A+ A A-

Dari Ibu Liem sampai John Lie: Sumbangsih Tionghoa di Masa Revolusi Kemerdekaan

  • Written by  Didi Kwartanada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Via Mailing-List Budaya Tionghua [Posted by Chan CT]

Budaya-Tionghoa.Net | Pengantar Redaksi , Nabil Forum ke-2 telah menampilkan tulisan Dr Bondan Kanumoyoso, ‘’Tokoh-tokoh Tionghoa dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia”. Tulisan yang membahas peran tokoh-tokoh Tionghoa di dalam lembaga-lembaga nasional seperti BPUPKI dan KNIP tersebut  mendapatkan perhatian yang luas dari sidang pembaca.  Menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-66, Nabil Forum edisi ini menampilkan tulisan yang masih membicarakan sumbangsih Tionghoa di masa Revolusi Kemerdekaan, namun dari kacamata yang berbeda.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Tulisan di bawah ini menyorot aktivitas Tionghoa dari berbagai daerah di Indonesia, di dalam ikut menegakkan Negara Republik Indonesia. Barangkali yang masih belum banyak diketahui adalah peran Tionghoa di dalam aksi-aksi kemiliteran, sehingga banyak diantaranya kemudian diangkat sebagai Veteran, beberapa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di berbagai pelosok Tanah Air. Salah satu dari mereka bahkan kemudian menjadi Pahlawan Nasional. Perlu digarisbawahi pula, bahwa kaum perempuan pun tidak ketinggalan ikut menjaga Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah kisah mereka dan semoga apa yang telah mereka sumbangkan bisa menjadi suri tauladan bagi kita bersama.

***

“Minoritas Perantara” dan Sikap Tionghoa yang Terpecah Periode 1942-1949, yang merupakan masa pendudukan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan,  diabadikan oleh seorang penulis peranakan Tionghoa sebagai masa “Indonesia dalem Api dan Bara” karena penuh dengan pergolakan, kekerasan dan ketakutan.[1] Pendudukan Jepang berlangsung singkat, hanya tiga setengah tahun (Maret 1942-Agustus 1945), namun akibat yang ditimbulkannya amat besar bagi etnis Tionghoa.[2]  Berakhirnya pendudukan Jepang diikuti dengan masa Revolusi, yakni konflik Indonesia melawan Belanda, yang sering juga disebut “Jaman Bersiap”.

Bagaimanakah sikap etnis Tionghoa dalam masa Revolusi Kemerdekaan? Sejarawan Mary Somers-Heidhues memberikan analisisnya sebagai berikut.[3] Pertama, sebagian etnis Tionghoa tidak ingin berpihak dalam konflik Indonesia-Belanda, karena mereka berpendapat bahwa mereka bukanlah Belanda dan juga bukan Indonesia. Sikap “netral” ini muncul sebagai produk divide et impera kolonial Belanda dan politik resinifikasi (pencinaan kembali) penguasa Jepang.[4] Walaupun posisi ini sering menuai kritik, namun di beberapa daerah, ironisnya, justru sikap “netral” inilah yang diminta oleh golongan pejuang Indonesia dari golongan Tionghoa. Satu contoh adalah pidato yang diucapkan di tahun 1946 oleh dr Abu Hanifah, seorang pemimpin perjuangan di Sukabumi

Hadirin yang saya hormati, saya percaya diantara hadirin sekalian banyak yang dilahirkan di Tiongkok dan tetap mempertahankan kewarganegaraan Tiongkok. Kemudian ada grup lain yang disebut kaula Hindia Belanda yang kini secara otomatis menjadi Warga Negara Indonesia. Mereka dilahirkan di Indonesia dan ingin menjadi Warga Negara Indonesia. Kelompok ketiga adalah mereka yang masih belum memutuskan posisi mana yang akan mereka ambil. Tentu saja Anda sekalian memiliki kepentingan-kepentingan yang berlainan.

Akan tetapi Anda semua kini berada di wilayah Republik dan selama Anda bersama dengan kami, keamanan Anda akan dijamin. Tetapi kami mohon agar Anda tidak campur tangan dalam politik Indonesia. Kami menghendaki agar Anda bersikap netral, hanya netral. Kami bahkan tidak meminta Anda untuk menolong kami. Itu akan meminta terlalu banyak. Jadi kepentingan Anda dan kepentingan kami menuntut Anda semua untuk bersikap netral, dan jangan terlibat dalam politik kami. [5]

 

Kedua, disana-sini terdapat beberapa Tionghoa peranakan maupun totok yang bersimpati dan berjuang di pihak Republik, Tokoh yang paling vokal barangkali adalah Liem Koen Hian (1896-1952).[6] Dirinya sudah menegaskan identitas keindonesiaannya ketika di tahun 1932 mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI), yang tanpa henti menyerukan kepada peranakan Tionghoa untuk memberikan loyalitas politiknya kepada Indonesia. Liem adalah salah satu founding fathers Negara Republik Indonesia, sehubungan dengan partisipasinya dalam BPUPKI. Dalam salah satu sidang BPUPKI menjelang kemerdekaan, secara tegas Liem memohon agar dalam negara Indonesia nanti, secara otomatis golongan Tionghoa diberi kewarganegaraan Indonesia. Namun sayang, cita-citanya tidak terwujud. Seorang wartawan Amerika menambahkan aspek lain, terdapat juga sekelompok etnis Tionghoa yang dekat pada Golongan Sosialis-nya Sutan Syahrir, yang merasa bahwa masa depan etnis Tionghoa berada dalam Indonesia baru, dengan jalan asimilasi. [7] Ketiga, sikap mayoritas etnis Tionghoa adalah mengharapkan perlindungan Republik Tiongkok, yang selepas Perang Dunia II ikut menjadi salah satu anggota “The Big Five”, lima negara pemenang perang. Dengan demikian, mayoritas etnis Tionghoa akhirnya memilih bersikap netral dalam konflik Indonesia-Belanda. Sikap netral ini juga bisa diakibatkan karena posisi historis mereka sebagai “minoritas perantara” (middleman minority), yang diuraikan dalam ilmu sosial sebagai berikut:

Dalam masyarakat-masyarakat multietnis, kadang terdapat kelompok-kelompok etnis tertentu yang menduduki status perantara [middle status] diantara kelompok dominan yang berada di puncak hirarki etnis dan kelompok subordinat yang berada di bawah. Kelompok tersebut disebut “minoritas perantara” [middlemen minorities]…

Minoritas perantara sering berfungsi sebagai mediator antara kelompok dominan dan kelompok etnis subordinat.   Mereka biasanya menduduki ceruk perantara [intermediate niche] dalam sistem ekonomi. . .Mereka memainkan berbagai peran dalam mata pencaharian selaku pedagang, pemilik toko, pembunga uang [Jawa: mindring] dan profesional independen. Dengan demikian minoritas perantara melayani baik kelompok dominan dan subordinat.


Mereka melakukan tugas-tugas ekonomis yang bagi mereka yang berada di puncak (elit) dianggap sebagai hal yang dibenci atau kurang bermartabat . . .Sehubungan dengan posisi ekonomi perantara mereka, kelompok ini sangat rentan [vulnerable] terhadap permusuhan dari luar kelompok etnisnya, baik yang muncul dari kelompok dominan maupun subordinat. Pada masa-masa tegang, mereka adalah. . .kambing hitam yang alami [natural scapegoat]


Baik secara jumlah maupun secara politis, mereka  tidak berdaya dan oleh karena itu harus memohon perlindungan kepada kelompok dominan, yang akan memberikannya sejauh peran ekonomis mereka masih dibutuhkan [8]


Dari uraian di atas, nampak jelas, bahwa golongan Tionghoa menempati posisi sebagai “minoritas perantara”. Kedudukan ini bukan hanya dimulai dari masa kolonial, namun  sejak berkembangnya zaman kerajaan Islam di Nusantara, orang-orang Tionghoa sudah banyak diberi kedudukan dengan hal-hal yang dekat dengan uang, misalnya selaku syahbandar atau penarik pajak. Kolonial Belanda kemudian mengembangkan hal tersebut dan memperluas bidang cakupan yang dipegang oleh pengusaha Tionghoa seperti pungutan pajak jalan tol dan bisnis candu, dua hal yang sangat dibenci oleh orang pribumi. [9]  Posisi sebagai minoritas perantara yang membuat mereka selalu ingin berada di tengah, menghindari kesulitan yang bakal muncul dari posisi mereka, walaupun ternyata pilihan ini bukannya menyelesaikan masalah, bahkan justru makin banyak menimbulkan persoalan.  Apabila “lingkaran setan” sebagai middleman minority tidak diputuskan, maka dikhawatirkan dalam tiap zaman kedudukan golongan Tionghoa akan selalu “serba salah”, seperti yang dilukiskan dengan bagus oleh seorang peneliti dari Australia, Charles Coppel



“…Orang Tionghoa itu ibarat makan buah simalakama bila memikirkan kegiatan politik. Jika mereka terlibat dalam kalangan oposisi, mereka dicap subversif. Apabila mereka mendukung penguasa waktu itu, mereka dicap oportunis. Dan jika mereka menjauhi diri dari politik, mereka juga oportunis sebab mereka itu dikatakan hanya berminat mencari untung belaka”.[10]




Tulisan ini mencoba memberikan deskripsi tentang hal-hal apa yang sudah disumbangkan sebagian etnis Tionghoa untuk Republik Indonesia di masa Revolusi Kemederkaan. Bagian pertama dan kedua berisikan contoh-contoh dari Yogyakarta, karena merupakan topik penelitian yang pernah penulis lakukan sebelumnya.  Bagian terakhir berisi fakta-fakta sumbangsih Tionghoa di dalam perjuangan bersenjata di berbagai pelosok Ibu Pertiwi, suatu topik yang belum banyak diulas.


SUMBANGAN FINANSIAL

Twang Peck-Yang secara tegas menyatakan, dukungan yang pertama-tama diharapkan pemerintah Republik Indonesia dari golongan Tionghoa adalah bantuan keuangan. Kondisi finansial republik muda ini sangatlah buruk, berhubung dengan tingginya angka defisit akibat pendudukan Jepang.[11] Tidak mengherankan, jikalau harapan Pemerintah Republik untuk memperbaiki kondisi perekonomian, pertama-tama tertuju kepada para pengusaha Tionghoa. Di pihak lain, kelahiran Republik Indonesia dilihat oleh pedagang Tionghoa sebagai suatu kesempatan. Negara yang masih amat muda ini memerlukan berbagai pasokan barang untuk mempertahankan kedaulatannya, khususnya persenjataan, medis dan logistik.[12]

Oleh karena Twang Peck-yang sudah menulis panjang lebar soal “kontribusi” Tionghoa dalam revolusi Indonesia, maka penulis akan memberikan ilustrasi dari tingkat lokal dan masih belum banyak diketahui, yakni Yogyakarta.[13] Selaku ibukota RI sejak Januari 1946, di Yogyakarta banyak ditemukan usaha-usaha mobilisasi dana dan tenaga dari golongan Tionghoa demi Pemerintah Republik. Setelah terjadinya aksi militer Belanda I, Chung Hua Tsung Hui (CHTH)[14] Yogyakarta berusaha mengumpulkan dana untuk republik. Jumlah sumbangan awal yang terkumpul sebanyak Rp. 250.000.[15] Selain itu mereka juga mengumpulkan bahan pakaian untuk angkatan bersenjata Republik.[16] Maka tidak heran jika berbagai sumber menyebut CHTH Yogyakarta bersikap "pro republik".[17] Orang-orang Tionghoa juga banyak menyumbang dalam "Fonds Nasional" yang diketuai oleh, Mr. Soemanang. Partisipasi orang-orang Tionghoa tidak kalah besarnya dalam membantu penyediaan konsumsi. Sejak November 1945 dapur umum Palang Merah Indonesia (PMI) harus menyediakan makanan untuk ± 1.500 orang setiap harinya. Orang-orang Tionghoa ternyata tidak ketinggalan ikut menyediakan makanan.[18]


AKSI AKSI PRO INDONESIA

Seorang pengacara, Mr. Ko Siok Hie, giat mela­kukan berbagai aktivitas pro-Republik.[19] Ketika banyak gerilyawan Indonesia ditangkap dan diadili Belanda pada saat Yogyakarta diduduki, Mr. Ko (bersama-sama dengan Mr. Soejoedi) menyelamatkan banyak jiwa mereka dari hukuman Belanda secara cuma-cuma. Selaku pengacara, beliau juga membela orang-orang yang tidak bersalah dari tuduhan Belanda, misalnya menyembunyikan senjata. Pada saat yang lain, Mr.Ko bertindak selaku penghu­bung logistik antara pihak Indonesia dengan Tionghoa. Dalam suatu kesempatan, dua pejabat Republik, Mr.Soemanang dan Mr.Soetopo menghim­bau kepada komunitas Tionghoa Yogyakarta supaya membantu penyediaan logistik bagi para pemuda pejuang. Mr.Ko --selaku konseptornya-- lalu mempersiapkan "kue keranjang", suatu jenis makanan tradisional Tionghoa yang bisa tahan lama. Di saat pertama kali telah diproduksi sebanyak 10 kuintal "kue keranjang". Agen distribusinya adalah anak-anak kecil.

Dr. Sim Ki Ay, yang merupakan salah satu tokoh utama Chung Hua Hui (kelompok elit Tionghoa pro-Belanda) dari masa kolonial.  Akan tetapi pada zaman revolusi beliau bersimpati pada perjuangan Republik. Dr Sim terpilih untuk menjadi salah seorang penasehat delegasi Republik Indonesia dalam Konperensi Meja Bun­dar (KMB) di Den Haag.[20] Beliau  juga dikenal sebagai dokter yang ikut memelihara kesehatan tokoh-tokoh puncak Republik, seperti Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirman. Dalam kapasitasnya selaku dokter pribadi Sultan, beliau juga bertindak selaku penghubung antara Sultan dengan komunitas Tionghoa.

Selain berbagai jenis bantuan tadi, tidak ketinggalan pula muncul dukungan sumber daya manusia. Ketika dibuka pendaf­taran anggota GEMPAR (Gerakan Untuk Makmurnya dan Patuhnya Rakyat) atas inisiatif pemerintah,[21] pemuda-pemuda dari kalangan Tionghoa tidak ketinggalan ikut pula mendaftar­kan dirinya. Menurut penuturan seorang Tionghoa yang pernah bergabung dengan GEMPAR,[22] ia dididik selama 40 hari di Gedung Agung Yogyakarta. Beberapa mata pelajaran yang diberikan adalah: "Tata Negara" oleh Bung Karno; "Ekonomi Nasional" oleh Bung Hatta dan "Penerangan" oleh Mr. Soemanang, Kordinator pendidikan dipegang oleh Winoto Danuasmoro. Sebanyak 600 orang anggota telah terdaftar, kemudian mereka dibagi ke dalam berbagai regu yang disebarkan ke seluruh Jawa.



SUMBANGSIH DIBIDANG KEMILITERAN

Di bidang kemiliteran[23], beberapa orang Tionghoa ikut berperan aktif memberikan sumbangsihnya, mulai dari bertempur, penyediaan logistik dan persenjataan, maupun menjalankan dapur umum bagi prajurit TNI (lihat selengkapnya di Tabel 1). Di Kediri dan di beberapa tempat lain di Jawa Timur, juga di Losarang (Jawa Barat) mantan anggota Keibōtai (kesatuan semi militer Tionghoa yang dibentuk di masa Jepang) aktif memberikan latihan kemiliteran pada laskar-laskar Indonesia.[24] Di daerah Pemalang, muncul satu hal yang cukup unik dalam revolusi Indonesia, yakni munculnya “Laskar Pemuda Tionghoa” (LPT), yang sesuai dengan namanya, bertujuan mendukung kemerdekaan Indonesia. Tokohnya adalah Tan Djiem Kwan, alumnus Sekolah Tionghoa (THHK) Tegal. Tokoh ini giat memberikan kursus anti kolonialisme pada pemuda Tionghoa, mendorong pengibaran bendera Merah Putih, dll. Laskar ini memainkan peran penting dalam melucuti balatentara Jepang di Pemalang. [25] Di Surakarta tercatat pula “Barisan Pembrontak Tiong Hoa” (lihat foto 2).

Keterlibatan orang Tionghoa dalam Batalyon Macan Putih, satu kesatuan gerilya yang aktif di wilayah-wilayah sekitar lereng Gunung Muria (Tayu, Jepara, Kudus, Welahan), belum banyak diungkapkan.[26] Orang Tionghoa di daerah-daerah tersebut mengumpulkan perhiasan empat/lima kali untuk dibelikan senjata di Singapura. Mereka juga menyediakan makanan bagi para pejuang yang dibungkus daun jati. Tio Ma Ay, seorang pedagang roti, pura-pura berdagang roti keliling kampung, padahal dia mengirimkan roti kepada para pejuang.

Orang Tionghoa totok yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan juga banyak ditemui. Yang sering disebut misalnya Tong Djoe, yang kemudian menjadi seorang pengusaha besar.[27] Disertasi Marleen Dieleman dari Belanda, menunjukkan bahwa di masa revolusi, Liem Sioe Liong menyembunyikan seorang buronan Belanda, selama setahun tanpa mengetahui siapa orang yang disembunyikannya. Ternyata orang tersebut adalah Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah, ayahanda Fatmawati dan mertua Presiden Soekarno. Liem yang nantinya berganti nama menjadi Soedono Salim, dikenal sebagai salah satu pengusaha Tionghoa terbesar di masa Orde Baru. [28] Han Lim Kwang (Han Lian Kuang, 1911-1962), kelahiran Pulau Hainan, Kwangtung yang sudah lama menetap di Makassar. Puteranya mengenang Han sebagai seorang yang “bentji kepada kaum kolonialis Belanda, karena mereka menindas dan menghisap rakjat Indonesia.”[29] Han membuka warung kopi yang ternyata dijadikan pusat pertemuan rahasia gerilyawan Makassar dari kesatuan “Harimau Republik”, dimana Han juga merupakan salah satu anggotanya. Han wafat di bulan Desember 1962 dan jenasahnya mendapatkan kehormatan militer dari Korps Veteran Makassar. Namun masih banyak lagi mereka yang belum diungkap jasanya.

Di Riau ada Tang Kim Teng, seorang Tionghoa totok yang bergabung dengan Resimen IV, Divisi IX Banteng wilayah Sumatra Tengah pimpinan Hassan Basri (lihat foto 3). Kim Teng bertugas mencari senjata, bahan peledak, uniform tentara, sepatu, obat-obatan dan perbekalan lainnya di Singapura. Masih ada lagi orang-orang Tionghoa dalam Resimen IV tersebut: Lie Ban Seng, Lie Chiang Tek, Kui Hok, Tji Seng, Tan Teng Hun, Lai Liong Ngip, Chu Chai Hun dan Chia Tau Kiat. Tan Teng Hun disebutkan telah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli senjata api dari Singapura, seragam tentara dan obat-obatan. Sebagian dari mereka telah dianugerahi bintang jasa RI dan menjadi anggota Legiun Veteran RI (lihat foto 4). [30]

Sumbangan lain berupa doktrin perang gerilya. Pemaparan dr Abu Hanifah saat berjuang di Sukabumi melawan Belanda, menunjukkan bahwa booklet perang gerilya karangan Mao Tse Tung (Mao Zhedong) banyak digunakan sebagai “buku pegangan” (handbook) oleh pasukan republik. Diperkirakan strategi tersebut diterjemahkan oleh seorang Tionghoa totok ke dalam bahasa Indonesia. [31]

Yang menarik, kaum perempuan Tionghoa pun tidak berpangku tangan dan mereka pun ikut secara langsung membela Ibu Pertiwi. Salah satu contoh adalah Ibu Giam Lam Nio alias Ny Liem Thiam Kwie (1901-1953), yang menyediakan makanan di dapur umum saat Revolusi di Jawa Timur. Di kalangan prajurit TNI, beliau dikenal dengan panggilan akrab “Ibu Liem”. Setelah pemakaman beliau dengan upacara militer dilakukan pada tanggal 5 Juli 1953, pers melaporkan:

Upacara pemakamannya yang dipimpin Kapten Soesilo dari Divisi Brawijaya dihadiri antara lain oleh …Walikota Soetimbul,  dan Kolonel Bambang Soegeng sebagai Kasad. Bagi tentara revolusi 1945 ia bukan seorang ibu biasa. Ia adalah ibu mereka yang dengan segala kasih sayang menyokong perjuangan kemerdekaan dengan mengatur dapur umum siang malam dalam segala keadaan. Ibu Liem senantiasa siap sedia diminta bantuan menyediakan makanan bagi patriot yang bertempur di garis depan. Setelah penyerahan kedaulatan, Ibu Liem masih tetap membantu dengan mengurus panti Perwira di Malang, Jawa Timur  Saat meninggal, petinya ditutup bendera merah putih dan dimakamkan di pekuburan Tionghoa di Sepanjang, Surabaya. [32]

Sumbangsih Tionghoa paling spektakuler dalam bidang militer terwujud dalam sosok Mayor (AL) John Lie, yang menjadi penyelundup senjata bagi Republik Indonesia.[33] Beliau dikenal sebagai tokoh legendaris, yang banyak mendapat penghormatan dan rasa kagum dari  para pejuang Indonesia. Sebagai seorang nakhoda, John Lie dipercaya pemerintah Republik untuk menjual komoditas Indonesia untuk ditukar dengan persenjataan, peralatan komunikasi dan obat-obatan yang amat dibutuhkan dalam melawan Belanda. Daerah operasinya cukup luas, meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila dan New Delhi. Saat Indonesia diblokade secara ketat oleh Belanda, John Lie berhasil menembus kepungan itu dan mendapat julukan “Nakhoda Terakhir Republik”.[34] Beliau kemudian pensiun sebagai Laksamana Muda dan berganti nama menjadi Jahja Daniel Dharma dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sejarawan Asvi Warman Adam, di awal 2004 menominasikan John Lie sebagai pahlawan nasional atas jasa-jasanya kepada Negara Republik Indonesia.[35] Akhirnya John Lie, atas usulan Yayasan Nabil, diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009, sebagai pengakuan Pemerintah RI atas jasa-jasanya yang luar biasa. [36]


Demikianlah sekelumit uraian mengenai peran serta orang-orang Tionghoa, peranakan dan totok, di dalam menegakkan panji-panji kemerdekaan yang telah dikibarkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.  Tidak diragukan, mereka telah ikut memberikan andil dalam mengusir penjajah dan turut mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama saudara-saudaranya dari berbagai suku bangsa. Apa yang tertulis di sini belumlah lengkap dan semoga tulisan singkat ini akan mendorong berbagai pihak untuk ikut aktif mengumpulkan bahan-bahan historis yang masih belum terungkap. Dalam hal inilah, sejarah bisa berperan sebagai sarana integrasi nasional. [37]

***Penulis adalah sejarawan dan Pemimpin Redaksi Nabil Forum.  Buku terbarunya adalah  The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War (Leiden: EJ. Brill, 2010), sebagai ko-editor dan kontributor.


TABEL 1

Kontribusi Orang Tionghoa dari Berbagai Daerah dalam Perjuangan Bersenjata di Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1950)

--disusun secara alfabetis--

 

 

 

 

Nama Aktivitas Daerah Perjuangan Keterangan
1. Cia Tau Kiat;
2. Lie Ching Tek;
3. Lai Liong Ngip
Tiga orang pejuang
Riau
Anggota Legiun Veteran RI Riau
Gian Liam Nio (Ny Liem Thiam Kwie)
(1901-1953)

Di kalangan prajurit dikenal sebagai “Ibu Liem” yang bergiat di dapur umum.

Jawa Timur


Ketika wafat, upacara pemakamannya dilakukan secara militer dan dihadiri KASAD Kol Bambang Sugeng dan Walikota Malang.

Han Lian Kuang, (1911-1962)
Membuka warung kopi yang ternyata dijadikan pusat pertemuan rahasia gerilyawan dari kesatuan “Harimau Republik”, dimana Han juga merupakan salah satu anggotanya dan menyediakan senjata Makassar, Sulawesi Selatan Dikebumikan dalam upacara militer
Kwee Tjoa Kwang (1912-….)
Asal Bagan Siapi-api, di masa Revolusi bergabung ke Laskar Rakyat di Batalyon I, Resimen II, Divisi II di Jambi. Memasukkan senjata untuk Laskar Rakyat.
Jambi Di tahun 1950 tercatat sebagai anggota angkatan perang dengan pangkat Letnan I dan mendapat bintang jasa.
Laksamana Muda John Lie (Jahja Daniel Dharma)
(1911-1988)


Mengusahakan senjata dan logistik di masa revolusi kemerdekaan melalui laut, di tengah blokade ketat AL Belanda
Aceh-Sumatra Utara, Singapura, Malaya, Asia Tenggara

Dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta (1988)

Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional serta Bintang Mahaputera Adipradana, 10 November 2009

Liem Ching Gie (Abdul Malik) (1911-1970)
Aktif dalam perjuangan bersenjata ditangkap dan dipenjara Belanda tahun 1947-48. Sulawesi Selatan
Oen Pei Hin (1912-1996)
Aktif mendukung logistik pasukan Siliwangi Jawa Barat Dimakamkan di TMP Cikadut Bandung
Oey Eng Soe (Ujeng Suwargana) (1917-1979)

Pada masa revolusi menjadi perwira menengah sekaligus komandan logistik Territorium III Siliwangi.
Jawa Barat Dikenal dekat dg Jendral A.H. Nasution
Oeij Kim Bie (Erawan Gondaseputra) (1904- …)
Di masa revolusi bergabung dngan Laskar Pesindo melawan Inggris dan merampas obat-obatan untuk tentara Republik di Andir, Bandung Jawa Barat ● Berjuang bersama kaum nasionalis Indonesia sejak tahun 1923, termasuk beberapa kali masuk penjara

● Pada tahun 1960 mendapat bintang dari Legiun Veteran RI
Pembantu Letnan Sho Bun Seng (1911-2000)








Di masa Revolusi berjuang di Padang dan bergabung dengan batalion Pagarruyung, kemudian bertugas di Jawa Barat dan Kalimantan Barat. Padang, Sumatra Barat Dimakamkan di TMP Kalibata Jakarta (2000)
Ferry Sie King Lien

(1933-1949)








Tewas saat bergerilya dengan Tentara Pelajar di Surakarta (1949) Surakarta, Jawa Tengah Dimakamkan di TMP Jurug, Surakarta (satu-satunya orang Tionghoa)
Tan Tjen Boen (Mas Amien)
Informan Tentara Keamanan Rakyat di Jawa Barat. Jawa Barat Mendapat bintang Veteran RI

Tang Kim Teng


Seorang Tionghoa totok yang bergabung dengan Resimen IV, Divisi IX Banteng wilayah Sumatra Tengah. bertugas mencari senjata, bahan peledak, uniform tentara, sepatu, obat-obatan dan perbekalan lainnya di Singapura. Sumatra Tengah (Riau)-Singapura ●Anggota Legiun Veteran RI Riau

●Dianugerahi Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua
Letnan Dua Dokter Tjia Giok Thwan (Basuki Hidayat)









Di masa mudanya Tjia adalah anggota regu pasukan penggempur Pasukan 19 CDMT (Corps Mahasiswa Djawa Timur) dan aktif bergerilya. Jawa Timur Dimakamkan di TMP Suropati (Malang) 198


** Masih ada satu lagi pejuang Tionghoa yang akan dimakamkan di TMP ini, namun keluarganya menolak


 

SUMBER :

  1. Sam Setyautama, Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008)
  2. Eddy Sadeli et al., Sumbangsih Warga Tionghoa untuk Tanah-Air Indonesia (Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tionghoa di Indonesia, 2003).
  3. Junus Jahja, Peranakan Idealis dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2002)
  4. Nyoto, Kim Teng: Dari Pejuang Hingga Kedai Kopi (Pekanbaru: Unri Press, 2002)
  5. Han Nan-tjou, “Renungan dari Djauh”, Tiongkok Rakjat: Menjambut Dwidasawarsa RI, no. 8 (1965), h. 35-37

CATATAN KAKI:

[1]“Tjamboek Berdoeri” (alias Kwee Thiam Tjing), Indonesia dalem Api dan Bara. Editor: Stanley dan Arief W. Djati. Jakarta: Elkasa, 2004 (terbitan asli tahun 1947).

[2] Kajian mengenai golongan Tionghoa dalam masa Jepang belum banyak dilakukan. Pengantar terbaik adalah tulisan Twang Peck-yang, The Chinese Business Élite in Indonesia and the Transtition to Independence 1940-1950 (Kuala Lumpur: Oxford, 1998) Untuk konteks Yogyakarta lihat tulisan-tulisan Didi Kwartanada, “Chinese Leadership and Organization in Yogyakarta during the Japanese Occupation”, dalam Paul Kratoska (ed.), Southeast Asian Minorities in the Wartime Japanese Empire (London: RoutledgeCurzon, 2002), h.65-80; “Competition, Patriotism and Collaboration: The Chinese Businessmen in Yogyakarta between the 1930s and 1945”, Journal of Southeast Asian Studies, 33 (2002), 2, h. 257-277
[3] Diringkas dari Mary Somers Heidhues, “Bystanders, Participants, Victims: The Chinese in Java and West Kalimantan, 1945-46”, paper pada konferensi “Changing Regimes and Shifting Loyalties: Identity and Violence in the Early Revolution of Indonesia”, Amsterdam, NIOD, 25-27 Juni 2003., h. 16. Terimakasih kepada Ibu Mary yang telah mengijinkan penulis untuk mengutip makalah tersebut.
[4] Paparan singkat mengenai politik resinifikasi Jepang, lihat dua tulisan Didi Kwartanada, ‘Minoritas Tionghoa dan Fasisme Jepang; Jawa 1942-1945’, dalam Penguasa Ekonomi dan Siasat Pengusaha Tionghoa (Yogyakarta; Kanisius-Realino. Cetakan ke-4, 2001), h..24-41; serta ‘The Road to Resinification: Education for the Chinese during the Japanese Occupation’, dalam Peter Post et al. (ed), Encyclopaedia of Indonesia in the Pacific War (Leiden: E.J. Brill, 2010), h. 327-333.
[5] Abu Hanifah, Tales of a Revolution (Sydney: Angus and Robertson, 1972), h. 209, terjemahan bebas dan garis miring dari penulis.
[6] Biografi Liem Koen Hian terlengkap saat ini ada dalam Leo Suryadinata, Tokoh Tionghoa & Identitas Indonesia: dari Tjoe Bou San sampai Yap Thiam Hien (Jakarta: Komunitas Bambu, 2010), h. 63-90. Perlu diingat, bahwa Liem adalah mentor politik AR Baswedan, seorang tokoh pergerakan keturunan Arab, lihat juga tulisan Adaby Darban tentang hubungan mereka berdua dalam Nabil Forum ini.
[7] Arnold C. Brackman, Indonesian Communism: A History (New York: Praeger, 1963), h. 135.
[8] Dikutip dari Martin N. Marger, Race and Ethnic Relations: American and Global Perspectives. Edisi Kedua (Belmont: Wadsworth, 1994), h. 51-52. Terjemahan bebas dari penulis.
[9] Mengenai analisis teori ‘minoritas perantara’ dan relevansinya bagi golongan Tionghoa di Indonesia lihat Didi Kwartanada, ‘Perang Jawa (1825-1830) dan Implikasinya pada Hubungan Cina-Jawa’, pengantar untuk buku Peter Carey, Orang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa: Perubahan Persepsi tentang Cina 1755-1825 (Jakarta: Komunitas Bambu, 2008) h. ix-xxxiiDari Ibu Liem sampai John Lie:

Sumbangsih Tionghoa di Masa Revolusi Kemerdekaan

Didi Kwartanada

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.



Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1068-dari-ibu-liem-sampai-john-lie-sumbangsih-tionghoa-di-masa-revolusi-kemerdekaan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto