A+ A A-

Perbedaan Kongzi , Mengzi dan Xunzi

  • Written by  Indarto Tan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Untuk mempermudah pemahaman, sebelum membahas topik inti kita perlu melakukan perbandingan beberapa unsur terpokok dalam pembentukan sebuah budaya antara Barat dan Timur. Oleh budaya Hebrew, Barat menekankan konsep Ketuhanan. Tiongkok lebih menekankan konsep Kemanusiaan. Oleh budaya Romawi, Barat menekankan konsep Hukum. Tiongkok menekankan konsep Kesusilaan. Oleh budaya Yunani, Barat menekankan intelegensia. Tiongkok menekankan moral. Bahwa ciri khas budaya Tionghua adalah Humanisme memang tidak salah, tetapi, jangan salah mengerti bahwa budaya Tionghua hanya sekedar semangat sekular yang segala-galanya dimulai dari manusia dan berahkir pada manusia. Bukan demikian !

Artikel Terkait :

{module [201]}

Pada awalnya, bahwa Tian (ekivalen dengan God), adalah sumber terciptanya semesta alam juga sumber moral manusia. Hal ini antara Barat dan Tiongkok sama. Bedanya, Barat mengejar terus dan berusaha memberi penjelasan rasionil tentang keberadaan Tuhan, sedang Tiongkok tidak : Tian itu ada, habis perkara. Titik. Kata-kata Kongzi dalam kitab  (Lunyu) seperti “Tian telah memberi Kebajikan kepadaku”; “Yang mengerti aku hanya Tian”; …. Dan lain lain, tidak mungkin bila Kongzi tidak merasakan makna Tian yang transenden dalam sanubarinya. Sebelum memahami inti ajaran Kongzi, kita tinjau dulu latar belakang kelahiran konsep ajarannya.

Zaman Chun-qiu , yaitu saat potensi kerajaan Zhou mulai melemah dan raja Zhou-ping-wang memindah ibu-kotanya dari Hao-jing (sebelah barat-daya kota Xi-an sekarang) ke Luo-yi (kota Luo-yang sekarang), suasana sosial masyarakat mulai kacau. Dalam sejarah disebut “Li-peng Yue-huai”, artinya kesusilaan (ketertiban) berantakan dan musik (keharmonisan) rusak. Dalam situasi seperti inilah Kongzi yakin, untuk memperbaiki kondisi negara, harus mulai dari memperbaiki moral manusianya melalui pendidikan agar manusia menjadi Junzi (baca : cuince, lafal Hokkian “kuncu”); seorang Budiman yang bermoral yang menjujung tinggi REN, Cinta-kasih dan YI, memegang Kebenaran.

“Ren” bersifat horisontal, ditujukan atas sesama manusia, manusia saling mengasihi dan saling membantu. “Yi” adalah keharusan melakukan tindakan apa yang dilandasi oleh hati-nurani, tidakan yang berdasar pada “Yi” dipertanggung-jawabkan kepada Yang Maha Kuasa, bersifat vertikal. Orang Tionghua yang menghayati ajaran Kongzi sebagai agama, dia akan melaksanakan Ren Yi yang horisontal dan vertikal itu secara konsekuen sehingga
rohaninya setara dengan rohani orang Kristen yang rela memikul salib, berkorban demi keselamatan sesama manusia. Manusia ideal ini Kongzi menyebutnya Junzi. Dengan contoh-contoh konkret dan dari banyak sudut pandang, Kongzi memberi batasan gaya dan semangat, pikiran dan etika apa itu sesungguhnya seorang Junzi.

Seorang Junzi selalu bertindak dalam batas-batas Li (Kesusilaan) . Seorang Junzi meluaskan pengetahuannya dengan mempelajari kitab-kitab dan membatasi diri dengan Kesusilaan. Dengan demikian ia tidak melanggar Kebajikan.” (Lunyu-VI/27). Seorang Junzi tidak banyak omong dan banyak bekerja : “Seorang Junzi tak banyak bicara tangkas bekerja.” Junzi adalah kepribadian minimal manusia yang diidealkan oleh Kongzi. Kepribadian tertinggi dalam ajaran Kongzi adalah Shengren. Diantara Junzi dan Shengren masih ada Shanren, Chengren, Xianren dan lainnya.  Untuk menggambarkan lebih jelas tentang Junzi, Kongzi mengajukan antonymnya, Xiaoren (Hokkian: Siaojin). Manusia kerdil, manusia picik, manusia culas atau sejenisnya.

“Seorang Junzi menyebarkan kabaikan orang, bukan keburukannya; seorang Xiaoren terbalik.”
“Seorang Junzi mencari keharmonisan, bukan kesamaan; seorang Xiaoren mencari kesamaan, bukan keharmonisan.”


Dalam Rujiao, apa yang digambarkan pribadi “manusia” dari segi baik dan buruk adalah kenyataan kenyataan yang kita jumpai dalam kehidupan normal sehari-hari; bukan mahkluk-mahkluk aneh yang sakti atau jahat yang haus darah. Kongzi menekankan, melalui membina diri manusia bisa menjadi Junzi, tidak membina diri, manusia menjadi Xiaoren.

Seorang Junzi menyebarkan kebaikan orang , bukan keburukannya, seorang Xiaoren terbalik. Seorang Junzi mencari keharmonisan, bukan kesamaan; seorang Xiaoren mencari kesamaan bukan keharmonisan

Mengzi (372-289 SM, marga Meng bernama Ke) sebagai pengagum dan penerus Kongzi berkeyakinan bahwa manusia yang ingin mengembangkan diri sebagai Junzi itu memiliki kemungkinan yang pasti. Mengzi membuat satu teori bahwa orang  hidup harus sesuai dengan “Perintah Tian” atau Tian-ming. Tian-ming itu adalah sesuatu yang MEMBUAT BEDA manusia dengan mahkluk ciptaan Tian yang lain (terutama mahkluk hidup hewan), perbedaan itu bernama “Xing”. (Dalam kitab SUSI terbitan MATAKIN diterjemahkan dengan “Watak-sejati”.) Manusia memiliki KESAMAAN dengan hewan, yaitu naluri. Tetapi, ada PERBEDAANNYA, yaitu manusia memiliki Hati-nurani, hewan tidak punya. Yang dimaksud Xing oleh Mengzi adalah Hati-nurani atau Liangxin (Hokkian: Liangsim).

Berkatalah Mengzi : “ Rasa hati berbelas-kasian tiap orang mempunyai; rasa hati malu dan geram tiap orang mempunyai; rasa hati hormat dan menghargai tiap orang mempunyai; rasa hati memutuskan benar dan salah tiap mempunyai. Rasa-hati belas-kasian itu benih Cinta-kasih (Ren); rasa-hati malu dan geram itu benih menjunjung Kebenaran (Yi); rasa-hati hormat dan menghargai itu benih Kesusilaan (Li); rasa-hati membenarkan dan menyalahkan itu benih Kebijaksanaan (Kecerdasan). Benih-benih Cinta-kasih (Ren), Kebenaran (Yi), Kesusilaan (Li), Kebijaksanaan (Zhi) itu sudah ada sejak awal, bukan yang dimasukkan dari luar. …. Binalah, engkau akan mendapatkan; sia-siakanlah, engkau akan kehilangan. … ”

Mengzi melihat manusia yang dibedakan dengan mahkluk lain oleh Tian, dengan Ren, Yi, Li, Zhi itu adalah kodrat yang BAIK, Shan. Maka, berkatalah orang Tionghua, “Ren zhi chu Xin ben Shan.” Asal-muasal manusia itu baik adanya. Tetapi, Kongzi hanya berkata : “Xing xiang jin, xi xiang yuan.” Watak manusia itu mirip satu sama lain, kebiasaanlah yang membedakan.

Lain lagi dengan Xunzi (313 -238 SM, marga Xun bernama Kuang), beliau melihat satu kenyataan, didalam kehidupan sehari-hari Xiaoren itu sepertinya kok lebih banyak daripada Junzi. Apa Mengzi tidak salah ? Dasar pemikir ulung, berteorilah beliau :

“Manusia itu watak asalnya busuk; kalau baik, itu munafik ! Begitu lahir, manusia itu sudah dengan rakus menuntut ibunya, begitu dewasa apa jadinya ? Usia masih muda sudah iri dan dengki, begitu dewasa pasti hilang saling-kepercayaannya. Mata dan kuping manusia sedemikian gampang terrangsang
oleh nafsu-nafsu yang bisa menjerumuskannya kelembah nista, mengapa dikatakan baik ? ”

Selain dalam hal watak awal manusia Xunzi menentang konsep Mengzi, dalam konsep pelaksanaan “Nei-sheng Wai-wang” pun, antara Meng dan Xun berbeda. Perbedaan-perbedaan ini bila dibahas lebih lanjut akan panjang dan sangat akademis, tidak tepat didalam millist yang sifatnya introduksi ini. Kalau ada yang berminat, silakan berhubungan dengan Dr. Usman Arif. Beliau baru saja berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul “Penyelenggaraan negara menurut Filsafat Xunzi” didepan senat guru besar Universitas Gajah-mada (tahun 2005).

Masalah perbedaan Mengzi vs Xunzi yang berlangsung hampir 2000 tahun itu, sekarang tentu sudah terpecahkan. Masalahnya terletak pada dua pemikir besar itu mendikotomikan antara Naluri dan Nurani. Mengzi sangat meninggikan fungsi moral atau hati-nurani sedang Xunzi terlalu khawatir terhadap pengaruh naluri. Ajaran Kongzi, sesungguhnya sejak awal sudah waspada akan hal ini dan sudah ada penyelesaiannya. Sayang, penerusnya saja yang kurang perhatian.

Bagaimana sekarang ini meninjau masalah Naluri dan Nurani ini ?
Sejak lahir, oleh Yang Maha Kuasa manusia sudah dibekali naluri, tidak hanya hati-nurani saja. Naluri memberi manusia motivasi / dorongan untuk memuaskan hasrat-hasrat atau keinginan keinginan atau nafsu-nafsunya. Hasrat itu bila terpenuhi, manusia akan timbul emosi-emosi semisal senang, puas, gembira, terharu dan lain-lain. Tetapi, bila tidak terpenuhi, manusia juga akan timbul emosi-emosi semisal kecewa, marah, putus-asa, sedih, dengki, iri, takut, gentar, cemas dan lain-lain. Kadar kekuatan menuntut terpenuhinya hasrat itu tidak semua sama. Ada yang kuat sekali ada juga yang tidak terlalu kuat. Urutannya kira-kira demikian : Hasrat akan keselamatan adalah yang paling kuat dan utama. Orang sangat mengharapkan keselamatan. Demi keselamatan, orang bisa saja melakukan tindakan-tindakan yang sangat ekstrim. Maka, hampir semua agama menawarkan konsep keselamatan. Dan “resep”nya masing-masing tidak sama.

Hasrat yang kedua adalah hasrat ingin kehidupan yang nyaman. Kehidupan manusia terdiri dari kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Manusia berhasrat kehidupan jasmaninya nyaman : Tidak capai, tidak lapar, tidak sakit, tidak kepanasan, tidak kedinginan, tidak …. dan seterusnya. Manusia juga berhasrat kehidupan rohaninya nyaman : Diakui existensinya secara positif. Didepan anak diakui sebagai orangtua yang baik; rumah tangga harmonis; didalam masyarakat mendapat kehormatan; merasa bangga sebagai warga negara dan seterusnya. Hasrat terakhir adalah hasrat meneruskan keturunan, hasrat seks. Ajaran Kongzi mengajarkan, kendalikan dan salurkan hasrat-hasrat anda secara tepat dengan cara berlatih-diri / membina-diri dengan mengembangkan Hati-nurani yang sifatnya Ren, Yi, Li, Zhi.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1581-perbedaan-kongzi--mengzi-dan-xunzi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto