A+ A A-
Sobron Aidit

Sobron Aidit (26)

Dua Orang Pengarang Besar - Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer

Budaya-Tionghoa.Net | Ada juga saya merasa senang dan bangganya walaupun sedikit. Dalam kehidupan saya selama men-jadi pengarang yang saya mulai pada usia 13 tahun, saya mengenal secara dekat dan bahkan satu rumah - satu atap - dengan Chairil Anwar pada tahun 1948 dan 1949. Ketika Chairil meninggal pada April 1949, saya berteman baik dan dekat dengan Pramoedya Ananta Toer.

Read more...

Minggu Pagi Masak Bersantai - Sop Buntut dan Guo Ba

Budaya-Tionghoa.Net | Sop buntut sudah dikenal dan terkenal di kampung kita. Sangat digemari tetapi tidak mudah membuatnya. Dalam pengertian sangat lama baru jadi. Dalam panci presto yang sangat panas karena bagaikan diperas itu, memerlukan satu sampai dua jam. Dalam panci biasa, paling sedikit sampai empat jam. Juga memerlukan kesabaran, karena menunggu begitu lama. Sop buntut yang enak, pabila sudah agak lunak, apinya lalu dikecilkan. Nah, menggangu syaraf lagi - harus lagi-lagi bersabar. Sekali-kali jangan karena mau cepat, lalu apinya dibesarkan. Itu pemaksaan namanya. Dan apa saja yang sifatnya dipaksakan, tidak bakalan enak! Biarlah yang wajar-wajar saja.

.

Read more...

Bau Wellington di Paris [III]

 

Budaya-Tionghoa.Net | Setelah saya menduda selama hampir 15 tahun, dengan kedatangan Eleane ini ke rumah saya selama 10 hari itu, terasa seakan-akan, oh begitu rasanya kalau punya istri kembali ya. Enak juga ya. Diladeni seperti ketika istri masih hidup itu. Dimanjakan dan memanjakan. Rasanya hidup ini betapa nikmatnya - sedap dan selalu ada getaran perasaan, bagaikan tali kecapi cinta. Tapi saya menyadari sepenuhnya, hidup yang begini ini takkan lama - tidak mungkin lama dan tidak boleh lama.

.

Read more...

Bau Wellington di Paris

Budaya-Tionghoa.Net | Kata orang, pabila rumah sering ditinggalkan - kosong, lalu pada suatu kali  kita datang dan menginap,  ada-ada saja berupa gangguan. Mugkin ada segi betulnya, walaupun hanya  secuil saja. Rumah saya, atau lebih tepat aparteman saya memang di Paris.  Tetapi kehidupan saya lebih sering dan lebih lama  di Holland . Perbandinganya begini, 3 minggu di Holland, 1 minggu di Paris.

Read more...

Catatan Sekitar Prof Dr Prijono

Budaya-Tionghoa.Net | Yang saya maksud Pak Pri yalah Prof Dr Prijono, ketika itu menteri PD dan K, lalu Dekan Fakultas Sastra UI, lalu sebagai Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Tiongkok. Nah, yang belakangan ini bikin saya banyak berhubungan dengan Pak Pri. Sebab dia Ketuanya dan saya Sekretarisnya.

Biasanya sebelum kami mulai rapat, kami ngobrol dulu. Dan bagian adegan ini sangat asyik. Sebab ternyata Pak Pri sangat pandai ngobrol yang semuanya menarik dan asyik kita mendengarkannya. Orangnya ramah - terbuka - sangat komunikatif dan nah yang ini,- dia itu - sebagai pengganti beliau,- enak diajak ngomong - sangat tidak angker!

 

Read more...

Bantulah Saya! Saya Memang Memerlukan Bantuan

Budaya-Tionghoa.Net | Suatu kali saya menginap di rumah adik saya di Hoofddorp - Holland. Menginap begini sudah beberapa kali. Dan kami ngomong - ngobrol - disamping melepas kekangenan. Kami yang dulu 7 bersaudara, kini tinggal tiga. Murad, abang kami yang di Depok, Asahan Alham ( dulu Asahan Aidit ) dan saya. Tiga saudara ini dengan tiga kewarganegaraan. Abang kami warga RI - adik saya warga Belanda, dan saya warga Perancis. Tragis kan! Semua ini ada sejarahnya - ada asalnya. Yaitu sejarah-gelap-bangsa tahun 1965 itu, yang penciptanya sampai kini masih segar-bugar, satu-satunya diktator di dunia ini yang paling beruntung!

Read more...

Apa Itu Ukuran Bahagia? [1]

Budaya-Tionghoa.Net | Teman baik saya yang di ujung dunia - Australia sana - mengajukan pertanyaan kepada saya, yang kira-kira mempersoalkan apa itu yang disebut bahagia. Katanya memulai riwayat maka sampai kepada perkara yang saya tuliskan ini "Saya kebetulan pernah menjadi relawan di kota Mebourne buat sebuah organisasi yang bernama <Youth Suicide Prevention Society> - dengan mottonya Here for life. Organisasi ini mengurus anak-anak muda yang pada mau bunuh diri"'.

Read more...

Tong Kosong [Nyaring Bunyinya]

Budaya-Tionghoa.Net | Sebenarnya saya belum begitu lama mengenal Mas Kusno. Tapi saya sudah mulai tertarik kepadanya. Sebab dia selalu ngomong dan bercerita tentang hal-hal besar. Yang bukan urusan biasa sehari-hari, bukan hal sepele. Apa dia bilang? Katanya, kita yang hidup di luarnegeri ini, jangan hanya enak-enak saja, menikmati kehidupan sehari-hari, tanpa mengingat keadaan teman-teman dan anak-anak miskin di tanahair. Ingat anak-anak jalanan - ingat anak-anak yatim-piatu - anak-anak miskin yang hidupnya bukan hanya tidak mampu bersekolah, tetapi mau hiduppun susah! Sudah seharusnya kita ini mengulurkan tangan buat membantu mereka. Kiita harus berbuat demi anak-anak itu. Masaksih kita tidak bisa menyumbang barangkan sedikit - memisahkan uang pendapatan kita barangkan satu dua euro - atau seberapalah semampu kita.

Read more...

S A K I L [1]

Budaya-Tionghoa.Net | Cukup banyak anak-anak di sekitar perkampungan kami. Umur mereka sekitar usia SD - antara 6 sampai 9 tahun. Anak-anak ini saling berteman, tetapi juga saling berkelompok. Cucu saya, Berry, berkelompak dengan anak-anak Belanda-totok. Namanya Yasper, adiknya Timmy laki-laki, lalu adiknya perempuan Fleure. Berry termasuk kelompok ini.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto