A+ A A-

Tanggapan Terhadap "Dilemma Kemanusiaan Dibalik Kemajuan"

  • Written by  Golden Horde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | (Adm : Tulisan ini merupakan tanggapan terhadap "Dilemma Kemanusiaan Dibalik Kemajuan" yang ditulis oleh Harry Adinegara)  . Kondisi kerja buruh yang buruk dan upah buruh yang dibayar dibawah upah minimum dijumpai juga pada perusahan-perusahan yang dimiliki oleh asing seperti pada pemasok Apple Computer yang dioperasikan oleh sebuah perusahan Taiwan (Taiwan's Foxcom Technology Group ) di Tiongkok yang memproduksi iPod music player.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Beberapa pemasok barang Wal-Mart (Department Store terbesar dari  Amerika) juga mendapatkan tuduhan serupa, seperti ada salah satu perusahannnya yang hanya menyediakan satu kamar mandi untuk 2000 karyawan. (1) 

Karena kondisi kerja para buruh yang buruk ini, maka Gabungan  Federasi Serikat Buruh Tiongkok (All China Federation of Trade Unions) mengharuskan setiap perusahan untuk bergabung dengannya agar dapat dimonitor kondisi dan lingkungan kerjanya serta kesejahteraan buruhnya. Sudah tentu banyak perusahan yang mencari alasan untuk menghindari serikat buruh ini.

Berita dan laporan yang menyebutkan bahwa Tiongkok menganggarkan $ 136 miliar untuk R&D pada tahun ini, adalah laporan yang dikeluarkan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan bukan dari laporan resmi pemerintah Tiongkok. Biro Nasional Statistik Tiongkok (China's National Bureau of Statistics) melaporkan anggaran tahun lalu untuk R&D hanya $30 miliar.

Tiongkok mempertanyakan angka yang sebesar ini yang tidak sesuai
dengan kenyataannya, karena bagaimana dapat melonjak angkanya dari $30 miliar menjadi $136 miliar? suatu peningkatan 22 %?. Disebutkan juga bahwa anggaran ini adalah kedua terbesar sesudah Amerika (($330 miliar) dan sudah melampaui Jepang ( $130 miliar), sedangkan yang sebenarnya adalah bahwa anggaran R & D yang terbesar didunia sesudah Amerika adalah gabungan negara EU (European Union) yaitu sebesar $230 miliar.(2)

Memang Tiongkok telah mengalami kemajuan yang pesat dalam
pengeluaran untuk R&D selama ini, tetapi angka ini adalah tidak sesuai dengan kenyataannya. OECD membuat laporan ini berdasarkan daya beli mata uang didalam negeri atau istilahnya "Purchasing Power Parity" (PPP), jadi angka yang dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah Tiongkok ini dianggap empat kali kekuatan daya belinya didalam negeri dengan jumlah dollar yang sama.

Seorang Profesor dari universitas Tsinghua mengatakan bahwa
laboratorium-laboratorium di Tiongkok yang modern dan canggih, sebagian besar dilengkapi dengan peralatan atau instrumen yang diimpor dari luar negeri atau pasar internasional. Jadi basis perhitungan berdasarkan purchasing power disini adalah tidak tepat untuk digunakan.

Anggaran R&D Tiongkok saat kini sekitar 1,5% dari GDP, sedangkan
Jepang sekitar 2,7%. Direncanakan Tiongkok akan meningkatkan anggaran R&D-nya menjadi 2,5% pada tahun 2020, yang diperkirakan baru akan mencapai $115 miliar .(3)

Hal yang hampir sama juga dilaporkan dengan anggaran pertahanan
Tiongkok. Pentagon melaporkan dengan membesar-besarkan anggaran
pertahanan Tiongkok. Menurut hasil penelitian dua lembaga penelitian swasta Amerika (Natural Resources Defence Council dan Federation of American Scientist), laporan Pentagon yang membesar- besarkan perkembangan persenjataan Tiongkok serta ancamannya, bertujuan untuk mendapatkan legitimasi atau alasan dari publik dan pemerintah Amerika untuk memgembangkan dan memproduksi persenjataannya sendiri lebih lanjut, sama seperti pada ketika perang dingin yaitu perlombaan senjata dengan Uni Soviet.

Dengan hancurnya Uni Soviet ditahun 1989, maka Amerika harus
mencari alasan dan musuh (feindbild) baru untuk tetap ada alasan dan legitimasi mendukung industri persenjataan strategisnya, dan Tiongkok adalah kandidat yang dianggap paling cocok dan tepat serta dapat mengisi kevakuman ini. Perang melawan terorisme atau perang di Irak dianggap tidak cukup kuat alasannya untuk mendapatkan legitimasi mengembangkan persenjataan modern dan strategis, karena perang di Irak hanya sebuah bentuk peperangan dalam skala intensitas terbatas atau L I C (Low Intensity Conflict).

Sebagai perbandingan, anggaran pertahanan Tiongkok pada tahun 2004
berjumlah sekitar $25.5 miliar, sedangkan anggaran pertahanan
Amerika sekitar $455.9 miliar atau 17.8 kalinya anggaran pertahanan Tiongkok atau per-kapitanya 77 kali anggaran Tiongkok.

Dengan membesar-besarkan anggarannya ini, maka Tiongkok dianggap
sebagai faktor ancaman (threat) bagi keamanan Amerika dan Barat
sebagai tujuan politiknya, sekaligus untuk memancing Tiongkok kedalam perlombaan senjata seperti dalam perang dingin yang menjadi
salah satu penyebab jatuhnya Uni Soviet. Pada hakikatnya Tiongkok masih tertinggal dibidang ilmu dan teknologi dengan Amerika, Jepang
dan negara Barat lainnya, walaupun jurangnya mulai mengecil dari tahun ke tahun.

Seperti halnya dengan teknologi mesin jet pesawat tempur modern
angkatan udara Tiongkok J-10 dan J-11 yang dikembangkannya. Peswat
tempur ini masih menggunakan mesin jet turbofan buatan Rusia, karena mesin jet turbofan buatan dalam negerinya masih dalam tahap percobaan dan pengembangan.

Seperti diketahui bahwa perkembangan R&D yang maju dan modern
dibidang sipil dapat digunakan atau dimanfaatkan juga untuk pengembangan teknologi militer, seperti Satelit dengan roket sebagai wahana peluncurnya (dapat digunakan sebagai ballistic missile). Jadi
memiliki sifat ganda (dual purpose) yaitu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan industri sipil maupun militer.

Jadi dengan meningkatnya anggaran R&D Tiongkok, maka Amerika
mempunyai alasan lagi untuk meningkatkan R&D-nya sendiri, supaya
tidak tertinggal dibidang teknologi dan ilmu pengetahuannya, termasuk ekonomi dan militernya serta akhirnya industri persenjataan dan ruang angkasanya juga.

Ketika pada tahun 1957 (Sputnik crisis), Uni Soviet meluncurkan
Sputnik ke ruang angkasa untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, Amerika terkejut dan merasa tertinggal teknologi ruang angkasanya, lalu anggaran R&D nya drastis ditingkatkan untuk menyusul ketinggalannya dan baru pada tahun 1958 (jaman Eisenhower) dapat meluncurkan satelit pertamanya. Ini adalah awal dari perlombaan ruang angkasa dan persenjataan (ballistic missile) yang merupakan titik balik dan menentukan dalam perang dingin (turning point of the Cold War).

Jadi sebenarnya Tiongkok tidak mempunyai alasan untuk berbangga
dengan angka yang dikeluarkan oleh OECD ini, karena mengingat
sejarah perang dingin dan laporan-laporan Pentagon yang membesar- besarkan ancaman Tiongkok, maka bisa saja hal ini mempunyai suatu
tujuan politik.

Salam

Golden Horde , 22272

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

CATATAN KAKI :

  1. http://www.usatoday.com/money/industries/retail/2006-12-08-walmart-china_x.htm
  2. http://www.oecd.org/document/26/0,2340,en_2649_201185_37770522_1_1_1_1,00.html
  3. http://www.businessweek.com/magazine/content/06_45/b4008057.htm


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1893-tanggapan-terhadap-dilemma-kemanusiaan-dibalik-kemajuan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto