jaman modern ini, dapat kita simpulkan tidak berkelebihan bahwa secara Insting Kong Fu Zi menurut saya adalah seorang demokrat; betapa tidak, Beliau mengatakan: “ All men are brothers” atau semua orang itu adalah saudara. Beliau juga mengatakan: ”secara alamiah semua orang adalah sama. Perbedaannya disebabkan karena pendidikan dan lingkungan dimana mereka dilahirkan atau dibesarkan”. Confucianisme juga mengatakan bahwa: ”apabila seorang raja salah urus dan rakyat tidak dapat makan, karena kemiskinan, maka mandat (Ming) yang diberikan oleh Thian (Tuhan), mandat itu harus diputuskan (Ke) dan Ke-ming dalam bahasa mandarin, juga sekarang berarti revolusi”. Karena kritik-kritik Kong Fu Zi yang berani, juga terhadap raja, maka tidak ada suatu raja yang mau memakai Beliau sebagai perdana menteri. Lebih baik mereka memakai salah satu muridnya juga pandai tetapi setia  dan hormat pada rajanya. Tidak ada satu raja yang berani menghukum atau membunuh Kong Fu Zi, karena mereka tidak mau didalam sejarah, dialah satu-satunya raja yang membunuh Kong Fu Zi. Kong Fu Zi pada prakteknya adalah raja yang tidak bermahkota. Lain dengan di Barat, Socrates dibunuh oleh rajanya dengan minum racun.

Read more...

Menulis Tentang Kebijaksanaan Ibu

Budaya-Tionghoa.Net | Beberapa penulis ternama Tiongkok menulis tentang ibunya, seperti ibu dari Kong Fu Zi (Confucius), Mengke (Mencius), juga ibu dari Chiang Kai-Shek, Hu Shih dan masih banyak lagi. Ini karena mereka mendapatkan pendidikan dan kecintaan terutama dari ibunya, dan kebanyakan dari penulis-penulis ini juga karena ayahnya meninggal sewaktu mereka masih muda. Dari cerita-cerita ini menunjukkan bagaimana ibunya membuat baju untuk anak-anaknya dari baris ke baris sampai jauh malam, agar anaknya tidak kedinginan; atau sambil menunggu anaknya yang sedang bepergian berbulan-bulan belum pulang.

Read more...

Seorang Intelektual Li Bo - Analisa Dunia Materi & Dunia Fenomenal

Budaya-Tionghoa.Net | Pada waktu aku beberapa tahun yang lalu datang ke Surabaya dan diminta untuk berbicara mengenai riwayat orang-orang Tionghoa Indonesia, aku bertemu dengan teman-temanku lama yang tidak aku sangka sebelumnya. Mereka ada yang datang dari Hongkong, Beijing, Australia dan tentunya dari Surabaya waktu mudaku. Mereka ada yang menjadi pedagang, pegawai bank, direktur pabrik, aktivis masyarakat, konsultan, dokter, insinyur, ahli ekonomi dan lain lain . Kami sangat gembira dan membicarakan pengalaman kita masing-masing, dari Tempo Doeloe, sekarang dan bagaimana pandangan mereka mengenai hari depan kita.

Read more...

Renaisans Dan Pencerahan Di Tiongkok [1]

Budaya-Tionghoa.Net | Ini kali kunjungan saya ke Republik Rakyat Tiongkok tidak kami lihat dari sudut pandang seorang turis yang datang menikmati pemandangan, tempat-tempat rekreasi dan kenikmatan makanan, tetapi saya melihat penghidupan ekonomi, kebudayaan, politik, dan masyarakat.
Kunjungan kali ini ke Tiongkok menyimpulkan pada saya dua perkataan, yang sebetulnya gerakan di sejarah Eropa ialah Renaissance (Fu Xin), dan Enlightenment (verlichting).

Read more...

Totok Dan Peranakan

Budaya-Tionghoa.Net | Saudara-saudari yang budiman, Saya rasa persoalan Totok dan Peranakan hanya persoalan generasi seniornya. Generasi mudanya seperti yang sering saya katakan dalam artikel-artikel saya identitas mereka sudah saling mendekati kalau tidak sudah sama, atau saya katakan sudah menjalaini proses "peranakanisasi" dari anak-anaknya Totok.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto