A+ A A-

BerkeTuhanan menurut Taoisme

BerkeTuhanan menurut Taoisme

 

          Pada umumnya masyarakat Indonesia beranggapan bahwa Taoisme adalah aliran filsafat, hal ini karena pengertian agama yang diyakini banyak masyarakat Indonesia itu berbasis pada pandangan baku tentang pengertian agama yang harus memiliki : nabi, kitab suci, Tuhan,  alam kematian.Selain hal itu juga karena Taoisme sebagai agama tidak bersifat missionaris, dan banyak yang sudah melebur dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Satu pernyataan menarik dari pastur G.Van Schie “keseluruhan mitos,ritus, dan tata hidup yang merupakan pernyataan serta pengungkapan kepercayaan manusia, dan bahwa GAYA MISTERIUS mempengaruhi semua aspek kehidupannya”. Dalam pembahasan yang dibawakan megenai berkeTuahanan ini dari pandangan dari Taoisme sebagai agama dan tetap tidak bisa dipungkiri bahwa pandangan Taoisme sebagai agama itu tetap dipengaruhi oleh filsafat Taoisme.

Dalam makalah ini, penggunaan Dao dengan d huruf besar adalah untuk menunjukkan sesuatu yang absolute, agung, mutlak dan mulia sedangkan dao dengan d huruf kecil untuk menunjukkan arti sebagai jalan, hukum atau dalil.

BerkeTuhanan dalam Taoisme itu luas dan mendalam karena menyerap berbagai elemen. Semoga paparan ini bisa memberikan satu wawasan yang bisa memperluas pandangan kita semua terutama dalam memandang semua yang ada dalam alam semesta ini dan harmonisasinya demi kebaikan semuanya.

 

SEKILAS AGAMA TAOISME

            Taoisme mendapat pengaruh dari kepercayaan shamanisme purba Tiongkok dengan para pendeta yang disebut wuxi[1], kemudian konsep keabadian sebagai xian, dipengaruhi pemikiran Huanglao. Taoisme sebagai agama memiliki dogma bahwa ada 3 tokoh yang membabarkan agama Taoisme, pertama adalah Huangdi ( kaisar Kuning )[2], kedua adalah Lao Zi[3], ketiga adalah Zhang Daoling[4]. Kitab-kitab Taoisme yang utama adalah Daode jing 道德經, kitab Zhuang Zi[5] 南華真經, kitab Taipingjing 太平經, Taishang Ganyingpian 太上感應篇, Qingjing jing 清靜經dan banyak kitab lainnya[6].

Dalam perjalanan sejarahnya, filsafat Taoisme pernah menjadi system pemerintahan pada dinasti Han dan salah satu yang diterapkan adalah : wuwei jingji 無為經濟 ( ekonomi non intervensi ), dimana ini diterapkan oleh Liu Bang 劉邦, kaisar pertama dinasti Han. Hal ini dilakukan atas saran Lu Jia 陸賈 ( 240 BCE- 170 BCE )untuk mengatasi perekonomian negara yang berantakan. Dari filsafat kemudian berkembang menjadi agama dan dalam sejarah Tiongkok,  dan ada dua clan marga yang disegani oleh kerajaan terkait dengan kepercayaan dan agama. Pertama adalah marga Kong 孔, kedua adalah marga Zhang 張. Marga Zhang yang menempati Longhushan 龍虎山 ( gunung Naga Harimau ) adalah keturunan dari Zhang Daoling, sedangkan marga Kong mayoritas di Qufu 曲阜 adalah keturunan Kong Zi. Taoisme terutama aliran Zhengyi menghormati guru langit dan hingga sekarang ini guru langit sudah generasi ke 65. Para guru langit itu harus memiliki darah keturunan langsung dari Zhang Daoling dan Longhu shan hingga kini menjadi tempat pengtasbihan pendeta Tao aliran Zheng Yi.

Lu Xun ( 1881-1936 )[7] mengatakan bahwa akar dari Tiongkok ada di Taoisme dan menurut Josep Needham ( 1900-1995 )[8], peradaban Tiongkok tanpa Taoisme bagaikan pohon tanpa akar. Pernyataan itu bukan dibuat sembarangan tapi memiliki dasar dan kenyataannya bahwa Taoisme memiliki pengaruh yang amat kuat tapi tidak terasa bahwa Taoisme dalam perkembangan sejarah Tiongkok memberikan kontribusi besar dalam pembentukan budaya, iptek, system kepercayaan dan banyak hal lainnya.Dan menjadi salah satu pilar penting dalam peradaban Tiongkok, dimana pilar lainnya adalah  Ruisme[9] yang menjadi dasar negara selama hampir 2000 tahun.

 

Dasar-dasar dalam TAOISME

            Sebelum memasuki dasar-dasar Taoisme, perlu tahu arti kata dao dan de dari sudut etimologi.

Dao adalah gabungan dari dua akar kata, yaitu chuo ( melangkah, jalan )  dan shou ( kepala/pertama). Artinya melangkah dengan kepala tegak, bisa juga diartikan langkah pertama ( utama ), langkah yang memimpin. Dan de 德gabungan dari : chi yang berarti (sedang ) berjalan,zhi yang berarti lurus, xin yang berarti kondisi batin atau hati[10].

            Seperti diungkapkan di atas bahwa Taoisme menyerap berbagai komponen diluar filsafat Tao dan kemudian menjadi dasar mereka terutama dalam memaknai apa yang menjadi adi kodrati atau Tuhan. Kita selalu bertanya-tanya, bagaimana bentuk Tuhan, apa nama Tuhan, mahlukkah, dan beragam pertanyaan yang lainnya meliputi benak manusia dalam menjelajahi dunia spiritual. Tentunya jawaban beragam dan jawaban beragam itu tidak perlu dipertentangkan mana yang benar. Karena sesuai dengan pemikiran para Taoist berdasarkan kitab Daodejing bab 1 : “Nama yang diberikan bukanlah nama yang sesungguhnya”, disini kita bisa melihat bahwa nama itu tidak ada, nama hanya persepsi manusia untuk membedakan dan membangun suatu pemikiran “pembedaan” antara satu dengan yang lain. Bahwa dengan adanya nama maka semua mahluk itu menjadi ada dan itu berada dalam konsep pemikiran manusia. Dalam pengertian bahwa penamaan itu yang membuatnya “seolah-olah” hadir dan hadirnya itu juga masih dalam persepsi si pemberi nama atau juga dalam persepsi yang meyakini “nama” itu.

Semua saat memberi pengertian atau mencoba mendeskripsikan apa yang disebut “Tuhan” dan “berkeTuhanan “ tentunya memiliki dasar-dasar, baik dari sejarah; budaya; system religi dan lainnya. Dan dibawah ini antara lain dasar-dasarnya di Taoisme.

Pertama : Jika Tuhan menjadi sumber segalanya, maka Taoisme juga mempercayai bahwa sumber segalanya adalah Dao. Daodejing bab 25 :

”Ada sesuatu “benda” bercampur baur, sudah ada sebelum langit bumi terbentuk, tak terdengar suaranya dan tak terlihat wujudnya, tak mengandalkan apapun berdiri sendiri ( absolute ), bergerak tiada mengenal henti, dapat disebut bunda langit bumi. Ku tak tahu namanya, (aku ) paksa memberi nama Dao, kupaksakan menyebutnya Da ( besar )[11].”

Kedua : Falsafah yinyang[12], seperti dalam Daodejing bab 1, “tak bernama” ( 無名 ) awal langit dan bumi, “bernama” ( 有名 ) bunda dari segala benda. Penamaan itu memiliki fungsi  pembedaan maka semua bisa menjadi berbeda dan disitulah mulai lahir kategorisasi. Misalnya mengenal cantik maka akan mengenal apa yang disebut buruk. Mengenal panjang maka akan ada lebar, maka ada ruang, dan seterusnya. Salah satu dasar dalam Yijing ( kitab perubahan ), “satu yin dan satu yang itulah yang disebut dao”. Dalam pengertiannya bahwa semua mahluk pasti memiliki unsur yin maupun yang[13]. Dan dalam pertemuan antara yin dan yang itu pasti melahirkan sesuatu yang baru tapi tanpa menegasi atau menghapuskan yang lainnya.

Ketiga : Semua benda memiliki kesadaran ( kehidupan ) atau animisme. Dalam pengembangannya, diperluas lagi oleh Zhuang Zi bahwa semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki daya guna. Karena memiliki daya guna, maka semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki hak untuk “ada”. Bukanlah hak manusia untuk menilai “berguna” dan “tidak berguna” suatu benda. Dan masing-masing sudut pandang dalam menilai kegunaan bisa beragam.

Keempat : Panentheisme dan pantheisme ada dalam Taoisme, Dao adalah bunda dari segalanya dan juga Dao ada di segala benda di seluruh alam semesta. Semua yang ada adalah emanasi dari Dao. Dao juga bisa berarti dalil atau hukum alam. Dalam komentar Kong Zi untuk kitab Yijing adalah ,“ Taiji ( maha kutub ) berada di segala benda, tidak ada benda yang tidak bisa dimasukinya dan tidak ada benda yang bisa menampungnya”. Dan  selain itu taiji adalah sumber dari segalanya dan juga mencakup segalanya.

Kelima : Dao adalah bentuk luaran dan de[14] adalah bentuk isian, dimana de adalah jejaring yang “tersembunyi” di dalam keseluruhan alam semesta ini yang berkesinambungan. Dao dan de bagaikan dua sisi mata uang dalam satu kesatuan. Jika dao itu adalah alam itu sendiri beserta segala isinya, maka De adalah yang mengisi “ruang-ruang antara” segala yang ada di alam semesta ini.

 

BERKETUHANAN DALAM TAOISME

            Dengan lima point di atas itu mempengaruhi agama Tao dalam membangun system kepercayaan mereka. Umumnya masyarakat melihat umat Tao adalah politheisme, penyembah bintang, bisa saja pandangan ini lahir karena umat Tao sendiri banyak yang bersifat pragmatis dalam kehidupan spiritualnya, dan dalam Taoisme hal itu wajar-wajar saja karena dalam Daodej ing bab 79  : “Jalan Langit tidak memihak ( adil ), abadi bersama  dengan orang yang melaksanakan kebajikan”[15]. Semua benda memiliki daya guna dan layak dihormati serta disembah, semua benda adalah emanasi dari Dao itu, tiada perbedaan antara satu dengan yang lain. Saat langit dan bumi terbentuk, ada kesadaran-kesadaran yang hidup di langit dan bumi, kesadaran yang bagian dari pancaran Tao itu kemudian disebut dewata dan semua memiliki fungsi dan daya guna dalam pergerakan alam semesta ini.

Sesuatu yang absolute; tak terkatakan;  tak terbentukkan, tentunya tidak bisa digambarkan tapi pada prinspinya manusia memerlukan satu “jangkar” dalam pikiran mereka untuk menjadi suatu cara sederhana untuk memahami apa yang disebut Dao. Untuk itu ada sosok yang tertinggi dalam Taoisme, yaitu Taishang laojun ( 太上老君 ). Kata ini diambil dari kitab Daodejing bab 17 “Pemimpin bajik yang teragung dan tertinggi ( 太上 )”[16].  Taishanglaojun ini adalah emanasi dari DAO itu sendiri dan Laozi salah satu inkarnasi dari Taishanglaojun. Dan bab 17 ini berkorelasi dengan Daodejing bab 42[17], sehingga bisa memahami ada sanqing atau trimurni Taoisme[18], dimana Taishanglaojun adalah salah satu dari tiga itu. Jadi konsep dewata tertingginya sendiri tidak lepas dari Daodejing. Karena itu adalah “jangkar” dalam memudahkan manusia memahami Dao, maka perlu direnungkan kata-kata Hui Neng[19] yang kurang lebih ujarnya adalah : “Jari hanya menunjuk rembulan dan dengan demikian jari bukanlah rembulan, hanya sebagai pengarah saja.”

Kata bunda dalam Taoisme disebut berkali-kali dan digambarkan sebagai bunda dari segala benda. Ini menunjukkan Dao itu lembut; keibuan, sehingga menekankan kelembutan sebagai factor penting, selain itu adalah sifat alamiah, tidak memaksa dan merebut. Dan ada dalil  hukum itu bersifat mutlak dan adil terhadap siapapun, jika seseorang terkena virus flu, dan kondisinya memungkinkan virus itu menyerang, maka siapapun dia akan terkena flu. Karena itu dikatakan dao ( virus flu ) tidak memilih hanya karena factor agama, ras, suku, etnis. Untuk tidak terkena hukum seperti itu maka kondisi ideal nan harmonis harus dijaga, diperbaiki dan diperjuangkan. Mereka yang menjaga kondisi-kondisi ideal dan harmonis itu adalah dewata dan siapapun bisa menjadi dewata karena upaya menjaga dan memperjuangkan serta memperbaiki kondisi ideal nan harmonis itu.

Dan umat Tao dalam menjalankan itu harus bisa “Menghormati Langit dan Bumi, para suciwan, leluhur dan menghargai  dan mencintai semua mahluk” (敬天地禮神明祀祖先﹐慈心于物). Hal ini karena semua adalah emanasi dari Dao, jadi semua manusia di bumi ini adalah Taoist, hanya cara mereka memaknai Dao beragam, yang utama adalah dalam memaknainya itu adakah De ? Jika ada maka mereka adalah Taoist sejati dan bisa menyatukan diri dengan Dao. Dan patokannya ada dalam Daodejing bab 67  : “  Ku memiliki tiga pusaka, genggam erat dan jalankan. Pertama adalah welas asih, kedua sederhana ( hemat rendah hati ), ketiga jangan mendahului dunia.”

 Dan Dao adalah  sesuatu yang mutlak, tak terkatakan, tak terbayangkan, jadi jika kata Dao diganti dengan kata Tuhan, tetap memiliki pengertian yang sama. Jadi semua yang ada memiliki unsur berkeTuhanan dan ironisnya manusia menggenggam erat-erat “jangkar-jangkar” itu, bagaikan orang yang memandang jari yang sedang menunjuk bulan itu adalah bulan itu sendiri tanpa mau melihat arah jari yang menunjuk bulan. Semoga dengan paparan ini, kita semakin menyadari bahwa kita semua ada dalam satu jalinan yang maha besar dari sesuatu yang maha agung, dan kita sebut adalah Tuhan.

 

 

           

         



[1] Wuxi 巫覡 adalah para pendeta perempuan ( wu ) dan pria ( xi ) yang bertugas sebagai penghubung antara manusia dengan mahluk adikodrati dan berfungsi sebagai pendoa juga.

[2] Huangdi atau kaisar Kuning ( 2697 BCE ), dipercaya sebagai tokoh purba yang membentuk peradaban Tiongkok dan menjadi bapak bangsa orang Tionghoa ( khususnya etnis Han ).

[3] Lao Zi Lao Zi alias Li Er 李耳, hidupnya diperkirakan antara 571-471 BCE , diyakini oleh umat Tao sebagai penulis kitab Daode Jing.

[4] Zhang Daoling ( 34-156 CE ) adalah pendiri Taoisme sebagai agama dan menjadi guru langit generasi pertama.

[5] Zhuang Zi ( 369-286 BCE ) dalam Taoisme disebut Nanhua manusia sejati 南華真人 dan kitabnya disebut Nanhua zhenjing 南華真經.

[6] Kitab-kitab Taoisme dikanonisasi dan disebut kanon Tao 道藏yang terdiri dari kumpulan kitab-kitab yang dianggap memiliki ajaran Taoisme.

[7] Lu Xun adalah penulis modern dari Tiongkok dan karya-karya memberi inspirasi bagi banyak masyarakat Tionghoa.

[8] Joseph Needham adalah seorang sinolog yang membuat “Science and Civilazation in China” dalam tujuh volume.

[9] Ruism atau Conficiusme.

[10] Dao dan de ditekankan diawal agar memahami bahwa itulah dasar utama dari filsafat maupun agama Taoisme yang menggunakan kitab Daodejing sebagai kitab suci utama mereka.

[11] DDJ bab 25 萬物混成,先天地生。寂兮寥兮,独立而不改,周行而不殆,可以为天地母。吾不知其名,强字之曰:道,强为之名曰:大

[12] Yin yang adalah dua sifat yang berlawanan tapi saling melengkapi, tanpa ada salah satu maka tidak mungkin sesuatu ada.

[13] DDJ bab 42 : “ Semua benda memanggul yin dan memangku yang, ada pertemuan  (benturan ) dua energy itu dan dengan begitu bisa harmonis”万物负阴而抱阳,冲气以为和. Pengertian harmonis ini adalah dengan adanya dua pertemuan itu maka akan sesuatu yang baru dan berharmonisasi.

[14] De , secara umum diartikan kebajikan. Tapi kebajikan ini berkekuatan sehingga bisa berjalan dan berkesinambungan tiada henti.

[15] 天道無情常與善人

[16] Sebenarnya mengacu pada pemimpin yang terbijak dan teragung dan menjadi pertama, keberadaannya tidak disadari rakyat, pemimpin yang menjadi urutan kedua adalah pemimpin bijak dan agung sehingga rakyat berbondong-bondong mendekati dan mengaguminya. Pemimpin kelas ketiga adalah pemimpin yang ditakuti dan pemimpin terendah adalah yang tidak mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Jadi ini adalah tipe-tipe pemimpin.

[17] “Dao melahirkan satu, satu melahirkan dua dan dua melahirkan tiga, tiga melahirkan semua benda”

[18] Yuanshi tianzun, Lingbao tianzun dan Daode tianzun ( Taishang laojun ). Untuk memahami konsep ini, perlu ditarik dari tanggal lahirnya dari Sanqing ini yang berbeda-beda tapi memiliki makna mendalam. Yuanshi lahir pada tanggal winter solistice dan Lingbao pada summer solistice sedangkan Daode lahir pada tanggal 15 bulan 2, dimana itu adalah saat musim semi.

[19] Hui Neng ( 638-713 ) adalah guru besar Zen Buddhisme.

Read more...

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN[1]

Ardian Cangianto

IKA Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Abstrak

            Sejarah hubungan Tiongkok dan Nusantara sudah tercatat sejak abad ke 1 dimana kemudian diikuti arus migrasi orang Tionghoa ke Nusantara. Migrasi mereka tentunya juga membawa kepercayaan dan budaya mereka sehingga memperkaya budaya Nusantara.

            Peranan orang Tionghoa dan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha tidak terlalu dibahas secara mendetail bahkan sering terjadi kesalahpahaman antara kelenteng dengan institusi agama Buddha. Untuk mengatasi hal itu maka perlu memahami bagaimana system kepercayaan orang Tionghoa pada umumnya serta peranan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha pada abad ke 18 hingga abad 21 ini.

            Jejak rekam peranan kelenteng dalam pengembangan agama Buddha jelas terasa. Bhiksu Benqing yang berkelana dari kelenteng satu ke kelenteng yang lain dalam memberikan pelayanan bagi umat kelenteng atau Buddhist Mahayana bisa dilacak jejak-jejaknya. Selain itu peranan Dizang Yuan di Jakarta dalam mendidik para “bhiksu bunga” sebagai pendoa . Bahkan peranan penyebaran agama Buddha melalui symbol bisa dilihat di berbagai kelenteng. Tentunya peranan ini perlu dibangun lebih baik dan dengan itu diperlukan pemahaman-pemahaman yang lebih mendalam terhadap kepercayaan orang Tionghoa dan fungsi kelenteng sebagai suatu upaya membangun kebersamaan.

            Pembagian jenis kelenteng serta system kepercayaan orang Tionghoa yang bernuansakan “Tridharma” perlu dikaji lebih mendalam sehingga bisa memahami bahwa inti dari semua itu adalah “harmonis”.

Keywords : Buddhism, Kelenteng, Tridharma, harmonis

Read more...

Daodejing bab 62

Daodejing bab 62

道者,万物之奥,善人之宝,不善人之所保。

美言可以市,美言者獨可於市耳。

人之不善,何弃之有?

故立天子,置三公,虽有拱璧以先驷马,不如坐进此道。古之所以贵此道者何?

不曰以求得,有罪以免耶?故為天下貴。

Dao adalah yang menampung semuanya 道者,万物之奥

Read more...

PEMAHAMAN MAKNA dan HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM KEPERCAYAAN TIONGHOA (bag.1)

PEMAHAMAN MAKNA

dan

HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM TRIDHARMA

           

 

Bahasa

 

Manusia pada awalnya menggunakan ‘bunyi’ dan ‘isyarat’ sebagai cara berkomunikasi yang kemudian disebut sebagai bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh mahluk hidup dimana bahasa yang digunakan beragam, antara lain adalah : bahasa bunyi; bahasa isyarat. Segala bunyi, lahir dari hati manusia. Perasaan bergerak di dalamnya, menjadi suara. Suara menjadi bahasa, itulah bunyi ( yang beragam) ( 凡音者, 生與人心者. 情動與中, 故形與聲. 聲成文, 謂之音). Manusia memiliki indera-indera tubuh sehingga bisa berinteraksi dan memiliki nalar untuk merefleksikan hasil interaksi itu, menggunakan bunyi yang kemudian menjadi kata dan berkembanglah bahasa sebagai alat penghubung ( alat komunikasi ) antara satu dengan yang lain. Seperti tertulis dalam kitab Liji,”sifat alami manusia adalah hening, gerak karena adanya interaksi ( dengan ) benda ( luar )” ( 人生而静天之性也感于物而動). Bahasa bagi manusia itu sifatnya primer, dapat diucapkan, dan menghasilkan bunyi, apakah ini berarti semut tidak memiliki kemampuan berkomunikasi ? Apakah hanya manusia saja yang mengenal bahasa ? Apakah kemampuan empiris manusia yang berdasarkan indra-indra manusia saja sehingga hanya manusia yang memiliki kemampuan berbahasa ? Semut juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan sesame semut melalui senyawa-senyawa kimia. Bahkan bakteri sekalipun memiliki kemampuan komunikasi melalui cairan kimiawi; sinyal listrik.  Dalam makalah ini, kata yang digunakan adalah “doa” dengan tanda kutip untuk memberikan suatu pemahaman mengenai ‘kata’ dan ‘bunyi’ ini yang merupakan bagian dari linguistik. Manusia dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain itu menggunakan “bunyi” yang disebut kata, kata ini adalah bagian dari bahasa. Ernst Cassier menuliskan bahwa “Demoskritos-lah orang yang pertama mengajukan tesis bahwa bahasa manusia berasal dari bunyi-bunyi tertentu yang semata-mata bersifat emosional”. Apa yang disebut manusia ? Manusia adalah mahluk yang berkata. “Manusia disebut manusia, adalah ( karena ) kata. Manusia tidak dapat berkata, bagaimana menjadi manusia” (人之所以为人者言也 人而不能言 何以为人). Dengan bunyilah manusia merefleksikan perasaannya yang disebabkan adanya unsur-unsur luar, seperti ditulis dalam kitab Liji “Asal dari bunyi, berasal dari hati manusia. Gerak dari hati manusia, berasal dari benda (pengaruh luar ) ( 凡音之起, 由人心生也. 人心之動, 物使然也)[3] . “Interaksi dengan benda melahirkan gerak, terbentuk dengan suara. Suara saling berinteraksi, itulah melahirkan ragam. Ragam menjadi fang( 5 nada ), itulah bunyi”( 感于物而動, 故形于聲.聲相應,故生變. 變成方,謂之音).

Read more...

CONCEPT OF QI NAFAS KESADARAN ALAM SEMESTA

 CONCEPT OF QI

 NAFAS KESADARAN ALAM SEMESTA[1]

 

Pendahuluan

            Sepanjang peradaban manusia ini selalu ada pencarian dari manusia untuk mengungkap alam semesta ini. Mulai dari asal muasal alam semesta, kehidupan dan bagaimana semua itu bisa bekerja. Di barat, Anaximenes mengatakan segalanya berasal dari udara kemudian berkembang hingga ‘elan vital’Henri Bergson. Qi seringkali disanding dengan istilah energi, dimana istilah energi berasal dari pemikiran Aristotles yaitu : energia yang berarti “activity” dan “operation”. Tiongkok sebagai salah satu peradaban purba yang mengalami kesinambungan peradaban juga mencoba mencari jawaban itu. Pandangan Tiongkok kuno pada umumnya beranggapan bahwa materi itu memiliki dua komponen pembentuk. Pertama adalah qi氣 dan yang kedua adalah ‘bentuk’ 形. Mengartikan qi sebagai energi atau udara juga kurang tepat karena tidak menyentuh makna qi itu karena kadang qi dikatakan tidak memiliki bentuk ( formless/無形 ). Memahami arti kata qi harus melihat pada konteksnya[2].

           

Read more...

KEBAJIKAN TERUNGGUL

KEBAJIKAN TERUNGGUL

 

Dalam Daode jing bab 38 membahas  shangde 上德 dan xiade 下德. Seringkali diterjemahkan sebagai kebajikan terunggul dan kebajikan rendah.

Umumnya beranggapan bahwa yang dimaksud kebajikan terunggul itu adalah sikap yang sesuai dengan aturan atau juga kadang diartikan selaras dengan Dao. Dao ( jalan ) sebagai tolok ukur dalam menilai kebajikan terunggul itu.

Read more...

Laozi

Laozi

Kehidupan Laozi:

Bab dalam Bibliografi dari Laozi, Zhuangzi, Shenzi, dan Hanfeizi yang terdapat di  Rekaman para Sejarahwan 1 mencatat bahwa “Laozi adalah penduduk asal Qurenli kota Lixiang, di propinsi Ku, Negara bagian Chu (di bagian timur Luyi, sekarang propinsi Henan). Nama marganya adalah Li, nama yang diberikan kepadanya adalah Er, ia disebut Boyang, dan gelar setelah wafat adalah Dan (yang berarti lembaran datar dari sebelah luar dari telinga). Ia adalah kepala dari Perpusatakaan Kerajaan di dinasti Zhou Timur.

Ketika Confucious pergi ke daerah Zhou dan berkonsultasi kepada Laozi tentang ritual keagamaan, Laozi berkata, “Adalah bagaikan orang yang kamu sebutkan, manakala tubuh dan tulangnya hancur, hanya ucapan dan kata-katanyalah yang tertinggal. Seorang berbudi luhur mengadakan perjalanan dengan kereta manakala ia sukses dan berjalan menunduk manakala gagal. Saya mendengar bahwa seorang pedagang yang baik menyembunyikan segalanya dan seolah-olah ia tidak memiliki apa-apa, dan seorang pria berbudi luhur seolah-olah penakut. Hapuskanlah hawa keangkuhan dan keinginan yang berlebihan, remeh temeh tentang tata laku dan keserakahan. Semua itu tidak akan bermanfaat buat anda, dan saya mengatakan demikian ini seperti apa adanya saja.” Confucius meninggalkan dia dan kemudian berkata kepada para muridnya, “Bagaikan burung, saya tahu mereka dapat terbang’ bagaikan ikan, saya tahu mereka dapat berenang; bagaikan binatang liar, mereka dapat lari. Apa yang lari dapat dihentikan dengan jala, yang berenang dapat dihentikan dengan jaring, dan yang terbang dapat dihentikan dengan panah. Tetapi para naga, saya tidak memiliki ide tentang bagaimana mereka naik ke surga dengan menunggang angin dan awan. Hari ini, saya bertemu Laozi yang bagaikan seekor Naga!”

Read more...

Perubahan Konsep Tempat Ibadah Masyarakat Tionghoa dan Pengaruhnya dalam Identitas

Perubahan Konsep Tempat Ibadah

Masyarakat Tionghoa dan

Pengaruhnya dalam Identitas

 

 

 

 

oleh:

Ardian Cangianto

 

Pendahuluan

            INPRES 14 tahun 1967 yang dikeluarkan pasca kejadian G 30 S/ PKI mengenai pembatasan kepercayaan orang Tionghoa serta peleburan paksa kepercayaan-kepercayaan mereka ke dalam agama Buddha membuat mereka mengalami perubahan-perubahan sosial. Permasalahan lain adalah pandangan masyrakat yang salah kaprah tentang kepercayaan orang Tionghoa yang selalu dikaitkan dengan agama Konghucu[1] juga tidak tepat. Mencari fakta-fakta sosial dalam kepercayaan orang Tionghoa terutama pada pasca G 30 S itu seperti yang diutarakan Durkheim ( dalam Rizter, 2014 ) mengacu pada : dalam bentuk material dan dalam bentuk non material. Selain itu juga fakta sosial mencakup ( Rizter, 2014 ) struktur dan pranata sosial. Dalam hal “kelas” masyrakat, para penganut kepercayaan Tionghoa itu menjadi kelas “paria” yang mana kepercayaannya sendiri dilecehkan oleh banyak oknum dari semua agama resmi negara dan tempat ibadah kepercayaan mereka yang pada masa Orde Lama bebas berdiri sendiri digiring untuk masuk dalam naungan agama Buddha.

            Kendala yang dialami oleh orang Tionghoa dan kepercayaannya terkait dengan faktor kekuasaan dan juga program “kambing hitam” mengurung mereka dalam penjara “idea” sehingga membuat banyak orang Tionghoa mengalami krisis identitas dan terpaksa melakukan perubahan-perubahan dalam kepercayaan mereka. Mereka melakukan pendobrakan dari penjara “idea” dengan melakukan perubahan-perubahan terhadap “idea” mereka. Untuk memahami proses-proses perubahan ini penulis mengacu pada paradigma sosial Rizter ( Rizter, 2014 ) yakni: fakta sosial, definisi sosial dan perilaku sosial.

            Dalam hal mengatasi permasalahan-permasalah dan penjara “idea” itu para tokoh kepercayaan Tionghoa melakukan upaya mengatasi permasalahan itu dengan aktif dan kreatif  dengan cara menilai dan mencari alternatif-alternatif tindakan serta evaluative ( lihat Voluntarisme Parson dalam Ritzer, 2014 ). Semua  itu akhirnya melahirkan PTITD ( Persatuan Tempat Ibadah Tri Dharma )[2] sebagai wadah atau institusi yang memayungi tempat ibadah kepercayaan Tionghoa dan bersinergi dengan lembaga agama Buddha yakni WALUBI ( Perwakilan Umat Buddha Indonesia ) yang diakui sebagai bagian dari agama Buddha.

Read more...

Tong Samcong [602-664M] - Rohaniwan , Pengelana & Penerjemah Termashur

Budaya-Tionghoa.Net | Pendeta Tong (602~664 M) yang kita kenal dalam cerita "Si You Ji" "Perjalanan ke Barat" adalah tokoh sejarah Dinasti Tang dalam peranannya sebagai pendeta Buddhis. Ia terkenal bukan hanya sebagai seorang agamawan, namun juga pengelana dan penerjemah termashyur di masanya. Ia lahir di Luo Jhou, sekarang di propinsi Henan dengan nama Chen Hui, anak keempat dari seorang terpelajar yang menjabat sebagai pejabat bupati Kabupaten Jiang Lin. Untuk selanjutnya, namanya terkenal dengan nama Buddhis-nya Syuan-zang, Tang Syuan-zang, Tang San-zang atau Tong Sam-cong. Perlu diketahui Si You Ji adalah novel yang ditulis oleh Wu Cheng-en dari Dinasti Ming. Jadi, novel tadi sebenarnya cuma berlatar belakang sejarah, namun bukanlah sejarah kehidupan pendeta Tong itu sendiri.
Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto