A+ A A-

Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa ( bag.3 tamat )

Nilai dan guna dari uang

Orang Tionghoa mengenal pepatah “uang bukan serba bisa tapi tanpa uang berlaksa hal tidak bisa ( dikerjakan)” ( 錢不是萬能 沒錢萬萬不能 ). Jaman sekarang, masyarakat sudah terlalu mengagungkan materi. Segala sesuatu yang ada memiliki nilai sehingga seolah-olah tanpa uang tidak bisa hidup. Dalam literature klasik Tiongkok, sejak awal sudah ada pembahasan tentang “dewa uang”[1]. Tapi, yang disebut sebagai “dewa uang”, sebenarnya tidak sama seperti dewa dalam pandangan masyarakat pada umumnya. Sebenarnya , “dewa uang” itu menunjuk pada uang itu sendiri. “Dewa uang” hanya sebagai analogi dan simbol, lebih pada satu ekspresi masyarakat dan system terhadap pengejaran maupun mengidolakan pada kekayaan[2].

Read more...

Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa ( bag.2 )

Uang dalam perspektif budaya dan filsafat Tionghoa ( bag.2 )

Ekonomi menopang dan menghancurkan kekuasaan

Jizi 箕子 (± 1100 BCE) saat ditanya oleh raja Zhou Wuwang mengenai perdagangan, dijawab bahwa ada delapan urusan pemerintah, antara lain yang pertama adalah makanan dan yang kedua adalah komoditi (barang dagangan)[1]. Barang dagangan yang dimaksud adalah barang produksi pertanian maupun peternakan, misalnya sutra, kulit binatang, keranjang ayaman dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa perekonomian adalah hal yang amat penting dalam mengatur negara. Pemikiran Jizi ini ditambahkan oleh Kongzi bahwa semua yang bersifat profit atau keuntungan harus bersifat adil. Jika tidak ada keadilan dalam mengejar keuntungan maka yang timbul adalah amarah. Negara dalam hal ini memegang peranan penting dalam mengatur keadilan itu. Kongzi sendiri menyatakan bahwa “ semua tindakan yang mengutamakan profit akan menimbulkan dendam” ( 放于利而行多怨). Agar tidak terjadi pergesekan antara kalangan kelas atas dengan kelas bawah, maka perlu adanya suatu system keadilan dalam meraih keuntungan. Pemikiran ini dapat dilihat dari pemikiran Kongzi tentang konsep keuntungan dan peranan pemimpin yang harus adil[2]. Peranan ekonomi dalam menstabilkan negara dan menjaga ketertiban umum dapat dilihat dari pepatah bahwa “rakyat yang terutama bagi  yang menjadi raja ( pimpinan ), makanan yang terutama bagi rakyat” ( 王者以民為天 民以食為天 )[3].

Read more...

Konfusianisme Dan Pertumbuhan Ekonomi

 

 

Budaya-Tionghoa.Net | Saya baru saja mendapatkan buku berjudul "Pacific Century: The Emergence of Modern Pacific Asia" karya Mark Borthwick dengan kontribusi beberapa cendekiawan. Di dalamnya banyak terdapat artikel menarik. Saya akan menerjemahkan artikel terkait Konfusianisme dan pertumbuhan ekonomi di Asia, yang dimuat di halaman 309-322.

Read more...

Cina Penjajah Ekonomi Rakyat ?

Budaya-Tionghoa.Net | Rekan-rekan yang terkasih, Ini oleh-oleh dari Semarang. Minggu lalu saya bersama-sama dengan Saudara Andrew Huang dan Daniel bertemu di Semarang untuk mencari dana penerbitan buku budaya Tionghoa. Ada hal menarik yang ingin saya sampaikan pada rekan-rekan sekalian. Kami bertemu dengan seorang tokoh Etnis Tionghoa Semarang dan membicarakan mengenai buku itu.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto