A+ A A-

Walikota Sedunia Bertemu Di Paris

Budaya-Tionghoa.Net | Lama sudah! Lama sekali. Tahunnya pun aku sudah lupa. Yang masih jelas teringat adalah kejadiannya, seperti ia baru saja terjadi seminggu lalu. Terjadi ketika aku masih berancang-ancang untuk bekerja di Indonesia.  Hari itu masih musim dingin , matahari pun lambat muncul di langit Paris. Jam delapan pagi tiba-tiba jendelaku yang terletak di lantai dasar diketok dengan bersemangat tanpa keraguan sedikitpun.

Read more...

Saat Saat Terakhir Revolusi - Celana , Pembalut dan Sepeda

Budaya-Tionghoa.Net | Berapa harga celana? Bergaul dengan petani ternyata cukup menyenangkan. Banyak kejutan. Misalnya, dugaan semula bahwa orang Cina menikah pada akhir usia 20-an demi program keluarga berencana, ternyata salah. Mereka terkejut ketika tahu saya masih lajang pada usia 27. Malang bagi teman saya Rose, karenatunangannya yang ditinggal di Inggris berumur 37 tahun. "Bagaimana mungkin kamu mencintai laki-laki setua itu?" tanya petani di komunitas rakyat Sijiqing.

Read more...

Saat Saat Terakhir Revolusi - Latihan Melempar Granat

Budaya-Tionghoa.Net | Tempat kuliah saya berada di sebuah bangunan abu-abu. Di depan terdapat patung Mao Zedong sebesar dua kali ukuran manusia. Sangat gagah dalam mantel khasnya, mengacungkan satu tangan ke depan. Itu memang pose standar Ketua. Tapi karena di seberang jalan terdapat Institute for Petroleum Studies dengan patung Mao yang sama besar dan sama posenya, jadinya kedua patung itu terkesan saling menghormat.

Read more...

Saat Saat Terakhir Revolusi - Film Propaganda

Budaya-Tionghoa.Net | Malam hari, 25 September 1965, saya bergabung dengan sembilan mahasiswa Inggris lain mendarat di Bandara Beijing. Ada Rose yang sedang mendalami sejarah kesenian dan arkeologi Cina di London, ada pula Beth yang baru lulus dari Cambridge dan terpaksa meninggalkan suami serta anjingnya. Rombongan dari Leeds University, di antaranya Gerry dan Jim, serta Sarah yang baru saja melewati tingkat II.

Read more...

Saat-saat Terakhir Revolusi

Budaya-Tionghoa.Net | Sejak 1966 Cina diramaikan hiruk-pikuk gerakan antikapitalisme. Tentara Merah menyerang para dosen, dokter, seniman, novelis, dan mereka yang dianggap tidak mewakili kaum proletar. Gonjang-ganjing terus berlangsung sampai tahun 1975 meski tak lagi diwarnai kekejaman. Frances Wood, mahasiswi Inggris yang belajar di Institut Bahasa Asing dan Universitas Beijing tahun 1975 - 1976, ikut menyaksikan "The Great Proletarian Cultural Revolution", yang pada masa Mao Zedong diteriakkan dengan penuh semangat, belakangan justru dianggap sebagai "Dasawarsa Penuh Bencana".

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto