A+ A A-

Seni Arsitektur

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat ( bag.ketiga-tamat )

Gender di Kelenteng

 

Banyak kelenteng-kelenteng yang dipimpin oleh imam perempuan, umumnya ada di

kelenteng cai ci ( pendoa perempuan dari sub etnis Hakka ) atau juga kelenteng Buddhisme

maupun Taoisme, disebut an 庵. Didalam masyarakat paternalistic yang menjunjung kaum pria

dan menekan kaum perempuan, kelenteng Taoisme dan Buddhisme maupun kelenteng rakyat

bisa menjadi jalan kaum perempuan untuk keluar dari penindasan dan bisa mencapai kesetaraan

dengan pria, bahkan dalam beberapa posisi, kaum biarawati perempuan ini menduduki tempat

yang lebih tinggi dibandingkan kaum pria.

Read more...

Mengenal Kelenteng Thian Siang Seng Bo (Bagian 3)

Budaya-Tionghoa.Net | Lanjutan dari artikel pemenang lomba menulis budaya Tionghoa tahun 2013, dengan predikat juara 3 kategori non fiksi berjudul "Mengenal Kelenteng Thian Siang Seng Bo"

Kelenteng  Tjoe Wie Kiong Rembang

Rembang merupakan kota tua yang telah dikenal sejak jaman kerajaan Majapahit, seperti disebutkan dalam kitab “Nagrakartagama Pupuh XXI” Asal mula kota Rembang diperoleh dari kebiasaan orang – orang Jawa asli yang menikah dengan pendatang Campa (Tonkin, Vietnam) yang pandai membuat gula tebu. Dibulan Waisaka orang – orang memulai memangkas tebu (Jawa : ngrembang). Sebelum mulai ngrembang mereka mengadakan upacara suci “Ngrembang Sakawit” dan Samadi ditempat tersebut, tebu yang dipangkas lalu dipotong menjadi dua batang untuk “Tebu Temanten”. Demikianlah asal mula kata ngrembang menjadi nama kota Rembang (Handajani:1997). Di kota ini juga masih banyak ditemui rumah dengan arsitektur tradional tionghoa, dan kota ini juga mempunyai 2 buah kelenteng kuno yang dikenal dengan kelenteng Mak Co atau kelenteng lor dan kelenteng Kong Co atau kelenteng kidul.

Read more...

Mengenal Kelenteng Thian Siang Seng Bo

Budaya-Tionghoa.Net | |Inilah pemenang lomba menulis artikel budaya Tionghoa tahun 2013, dengan predikat juara 3 kategori non fiksi.


Prolog

Sore itu aku heran melihat Om So Soe Tat tetanggaku sedang menggerakkan gerakkan 3 buah lidi yang membara di atas kepalanya saat itu aku masih duduk di SD Santo Yusup Semarang. Karena penasaran aku tanyakan apa yang sedang ia lakukan dan apa yang dia bawa, dan Om So Soe Tat menerangkan bahwa ia sedang bersembahyang kepada Tian  天 dan lidi yang ia pegang namanya hio.

Read more...

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa ( bagian kedua )

Seni dan Kelenteng

Jacob Sumardjo menuliskan :

“Benda-benda budaya warisan masa lampau itu sebenarnya sudah menceritakan dirinya sendiri. Benda-benda itu punya struktur luar yang segera nampak, itulah kuantitas. Dari struktur yang nampak itu terdapat system hubungan unsur-unsurnya yang hanya bisa dipahami melalui pola pikir tertentu. Dan pola berpikir benda-benda itulah yang masih tersembunyi, masih bisu, sehingga kita harus membuatnya agar bisa bicara tentang dirinya”[1]

Read more...

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat ( Tionghoa bagian pertama )

Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat Tionghoa

Oleh : Ardian Cangianto[1]

Pengantar

            Pada saat mendengar kata kelenteng, yang terbersit secara umum adalah tempat ibadah orang Tionghoa, dimana tentunya pandangan itu tidak seratus persen benar, karena dalam perjalan sejarahnya, kelenteng memiliki makna-makna keagamaan yang bersifat universal dan tidak hanya untuk orang Tionghoa saja. Tapi di sisi lain, kelenteng mengandung unsur-unsur budaya Tionghoa yang kental dan semua itu adalah symbol yang memiliki makna-makna moralitas. Penanaman nilai moral itu dilakukan melalui bahasa symbol dan imaji selain bahasa oral dan teks.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto