A+ A A-

Peran Etnis Tionghoa Dalam Pembangunan Nasional

  • Written by  Goei Siauw Hong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dengan terbatasnya lapangan kerja di luar wiraswasta pada masa lalu dan juga jiwa entrepreneur yang tinggi dari etnis ini, etnis Tionghoa memfokuskan dirinya pada bidang wiraswasta sebagai andalan hidupnya. Akibat dari suksesnya usaha dari beberapa gelintir enterpreneur keturunan Tionghoa, berbagai pihak menyoroti kesuksesan ini dan seolah-olah pengusahan keturunan Tionghoa hanya sukses karena fasilitas dari pemerintah. Kemudian juga dikembangkan persepsi-persepsi bahwa pengusahan etnis Tionghoa tidaklah ikut membangun ekonomi nasional, malahan ikut membangkrutkan ekonomi nasional dengan hutang-hutang yang tidak dapat dibayar.

Artikel Terkait:

{module [201]}


Kesinisan sorotan terhadap pengusaha keturunan Tionghoa banyak disebabkan karena eksklusivitas yang diciptakan dalam perusahaan-perusahaan keturunan Tionghoa tersebut. Segala sesuatu dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan dalam grup dalam rangka mencegah keluarnya aliran keuntungan dari grup perusahaan yang ada. Sementara bila mereka mencari partner, cenderung juga memilih partner dari pengusaha keturunan Tionghoa. Eksklusivitas ini menyebabkan timbulnya berbagai persepsi yang salah terhadap para pengusaha keturunan Tionghoa.


Mulailah dicari-cari alasan untuk menyalahkan pengusaha keturunan Tionghoa. Mulai dikatakan besar dari KKN sampai membangkrutkan ekonomi nasional. Padahal praktek-praktek KKN bukan hanya dilakukan oleh pengusaha keturunan Tionghoa, namun juga pengusaha keturunan pribumi. Praktek KKN sendiri bisa terjadi karena korupnya penguasa yang didominasi oleh keturunan pribumi. Jadi mengkotakkan WNI keturunan Tionghoa sebagai penyebab kerusakan ekonomi Indonesia jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena kerusakan ekonomi Indonesia diciptakan secara bersama-sama oleh WNI pribumi maupun WNI keturunan Tionghoa.


Bagaimanakah cara untuk menghilangkan kecurigaan-kecurigaan maupun praduga-praduga negatif yang timbul antara satu etnis dengan etnis yang lain ? Kunci yang paling utama adalah menghindarkan pengotakan-pengotakan yang ada. Sedari kecil, kita sudah melihat pengkotakan-pengkotakan yang tidak kita sadari. Sebagai contoh, sangat susah untuk WNI keturunan Tionghoa untuk masuk sekolah yang dibiayai negara atau sekolah negeri. Mulai dari SD sampai perguruan tinggi, WNI keturunan Tionghoa secara praktis mengalami kesulitan bersekolah di sekolah negara. Akibatnya, para WNI etnis Tionghoa masuk ke sekolah-sekolah tertentu dan WNI pribumi bersekolah di tempat yang lain.


Untuk menghilangkan praduga di antara komponen bangsa, perlu diusahakan penghilangan pengkotak-kotakan masyarakat. Memang affirmative action diperlukan untuk menolong golongan yang lemah, namun hendaknya tindakan tersebut tidak menjadi suatu pembenaran untuk membedakan atau melakukan diskriminasi di antara komponen bangsa.


Bagaimanakah WNI keturunan Tionghoa dapat membantu proses pembauran tersebut ? Berbagai bentuk kerjasama antara WNI keturunan Tionghoa dengan WNI pribumi dapat dilakukan sehingga dapat menghilangkan kecurigaan antar golongan. Pada prinsipnya, kerjasama dalam bentuk apapun harus didasarkan pada keadaan yang saling menguntungkan, tanpa membedakan golongan yang menjadi partner dalam bekerja sama.


Ada beberapa kasus yang bisa menjadi contoh bentuk kerjasama antara WNI keturunan dan WNI pribumi dalam rangka saling melengkapi.


Astra International mungkin merupakan contoh yang paling baik bagaimana sebuah perusahaan yang didirikan oleh seorang WNI keturunan Tionghoa dapat mengembangkan sistem yang berdasarkan merit. Promosi di Astra International lebih didasarkan pada kemampuan individual daripada etnis dari pegawai tersebut. Sistem promosi yang tidak membeda-bedakan etnis dari seorang pegawai bukan hanya akan menguntungkan pembauran, namun juga akan menguntungkan perusahaan karena perusahaan akan mendapatkan tenaga terbaik untuk mengerjakan suatu pekerjaan.


Astra juga melakukan program kemitraan dengan berbagai pengusaha kecil. Pengusaha-pengusaha kecil tersebut dididik pengetahuan manajemen yang baik dan juga teknik produksi yang benar. Astra sebagai perusahaan pembina, kemudian membeli barang-barang yang dihasilkan oleh pengusaha kecil tersebut. Kemitraan ini bukan hanya menguntungkan pedagang kecil, namun juga menguntungkan Astra. Astra bukan hanya mampu membeli bahan-bahan baku untuk produksinya dengan harga murah karena efisiensi yang diciptakan dari program pendidikan, namun juga mendapatkan konsistensi dari kualitas produksi dari pengusaha kecil yang dibina. Demikian juga pengusaha kecil yang dibina akan mendapatkan keuntungan dari adanya perusahaan besar yang akan membeli hasil produksinya.


Bogasari, penghasil tepung terigu di dunia, juga melakukan program yang bersifat simbiose mutualisme, dimana kedua belah pihak mendapatkan keuntungan dari program kerja sama tersebut. Untuk meningkatkan permintaan tepung terigu, Bogasari mendidik para pengusaha kecil produsen mie basah maupun pengusaha kecil produsen roti dengan berbagai teknik produksi serta kemampuan menganalisa pasar. Dengan kemampuan untuk melakukan penetrasi pasar yang lebih baik dari pengusaha-pengusaha kecil tersebut, Bogasari juga akan diuntungkan. Permintaan tepung terigu, bahan utama untuk mie basah dan roti, akan meningkat dengan keberhasilan dari pengusaha-pengusaha kecil tersebut.


Kita telah melihat hubungan mutualisme yang tercipta antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil. Mungkinkah pengusaha kecil melakukan hubungan yang saling menguntungkan dalam rangka membina hubungan yang lebih baik antara pengusaha satu golongan dengan pengusaha golongan lainnya.


Dalam suatu perjalanan ke Samarinda di Kalimantan Timur, pembicara menemukan fenomena yang menarik, yaitu kerjasama antara pengusaha kecil keturunan Tionghoa dengan pengusaha kecil pribumi. Banyak pengusaha warung kopi keturunan Tionghoa (jangan bandingkan dengan café mewah di Jakarta) yang menjalin hubungan dengan pengusaha keturunan pribumi. Si pemilik warung kopi menyediakan tempat berjualan untuk pengusaha keturunan pribumi yang menjual makanan seperti nasi kuning, soto banjar, dll. Di sini terjadi hubungan yang saling menguntungkan. Pemilik warung kopi akan mendapatkan pelanggan yang dibawa oleh penjual makanan, dan akhirnya minum teh atau kopi dari warungnya. Si penjual makanan akan mendapatkan keuntungan karena pelanggannya dapat menggunakan kursi dan meja yang tersedia di warung kopi.


Contoh-contoh tersebut di atas menunjukkan bahwa hubungan yang saling menguntungkan antara pengusaha pribumi dengan pengusaha keturunan Tionghoa. Hubungan-hubungan saling menguntungkan tersebut akan mampu mencairkan hubungan antar etnis dan mengurangi kesenjangan antara satu golongan dengan golongan yang lain. Pada prinsipnya, hubungan-hubungan saling menguntungkan tersebut harus didasarkan pada merit yang dibawa dari hubungan tersebut, tanpa melihat asal golongan dari pihak yang menjadi partner.


Pengurangan kesenjangan ekonomi akan menjadi hal yang paling utama dalam menciptakan Indonesia yang lebih damai. Kemitraan yang saling menguntungkan seperti yang dapat dilihat dalam contoh di atas jauh lebih berarti daripada tindakan-tindakan politis pemberian subsidi kepada pengusaha yang dianggap lemah. Pemberian subsidi atau kredit dengan bunga rendah kepada pengusaha yang dianggap lemah hanya akan menciptakan ketidakefisienan dalam ekonomi dan tidak mendidik pengusaha lemah untuk menjadi lebih kuat. Yang diperlukan oleh pengusaha kecil bukan makan siang gratis, namun kail yang dapat digunakan untuk menghasilkan makan siang tersebut.


*


GOEI Siauw Hong.

Pembicara adalah pengamat keuangan dan investasi yang aktif memberikan ulasannya pada berbagai media masa. Pembicara mendapatkan pendidikan S1 dari Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 1988. Setelah bekerja pada PT Astra Graphia selama tiga tahun, pembicara melanjutkan pendidikan S2 nya pada Indiana University, Bloomington, USA dan memperoleh gelar MBA pada tahun 1993. Selain kedua gelar akademik tersebut, pembicara juga memperoleh gelar keprofesionalan bertarif international, yaitu Chartered Financial Analyst (CFA) dari lembaga AIMR di Amerika Serikat. Selanjutnya, pembicara menjadi analis pada berbagai perusahaan sekuritas asing di Indonesia dan Singapura, dengan jabatan terakhir sebagai kepala riset pada PT Nomura Indonesia. Selama karirnya menjadi analis keuangan, pembicara beberapa kali dinobatkan sebagai salah satu analis terbaik di Asia oleh berbagai penerbitan asing. Pada saat ini pembicara memulai bisnisnya sendiri dalam sektor riil dan aktif menjadi konsultan untuk beberapa perusahaan multi-nasional dan nasional.

Diposkan oleh HKSIS , 11 Maret 2005

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 11368


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1509-peran-etnis-tionghoa-dalam-pembangunan-nasional

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto