A+ A A-
Dinasti QIng

Dinasti QIng (36)

Dinasti Qing (1644 – 1912) : Melampaui "China Proper"

Budaya-Tionghoa.Net| Dinasti Qing sama dengan Dinasti Yuan merupakan dinasti bangsa asing di Tiongkok, karena didirikan Bangsa Manchu, dan sekaligus merupakan dinasti terakhir di Tiongkok. Shunzhi yang merupakan kaisar pertamanya harus berjuang keras untuk membersihkan Tiongkok dari sisa-sisa Dinasti Ming secara bertahap. Peristiwa penting yang patut dicatat adalah kunjungan duta besar Macartney dari Inggris untuk membuka hubungan bagi Tiongkok dan dunia Barat, namun sayangnya hubungan dengan bangsa Barat ini kelak diakhiri dengan penjajahan beberapa bagian Tiongkok. Kunjungan ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Qianlong (1736-1795) dan bertujuan untuk membuka hubungan dagang serta kedutaan di Tiongkok.

 

Read more...

Cheng Yi Sao - Wanita Yang Menjadi Bajak Laut Terbesar

Budaya-Tionghoa.Net | Kita mengenal beberapa pahlawan wanita dalam  sejarah Tiongkok seperti Liang Hongyu , Qin Liangyu etc. Juga wanita-wanita yang mendominasi pemerintahan seperti Empress Dowager Cixi dan Empress Wu Zetian. Bagaimana dengan bajak laut wanita ? Sungguh tidak terbayangkan bahwa  Cheng I Sao atau Zheng Yi Sao mengontrol gerombolan bajak laut terbesar yang pernah ada.  Dia adalah istri dari seorang bajak laut Tionghoa di awal abad 19. Namanya sendiri merupakan terjemahan sederhana dari “Istri Cheng I “.  

 

Read more...

The House of Aisin Gioro [6] - Yongyan(Jiaqing)

Budaya-Tionghoa.Net |Aisin Gioro Yongyan mewarisi kekuasaan atas kekaisaran Qing yang sudah melalui masa emas dalam tiga masa kekuasaan Kangxi , Yongzheng dan Qianlong. Suatu fasa dimana Tiongkok mencapai rekor wilayah dalam sepanjang sejarahnya. Disisi lain Yongyan juga menanggung beban dari pencapaian kaisar pendahulunya.

Read more...

The House of Aisin Gioro [5] - Mianning (Daoguang)

 

 

Budaya-Tionghoa.Net | Kaisar yang satu ini berkaitan erat dengan beberapa peristiwa penting seperti Perang Candu , wabah penyakit dan bencana alam . Pandangan umum mengenai dirinya adalah seorang kaisar yang tidak kompeten dan lemah. Masa pemerintahannya mengawali abad penghinaan Tiongkok dari semula negara raksasa yang berpengaruh menjadi “si sakit dari timur”. Tapi benarkah pandangan itu ?

Read more...

Ding Ruchang (1836-1895)

Budaya-Tionghoa.Net | Ding Ruchang 丁汝昌 adalah salah satu tokoh histois dan pemimpin militer yang mengalami perjalanan karir yang sangat dramatis.  Ding berasal dari provinsi Anhui yang bergabung dalam gerakan pemberontakan Taiping . Dalam pertempuran Anqing (1861) dia menyerah bersama Cheng Xuechi 程學啟 (1828-1864).

Ding malah berbalik membantu pemerintah Qing memberantas gerakan Taiping  dibawah pimpinan Li Hongzhang dan disusul oleh partisipasinya dalam  menumpas pemberontakan Nien membuat dirinya berpangkat kolonel.

Setelah sempat desersi setahun , Ding kembali bergabung menjadi komandan Armada Beiyang dibawah Li Hongzhang yang tumbuh menjadi kekuatan maritim modern di Asia Timur. Bagi Ding ini sekaligus perubahan karir militer dari kavaleri ke angkatan laut. 

Ding ke Inggris pada tahun 1880 untuk menerima kapal pesanan dan juga mengamati proses produksi kapal di Inggris . Sekembalinya ke Tiongkok , Ding mendesak Li Hongzhang membangun galangan kapal modern dan pangkalan di Weihawei dan Lushunkou.

Ding menjadi pengamat pada saat normalisasi perdagangan antara Korea dan Amerika Serikat. Dan juga membantu Korea menumpas pemberontakan Imo. Ding bersama tujuh kapal perangnya mendarat di Incheon dan menahan wali negara Heungseon Daewongun yang menjadi otak dibalik pemberontakan.

Ketika meletus perang antara Perancis dan Tiongkok di tahun 1884 , Tiongkok kalah tetapi  Ding mendapat penghargaan militer tertinggi dari penguasa Qing.

Kira-kira satu dekade sebelum meletusnya Sino-Japanese War I , Ding menjadi bagian pada saat Tiongkok memamerkan kekuatannya terhadap Jepang , ketika empat kapal perang dari armada utara , Dingyuan , Zhenyuan , Saien dan Weiyuan , berlabuh di Nagasaki dan melahirkan Insiden Nagasaki atau Nagasaki Jiken .

Pada tahun 1894 , meletus pertempuran besar maritime antara Tiongkok dan Jepang yang disebut-sebut sebagai pertempuran laut besar pertama yang melibatkan kapal laut bertenaga mesin uap modern. Tiongkok unggul dalam persenjataan dan bobot tembakan  sementara Jepang unggul dalam kecepatan.

Koordinasi yang kurang dan lemahnya strategi dalam kekuatan Tiongkok membuat ruang gerak Ding Ruchang terbatas dan semakin tersudut. Hukuman siap menanti Ding di Beijing karena dinilai membiarkan Jepang yang masuk teluk Bohai dengan mudah.

Ding dijadikan kambing hitam kegagalan militer Qing dan sebaliknya pihak Jepang malah menaruh hormat kepada Ding. Admiral Jepang , Itoh Sukeyuki menawarkan asylum politik kepada Ding . Ding menolaknya dan memerintahkan deputinya untuk menenggelamkan  kapal-kapal perangnya yang masih tersisa .

Ding sendiri disertai beberapa tiga kaptennya melakukan bunuh diri . Ding gugur pada 12 Februari 1895.  Nama Ding buruk dimata penguasa Qing yang mencabut pangkat dan gelarnya sementara pihak Jepang menghormati Ding sebagai musuhnya yang telah bertindak mirip dengan nilai-nilai bushido. Jepang memberikan penghormatan militer untuk Ding.

Setelah revolusi yang menumbangkan dinasti Qing , pangkat dan kehormatan Ding dikembalikan lagi dan pihak keluarga Ding dapat memberikan pemakaman yang layak bagi Ding di tahun 1912.

Kasus Ding Ruchang menjadi contoh bagaimana pemerintah yang bobrok dan diambang kehancuran tidak bisa menghargai para pahlawannya . Bukannya melakukan refleksi kenapa selama sekian dekade menjadi bulan-bulanan Barat dan bahkan menjadi bulan-bulanan si anak bawang Jepang yang ketika itu masih dianggap remeh , dan  malah dijadikan orang semacam Ding sebagai kambing hitam kegagalan.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Photo Credit

1. Admiral Ding Juchang of the Chinese Beiyang Fleet, Totally Destroyed at Weihaiwei, Commits Suicide at His Official Residence,February 1895, http://ocw.mit.edu/ans7870/21f/21f.027/throwing_off_asia_02/toa_essay03.html

Read more...

Dibalik Kekalahan Tiongkok Dalam Sino-Japanese War I

Budaya-Tionghoa.Net | Jepang memang melesat sebagai kekuatan dunia sejak restorasi Meiji di tahun 1868.  Kenyataannya Tiongkok atau dinasti Qing masih lebih unggul kekuatan angkatan lautnya. Tetapi kebobrokan pemerintah Qing menjelang akhir abad 19 itu benar-benar meniadakan keunggulan tersebut.  Kelemahan utama angkatan laut Tiongkok bukanlah teknologi , melainkan koordinasi , antara armada utara dan armada selatan , ketimbang Jepang yang menyatukan kekuatannya seperti satu kepalan tinju di Yokosuka, Kanagawa.  

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto