A+ A A-

Renungan Imlek Dan Demokrasi Tiongkok

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Pada kesempatan tahun baru Yin Li, Lunar New Year juga dinamakan Chun Jie kami berkumpul dengan keluarga kedua putra saya, karena putri saya dengan keluarganya bervakansi ke Swiss, sekalian bermain ski disana.

Baik tetangga kami di Breda dan juga tetangga putra kami  di Rotterdam menyampaikan “Slamat Chun Jie”. Diantara mereka ada yang tanya pada kami apakah kami masih masih mempunyai hubungan perasaan, tertarik dengan Tiongkok.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Aku tersenyum dan berkata: "Anda menanyakan hal ini berarti bahwa Anda juga tertarik dengan kemajuan di Tiongkok, tetapi siapa di dunia ini yang tidak tertarik pada perkembangan ekonomi yang cepat dan dianggap sebagai negara adidaya?" Kami tertawa bersama-sama pada pertanyaan dan jawabannya. Koran-koran hampir setiap hari terdapat tulisan-tulisan tentang Tiongkok, atau menyebutnya negara itu. Kita masih berkata barang apa saja yang kita pakai sehari-hari dari barang yang biasa-biasa sampai yang lux adalah “Made in China” atau sebagian, sparepartnya made in China.

Banyak negara-negara yang kemajuan ekonominya disebabkan karena kekayaan dari alamnya dan terkenal dalam hal ini ialah minyak. Kemajuan Tiongkok adalah disebabkan karena kegiatan dan creativitas dari rakyatnya untuk berproduksi dari barang-barang pemakian sehari-hari sampai mobil, computer dan lain-lainnya.

Dalam bidang politik dan ketata-negaraan Tiongkok mengambil jalan membenahi dulu ekonomi dan pelahan-lahan kebebasan penghidupan rakyat dan kebebasan pribadi. Rakyat boleh bekerja dimana mereka mau, tidak seperti dulu ditentukan oleh negara, membuka perusahan, sekolah dan bervakansi keluar negeri, dan seterusnya.


Demokrasi hanya dapat dicapai jika umumnya rakyat sudah merupahkan klas menengah dan sudah memiliki kehidupan yang baik, dapat berpikir yang rasionil dan dapat melakukan apa yang mereka inginkan. Tetapi jika perekonomian dalam kondisi yang susah, kita tidak bisa memiliki demokrasi yang ada ialah penindasan dan ketidak adilan.


Rakyat umumnya lebih memilih keamanan, stabilitas dan kemajuan ekonomi dari pada demokrasi. Pemimpin Barat mengatakan sesuatu yang berbeda dari demokrasi dan hak asasi manusia di Republik Rakyat Tiongkok, mereka menganggap dan mengklaim bahwa di
Republik Rakyat Tiongkok yang ada ialah represi dan hak asasi manusia tidak dihormati disana.


Pengalaman dari banyak negara-negara ketiga kalau para pemimpin Tiongkok mengikuti para kritisi Barat dan medahulukan demokrasi daripada perekonomian mungkin diperlukan seratus tahun atau lebih untuk mencapai kemajuan erkonomi dan sains seperti apa yang sudah dicapai oleh rakyat Tiongkok sekarang ini. Maka rakyat Tiongkok yang telah menderita begitu lama tetap susah dan dipandang rendah, dan kita masih belum  berbicara tentang hidup chaotis, kekacauan karena kemiskinan, tidak ada kedamaian dan stabilitas dalm negeri.

Kami dapat melihat negara-negara di Eropa Timur di mana demokrasi telah ditegakkan di sana, yang dipimpin oleh para pemimpin reformis, tetapi ekonomi mereka berada dalam keadaan  kesusahan dan negara berada dalam kekacauan. Para pemimpin Republik Rakyat Tiongkok memilih dahulu keamanan, stabilitas dan ekonomi lebih penting dari pada demokrasi, yang mungkin kemudian secara bertahap meningkat ke demokrasi. Bukankah kita membangun rumah terlebih dahulu membuat fondasi yang kuat lalu batu-bata satu-persatu disusun dengan baik.

Sebuah bukti yang baik sebagai contoh ialah mengapa
Republik Rakyat Tiongkok telah mencapai perkembangan ekonomi yang lebih cepat bahkan sudah melalui  Rusia. Padahal Rusia sudah berada dalam teknologi dan ekonomi sebagai negara adidaya yang kedua setelah Amerika Serikat. India yang dianggap oleh negara-negara Barat sebagi negara demokrasi terbesar dikuantifikasi di dunia tetapi dalam kemajuan ekonomi masih cukup jauh dibelakang Tiongkok. India sekarang dibantu oleh USA dalam bidang nuklir untuk menandingi RRT yang sudah sangat maju dalam bidang nuklir dan angkasa.


Tiongkok pada tahun 1978 setelah Revolusi Besar Kebudayaan Proletar dalam bidang ekonomi masih dianggap sebagai negara yang miskin akibat berevolusi yang tiada hentinya. Sekarang ini kemajuan dibidang budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan di dunia internasional belum pernah ada negara yang rakyatnya begitu padat mencapai kecepatan yang spektakuler seperti Tiongkok.

Saya bertanya pada diriku sendiri, mungkinkah Tiongkok menginvestasi pabrik diluar negeri untuk memproduksi barang-barang yang lebih murah lagi?  Saya rasa sermentara ini tidak mungkin, karena produk-produk Tiongkok yang dijual dinegara manapun bahkan di negara yang tenaga kerja murah, tokh masih dirasakan murah disbanding kalau barang itu dibuat local. Kenapa demikian, ini susah dijawab. Bagi saya ialah karena ajaran Lao Zi dan Zhuang Zi dengan teori “Wu Wei” ialah efisiensi yang hebat!

Dr. Han Hwie-Song

Breda, 14 Februari 2010 (Tahun Baru Imlek)
Nederland

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1667-renungan-imlek-dan-demokrasi-tiongkok

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto