A+ A A-

Pasar sebagai Agama - Kajian Seorang Buddhis terhadap Ekonomi Global, Konsumerisme, Pembangunan, dan Peran Spiritualitas dalam Masyarakat

  • Written by  David R. Loy - Diterjemahkan Jimmy Lominto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net|Sangatlah sulit untuk mendefinisikan agama. Namun, jika kita gunakan pandangan seorang fungsionalis dan memahami agama sebagai sesuatu yang memberikan kita pijakan dasar dengan mengajarkan kita dunia adalah apa dan apa peran  kita di dunia, maka jelas sudah agama-agama tradisional semakin tidak mampu memenuhi peran ini karena fungsi tersebut telah digantikan--atau kewalahan--oleh berbagai sistem kepercayaan dan sistem nilai lainnya.

Artikel Terkait :

{module [201]}

 

 

 

Alternatif penjelasan tentang dunia yang paling dominan saat ini adalah ilmu pengetahuan, sedang sistem nilai yang paling menarik adalah konsumerisme. Anak akademis keduanya adalah ekonomi, yang mungkin merupakan "ilmu pengetahuan sosial" yang paling berpengaruh. Sebagai tanggapan, tulisan ini akan mendebatkan bahwa sistem perekonomian kita saat ini seharusnya dipahami sebagai sebuah agama karena ia sudah memenuhi fungsi keagamaan bagi kita.

Disiplin ilmu ekonomi lebih merupakan teologi ketimbang ilmu pengetahuan dari agama tersebut dan tuhannya, Pasar, sudah menjadi lingkaran setan produksi dan konsumsi yang terus meningkat dengan berpura-pura menawarkan keselamatan sekuler. Runtuhnya komunisme--paling baik dipahami sebagai capitalist "heresy" atau bida'ah kapitalis—makin memperjelas Pasar sudah menjadi agama pertama yang betul-betul mendunia,  yang  semakin lama makin mengikat ketat seluruh penjuru dunia pada satu cara memandang dunia (world-view) serta sekumpulan nilai yang peran keagamaannya kita abaikan hanya karena kita ngotot memandang mereka sebagai "sekuler".

Jadi, bukanlah suatu kebetulan jika bencana ekologi jaman kita ini juga merupakan masa tantangan yang luar biasa dahsyatnya bagi agama-agama yang lebih tradisional. Kendati hal ini dapat  menyinggung keangkuhan kita, namun menggelikan juga untuk berpikir bahwa institusi-institusi keagamaan konvensional yang kita kenal sekarang akan memainkan peran penting dalam menyelesaikan krisis lingkungan hidup. Permasalahan mereka yang lebih mendesak adalah apakah mereka, seperti hutan-hutan tropis yang kita pantau dengan cemas, bisa keluar dengan selamat dari gempuran agama baru ini dalam bentuk yang masih bisa dikenali.

Memang agama-agama utama belum lagi sekarat, namun ketika masih belum berselingkuh dengan kekuatan politik dan ekonomi, mereka cenderung begitu terlena oleh permasalahan-permasalahan masa lalu dan sudut-sudut pandang yang sudah ketinggalan jaman (seperti pronatalisme) sehingga mereka semakin tidak relevan (seperti fundamentalisme) atau semakin diremehkan (seperti evangelisme di TV). Alhasil, hingga kini mereka belum mampu menawarkan hal yang paling dibutuhkan, yaitu: suatu tantangan yang berarti terhadap kapitalisme pasar yang sedang agresif-agresifnya mencari pemeluk, yang kini sudah menjadi agama yang paling berhasil di sepanjang jaman. Satu agama yang lebih cepat memenangkan lebih banyak pemeluk ketimbang sistem kepercayaan atau sistem nilai manapun  di sepanjang  sejarah manusia.

Situasi yang dihadapi berbagai agama sudah sedemikian gentingnya sehingga krisis lingkungan hidup, walaupun merupakan hal terburuk bagi bumi, paling tidak bisa menjadi sesuatu yang positif buat agama. Karena bencana lingkungan hidup bukan saja sedang menyadarkan kita pada fakta bahwa kita membutuhkan sumber nilai-nilai dan makna yang lebih mendalam ketimbang yang mampu disediakan kapitalisme pasar, tapi juga pada satu kesadaran bahwa agama kontemporer tidak memenuhi kebutuhan ini.

----------------------------------------------

Be kind to the destitute,
be patient and loving toward the wicked,
be kind to the afflicted,
be gentle with the fool,
Empathize with the weak and oppressed,
be especially compassionate to those who cling
to concrete reality.
- Patrul Rinpoche

 



Ekonomi Sebagai Teologi

Yang tidak bisa ditolerir adalah bahwa isu-isu terpenting yang menyangkut penghidupan manusia  ditentukan sepenuhnya atas dasar  keuntungan korporasi-korporasi transnasional semata. (Daly and Cobb:178).[1]

Pada tahun 1960, negara-negara Utara 20 kali lebih kaya dibanding negara-negara Selatan. Di tahun 1990--setelah jumlah bantuan, perdagangan, hutang, dan pengejaran industrialisasi yang begitu besar oleh Selatan--negara-negara Utara menjadi 50 kali lebih kaya. 20% populasi manusia terkaya kini penghasilannya melebihi 150 kali penghasilan  20% yang termiskin, sebuah jurang yang terus melebar (Korten:107-108). Menurut Laporan Pembangunan PBB tahun 1996, 358 triliuner dunia lebih kaya  dibanding penghasilan tahunan gabungan negara-negara dengan 45% populasi dunia.  Akibatnya, setiap minggu 1/4 juta anak mati karena kekurangan gizi atau terkena infeksi, sedangkan lebih dari ratusan juta lainnya bertahan dalam kondisi kelaparan dan kesehatan yang memburuk…Mengapa kita berdiam diri terhadap ketidakadilan sosial ini? Apa rasionalisasi yang mengijinkan kita tidur dengan damai di malam hari?


Sebagian besar penjelasannya terletak pada penganutan kita terhadap agama aneh orang Eropa atau Barat (yang kini sudah mengglobal), satu agama ekonomi dan pasar yang individualistik. Satu agama yang menjelaskan bahwa semua akibat ini adalah hasil-hasil tak terhindarkan dari sebuah sistem yang obyektif. Sebuah sistem yang mengatakan bahwa intervensi adalah kontraproduktif. Pekerjaan hanyalah biaya untuk melakukan bisnis dan alam hanyalah sebuah pool sumber daya yang dibutuhkan untuk produksi.

 

Dalam kalkulus ini, dunia bisnis begitu fundamental dan sedemikian terpisah dari lingkungan hidup…sehingga intervensi terhadap sistem ekonomi yang sedang berlaku merupakan ancaman bagi tatanan alami segala sesuatu dan oleh karenanya, bagi kesejahteraan umat manusia di masa mendatang. Dalam cara berpikir yang satu ini, hasil yang disebabkannya itu adalah adil (atau setidaknya tak terhindarkan) karena timbul dari cara-cara kerja alami sistem ekonomi ini serta "kearifan pasar" tempatnya berpijak.

Hegemoni yang berhasil dicapai gagasan intelektual ganjil ini--sebuah "agama Eropa" atau agama ekonomi—sungguh amat mencengangkan; ia berhasil menjadi dogma yang hampir universal penerapannya, agama yang dominan di jaman kita ini, menunjang dan membela segala sesuatu yang tampaknya merupakan status quo ketidakadilan yang paten. Ia berhasil mencapai pengaruh luar biasa dahsyat yang mendominasi aktivitas kontemporer manusia (Dobell:232).

Menurut Dobell, teologi ini didasarkan pada dua dalil yang kontraintuitif namun diterima secara luas: bahwa adalah benar dan adil (itulah sebabnya, [pernyataan] "pasar lho yang menyebabkan saya melakukannya" menjadi sebuah justifikasi yang bisa diterima untuk banyak kegiatan yang secara moral dipertanyakan); dan nilai bisa secara memadai  disinyalir harga-harga. Karena sumber daya alam tidak diberi harga, maka cara panen seperti pukat harimau dan tebang habis bukan hanya sah-sah saja,  tapi juga diperlukan agar bisa kompetitif, kendati pada kenyataannya "kurang lebih kini semua orang sudah tahu bahwa sistem-sistem pasar sedemikian cacatnya, dalam artian, jika terus-terusan dibiarkan begitu saja dengan praktik-praktik dan cara menentukan harga seperti sekarang, tak terhindarkan lagi mereka akan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup serta hancurnya sistem-sistem ekologi yang tidak bisa digantikan lagi." (237).

Asumsi mendasar kedua dalil itu adalah bahwa sistem tersebut "alami". Jika kapitalisme pasar beroperasi sesuai hukum-hukum ekonomi sealami seperti hukum-hukum fisika ataupun kimia—jika ekonomi merupakan sebuah sains yang jenuin--akibat-akibat yang ditimbulkannya tampak tak terhindarkan, walaupun kenyataan menunjukkan bahwa hukum-hukum ekonomi tersebut mengakibatkan kesenjangan sosial yang sedemikian ekstrim serta bencana lingkungan hidup.

Namun sesungguhnya tidak ada yang tidak terhindarkan mengenai hubungan-hubungan ekonomi kita. Justru kesalahpahaman inilah yang harus dengan sungguh-sungguh kita tangani--dan di sinilah agama bisa masuk, karena, sejak semakin meningkatnya pelacuran diri universitas-universitas dan media massa pada kekuatan-kekuatan pasar yang sama, tampaknya tidak ada lagi perspektif moral lainnya yang tersisa untuk menantang mereka.

Untunglah, alternatif cara-cara memandang dunia yang ditawarkan agama-agama masih bisa membantu kita menyadari bahwa kemenangan global kapitalisme pasar tak lain tak bukan hanyalah sekadar pencapaian kemerdekaan ekonomi semata: lebih tepatnya, kemenangan itu adalah naik tahtanya satu cara tertentu dalam memahami dan menilai dunia yang tidak boleh kita terima begitu saja. Jauh dari tak terelakkan, sistem perekonomian ini merupakan satu cara tertentu, yang terkondisi secara historis dalam  mengorganisir/mereorganisir dunia; ia adalah satu cara memandang dunia, dengan ontologi dan etika, yang sedang bersaing dengan pemahaman-pemahaman lain tentang apa itu dunia dan bagaimana sebaiknya kita hidup di dalamnya.

Hal yang paling mengesankan tentang nilai-nilai pasar tersebut, dari sudut pandang relijius, bukanlah "kealamiannya", melainkan betapa luar biasa efektif dan persuasifnya teknik-teknik pengonversian mereka. Sebagai dosen filosofi saya tahu apapun yang saya dapat lakukan kepada para mahasiswa saya selama beberapa jam dalam seminggu sia-sia adanya terhadap pengaruh-pengaruh pencarian umat yang secara agresif menyerbu mereka di luar kelas--pesan-pesan iklan menarik (yang seringkali menghipnotis) di TV, radio, majalah, bis, dsb, yang secara konstan mendesak mereka untuk “belilah daku jika engkau ingin bahagia”. Jika kita tidak dibutakan oleh perbedaan antara yang sekuler dan yang sakral yang lazimnya dilakukan, kita bisa melihat bahwa semuanya ini menjanjikan suatu jenis keselamatan lainnya, yaitu: suatu cara lain untuk mengatasi ketidakbahagiaan kita. Sejauh hal ini menghujam jantung sudut pandang yang benar-benar relijius--yang menawarkan penjelasan alternatif atas ketidakmampuan kita untuk menjadi bahagia dan jalan yang sangat berbeda untuk bahagia—agama-agama tidak memenuhi tanggung jawab mereka jika mengabaikan dimensi relijius kapitalisme ini, jika mereka tidak menekankan bahwa godaan tersebut bersifat menipu, karena solusi untuk kebahagiaan yang satu ini hanya akan mengakibatkan ketidakpuasan yang lebih dahsyat lagi.

Alih-alih menunjukkan ketidakterelakkan mereka, sejarah sistem perekonomian malah mengungkapkan kontingensi hubungan-hubungan pasar yang kini kita terima begitu saja tanpa dipertanyakan. Kendati kita cenderung memandang motif laba sebagai sesuatu yang universal dan rasional (pikirkan tangan bajiknya Adam Smith yang “tidak kelihatan” itu), namun para antropolog menemukan bahwa motif laba tersebut bukanlah sesuatu yang tradisional bagi masyarakat-masyarakat tradisional. Sejauh motif laba diketemukan dalam lingkungan mereka, motif tersebut memainkan peran yang sangat terbatas dan malah dipandang secara berhati-hati karena kecenderungannya  dalam mengganggu hubungan-hubungan sosial. Kebanyakan masyarakat pra-modern tidak membuat perbedaan yang jelas antara ranah ekonomi dan ranah sosial, alhasil, peran-peran ekonomi menjadi bagian dari hubungan-hubungan sosial yang lebih umum. Manusia pra-kapitalis “tidak bertindak demikian demi melindungi kepentingan individualnya dalam hal kepemilikan barang-barang materi; ia bertindak demikian guna melindungi kedudukan sosialnya,  klaim-klaim sosialnya, dan berbagai asset sosialnya. Dia menghargai barang-barang materi hanya sejauh barang-barang tersebut memenuhi tujuan ini.” Tetapi, dalam masyarakat kapitalis “bukan ekonomi yang  terserap ke dalam hubungan-hubungan sosial, malah hubungan-hubungan sosiallah yang  terserap ke dalam sistem ekonomi” (Polanyi:46, 57).

Tawney menemukan perspektif yang sama pada kekuatan-kekuatan pasar di Barat semasa jaman pra-Renaisans: “Tidak ada tempat dalam teori kegiatan ekonomi abad pertengahan yang tidak berkaitan dengan tujuan moral dan melandaskan ilmu pengetahuan kemasyarakatan di atas asumsi bahwa nafsu untuk keuntungan ekonomi merupakan suatu kekuatan yang konstan dan dapat diukur, yang perlu diterima seperti kekuatan-kekuatan alami lainnya sebagai sebuah datum tak terhindarkan dan yang terbukti sendiri, akan tampak bagi pemikir abad pertengahan sebagai tidak kalah irasional dan tidak bermoralnya dibandingkan dengan menjadikan operasi tak terkendalinya atribut-atribut manusia seperti kegemaran untuk berkelahi dan insting seksual sebagai premis filsafat sosial”(31).

Transformasi yang krusial jelas dimulai pada akhir Abad Pertengahan—yang, bukan suatu kebetulan, merupakan masa di mana interpretasi keagamaan tentang dunia yang lazim waktu itu mulai kehilangan cengkramannya atas kehidupan rakyat. Sementara keuntungan berangsur-angsur menjadi motor proses ekonomi, kecenderungannya adalah untuk pengorganisasian ulang seluruh sistem sosial secara bertahap dan bukan elemen ekonomi saja, karena tidak ada perbedaan alami antara keduanya.[2]  Modal pun berhenti menjadi pelayan dan berubah menjadi tuan besar. Mengambil vitalitas yang terpisah dan mandiri, ia mengklaim hak seorang mitra yang lebih berkuasa untuk mendikte organisasi ekonomi agar sesuai dengan berbagai syarat yang diajukannya.” (Tawney:86). Itulah contoh paradok teknologi lainnya: kita menciptakan sistem-sistem yang rumit untuk membuat hidup kita lebih nyaman, tapi malah menemukan diri kita terperangkap ke dalam logika pengembangan mereka sendiri yang tak tergoyahkan itu. Monster dalam karya Shelley yang berjudul Frankenstein menyatakannya secara lebih brutal: “Memang engkaulah penciptaku, tapi akulah penguasamu.”

Cendikiawan yang melakukan paling banyak untuk menyingkap akar keagamaan kapitalisme pasar adalah Max Weber. Teori kontroversialnya bukan saja menemukan asal mula kapitalisme dalam “asketisme duniawi (this worldly asceticism)” etika kaum Puritan, melainkan juga menyatakan bahwa  pada dasarnya kapitalisme masih tetap bersifat keagamaan dalam struktur psikologisnya. Menurut buku The Protestant Ethic dan the Spirit of Capitalism, kepercayaan kaum Kalvin pada predestinasi mendorong apa yang kemudian menjadi suatu kebutuhan yang tak tertahankan untuk menentukan apakah seseorang berada di antara kaum terpilih atau tidak; predestinasi tersebut membuat sakramen tak lagi diperlukan dan mengakibatkan didevaluasinya hal-hal yang sakral; sebagai gantinya, kesuksesan ekonomi di dunia ini kemudian diterima sebagai demonstrasi kemurahan hati Tuhan; ini menciptakan kondisi psikologis dan sosiologis untuk mengimpor nilai-nilai asketik dari biara ke dalam pekerjaan-pekerjaan duniawi, saat orang bekerja untuk membuktikan dirinya diselamatkan dengan menginvestasikan kembali setiap surplus ketimbang mengonsumsinya. Tujuan orisinil ini berangsur-angsur menjadi lemah, namun asketisme duniawi dalam diri (inner-worldly asceticism) belumlah lenyap di kala Tuhan semakin jauh dan sorga semakin tidak relevan. Di dunia modern kita, motivasi orisinilnya sudah menguap namun keasyikan kita dengan modal dan keuntungan tidak memudar bersamanya; sebaliknya, kedua hal itu malah menjadi obsesi utama kita. Karena kita tak lagi memiliki tujuan lain, tiada lagi keselamatan akhir lainnya untuk diimani, maka kita ijinkan yang tadinya merupakan sarana menjadi tujuan kita.

 

Hal terpokok dalam esei Weber mencerminkan betapa niat orisinil suatu aktivitas pada akhirnya bisa berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda: “Kaum Puritan  menginginkan untuk bekerja di sebuah pekerjaan; sedangkan kita, sifatnya adalah harus melakukannya. Karena sewaktu asketisme diusung keluar dari bui monastik ke dalam kehidupan kerja dan mulai mendominasi moralitas duniawi dalam diri, ia membantu membangun satu jagad tatanan ekonomi modern yang luar biasa. Tatanan tersebut kini terikat pada aneka ragam praanggapan teknis dan ekonomisnya produksi yang bersifat mekanistis dan yang bagaikan mesin. Pada masa ini, tatanan tersebut bukan saja menentukan dengan kekuatan yang tidak tertahankan gaya hidup orang-orang yang secara langsung terlibat di dalam usaha perekonomian, tapi juga gaya hidup semua individu yang lahir ke dalam mekanisme ini dan mungkin akan terus menentukannya hingga minyak fosil terbakar habis. Dalam pandangan Baxter, perhatian terhadap barang-barang eksternal seharusnya hanya terletak di atas pundak orang suci ‘bak mantel ringan yang bisa dicampakkan kapan saja.’ Namun takdir menitahkan mantel tersebut menjadi sebuah kerangkeng besi” (in Scaff:88).

 

Kita masih jauh dari tangan tak terlihatnya Adam Smith. Metafor Weber lebih tidak optimistik: etos kerja orisinil kaum Kalvin kini “sedang gentayang dalam kehidupan sehari-hari kita seperti hantu kepercayaan-kepercayaan keagamaan yang telah mati,” ditaklukkan oleh peradaban yang hanya bertumpu pada rasio sematanya (a rationalized civilization of) produksi skala raksasa dan konsumsi bak setan kelaparan yang pada masa kini hanya berlandaskan fondasi-fondasi mekanis semata (di Scaff:89).[3]

 

Sosiologi agama Weber membedakan agama-agama yang lebih ritualistik dan legalistik, yang mengadaptasikan diri mereka pada dunia, dengan agama-agama keselamatan (salvation religions) yang lebih bersikap memusuhinya [dunia]. Agama-agama keselamatan seringkali revolusioner berkat ramalan (prophecy) dan karisma yang memotivasi mereka, serta misionaris karena mereka berupaya menyuntikkan sebuah pesan atau janji baru ke dalam kehidupan sehari-hari. Upaya-upaya mereka untuk memastikan keabadian kasih sayang Tuhan di dunia pada puncaknya mensyaratkan penataan ulang sistem ekonomi. Weber mencatat bahwa umat agama jenis ini biasanya “tidak menikmati ketentraman di dalam diri karena mereka berada dalam cengkraman ketegangan-ketegangan dalam diri.”

 

Poin terakhir ini, yang bukan saja mendeskripsikan kaum Puritan yang didiskusikan dalam  The Protestant Ethic tapi juga mengingatkan kita akan situasi-situasi kita sendiri, menunjukkan bahwa kapitalisme pasar dimulai sebagai, dan mungkin masih tetap dipahami sebagai, satu bentuk agama keselamatan: tidak puas dengan dunia sebagaimana ia adanya dan terdorong untuk menyuntikkan janji baru ke dalamnya, termotivasi (dan membenarkan dirinya sendiri) oleh iman pada kasih sayang Tuhan dalam bentuk keuntungan (the grace of profit) dan perhatian untuk melanggengkan kasih sayang tersebut, dengan semangat misionaris untuk meluaskan dan menata ulang (merasionalkan) sistem ekonomi. Argumentasi-argumentasi Weber secara tidak langsung menyatakan bahwa walaupun kita memikirkan dunia modern sebagai sudah disekulerkan, nilai-nilainya (mis, rasionalisasi ekonomi) bukan saja diambil dari nilai-nilai keagamaan (keselamatan yang diperoleh dari menyuntikkan janji baru yang revolusioner ke dalam kehidupan sehari-hari), mereka  utamanya adalah nilai-nilai yang sama, meskipun telah berubah oleh hilangnya rasa hormat pada dimensi non-duniawi. Atau, lebih tepatnya, nilai-nilai ini sudah terdistorsi oleh fakta bahwa motivasi kita yang tak lagi non-duniawi tapi masih berorientasi ke masa depan tersebut sudah menjadi tidak disadari.

 

Weber menekankan bahwa  kendati etos kerja asketik mungkin sudah kehilangan makna orisinilnya tapi itu tidaklah mengurangi kedahsyatannya. Jenis keselamatan kita masih mensyaratkan orientasi ke masa yang akan datang. Seperti yang disampaikan Norman Brown, “Kita tidak lagi memberikan surplus kita ke Tuhan; proses memproduksi surplus yang terus meningkat itu sendiri adalah Tuhan kita.”(261). Kontras dengan waktu siklik masyarakat-masyarakat pra-modern, dengan ritual-ritual penebusan dosa musiman mereka, waktu ekonomi kita adalah linear dan tertuju ke masa depan, karena ia berusaha menjangkau satu penebusan dosa yang tak lagi bisa dicapai karena ia telah lenyap sebagai sebuah motivasi yang sadar. Namun sebagai motivasi tak sadar, ia masih berfungsi, sebab kita masih terus berusaha menjangkau suatu tujuan yang ditunda selamanya. Oleh karena itu, reaksi kolektif kita berubah menjadi suatu kebutuhan untuk bertumbuh: nafsu yang tidak pernah terpuaskan untuk “standar kehidupan” yang terus-menerus meningkat (sebab begitu kita mendefinisikan diri sebagai konsumen, kita tidak akan pernah [merasa] memiliki terlampau banyak) dan kabar gembira (gospel) ekspansi ekonomi yang bisa dipertahankan kelanjutannya (sebab korporasi-korporasi dan PDB tidak pernah cukup besar).[4]


 

Transformasi Akbar

Engels menceritakan kisah tentang komentarnya kepada seorang pengusaha pabrik Manchester bahwa ia belum pernah melihat sebuah kota yang dibangun demikian buruk dan kotornya: “Orang itu dengan sabar mendengarkan hingga selesai dan berkata di tikungan tempat kami berpisah, ‘Namun banyak uang yang bisa dihasilkan di sini; selamat pagi, tuan ? (Sale:58).

Tahap genting dalam perkembangan kapitalisme pasar terjadi selama berlangsungnya revolusi industri pada akhir abad ke 18, ketika teknologi baru berhasil meningkatkan kecanggihan alat-alat produksi yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Perkembangan tersebut mengakibatkan “dibebaskannya?cukup banyak (a critical mass of) tanah, tenaga kerja, dan modal yang dibutuhkan, yang dialami kebanyakan orang sebagai bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya karena peristiwa tersebut menghancurkan struktur komunitas—sebuah malapetaka yang kembali terjadi di kebanyakan dunia “berkembang.?Buku Karl Polanyi, The Great Transformation (1944) selain merupakan suatu ekspresi kemarahan terhadap berbagai konsekuensi sosial ini, juga merupakan suatu penjelasan yang sangat mendalam mengenai dasar pencacatan ini: cara bagaimana dunia dirubah menjadi komoditas-komoditas pasar yang bisa diperjualbelikan. Agar kekuatan-kekuatan pasar bisa berinteraksi dengan bebas dan produktif, dunia alami harus dikomoditikan menjadi tanah, jiwa dikomoditikan menjadi tenaga kerja, dan patrimoni dikomoditikan menjadi modal. Komersialisasi awal agrikultur Inggris mengakibatkan pematokan milik umum, padang rerumputan yang secara tradisional milik seluruh komunitas. Wabah komodifikasi industri terbukti jauh lebih parah lagi. Bumi (bunda sekaligus rumah kita) diobyektifkan menjadi suatu kumpulan sumber daya untuk dieksploitasi. Jiwa manusia diobyektifkan menjadi tenaga kerja, atau waktu kerja, diberi harga sesuai dengan penawaran dan permintaan.

Patrimoni sosial, sebuah warisan yang sangat disayangi, yang diakumulasikan
serta dilestarikan secara susah payah untuk keturunan kita, selain diobyektifkan
menjadi modal yang bebas dipertukarkan, juga menjadi sesuatu yang diperjualbelikan, sumber pendapatan yang diperoleh tanpa harus bersusah-payah
kerja bagi segelintir manusia yang beruntung dan sumber hutang yang mengilas
bagi sisa manusia lainnya.

Interaksi antarkomodifikasi ini mengakibatkan pengakumulasian modal yang hampir
menyerupai mujizat serta runtuhnya kehidupan komunitas tradisional yang tak
kalah menakjubkan, tatkala penduduk desa digusur keluar dari tanah mereka oleh
kekuatan-kekuatan ekonomi baru tersebut. “Memisahkan kerja dari
aktivitas-aktivitas kehidupan lainnya dan membuatnya tunduk pada hukum-hukum
pasar adalah memusnahkan semua bentuk kehidupan organik dan menggantikan mereka dengan jenis organisasi yang berbeda, organisasi yang berjenis atomistik dan individualistik,?tekan Polanyi. Sistem seperti itu “tidak akan bisa eksis tanpa
memusnahkan manusia dan substansi alami masyarakat.?Prinsip laissez-faire yang
menyatakan bahwa pemerintah seharusnya tidak campur tangan ke dalam berjalannya sistem ekonomi, diterapkan secara selektif: kendati pemerintah diperingatkan agar tidak menghalangi jalan industri, hukum dan kebijakannya diperlukan untuk membantu mereduksi tenaga kerja menjadi komoditi. Apa yang disebut tanpa campur tangan sesungguhnya merupakan campur tangan untuk “menghancurkan hubungan-hubungan non-kontraktual antarindividu dan mencegah penyusunan ulang mereka yang spontan.?(163,3).

Apakah suatu kebetulan jika bahasa bermakna ganda (doublespeak) yang sama terus berlanjut hingga hari ini? Sementara orang-orang yang disebut-sebut sebagai kaum konservatif tersebut mengkhotbahkan tentang membebaskan sistem usaha bebas dari tangan pemerintah yang membatasi, tapi subsidi-subsidi federal dicari-cari untuk mendukung industri-industri yang tidak ekonomis (misalnya, pembangkit listrik bertenaga nuklir) dan menanggung kegagalan-kegagalan ekonomi (skandal simpan-pinjam), sementara kebijakan-kebijakan internasional (GATT, NAFTA, dan perang teluk) sedang dirancang sekarang agar dunia aman [untuk dijarah] bagi berbagai korporasi multinasional kita. Hingga beberapa abad terakhir ada sedikit sekali perbedaan yang jenuin antara gereja dan negara, antara otoritas sakral dan otoritas sekuler, dan hubungan menyenangkan antarmereka itu kini kembali terjadi: bukannya mempertahankan regulatori yang efektif atau bahkan posisi yang netral, pemerintahan AS malah menjadi penyokong terkuat agama kapitalisme pasar sebagai suatu cara untuk hidup, dan sesungguhnya ia tidak punya banyak pilihan sejauh dirinya kini merupakan mucikari yang hidupnya tergantung pada menangguk porsi gemuk keuntungan pasar.

Satu garis langsung dapat ditarik dari komodifikasi tanah, jiwa, dan patrimoni selama abad ke 18 hingga ke lubang ozon dan penghangatan global masa kini, tetapi, berbagai komodifikasi tersebut juga mengakibatkan jenis lain dari perusakan lingkungan, yang dalam cara yang amat berbeda, juga sama problematiknya, yaitu: penipisan “modal moral,” suatu terma mengerikan yang hanya sanggup diciptakan para ekonom untuk mendeskripsikan konsekuensi sosial mengerikan lainnya dari kekuatan-kekuatan pasar. Seperti yang ditekankan Adam Smith dalam Theory of Moral Sentimentsnya,  pasar adalah suatu sistem yang berbahaya karena merusak nilai-nilai yang diyakini bersama oleh komunitas, nilai-nilai yang sesungguhnya sangat diperlukannya untuk mengendalikan ekses yang ditimbulkannya. “Betapa pun termotivasinya oleh kepentingan diri, pasar tetap secara mutlak tergantung pada suatu komunitas yang meyakini bersama nilai-nilai seperti kejujuran, kemerdekaan, inisiatif, hemat, dan kebajikan-kebajikan lain yang otoritasnya tak akan mampu bertahan lama dari pereduksian hingga ke tingkat selera-selera pribadi yang sangat eksplisit dalam filsafat nilai positivistik dan individualistik, yang menjadi landasan teori ekonomi modern.” (Daly and Cobb:50). Kontradiksi mendasar pasar ialah ia butuh sifat-sifat seperti kepercayaan (trust) agar bisa bekerja secara efisien, namun cara kerjanya malah cenderung mengikis tanggung jawab pribadi terhadap pihak-pihak lain. Kontradiksi ini sudah mengarah ke arah keruntuhan yang sudah amat parah di banyak korporasi. “Penyusutan (downsizing)” besar-besaran dan peralihan ke pekerja paruh waktu menunjukkan semakin berkurangnya perhatian korporat terhadap para pekerja, sementara di tingkat atas, peningkatan gaji yang gila-gilaan (dengan opsi saham yang begitu menggiurkan) dan praktik-praktik yang menjijikkan seperti management buy-outs [MBO], mengungkapkan bahwa para eksekutif yang diberikan kepercayaan untuk mengelola korporasi semakin piawai mengeksploitasi atau menganibal korporasi demi keuntungan pribadi mereka sendiri. Antara tahun 1980 dan tahun1993, asset perusahaan-perusahaan yang masuk kategori Fortune 500 firms meningkat 2,3 kali tapi memapas 4,4 juta pekerjaan, sementara kompensasi untuk CEO meningkat lebih dari enam kali, sehingga rata-rata CEO korporasi raksasa menerima paket kompensasi senilai lebih dari $3.7 juta per tahun (Korten:218).

Dalam cara-cara seperti itulah pasar menunjukkan dirinya tidak mengakumulasi “modal moral”; ia malah “mengurasnya” dan oleh sebab itu, pasar tergantung pada komunitas untuk menghidupkan kembali “modal moral”, sebanyak ia tergantung pada biosfir untuk memperbaharui modal alami. Tidak mengejutkan, konsekuensi-konsekuensi jangka panjangnya kurang lebih sama: bahkan sekalipun kita sudah mencapai titik di mana kemampuan biosfir untuk pulih kembali telah rusak, namun modal moral kolektif kita sudah sedemikian terkurasnya sehingga komunitas-komunitas kita (atau lebih tepatnya, kumpulan kita akan para individu yang kini bak atom-atom [atomized individuals] yang saling berebut untuk menjadi “nomor satu”) kurang mampu untuk memperbaharuinya, dengan konsekuensi-konsekuensi sosial yang sangat mengganggu nurani yang tampak jelas di sekeliling kita. Poin ini perlu diulang-ulang karena sistem pendukung ekonomi yang diciptakan untuk mengoreksi berbagai kegagalan kapitalisme kini sedang disalahkan atas berbagai kegagalan kapitalisme tersebut. Namun pembusukan sosial yang sedang melanda begitu banyak “masyarakat maju” bukanlah sesuatu yang bisa dikoreksi oleh penerapan nilai-nilai pasar yang lebih efisien (seperti mencoret para ibu yang tidak menikah dari tanggungan program kesejahteraan pemerintah sehingga kerja mereka akan memberi sumbangsih pada masyarakat); lebih tepatnya, pembusukan ini merupakan konsekuensi langsung dari nilai-nilai pasar tersebut. Aneka komodifikasi yang masih terus menghancurkan biosfir, harga jiwa manusia, dan warisan yang seharusnya kita tinggalkan untuk generasi-generasi mendatang, juga masih terus merusak komunitas-komunitas lokal yang mempertahankan serat moral para anggota mereka. Degradasi bumi dan degradasi masyarakat-masyarakat kita sendiri, keduanya ini harus dilihat sebagai akibat-akibat langsung dari proses komodifikasi pasar yang sama—yang masih terus-menerus merasionalkan operasinya sebagai alami dan tak terhindarkan.

Pengurasan kumulatif “modal moral” secara paksa mengingatkan kita bahwa komunitas lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya, bahwa kesejahteraan bagi keseluruhan diperlukan demi kesejahteraan masing-masing anggotanya. Namun ini merupakan sesuatu yang teori ekonomi kontemporer tidak mampu menjadikannya sebagai faktor dalam perhitungannya. Mengapa tidak? Jawabannya membawa kita kembali pada asal mula pemikiran ekonomi di abad ke 18, asal mula yang berpangkal pada filsafat utilitarianisme individualistik yang lazim pada masa itu. Filsafat sudah demikian berkembang sejak saat itu, tapi ekonomi masih tetap terbelenggu pada nilai-nilai utilitarian, semakin menjadi-jadi karena tidak tahu akan hutangnya [pada utilitarianisme].[5] Menurut utilitarianisme, masyarakat terdiri dari para individu dengan ciri-ciri khas masing-masing, yang berusaha memburu tujuan-tujuan pribadinya sendiri. Nilai-nilai kemanusiaan direduksi menjadi sebuah kalkulus yang memaksimalkan aneka kesenangan (dengan tanpa ada perbedaan kualitatif di antara mereka) dan meminimalkan ketidaknyamanan. Rasionalitas kemudian didefinisikan menjadi perburuan cerdas kepentingan pribadi masing-masing. Dalam pemahaman Adam Smith akan hal ini, “para individu dipandang mampu menghubungkan diri mereka sendiri dengan pihak-pihak lain dalam beragam cara, secara mendasarnya kalau tidak dalam kebajikan pasti dalam keegoisan, namun mereka tidak terdiri dari hubungan-hubungan ini ataupun hubungan manapun. Mereka eksis dalam keterpisahan fundamental antara yang satu dengan yang lainnya dan dari posisi keterpisahan inilah mereka berhubungan. Hubungan-hubungan mereka tersebut bersifat eksternal bagi identitas mereka masing-masing” (Daly and Cobb: 160). Mengingat disiplin ekonomi tampaknya sudah menjadi yang diprioritaskan di lingkup ilmu pengetahuan sosial (tidak ada Hadiah Nobel untuk sosiologi ataupun ilmu pengetahuan politik, apalagi untuk filsafat ataupun agama), pandangan tentang kemanusiaan kita dari sudut pandang ilmu ekonomi ini menjadi yang paling diterima secara luas bertepatan dengan masa di mana berbagai praanggapannya tersebut didiskredit secara habis-habisan oleh filsafat, psikologi, dan sosiologi kontemporer—belum lagi oleh agama, yang selalu menawarkan suatu pemahaman yang amat berbeda tentang makna menjadi seorang manusia. Meskipun demikian, sementara nilai-nilai pasar mengakibatkan mundurnya kualitas berbagai hubungan sosial kita, “masyarakat menjadi lebih mirip agregat individu-individu yang digambarkan teori ekonomi sebagai makhluk. Model ‘positif’ secara tak terelakkan mulai berfungsi sebagai sebuah norma yang mana realitas dibuat harus sesuai dengan berbagai kebijakan yang sesungguhnya dibuat berdasarkan model tersebut.” (Daly and Cobb:162). Kita sudah belajar untuk memainkan peran-peran yang cocok dengan pekerjaan-pekerjaan yang harus kita lakukan serta berbagai citra komersil [yang disuntikkan melalui iklan] yang menggempur kita secara konstan.

Karena besarnya pengaruh pemikiran Neo-Malthusian tentang populasi pada masa ini, penting untuk diperhatikan bahwa Malthus sendiri berada dalam tradisi ini. Essay on the Principle of Population (1798)nya berdebat untuk prinsip upah yang tidak bisa diganggu gugat: upah sekadar bertahan hidup (subsistence wage) merupakan upah yang adil, karena upah yang lebih tinggi bisa mengakibatkan penduduk bertumbuh pesat hingga pertumbuhan tersebut terhenti oleh kemiskinan. Dengan demikian, [menurut teori Malthus] kemiskinan bukanlah produk institusi-institusi manusia melainkan kondisi kehidupan alami bagi kebanyakan manusia. Pengaruh cara berpikir macam ini berada dalam proporsi terbalik  dengan (kurangnya) bukti empiris untuknya, karena tren-tren demografis dunia menyediakan sedikit sekali bukti. Peningkatan pesat penduduk di Inggris abad ke 19, yang terjadi setelah banyak orang digusur keluar dari tanah mereka ke pekerjaan pabrik, mendukung konklusi yang bertolak belakang, yaitu rakyat tidak miskin karena punya keluarga besar, melainkan butuh keluarga besar karena mereka miskin (ada permintaan yang sangat besar untuk pekerja anak-anak). Secara moral, Malthusianisme cenderung menutup-nutupi isu tentang siapa sesungguhnya yang sedang mengonsumsi sumber daya bumi. Secara teoritis dalil utamanya—penduduk bertumbuh secara geometris sedangkan makanan secara aritmetik—secara semau gue mengisolasi dua variabel penyebab dari kompleksitas aneka ragam faktor, sambil mengasumsi variabel terpenting dari semua sebagai sesuatu yang konstan, yaitu: “kealamian” pasar yang bebas tak dikendali dan tipe manusia yang sesuai untuknya—yaitu individu yang “rasional”, egois, dan kompetitif yang masih dipraandaikan oleh ekonomi neo-klasik.[6]

Seperti semua filsafat Barat modern, utilitarianisme yang ditelan mentah-mentah Smith dan Malthus itu sendiri berhutang budi kepada Rene Descartes. Dualisme metafisiknya membedakan maksud-tujuan (purposes) umat manusia dari segala sesuatu lainnya yang eksis, dengan dampak mendevaluasi mereka hingga menjadi sarana belaka yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan umat manusia. Terlepas dari keasyikan filsafat abad ke 20 dalam mengritik dualisme subyek-obyeknya kaum Cartesian, teori ekonomi kontemporer masih mempraandaikan teori nilai subyektivis tersebut, yang hanya mampu menyadari nilai atau sesuatu yang berharga di dalam pemenuhan nafsu-nafsu manusia semata.

Kemanusiaan kita direduksi menjadi sumber tenaga kerja dan sekumpulan nafsu yang tak bisa dipuaskan, sementara komunitas-komunitas kita terdisintegrasi ke dalam agregat para individu yang saling bersaing untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi…bumi beserta semua makhluknya dikomoditikan ke dalam sebuah pool sumber daya  untuk dieksploitasi guna memuaskan nafsu-nafsu tersebut… adakah dualisme yang radikal ini meninggalkan suatu ruang untuk hal-hal yang sakral? Demi keheranan dan ketakjuban akan misteri penciptaan? Apakah kita percaya Tuhan atau tidak, mungkin kita curiga ada sesuatu yang hilang. Di sini kita diingatkan kembali akan peran krusial yang dapat dilakukan oleh agama, yaitu: mengangkat pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai pemahaman yang semakin pudar mengenai apa itu dunia dan kehidupan kita bisa menjadi apa.

Sadar akan penderitaan yang timbul ketika kami memaksakan pandangan kami kepada yang lain, kami berkomitmen untuk tidak memaksa pihak lain, bahkan anak-anak kami, melalui cara apapun—seperti otoritas, ancaman, uang, propaganda, atau indoktrinasi—untuk mengadopsi pandangan kami. Kami akan menghormati hak orang lain untuk berbeda dan memilih apa yang dipercayai serta cara memutuskannya. Tetapi, kami akan membantu pihak lain untuk meninggalkan kefanatikan dan kepicikan melalui berlatih secara mendalam dan terlibat aktif dalam dialog yang penuh kasih sayang. Zen Master Thich Nhat Hanh

 



 

 

 

Kelaparan yang tak berkesudahan…sudah bahagiakah kita?


Saat ini bukan kaum proletar yang transformasi kesadarannya akan membebaskan dunia, melainkan para konsumen. (Miller:19).


Dari sudut pandang keagamaan, masalah dengan kapitalisme pasar dan nilai-nilainya itu bersifat ganda, yaitu: keserakahan dan kebodohan. Di satu sisi, pasar yang tanpa kendali itu menekankan keserakahan bahkan sebenarnya membutuhkannya paling tidak dalam dua cara. Nafsu untuk keuntungan diperlukan untuk membahanbakari mesin sistem ekonomi dan nafsu tak akan pernah bisa dipuaskan yang harus dibangkitkan guna menciptakan pangsa pasar untuk segala sesuatu yang bisa diproduksi. Dalam teori ekonomi maupun dalam pasar yang ditumbuhkannya itu, tak terelakkan lagi lenyap sudah dimensi moral keserakahan; kini tampaknya hanya tinggal agama saja yang masih bisa diharapkan dapat mengatasi apa yang problematik dari sifat manusia, yaitu yang dalam kondisi terbaiknya, tidak menyenangkan secara moral dan yang dalam keadaan terburuknya, jelas-jelas sangat jahat. Pemahaman-pemahaman keagamaan tentang dunia cenderung hingga batas tertentu mempersepsikan keserakahan sebagai sesuatu yang alami, namun ketimbang membiarkannya bebas, pemahaman-pemahaman tersebut justru melihat keserakahan perlu dikendalikan. Masalah spiritual dengan keserakahan, baik keserakahan untuk memperoleh laba maupun untuk mengonsumsi, bukan saja disebabkan oleh dampak maldistribusi barang-barang duniawi (kendati pendistribusian yang lebih adil sangat esensial) ataupun dampak-dampaknya terhadap biosfir, melainkan yang jauh lebih fundamental lagi adalah karena keserakahan berasal dari kebodohan batin: suatu delusi bahwa kebahagiaan bisa diketemukan dalam cara ini.  Berusaha mencari pemenuhan melalui laba ataupun menjadikan konsumsi sebagai makna kehidupan kita, merupakan suatu pemberhalaan, yaitu penyimpangan yang sangat keji terhadap agama sejati; dan institusi keagamaan manapun yang berdamai dengan prioritas nilai-nilai pasar tersebut tidak layak disebut sebagai agama yang asli.

Dalam kalimat lain, keserakahan adalah bagian dari sistem  nilai yang cacat (cara untuk hidup di dunia) yang berdasarkan pada sistem kepercayaan yang salah (apa itu dunia). Subyektivisme ekstrim Cartesianisme dan individualisme atomistik utilitarianisme, yang “mengalamikan” keserakahan tersebut, harus ditantang dan disangkal—bukan hanya secara intelektual, tapi khususnya oleh cara kita menjalani kehidupan kita. Kepekaan yang tajam terhadap keadilan sosial yang terdapat dalam agama-agama Semitik (agama-agama yang memandang dosa merupakan kegagalan moral dari kehendak ) perlu ditambahkan dengan penembusan dan pelenyapan kebodohan batin (ketidaktahuan sebagai suatu kegagalan untuk memahami) yang ditekankan oleh tradisi-tradisi pencerahan Asia. Lagi pula, saya pikir agama-agama Semitik tanpa tradisi-tradisi pencerahan Asia pasti tidak akan efektif di jaman kita yang sinis ini. Kita tak akan pernah bisa mengatasi masalah keadilan sosial distributif tanpa juga mengatasi pengaburan nilai tentang kebahagiaan yang terjadi lewat akumulasi dan konsumsi yang bersifat individualistik, karena masalah tersebut bukan hanya disebabkan oleh kemampuan orang-orang yang mengendalikan berbagai sumber daya dunia untuk memanipulasi segala sesuatu untuk mencapai apa yang dianggap menguntungkan mereka sendiri, dan sebagaimana telah ditunjukkan abad ke 20, revolusi-revolusi penuh kekerasan untuk menggulingkan kaum elite macam itu hanyalah menggantikan mereka dengan orang-orang lain yang berkualitas serupa.

Menurut sejarawan Perancis Fernand Braudel, revolusi industri “pada akhirnya merupakan sebuah revolusi dalam permintaan (demand)”—atau lebih tepatnya, “suatu transformasi nafsu” (183). Karena kita telah memandang nafsu-nafsu kita yang tak akan pernah dapat dipuaskan itu sebagai hal yang “alami,” maka perlu diingat betapa cara kita menjadi bernafsu saat ini (present mode of desiring) juga merupakan sebuah sistem nilai yang terkondisi secara historis—satu set kebiasaan yang dimanufaktur seperti barang-barang yang dipasok untuk memuaskannya.  Menurut jurnal perdagangan, yang seharusnya tahu akan hal ini, pada tahun 1994 Amerika Serikat (AS) menghabiskan $147 miliar untuk belanja iklan—jauh lebih besar daripada pengeluaran untuk semua pendidikan tinggi. Belanja ini diterjemahkan ke dalam pembombardiran dari 21.100 iklan komersil TV, sejuta halaman iklan di majalah, 14 miliar katalog pemesanan lewat surat, poster, dan billboard. Pengeluaran tersebut tidak termasuk industri-industri terkait yang berdampak pada selera maupun belanja para konsumen seperti promosi, hubungan masyarakat, marketing, desain dan khususnya fashion (bukan hanya busana), yang berjumlah sekitar $100 miliar lagi per tahun (Durning:122). Disatukan, ini barangkali merupakan upaya terbesar dalam manipulasi mental yang pernah dialami umat manusia—semua itu hanya ditujukan untuk mendefinisi serta menciptakan kebutuhan-kebutuhan konsumeris.Tak mengherankan seorang anak di negara maju berdampak terhadap lingkungan tiga puluh kali dari anak di dunia ketiga.

Jika pasar adalah cara yang paling efisien untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ekonomi kita, lalu mengapa industri-industri raksasa tersebut diperlukan? Teori ekonomi, seperti pasar itu sendiri, tidak membedakan antara kebutuhan-kebutuhan yang jenuin dengan nafsu-nafsu hasil manufaktur. Keduanya diperlakukan sebagai normatif. Tidak ada perbedaan mengapa orang menginginkan sesuatu. Namun konsekuensi-konsekuensi pendekatan ini terus menghasilkan perbedaan besar. Pola konsumsi yang kini tampak alami bagi kita menyediakan suatu konteks yang lebih serius bagi kemerosotan pesat sistem-sistem ekologi selama setengah abad lalu: menurut the Worldwatch Institute, lebih banyak barang dan jasa (diukur dalam dollar yang konstan) dikonsumsi manusia yang hidup antara tahun 1950 dan 1990 daripada yang dikonsumsi seluruh generasi terdahulu dalam sejarah manusia (Durning: 38).

Jika ini tidak cukup mengusik, tambahkan berbagai konsekuensi sosial yang telah ditimbulkan peralihan kita ke nilai-nilai konsumeris, yang, paling tidak di AS saja, telah merevolusi cara kita berhubungan satu dengan lainnya. “Dengan runtuhnya komunitas di segala tingkatan, umat manusia semakin mirip dengan apa yang dideskripsikan model Homo economicus tradisional. Belanja sudah menjadi rekreasi nasional….Berdasarkan pinjaman serta penjualan asset nasional secara besar-besaran, orang-orang Amerika menghambur-hamburkan warisan mereka dan memiskinkan anak-anak mereka” (Daly and Cobb:373). Bah!...untuk patrimoni mereka. Kekayaan kita yang begitu luar biasa tidaklah cukup bagi kita sehingga kita menambahkannya dengan mengakumulasi jumlah hutang yang gila-gilaan. Betapa panjang akal kita ini sampai-sampai menciptakan sistem ekonomi yang mengijinkan kita untuk mencuri asset masa depan keturunan kita! Aneka komodifikasi kita memungkinkan kita mencapai sesuatu yang umumnya diyakini mustahil yaitu, perjalanan menembus waktu: kini kita punya banyak cara untuk menjajah dan mengeksploitasi bahkan masa yang akan datang.

Sadar bahwa melihat sifat dasar penderitaan secara mendalam dapat membantu kami menumbuhkembangkan kasih sayang serta mencari jalan untuk keluar dari penderitaan, kami bertekad untuk tidak menghindar atau menutup mata kami dari penderitaan Kami berkomitmen untuk menemukan berbagai cara termasuk kontak pribadi, gambar-gambar, suara-suara, dan bersama-sama dengan mereka yang sedang menderita, sehingga kami dapat memahami situasi mereka secara mendalam dan membantu mereka mengubah penderitaan mereka menjadi kasih sayang, kedamaian, dan suka cita. Zen Master Thich Nhat Hanh

Ironi terakhir dalam pengomodifikasian dunia yang sudah hampir komplit ini tidaklah mengejutkan bagi siapa pun yang akrab dengan apa yang sudah menjadi perilaku adiktif bagi 59 juta orang di AS (Dominguez and Robinson:171). Perbandingan-perbandingan yang sudah dibuat selama ini dan antarmasyarakat menunjukkan bahwa tidak banyak perbedaan dalam kebahagiaan yang dilaporkan oleh diri sendiri. Fakta bahwa kita yang tinggal di dunia maju sekarang sedang mengonsumsi jauh lebih banyak tidaklah berdampak banyak bagi kebahagiaan kita (Durning:38-40).

Hal ini tidak mengejutkan bagi orang-orang yang orientasinya lebih relijius. Kritik terbaik bagi keserakahan untuk mengonsumsi ini masih terus disediakan ajaran-ajaran tradisional agama, yang bukan saja berfungsi memberikan kita dasar pijakan tapi juga menunjukkan kepada kita betapa kehidupan kita bisa dirubah. Misalnya, dalam Buddhisme, agama saya sendiri, nafsu-nafsu milik sang ego-diri yang tak akan pernah dapat dipuaskan itu justru adalah sumber frustasi dan kurangnya kedamaian yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Konsumsi berlebihan yang mengalihkan perhatian dan menghilangkan keadaan sadar kita merupakan salah satu gejala utama masalah ini. Malangnya bagi kita semua, desakan untuk terus mengonsumsi tersebut bukannya mengurangi kecemasan kita malah membuatnya tambah parah.

Sebagai jawaban, agama Buddha mengajarkan pelepasan dan kedermawanan. Seperti yang disampaikan Shunryu Suzuki roshi, pelepasan bukanlah berarti melepaskan segala sesuatu di dunia ini melainkan menerima bahwa hal-hal tersebut tidaklah kekal abadi, mereka akan berlalu. Kemampuan untuk memahami dan menerima segala sesuatu akan berlalu—termasuk diri kita sendiri—sangat kita perlukan agar dapat hidup dengan tenang. Hanya orang yang identitasnya tidak terikat pada akuisisi dan konsumsilah yang benar-benar mampu melepaskan dunia. Tanda pelepasan adalah kedermawanan, yang dihargai secara sangat mendalam dalam agama Buddha seperti semua agama utama.[7] Kedermawanan sejati bukan saja menunjukkan pengembangan moral tapi juga insight: “Seiring dengan memudarnya kebutuhan untuk mendefinisi dan mempresentasikan diri kita, memudar pula keterikatan akan kepemilikan dan desakan untuk mengakuisisi. Sehingga pada akhirnya kita akan mampu melihat bahwa pengalaman akan keterikatan pada kepemilikan itu sendiri pada dasarnya bersumber dari kebodohan batin. Sesuatu merupakan milikku hanya jika itu bukan milikmu. Namun jika kita mampu melihat bahwa tidak ada aku yang terpisah dari kamu, juga tidak ada kita yang terpisah dari fenomena dunia, konsep kepemilikan mulai kehilangan maknanya. Pada dasarnya tidak bisa ada desakan untuk mengakuisisi, karena tidak ada sesuatu pun yang kurang (lacking)” (Jeffrey:12). Konsumerisme bukan saja gagal melihat perasaan suka cita lebih tinggi yang diperoleh dari memberi kepada pihak-pihak lain, tapi juga mencegah terjadinya realisasi ontologis tentang nondualitas antara diri saya dan pihak-pihak lain. Realisasi tersebut menghantarkan kita pada insight yang transformatif bahwa kita tidak perlu menjadi akuisitif jika sesungguhnya memang tidak ada sesuatu pun yang kurang. Agama-agama lain mencari cara-cara lain untuk mengekspresikan pentingnya kedermawanan, tapi saya percaya jalur mereka yang berbeda bekerja menuju realisasi yang serupa tentang kesalingterkaitan kita. Jika kita kontraskan pendekatan ini dengan indoktrinasi pasar tentang pentingnya akuisisi dan konsumsi—suatu indoktrinasi yang dibutuhkan pasar agar dapat berkembang—garis-garis pertempuran menjadi jelas. Semua agama yang asli adalah sekutu alami dalam melawan sesuatu yang merupakan pemberhalaan yang menindas ajaran-ajaran terpenting agama-agama tersebut.

Sebagai kesimpulan, pasar bukan hanya sekadar sebuah sistem peekonomian melainkan juga sebuah  agama—tapi bukan agama yang baik, karena pasar hanya bisa tumbuh subur dengan mengobral janji gombal keselamatan sekuler yang tidak akan pernah bisa dipenuhinya. Disiplin akademisnya, “ilmu pengetahuan sosial” ekonomi, lebih baik dipahami sebagai sebuah teologi yang berpura-pura sebagai ilmu pengetahuan.

Ini menunjukkan bahwa solusi apa pun untuk masalah-masalah yang telah mereka ciptakan pasti memiliki dimensi keagamaan. Ini bukanlah persoalan tentang beralih dari nilai-nilai sekuler ke nilai-nilai yang sakral, melainkan tentang kebutuhan untuk menyingkap betapa obsesi-obsesi sekuler kita sudah menjadi gejala dari suatu kebutuhan spiritual yang tak akan pernah dapat mereka penuhi. Karena kita telah, baik secara sadar ataupun tidak sadar, berpaling dari pemahaman relijius tentang dunia, kita malah memburu tujuan-tujuan duniawi dengan semangat keagamaan yang semakin menggebu-gebu karena tujuan-tujuan duniawi tersebut tak akan pernah bisa terpenuhi.[8] Solusi untuk bencana lingkungan yang sudah mulai terjadi dan solusi untuk keterpurukan sosial yang sedang kita alami, akan terjadi kala kita mengarahkan kembali dorongan spiritual yang tertekan ini kembali ke jalur sejatinya.. Untuk sementara ini, jalur tersebut termasuk berjuang mati-matian melawan agama palsu jaman kita ini.

***

David R. Loy

Diterjemahkan oleh Jimmy Lominto



Makalah ini diterbitkan sebelumnya di the Journal of the American Academy of Religion. Vol. 65, No. 2, Summer 1997



David R. Loy adalah  seorang profesor di Fakultas Studi Internasional, Universitas Bunkyo, Chigasaki, Jepang. Kerja di bidang perbandingan filsafat dan agama, khususnya membandingkan Buddhisme dengan pemikiran modern Barat. Dia adalah penulis Nonduality: A Study in Comparative Philosophy (Yale, 1989) dan Lack and Transcendence: The Problem of Death and Life in Psychotherapy, Existentialism, and Buddhism (Humanities Press, 1996). Seorang praktisi Zen sekitar dua puluh tahunan yang  memenuhi syarat sebagai sensei (guru) dalam tradisi Sanbo Kyodan.





REFERENSI :


Boulding, Kenneth E. Beyond Economics. Ann Arbor:  University of Michigan Press, 1968.
Braudel, Fernand. The Wheels of Commerce. Trans. by Sian Reynolds. New York: Harper and Row, 1982.
Brown, Norman O. Life Against Death: The Psychoanalytic Meaning of History. New York: Vintage, 1961.
Daly, Herman E., and Cobb, Jr., John B. For the Common Good. 2nd edition, Boston: Beacon Press, 1994.
Dobell, A. Rodney. “Environmental Degradation and the Religion of the Market.” In Population, Consumption, and the Environment, [pages]. Ed. by Harold Coward. Albany: State University of New York Press, 1995.
Dominguez, Joe, and Robin, Vicki. Your Money Or Your Life. Harmonsworth: Penguin, 1993.
Durning, Alan. How Much is Enough. New York: Norton, 1992.
Eisenstadt, S.N., ed. The Protestant Ethic and Modernization: A Comparative View. New York: Basic Books, 1968.
Jeffrey, Meg. “Consumerism in the Monastery.” Turning Wheel Summer 1995: 11-13.
Korten, David. When Corporations Rule the World. West Hartford, CT: Kumarian Press, 1995.
Loy, David. Lack and Transcendence: The Problem of Death and Life in Psychotherapy, Existentialism, and Buddhism. Atlantic-Highlands, NJ: Humanities Press, 1996.
Miller, Daniel. “Consumption as the Vanguard of History” in Acknowledging Consumption: A Review of New Studies, 1-57. London: Routledge, 1995.
Polanyi, Karl. The Great Transformation. Boston: Beacon, 1957.
Rao, Mohan. “An Imagined Reality: Malthusianism, Neo-Malthusiasnism and Population Myth.” In Economic and Political Weekly January 29, 1994: 40-52.
Sale, Kirkpatrick. Rebels Against the Future: the Luddites and Their War on the Industrial Revolution. Reading, Massachusetts: Addison-Wellesley, 1995.
Scaff, Lawrence. Fleeing the Iron Cage: Culture, Politics, and Modernity in the Thought of Max Weber. Berkeley: University of California Press, 1989.
Tawney, R.H. Religion and the Rise of Capitalism. New York: Harcourt, Brace, 1926.

 

CATATAN KAKI


[1] Esei ini banyak berhutang pada Daly dan Cobb (1994) yang menyajikan kritik terhadap teori ekonomi modern secara mendetil dan menunjukkan bagaimana berbagai persoalan lingkungan dan sosial kita bisa diatasi jika kita memiliki kemauan untuk melakukannya.

[2] Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa alternatif terhadap agama pasar tidaklah mensyaratkan eliminasi pasar (dan kegagalan sosialisme abad ke 20 menunjukkan bahwa pasar tidak harus dilenyapkan), melainkan mengembalikan kekuatan-kekuatan pasar ke tempat yang tepat, tempat mereka yang terbatas dalam hubungan-hubungan sosial komunitas.

[3] Saya tidak berada dalam posisi untuk mengevaluasi perdebatan cendikia yang telah diprovokasi  tesis Weber;  untuk suatu ringkasan awal yang umum, lihat Eisenstadt  (1968), terutama hal. 67-86.

 

 

 

[4] Karena setiap Tuhan butuh  Setan dan setiap agama perlu teori tentang kejahatan, para anggota agama pasar menemukan kejahatan di dalam hal yang mengancam surplus seseorang yang terus bertambah: khususnya pajak, inflasi, dan regulasi pemerintah, seperti penghalang perdagangan (trade barriers).

[5] “Ilmu ekonomi paling tidak meluncur keluar setengah matang dari kepala Adam Smith yang  mungkin sangat tepat dianggap sebagai pendiri ilmu ekonomi yang merupakan dunia wacana abstrak yang menyatu dan ilmu ekonomi masih, hampir tanpa mengetahuinya, bernafaskan udara rasionalisme dan Deisme abad ke 18” (Boulding:187)

[6] Untuk kritik Malthusianisme yang jernih dan menentukan, lihat Rao:1994

[7] Kedermawanan (sansekerta, dana) merupakan paramita (kebajikan transendental) pertama Mahayana  dan yang terpenting karena kedermawanan secara tidak langsung menyatakan paramita-paramita lainnya.

[8] Ini didiskusikan lebih lanjut di Loy:1996.


Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua 7867


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.

 


Last modified onSaturday, 02 February 2013 08:15
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1375-pasar-sebagai-agama-kajian-seorang-buddhis-terhadap-ekonomi-global-konsumerisme-pembangunan-dan-peran-spiritualitas-dalam-masyarakat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto