A+ A A-

Empat Faktor Etnisitas Seseorang

Empat Faktor Etnisitas Seseorang

 

Written by Erik Eresen

 

Budaya-Tionghoa.Net | Bingung juga membedakan seseorang itu Tionghoa Totok atau Babah (keturunan). Ada yang berpendapat bahwa totok adalah yg masih tembak langsung, sedangkan yang keturunan adalah mereka yang lahir di sini. Di samping itu ada juga rekan2 yang berpatokan pada bahasa (budaya) sebagai ukuran untuk membedakan seseorang totok atau peranakan, yang masih berbahasa Tionghoa (baik Mandarin maupun dialek) dikelompokkan sebagai totok, yang sudah tidak berbahasa Tionghoa adalah keturunan. Begitu juga, yang masih menjalankan tradisi Tionghoa tergolong sebagai totok, sebaliknya yang sudah lupa dengan tradisi Tionghoa adalah peranakan.

Read more...

Tionghoa Dalam Seni Wayang Kulit

Tionghoa Dalam Seni Wayang Kulit

 

Written by Golden Horde

1

Budaya-Tionghoa.Net | Patut dihargai bahwa masih ada generasi muda Tionghoa (Tee Boen Liong) yang dapat mengapresiasi dan mewarisi seni wayang kulit ini, sebelumnya juga pernah diketahui pada sebelum tahun 1967 seorang Tionghoa bernama Gan Thwan Sing (1885-1966) mendalami seni wayang kulit di Yogya yang disebut sebagai wayang "Cina Jawa" . Gan dikenal sebagai orang yang mempelopori dan menciptakan seni wayang kulit "Cina Jawa".

Read more...

Antara Domingo Lam-co dan Jose Rizal

Budaya-Tionghoa.Net |

Domingo Lam-co ( Ke Yinan , Kho Gilam ) seorang imigran Tionghoa yang menempuh perjalanan dari Jinjiang , Quanzhou ke Filipina di pertengahan abad 17. Quanzhou adalah daerah dimana Jesuit  (kemudian Dominican) masuk ke Tiongkok untuk misi penyebaran agama. Lam-co dikenal diantara masyarakat setempat yang kemudian tinggal bersamanya di Binan-Filipina sebagai figur pemimpin.

Read more...

Tionghua Filipina dan Strata Sosial Di Masa Spanyol

Budaya-Tionghoa.Net | Pada saat Spanyol datang ke Manila (1571) , telah ada kehadiran  150 orang Tionghoa di kota itu. Komoditas silver atau perak dan jalur Manila - Meksiko membuat Tionghoa berduyun-duyun datang ke Manila. Di tahun 1586 , jumlah Tionghoa yang berdagang (tidak termasuk yang berprofesi lain)  berlipat ganda menjadi 6000 di Manila. Dan terus berlipat ganda sehingga Spanyol menganggap ini sebagai ancaman , yang berujung pada pembantaian Tionghoa.

 

Read more...

Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan Makna Kubur Berbentuk Perahu ( bag. kedua.Tamat )

Tionghoa di Dungkek dan pulau Sapudi

Dungkek dan pulau Sepudi berada di wilayah sebelah timur pulau Madura dan masuk dalam kabupaten Sumenep. Tidak jelas kapan sejarah kedatangan Tionghoa ke pulau Madura, ada yang mengkaitkan dengan armada Tartar yang dikalahkan oleh Raden Wijaya dan juga pelarian dari kerusuhan Batavia 1740[1], semua itu adalah kemungkinan tapi ada factor lain yang perlu dipertimbangkan bahwa ada kemungkinan orang Tionghoa datang ke pulau Madura bukan sebagai pelarian atau juga keturunan tentara Tartar. Bisa ada kemungkinan mereka adalah pedagang perantara yang sudah bermukim sejak jaman sebelum dinasti Ming.

Read more...

Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan Makna Kubur Berbentuk Perahu ( bag. pertama )

Tionghoa Dungkek dan Pulau Sapudi (Pulau Madura) dan

Makna Kubur Berbentuk Perahu

Ardian Cangianto

ABSTRAK

            Kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara sudah berlangsung selama ribuan tahun lamanya dan hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan Nusantara dicatat pertama kali dalam “Kronik Han”. Dengan adanya catatan itu menunjukkan berlangsungnya arus migrasi baik dari Nusantara maupun dari Tiongkok.

            Dalam perjalanan sejarah arus migrasi dari Tiongkok dan menetapnya mereka di Nusantara, tentunya terjadi asimilasi alamiah dan akulturasi orang-orang Tionghoa yang   menyimpan harapan dan keinginan dari kaum imigran Tiongkok yang menetap tersebut. Hal itu dapat kita lihat dalam ornament kelenteng maupun kuburan orang Tionghoa, dalam paper ini  akan diuraikan bentuk kuburan kaum Tionghoa di Dungkek dan pulau Sapudi yang amat unik dari bentuknya berupa perahu mengandung unsur pengharapan diterima secara utuh oleh masyarakat tempat mereka tinggal dengan tidak melupakan asal mereka.

Dari pengamatan terlihat adanya perubahan bentuk kuburan dari yang berornamen Tionghoa menjadi bentuk perahu dan kemudian ornament dan bentuk kuburan Tionghoa yang tidak berbentuk perahu lagi.  Dari bentuk kuburan itu dapat disimpulkan bahwa ada empat bentuk kuburan dan juga mewakili tiga masa walau tidak secara sepenuhnya dapat dikatakan harus seperti itu, dan bentuk perubahan dari yang bergaya Tiongkok maupun bergaya ‘modern’ atau makam bernuansa ‘Islam’, dapat menunjukkan kepercayaan mereka, tapi dari pengamatan makam berbentuk ‘perahu’ itu dapat dilihat bahwa ternyata hal itu tidak berlaku berdasarkan kepercayaan.

Bentuk kuburan seperti ‘perahu’ yang merapat itu bisa melambangkan pengharapan akan ketenangan dan penerimaan, juga asal muasal mereka adalah perantau melewati lautan dan mendarat di tanah yang baru.

Kata kunci : kubur, perahu, Madura, Sapudi, Dungkek.

Read more...

Orang Hakka dan Kebudayaan Hakka (3)

3. Intermarriage/ Percampuran Orang Hakka dengan Pribumi Tiongkok 

Budaya-Tionghoa.Net | Komposisi utama orang Hakka adalah orang Han utara yang datang ke Tiongkok selatan. Sedang bagian utama budaya Hakka adalah warisan dari budaya Zhongyuan (Tionggoan - Hokkian). Meskipun bagian utama baik dari segi genetik dan budaya adalah turunan dari orang Han Zhongyuan, namun orang Hakka dalam migrasi ke selatan menetap. Dan menyerap budaya serta melakukan percampuran/ intermariagge dengan suku bangsa Yue yakni suku bangsa pribumi Tiongkok selatan, juga dengan suku She 畲族 dan suku Yao 瑶. Yang paling penting adalah telah menyerap dan bercampur baur baik dengan budaya suku She.

Read more...

Orang-Orang Penting Bermarga Zhu (朱)

Budaya-Tionghoa.Net |Berikut ini adalah daftar orang terkenal marga Zhu (朱) dibaca "cu" atau dalam ejaan Wade & Giles ditulis sebagai "Chu" yang dirangkum oleh seorang member group bermarga sama.

A. Bangsawan

1. Dinasti Tang (618 - 907 M)

Zhu Ci, jenderal dan pemimpin militer di bawah Dinasti Tang setelah menggantikan pendahulunya Zhu Xicai; kemudian disingkirkan dari komando karena pemberontakan oleh saudaranya Zhu Tao dia mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar Dinasti Qin Baru (tahun 783-784 M - belakangan diubah menjadi Han); ia dibunuh pada tahun 784 setelah pemerintahan yang singkat.

Read more...

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa ( bagian pertama )

Budaya-Tionghoa.net | 

CATATAN ADMIN : paper yang dibawakan pada Seminar dan gathering milis Budaya Tionghoa di Bandung tanggal 22 Febuari 2014.

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa

 

Perubahan Positif dan Tantangannya

Setelah era reformasi, ada pekembangan positif dan terbuka yang membentuk “kesadaran baru dalam berelasi“ bagi masyarakat Tionghoa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Gambaran positif itu diwakili dengan dicabutnya Instruksi Presiden no. 14 tahun 1967 tentang pelarangan ekspresi kebudayaan Cina di ruang publik oleh keputusan Presiden no 6 tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Tidak lama setelah itu, diterbitkan pula UU Kewarganegaraan Indonesia No 12 tahun 2006, yang menjamin suasana kondusif bagi kesetaraan warga Tionghoa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hanya itu, berbagai fenomena muncul mengikuti “kesadaran baru” itu, seperti adanya kebangkitan Agama Khonghucu, banyaknya penerbitan buku dan tulisan mengenai kebudayaan Tiongkok, banyaknya penampilan barongsai dan tarian  singa/ naga di berbagai kota, keterbukaan pada peluang belajar dan penggunaan bahasa Mandarin yang semakin besar, dan sebagainya.[1]

Akan tetapi, gambaran positif itu belum sepenuhnya ideal. Kekerasan pada masyarakat Tionghoa di Indonesia masih dirasakan muncul dalam percik-percik tindakan kekerasan secara parsial. Bukti mengenai hal itu dapat diamati pada momen pemilihan kepala daerah/ presiden masih dinilai diskriminatif. Apakah gerakan ke arah positif itu belum dilakukan sepenuh hati sehingga masih menyisakan peluang akan kekerasan? Jika ya, apakah motivasi yang menggerakkannya dan bagaimana kekerasan itu bekerja?

Read more...

Ekspresi Kekerasan Pada Masyarakat Tionghoa di Indonesia dalam Bahasa ( bagian kedua TAMAT )

Budaya-Tionghoa.net | CATATAN ADMIN : paper yang dibawakan pada Seminar dan gathering milis Budaya Tionghoa di Bandung tanggal 22 Febuari 2014.

 

Bahasa sebagai Medan Kerja Kekerasan

 

Bahasa di satu sisi dapat dipakai mengekspresikan hasil pikiran orang, tetapi di sisi lain juga dapat mengkonstruksi pikiran orang. Bahasa menjadi sarana untuk mengungkapkan ide-ide, perasaan, dan pengalaman kita. Di samping itu, bahasa juga dapat dipakai untuk memotivasi,juga memprovokasi orang. Lewat bahasa, pikiran dan perilaku orang bisa digali dan dipahami. Namun, lewat itu juga pikiran dan perilaku orang lain bisa digoda, dicekoki, dikelola atau bahkan diobrak-abrik.

Ricoeur mengatakan bahwa bahasa dapat menjadi suara kekerasan (voice of violence).[1]Selain bisa menjadi alat pencipta kedamaian (peredam konflik), bahasa juga dipakai sebagai kendaraan untuk memobilisasi kebencian (melalui hinaan, cercaan, ejekan),Bahasa dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas dan kohesi sosial, tetapi juga menegaskan batas-batas demarkasi eksklusif antara mana “kawan” yang “harus dibela” (ingroup) dengan “lawan” yang “jahat dan harus dibasmi” (outgroup). Kategorisasi kita tentang tuan-budak, mayoritas-minoritas, asli-pendatang, totok-peranakan, itu dimungkinkan gara-gara bahasa juga.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto