A+ A A-

Tokoh Tionghoa Dan Kemerdekaan RI

Oey Hay Djoen (1929-2008) : Tokoh Kebangsaan

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia , kami menurunkan beberapa tokoh Tionghoa yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan menyajikan pada tokoh Tionghoa ini dimaksudkan agar kita bersama bisa menghayati tentang makna kebangsaan. Bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini terdiri dari berbagai suku-bangsa yang masing-masing tumbuh , berkembang dan berkontribusi bagi negara ini.

Read more...

Siauw Giok Tjhan, Baperki Dan Unversitas Res Publica : Renaissance Dari Masyarakat Tionghoa Di Indonesia

Budaya-Tionghoa.Net|Saya seperti halnya dengan orang Tionghoa generasi muda lainnya yang sekolah Tionghoa dan tinggal di Pecinan, Soerabaja, lalu tiga tahun di Batavia sebelum Perang Dunia II mempunyai kecintaan dua negara, perasahan yang dalam dihati pada Indonesia dan Tiongkok. Waktu mudah saya, saya sudah membaca buku-buku klasik Tiongkok seperti The Romance of three Kindoms ( Sam Kok),Melawat Ke Barat , (Sun Wu Gong, Xi Yu Ji), 108 kawanan Brandal di lembah Liang San , Hong Lou Meng (Impian di Rumah Gedung Merah), Sie Djien Kwie, dan petikan kata-kata dari Kong Fu Zi, Lao Zi, Meng Ke, Zhuang Zi etc.etc. Disamping itu saya senang sekali membaca cerita wayang Baratayuda dan Mahabarata dan menonton ludruk di Surabaya.

Read more...

Jawaban Siauw Tiong Djin Atas Tanggapan Tulisan "BAPERKI" [Bagian 1]

Budaya-Tionghoa.Net | Menyusul tulisan BAPERKI kemarin, ada beberapa masalah yang kiranya perlu diajukan dan ditambahkan:

1. Latar Belakang Pendirian Baperki sebagai organisasi massa yang ber-politik

Dari namanya orang bisa mengetahui bahwa Baperki merupakan organisasi yang lahir karena masalah Kewarganegaraan Indonesia -- sebuah masalah politik yang mencemaskan komunitas Tionghoa pada tahun 1953-1954..  Masalah Kewarganageraan adalah masalah politik nasional. Dan Baperki sebenarnya merupakan penjelmaan dari partai politik yang dinamakan Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI).

Read more...

Jawaban Siauw Tiong Djin Atas Tanggapan Tulisan "BAPERKI" [Bagian 2]

Budaya-Tionghoa.Net | Tulisan saya tentang Baperki ternyata mengundang banyak tanggapan dan pertanyaan, baik langsung ke saya atau melalui beberapa jalur lainnya. Mungkin terlalu banyak pertanyaan atau hal yang bisa ditanggapi dalam sebuah e-mail.  Kalau dilakukan tanggapannya akan panjang dan tidak coherent. Saya putuskan untuk menulis sebuah tanggapan singkat yang diharap secara global menjawab berbagai pertanyaan dan juga menanggapi hal-hal yang diangkat oleh banyak teman. E-mail ini juga diharapkan bisa mendorong para teman untuk terus memikirkan masalah pelik dan jangka panjang yang dihadapi Komunitas Tionghoa khususnya dan Indonesia umumnya.

Read more...

Charles A. Coppel: Sebuah Kenangan Pribadi Tentang Siauw Giok Tjhan

Budaya-Tionghoa.Net | Saya sangat menyesal karena tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Siauw Giok Tjhan ketika saya melakukan riset untuk disertasi gelar doctor saya di Universitas Monash.  Pokok disertasi saya adalah tentang sejarah politik golongan Tionghoa di Indonesia pada tahun 1960-an.  Siauw adalah seorang tokoh yang memainkan peranan penting pada masa itu.

Read more...

Menuju Indonesia Yang Baik Dengan Ter-Realisasi-Nya "Bhinneka Tunggal Ika"[6] - Hetze Anti Tionghoa Meluap

Budaya-Tionghoa.Net| Setiap orang yang meneliti kebijaksanaan politik luar negeri RI sejak proklamasi Kemerdekaan, bisa mendapatkan kenyataan bahwa RI selalu berusaha menarik keuntungan dengan adanya pertentangan kepentingan diantara 2 negara Super Power, USA dan USSR. Tentu saja ada berbagai penyimpangan sebagai akibat adanya pikiran dapat menarik USA dipihak RI dalam memaksa penjajah Belanda mengakui berdirinya RI, misalnya ditahun 1948 kabinet Hatta menjalankan'red drive'yang dikenal dengan'Peristiwa Madiun'; kemudian ditahun 1952, kabinet Sukirman melakukan'red drive ke-II' atau yang dikenal dengan razzia Sukiman dengan menangkapi orang2 komunis atau yang dituduh 'komunis' dengan tujuan menarik USA kepihak RI untuk memaksa  penjajah Belanda menyerahkan kembali Irian-Barat pada RI; Kemudian awal tahun 1960-an, Presiden Soekarno berusaha menarik keuntungan dengan politik anti-imperialisme lebih tegas lagi untuk memperoleh bantuan perlengkapan perang lebih besar dari USSR, yang jelas perlengkapan perang demikian itu tidak bisa diperoleh dari USA. Keadaan2 demikian ini bisa dikatakan berhasil memaksa USA untuk menekan Belanda mengakui berdirinya RI dan kemudian menyerahkan Irian Barat kembali kedalam kekuasaan RI.

Read more...

Menuju Indonesia Yang Baik Dengan Ter-Realisasi-Nya "Bhinneka Tunggal Ika"[5] - Faktor External Yang Menimbulkan Berbagai Macam Ekses

Budaya-Tionghoa.Net| Dalam meneliti perkembangan keadaan Indonesia selama tahun 50-an orang tidak boleh melupakan, bahwa ketika itu 'perang dingin' sedang berlangsung. 'Perang dingin' sedang berlangsung sangat hebat didaerah Asia, terutama bertujuan membendung kemajuan pengaruh Republik Rakyat Tiongkok di Asia.

USA sedang menjalankan politik'China Containment policy', dan politik ini tidak bisa tidak tentu mempengaruhi perkembangan politik dalam negeri Indonesia. Patut diperhatikan, bahwa cukup banyak perwira2 Indonesia dikirim ke USA untuk mendapatkan pendidikan dan latihan kemiliteran; juga tidak sedikit sarjana2 kejuruan dikirim ke USA untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

 

Read more...

Catatan Dari Holand : Teman Kami Tan Hwie Kiat

Budaya-Tionghoa.Net| Tadi malam saya menginap di rumah adik saya Asahan. Sudah sering Asan dan istrinya - ipar saya - menanyakan kapan menginap di rumahnya. Saya memenuhi ajakan dan undangannya. Tetapi saya katakan kepadanya besok pagi-pagi benar saya harus berangkat dari rumahnya untuk melayat meninggalnya teman kami = TAN HWIE KIAT.

Read more...

Menuju Indonesia Yang Baik Dengan Ter-Realisasi-Nya "Bhinneka Tunggal Ika"[4] - Proses Peralihan Tertunda

Budaya-Tionghoa.Net| Setelah perjanjian KMB (Konperensi Meja Bundar), terjadilah penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat, dengan Bung Karno sebagai Presiden dan Bung Hatta sebagai Perdana Menteri. Dan dalam peristiwa ini patut diperhatikan kenyataan dicoret-nya pasal 33 UUD 1945. Pihak Belanda berpendapat ketentuan pasal 33 itu tidak memungkinkan penanaman modal asing di Indonesia, jadi harus dicoret.

Read more...

Menuju Indonesia Yang Baik Dengan Ter-Realisasi-Nya "Bhinneka Tunggal Ika"[3] - Menjadi Dongkrak Perang Urat Syaraf

Budaya-Tionghoa.Net| Dalam rangka memulihkan kekuasaan, penjajah Belanda menjalankan perang urat-syarat yang bertujuan meniadakan sympathie dunia terhadap RI, yang dinyatakan RI sebagai bikinan militer Jepang. Untuk mengatasi ini, sistem kabinet yang semula Presidentieel dirubah menjadi sistim kabinet parlementer, membatalkan rencana PNI sebagai partai tunggal dengan tetap membiarkan partai2 politik yang ada hidup secara bebas. Usaha penjajah Belanda dengan men-cap RI bikinan Jepang bisa digagalkan, tapi penjajah Belanda tidak putus-asa. Kemudian digunakanlah kedudukan minority ethnik suku Tionghoa sebagai 'dongkrak' yang menimbulkan persoalan merugikan RI.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto