A+ A A-

Hari Ibu : Ibu Dalam Budaya Tionghoa

  • Written by  Zhonghua Wenhua , Dr Han Hwie-Song & Xie Zheng Ming
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang ibu mengandung anaknya selama sembilan bulan dan melahirkan dengan resiko kegagalan yang terkadang berujung kematian. Tanggung jawab berlanjut dengan mengurus anak sampai dewasa dan hidup mandiri. Seorang ibu menjadi pendamping kepala keluarga , membantunya dengan memberi masukan , nasehat atau bahkan ikut berbagi beban di dunia modern ini dengan sama-sama mencari nafkah.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Seorang ibu akrab dengan dusta-dusta bermaknakan pengorbanan. Dalam keadaan paling lapar seorang ibu akan berdusta bahwa dirinya tidak lapar sebelum anaknya bisa makan dengan cukup. Sang ibu berusaha untuk tidur paling terakhir , mengurus dan menyiapkan segala keperluan anak yang masih bisa ditangani untuk keesokan harinya, Sang ibu akan berdusta kepada anaknya kalau dirinya belum mengantuk, walau sebenarnya rasa mengantuk datang menggoda sebelum memastikan anak-anaknya tidur nyenyak. Bahkan dikala sakit , seorang ibu bisa berdusta mengatakan dirinya tidak sakit , disaat anak-anaknya lebih memerlukan bantuannya.

Pada tanggal 22 Desember , masyarakat Indonesia akan merayakan HARI IBU. Hari Ibu memang tidak tercantum sebagai hari libur nasional, tetapi sebagai masyarakat berbudaya patutlah kita memaknai figur ibu , mencoba merekoleksi kembali makna-makna seorang ibu yang pada gilirannya dapat membuat kita tidak terlupa betapa besar jasa seorang ibu bagi diri kita dan lingkungan yang lebih besar.Seorang ibu tidak kalah spiritualnya dengan hari-hari besar keagamaan.

Sangat diharapkan bahwa Hari Ibu bukan sekedar formalitas dan sekedar lewat begitu saja , tanpa makna dan tanpa aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dan setiap orang yang pastinya memiliki ibu bisa menunjukkan rasa BAKTI di masa hidup dan bukan sekedar tangisan formal disaat sang ibunda meninggal dunia padahal sebelumnya menelantarkan beliau kedalam ghetto-ghetto berupa panti jompo tanpa dasar alasan yang kuat.

Dalam Budaya Tionghoa , seorang ibu berperan dalam membimbing dan mendidik anaknya. Ibunda Mencius pindah rumah dua kali (secara umum tiga kali) agar anaknya dapat belajar dengan baik. Di masa modern , seorang ibu memasuki dunia modernitas yang membuka pintu lebar-lebar bagi kaum ibu untuk menempuh pendidikan lebih baik . Latar belakang pendidikan seorang ibu memungkinkan seorang ibu juga menjadi pendidik bagi anaknya selepas jam sekolah , memberikan suplemen wawasan seorang ibu seperti dulu menyusui anaknya ketika bayi. Konsekuensi latar belakang pendidikan membuat seorang ibu juga bisa berada didunia karir dengan posisi yang baik, yang berarti kurangnya waktu untuk berinteraksi dengan anaknya dirumah.

Untuk menyambut HARI IBU ini , "Budaya Tionghoa" akan menyajikan kompilasi kisah maupun sejarah seputar ibu. Kisah ini berasal dari rangkuman kisah-kisah yang ada di Web Budaya Tionghoa ini.


IBUNDA MENCIUS

 

Ibunda Mencius dengan kebijaksanaannya mendidik Mencius menjadi seorang filsuf yang besar sesudah Confucius. Mencius adalah pengikut Confucius dan memperkembangkan pikiran Confucius selanjutnya.  Mencius bersifat baik dan jiwanya halus, dia mengajarkan kita bahwa manusia itu pada dasarnya adalah baik. Han Yu seorang intelektual yang terkenal pada jaman Dinasti Tang mengatakan bahwa kepandaian Confucius “diturunkan”kepada Mencius, meskipun beliau dilahirkan beberapa generasi sesudah Confucius. Meng Ke, nama asli dari Mencius dilahirkan pada tahun 372 SM. Dia adalah keturunan dari keluarga ternama di kerajaan Lu. Karena penghidupan yang miskin keluarga Meng pindah ke kerajaan Zou. Seperti halnya Confucius, ayah Mencius meninggal dunia sewaktu dia baru berumur tiga tahun. Ibu Meng Ke dan anaknya semula tinggal di pinggiran gunung, tidak jauh dari kuburan. Meng kecil sehari-hari bermain-main dengan teman-temannya seperti mengadakan upacara penguburan jenazah.

Ibu Meng-Ke, berpikir kalau tidak pindah rumah, maka anaknya ini kelak hanya bisa mengurus upacara penguburan orang yang meninggal dunia. Maka mereka pindah rumah ke kota dan letaknya tidak jauh dari pasar. Meng kecil melihat sehari-hari orang berjualan dipasar. Disini Meng-ke bermain dengan teman–temannya seperti pedagang sambil menjerit-jerit untuk menjual barangnya dan teman-teman kecilnya membeli barang apa yang dijualnya.
Ibu Meng-Ke sekali lagi mengajak anaknya pindah rumah, Beliau mengatakan pada Meng-ke: ”Kalau kita tidak pindah kelak kau hanya tahu menjual babi.” Kali ini ibunya mencari rumah dengan teliti dan menyewa rumah dekat dari sekolahan. Mengetahui bahwa anaknya sekarang sering berkata hal-hal mengenai Confucius, ibunya baru merasa puas atas lokasi rumah yang Beliau sewa itu.

Untuk ongkos hidup, ibu Mencius menenun kain sutra. Disini Meng-ke mulai belajar dengan giat dan banyak membaca buku dari Confucius.  Namun tidak lama kemudian Meng-Ke mulai malas belajar dan sering ribut dengan ibunya. Meng-Ke mengatakan pada ibunya bahwa belajar sangat membosankan. Mendengar anaknya berkata demikian, ibunya mengambil gunting dan didepan anaknya kain sutra yang setengah ditenun itu diguntingnya. Meng-Ke kaget melihat ini, karena hasil dari penenunan ibunya adalah penghidupan mereka. Meng-ke berusaha menghalangi tindakan ibunya namun kain itu telah digunting menjadi dua. Ibunya dengan sedih tetapi dengan mengeraskan hatinya berkata: ”Kau belajar hanya setengah-tengah, seperti guntingan kain sutra ini, akhirnya sama saja tidak berguna.”  Meng Ke menangis berkata pada ibunya:”Ibu, aku menerima kebijaksanaan ibu, selanjutnya aku akan memperhatikan pelajaran dengan baik, dan aku tidak akan mengecewakan Anda.”

Sejak saat itu Meng Ke belajar dengan giat dan waktu dia dewasa, Meng Ke pergi ke kerajaan Lu ditempat mana dahulu Confucius mengajar murid-muridnya. Dan disini Beliau menjadi murid dari muridnya Zi Si, cucunya Confucius.  Di Tiongkok kebijaksanaan ibu Mengzi menjadi teladan dari kebesaran ibu yang untuk mendidik anaknya berani mengorbankan segala dan tidak segan-segan pindah rumah sampai tiga kali. ||| LINK


SEORANG IBU YANG SIAP BERDUSTA

 

Setiap ibu dalam hidupnya membuat berbagai macam kebohongan . Jika makanan tidak mencukupi ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata , "Cepatlah makan , ibu sungguh tidak lapar." Kemudian saat anak-anaknya  makan , ia selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata , "Ibu sungguh tidak suka ikan , makanlah nak".

Ditengah malam saat seorang ibu sedang menjahit pakaian untuk mencari penghasilan buat keluarga, ia berkata, " Cepatlah tidur , mama masih belum ngantuk ". Saat anaknya sudah tamat dan berkerja di kota besar dan mengirimkan uang untuk ibunya , ia juga berkata , "Ibu masih punya uang." Saat menjelang tua , setiap keluarga pasti pernah mengalami seorang ibu sakit keras dan hanya bisa beristirahat. Anak-anak bisa menangis , tetapi sang ibu  masih bisa tersenyum sambil berkata, "Jangan menangis , ibu tidak sakit".||| LINK


Suatu hari pada jaman zhan guo,di masa pemerintahan Qi Xuan Wang , terjadi kasus dimana seseorang telah terbunuh.Saat petugas berwenang datang ke tempat kejadian, mereka mendapati ada dua  orang kakak beradik berdiri disamping mayat tersebut. Ketika petugas bertanya kepada mereka siapa sebenarnya yang telah membunuh korban,mereka berdua saling berebut untuk mengakui bahwa dirinyalah yang telah melakukan kejahatan itu.

Walau telah menghabiskan waktu yang lama, petugas berwenang masih tetap tidak bisa mengungkapkan siapa diantara kakak-beradik yang menjadi pelaku kejahatan sebenarnya. Kejadian ini akhirnya terdengar oleh Qi Xuan Wang. Beliau lantas mengutus sang perdana menteri pergi mengunjungi kediaman ibu mereka guna mencari tahu lebih lanjut.

Sang ibu berkata kepada perdana menteri: "Pasti sang kakak yang mengaku bersalah untuk melindungi si adik."

Mendengar jawaban dari sang ibu,perdana menteri merasa janggal : "Untuk apa sang kakak melindungi si adik yang jelas-jelas bersalah? Sang ibu kemudian melanjutkan ceritanya: "Sang kakak adalah anak dari suami saya dengan istri terdahulu, sedangkan si adik adalah anak saya.Sebelum meninggal mendiang suami saya berpesan agar saya memperlakukakan anaknya dengan istri terdahulu dengan baik. Sayapun juga menyanggupinya.Jika sekarang terjadi pekara melanggar hukum, saya pasti akan menepati janji saya. Jika tidak berarti saya telah ingkar janji dengan mediang suami,kelak bagaimana saya akanmempertanggungjawabkannya?

Selesai bercerita ibu itu menangis tersedu-sedu. Sekembalinya ke istana , sang perdana menteri menceritakan segala sesuatunya kepada Qi Xuan Wang. Mendengar cerita tersebut Qi Xuan Wang menjadi tergugah hatinya,tidak saja mengampuni kesalahan dari kakak-beradik,tapi juga memuji ibu mereka adalah ibu yang dapat menepati janji.

Membunuh orang memang adalah suatu kesalahan,akan tetapi cerita ini lebih mengajak kita berpikir lebih jauh mengapa kakak-beradik saling berebut untuk mengaku salah.Sebagai ibu tiri pada umumnya akan lebih mencintai anak kandungnya daripada anak suami dengan istri terdahulu. Tokoh ibu dalam kisah ini rela agar anak kandungnya yang menerima hukuman demi menjaga janjinya dengan almarhum suami.Kita dalam kehidupan sehari-hari pun tampa disadari sering ingkar janji,apalagi kalau yang membuat janji dengan kita telah tiada. ||| LINK

 


 

SEORANG IBU SEKALIGUS ISTRI YANG BUDIMAN DAN PENGASIH

Pada jaman Dinasti Ming di daerah Chang Zhou hiduplah sepasang suami-istri. Sang suami bernama Wu Zitian. Istrinya bermarga Sun ,  adalah seorang istri yang budiman. Mereka tinggal bersama ayah, ibu tiri dan seorang saudara tiri. Ibu tiri Wu bermarga Tang.
Tang memperlakukan anak tirinya dengan sangat kejam, membuat Wu sulit untuk menerima perlakuan tersebut. Istrinya berulang kali melunakkan hati Wu agar tidak menentang ibunya sendiri. Ketika ayahnya telah meninggal dunia,  Tang membagikan harta warisan secara tidak adil. Semua barang berharga, sawah yang luas dan subur diberikan kepada anaknya sendiri. Sedangkan Wu Zi Tian hanya mendapatkan bagian sebidang sawah yang sempit dan gersang.

Mendapat perlakuan tersebut Wu Zitian menjadi marah dan berdebat dengan saudara tirinya. Istrinya dengan sekuat tenaga menasehati Wu :" Janganlah karena pembagian harta warisan kita menjadi durhaka kepada ibu. Meskipun kita miskin asalkan rajin bercocok tanam pasti dapat bertahan hidup."

Semenjak itu Wu giat sekali bekerja. Tak sampai 10 tahun ia bisa menjadi seorang yang berkecukupan. Sebaliknya , saudara tirinya karena bermalas-malasan dan suka berjudi,semua harta warisan bagian dia habis tak bersisa. Saat itu Istrinya kembali menasehati Wu agar menampung saudara tiri dan ibu tirinya untuk tinggal bersama dengan mereka. Karena mempunya istri yang berkebajikan, Wu Zi Tian memperoleh tiga orang putra. Mereka semua adalah orang-orang yang berbakat.

Dalam kosakata mandarin ada sebuah istilah yang sangat populer di masyarakat, yaitu:xian qi liang mu. Istilah ini jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti istri yang budiman dan ibu yang pengasih. Dalam kehidupan nyata, seringkali kita menjumpai saudara kandung dulunya akur, sekarang setelah masing-masing berkeluarga karena berebut harta menjadi saling bermusuhan. Sebagai istri yang budiman tentunya ia akan menasehati sang suami agar bisa saling mengalah. Sebaliknya jika istri tamak harta, ia akan mempengaruhi suami agar memenangkan perebutan tersebut.Nyonya Wu adalah contoh istri yang budiman dan ibu yang pengasih ||| LINK


 

IBU DARI SEORANG IBU : SURAT SEORANG NENEK KETIKA BERANJAK TUA

Seorang nenek adalah ibu dari seorang ibu. Ketika sudah beranjak tua , dia tidak seperti dulu lagi . Seorang nenek mungkin dengan teledor menjatuhkan kuah , terpeleset karena sesuatu yang diakibatkan kewaspadaan yang berkurang. Kehilangan kegesitan yang dimakan usia. Keterasingan dengan dunia modern termasuk teknologi. Anak yang sudah menjadi ibu , seringkali terfokus pada kepentingan keluarga barunya , suaminya dan anak-anaknya dan melupakan orangtuanya. Demikian keluh kesah seorang nenek seperti dibawah ini.


Ketika saya beranjak tua, ketika saya tidak seperti dulu lagi . Ketika saya tidak sengaja menjatuhkan kuah ke pakaian saya, ketika saya lupa mengingatkan tali sepatu saya , harap mengingat bagaimana saya mengajarkan kamu apa yang harus dilakukan ketika kamu kecil.

Ketika kamu masih kecil , saya mengatakan cerita yang sama berulang-ulang sampai anda tertidur . Harap jangan membaweli saya. Ketika saya membutuhkan kamu untuk memandikan saya, Ingatlah disaat kecil saya memandikan kamu .

Ketika saya tidak mengerti teknologi terbaru tolong jangan menertawakan saya atau mengejek saya. Masih ingatkah ketika kamu kecil saya mengajari kamu dengan bersabar untuk segala hal.

Ketika kaki saya lelah dan tidak sanggup berjalan lagi. Silahkan mengulurkan tangan anda yang masih kuat untuk meminjamkan saya tangan, sama seperti saya menuntun kamu ketika masih bayi.

Ketika saya pikun dengan apa yang dibicarakan , tolong beri saya sedikit waktu untuk mengingat kembali. Sebenarnya saya tidak peduli dengan apa yang kita bicarakan , selama kamu berada disamping saya , saya sudah amat bahagia.

Ketika kamu melihat saya tua , janganlah bersedih . Harap memahami saya dan mendukung saya , seperti saya dulu mendorong kamu, membimbing kamu dalam  melangkah ke dalam kehidupan

Sekarang saya meminta kamu untuk menemani saya menyelesaikan langkah terakhir saya . Beri saya cinta dan kesabaran , saya akan memberikan senyuman penuh syukur , dan dalam senyuman itu mengkristal cinta tanpa batas terhadap kamu. ||| LINK


Demikian beberapa kisah yang berkaitan dengan figur IBU yang diharapkan dapat dijadikan bahan renungan , inspirasi , bagi setiap orang untuk menghargai ibunya karena jasanya yang tidak ternilai.

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1526-hari-ibu--ibu-dalam-budaya-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto