A+ A A-

Lapangan Yihe di Kota Qufu

Budaya-Tionghoa.Net | Cuplikan perjalanan ke Tiongkok 1

September 2014

Pemandangan malam di jembatan Sungai Yihe,  di Kota Qufu Propinsi Shandong. Kota ini adalah kota tua yang menjadi tempat kelahiran Khong Hu Cu 2565 tahun yang lalu. Empat foto di bawah ini diambil dari internet. Satu siang hari dan tiga malam hari. Foto yang saya ambil  tak seindah itu, kalah kemampuan, kalah kamera juga kalah tempat mengambil posisi yang tepat. Maklum malam hari, dan tak kenal situasi setempat, itu alasannya, yang benar sih memang tak mampu memfoto bagus.

Pemandangan malam jembatan Sungai Yi He

Di kota Qufu propinsi Shandong Tiongkok Timur

Read more...

Kota Rizhao 日照市

Budaya-Tionghoa.Net | Kota Rizhao (yang berarti matahari menyinari) adalah kota di tenggara propinsi Shandong (山东),di pantai laut Kuning dan jauh diseberang sana adalah jazirah Korea. Karena letaknya tak terhalang apa-apa, maka dalam segala musim matahari terbit di ufuk timur selalu tampak jelas, karena itu disebut Rizhao.

Read more...

Chu Teng Ko, tokoh yang membantu Republik Indonesia

Chu Teng Ko, tokoh yang membantu Republik Indonesia

Pada masa revolusi fisik ( 1945-1949 ), tidak sedikit orang Tionghoa yang turut terjun membantu kaum republic melawan Belanda. Salah satunya adalah Chu Teng Ko yang membantu perjuangan kaum republic di Medan. Chu adalah mantan tentara KMT ( Kuo Min Tang ) yang meninggalkan Tiongkok pada tahun 1926-1927 pada usia 17 tahun dengan status deserter. Chu adalah orang Shandong yang umumnya bertubuh tinggi besar. Di Medan, Chu bekerja sebagai pedagang yang memasok barang2 dagangan dari Singapore ke Medan dengan kapal2 milik pengusaha Tionghoa lain. Ia termasuk tokoh yang disegani, ringan tangan dan sering membantu usaha orang Tionghoa yang kesulitan karena mendapat gangguan preman dan perlakuan diskriminatif aparat pemerintah.

 

Chu berteman baik dengan kaum Republiken dari Medan seperti Selamat Ginting, Xarim M.S dan Bedjo maupun kaum Republiken dari Aceh seperti Abdullah Arsjad, M.Natsir dan mayor Maliki. Mereka semua dan pejuang Aceh memanggil Chu, “Tengku”, bukan karena mirip nama belakangnya, tapi panggilan yang diberikan oleh orang2 Aceh sahabatnya.

Selama masa revolusi fisik itu, Chu membantu para pejuang Aceh untuk menjamin ketersediaan barang2 yang diperlukan dan juga bertukar informasi. Chu sendiri berkali2 menyelamatkan orang2 Aceh yang kerap dituduh penyusup dari sergapan patroli PAT dan Belanda sehingga ia dimusuhi oleh PAT dan diintai Belanda, tapi ia tetap mendapat dukungan dari kelompok Shandong.

 

Ada hal yang menarik, pada tahun 1946-1948, orang2 Tionghoa Medan mengenal nama “Bos Centung” dari suku Lenga Hokian, tapi tidak ada satupun yang tahu siapa sebenarnya boss ini.  Boss ini dikabarkan sangat akrab dengan Chu dan boss ini sering membantu pendanaan laskar dalam komando Xarim M.S. Bahkan memuluskan aksi penyusupan laskar ke kota untuk mengamati keadaan dan memetakan posisi pertahanan Belanda. Chu Teng Ko tidak pernah berkomentar siapa Bos Centung itu tapi dari pembicaraan dengan teman2 Chu mengisyaratkan bahwa Bos Centung itu adalah Chu Teng Ko.

 

Sumber : Nasrul Hamdani,”Komunitas Cina di Medan. Dalam Lintas Tiga Kekuasaan 1930-1960”, 2013, Jakarta : LIPI Press 

Read more...

Humor & Anekdot Tiongkok [1] : Shandong ,Pi , Mei

  • Published in Fun

Budaya-Tionghoa.Net| Hingga saat ini masih jarang diadakan pembahasan mengenai humor atau anekdot Tiongkok. Humor atau anekdot sendiri sebenarnya adalah salah satu bagian sastra yang layak juga mendapatkan perhatian. Jadi kita tidak hanya sekedar mencari di manakah letak kelucuannya, karena apa yang dianggap lucu itu berbeda-beda bagi tiap bangsa dan bahkan individu. Berikut ini kita akan mengulas beberapa humor klasik Tiongkok.

Read more...

[Q-A] Mengenai Chinese Shandong , Perbedaan Masyarakat Tiongkok Utara-Selatan

  • Published in Dialek

Tanya : Dear kawan kawanku sebudaya, Bisakah sedikit menyampaikan pengetahuan mengenai keberadaan Etnis Chinese Shantung.Asal muasalnya dari mana dan dari segala macam budaya nya. Karena yang saya lihat dan rasakan, sedikit berbeda dengan etnis Chinese lainnya bahwa etnis yang lain dikelilingi oleh aturan2 budaya yang kurang lebih sama seperti perayaan imlek, permainan barongsai,  ceng beng, dsb.Tetapi kenapa justru yang saya dapati bahwa Shantung tidak memiliki latar belakang budaya seperti tersebut diatas. Mohon pencerahannya, Terimakasih,

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto