A+ A A-

Faktor Internal Dan External Kemunduran Tiongkok Di Masa Dinasti Qing

  • Written by  Rinto Jiang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Kemunduran Tiongkok di masa akhir Dinasti Qing adalah karena masalah internal, namun setelah kedatangan kekuatan asing sejak permulaan Dinasti Qing keadaan nampaknya memburuk. Apakah kita bisa memungkiri bahwa ada pengaruh kekuatan asing terhadap percepatan kemunduran Tiongkok tadi? Apakah ada yang berani menjamin bahwa tidak ada faktor kekuatan asing dalam mempercepat keruntuhan Qing? Saya kira anda harus objektif dalam hal ini, saya mengakui bahwa keruntuhan dan kemunduran Tiongkok adalah faktor internal dan dipercepat oleh faktor eksternal (kekuatan asing).

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Era wild-west atau era apapun namanya tidak akan memungkiri bahwa pengaruh kekuatan asing di Tiongkok adalah lebih banyak negatif-nya bagi kehidupan rakyat Tiongkok pada masa tersebut. Anda mungkin cuma melihat dari kacamata positif yang menganggap bahwa datangnya kekuatan asing membawa pembebasan dan nilai baru bagi Tiongkok. Memang nilai positifnya tidak dapat kita pungkiri, namun tidak langsung menghilangkan pengaruh negatifnya tadi. Dinasti Qing bukan pemerintahan yang baik di Tiongkok walaupun ada kemakmuran di masa pemerintahan Kaisar Kangxi, Yungzheng dan Qianlong, namun itu kemakmuran semu. Dan bila anda menganggap bahwa Tiongkok yang lemah dan era wild-west melegitimasi kekuatan asing menindas dan menjajah di Tiongkok, saya tidak setuju.

Candu adalah salah satu bukti yang sangat jelas membuktikan nilai negatif dari kekuatan asing di Tiongkok. Candu dilarang pada tahun 1815, namun kemudian sejarah membuktikan kekuatan asing kembali memaksakan kehendak mereka dengan peperangan dan kekerasan. Bila tidak ada candu, saya yakin keadaan tidak akan separah itu sampai2 timbul perlawanan seperti kerusuhan Boxer tadi.

Mengenai masalah Kristen Tiongkok yang menindas rakyat, jangan sampai kita memvonis bahwa sesuatu itu adalah tidak ada bila kita tidak melihatnya. Bila mau objektif seharusnya anda juga melongok2 sumber yang dari Tiongkok sini, apa sebenarnya yang terjadi pada waktu itu sehingga mereka bisa dibunuh? Tidak boleh cuma merujuk pada sumber2 berbahasa Inggris di luar negeri dari Barat bahkan yang ekstrim seperti Vatikan yang pasti hanya akan memilah yang baik2 untuk dibukukan dalam sejarah mereka. Lalu apakah sumber2 Tiongkok ini harus kita percayai secara sepihak? Tidak, saya tidak menganjurkan begitu. Namun saya mengajak anda untuk memikirkan mengapa peristiwa2 kontra antara misionaris (asing/Kristen) dengan kebudayaan lokal bisa terjadi?

Kerusuhan Boxer tidak terjadi dan tersulut dalam semalam dua malam, namun merupakan suatu ketidakpuasan yang telah terakumulasi sejak lama. Dari tahun 1844 sampai 1900 (pecahnya Boxer), konflik antara penduduk lokal dengan misionaris Kristen/Katolik ada tercatat sebanyak 1600-an, di antaranya ada 400 kasus yang tergolong konflik besar termasuk peristiwa Boxer. Ini yang tercatat, belum lagi yang tidak tercatat. Dalam kasus2 ini, misionaris ataupun umat Kristen yang terbunuh mayoritas disebabkan karena mereka melanggar peraturan dan traktat yang ditandatangani antara pemerintah Qing dengan negara asing. Bila mereka kemudian terbunuh karena tindakan mereka yang agresif kita harus menyesal, namun di lain pihak kita juga harus mempertanyakan mengapa mereka dibunuh? Mengapa cuma ratusan misionaris asing maupun lokal terbunuh dalam misionari Katolik dan Kristen padahal sampai pada penghujung abad 18, jumlah misionaris Katolik ada tercatat sebanyak 800 orang dan Kristen 1500 orang dengan jumlah umat Katolik Tiongkok 700.000 orang, Kristen Tiongkok 80.000 orang. Data ini saya dapat dari buku "Zhong Guo Jin Shi Shi Shang De Jiau An" yang artinya "Konflik agama (Kristen/Katolik) dalam Sejarah Modern Tiongkok".

Mengapa tidak dibunuh semuanya? Dari sini saya ingin mengarahkan bahwa konflik yang terjadi pasti ada sebabnya dan mayoritas adalah disebabkan karena keagresifan dari misionaris tersebut. Orang Tionghoa tidak benci ajaran baru tersebut, namun mereka membenci cara2 penyebarannya dan itulah yang menyebabkan konflik tadi di mana konflik seperti itu tidak terjadi pada penyebaran agama Buddhis, Orthodox, Islam dan malah Zoroaster di Tiongkok. Beberapa dari misionaris yang terbunuh malah tidak sepantasnya mendapat penghormatan dari Vatikan karena tingkah laku mereka yang tidak sesuai dengan latar belakang mereka sebagai penyiar agama, misalnya St. Auguste Chapdelaine ataupun St. Franciscus de Capillas yang mendapat gelar Santo dari Vatikan.

Konflik2 seperti ini biasanya diselesaikan dengan hukuman mati ataupun parampasan tanah oleh pejabat korup pemerintah Qing yang berkongkalikong dengan kekuatan asing untuk kemudian diserahkan kepada misionaris dan pihak Gereja buat disewakan kembali kepada petani ataupun mendirikan gereja baru. Komersialisasi yang menumpang misionari agama ini terlebih2 pada penyebaran agama Katolik karena agama Katolik tidak mendapat dukungan dana dari negara2 asal mereka. Lain dengan misionari agama Kristen yang mendapat sokongan dana dari lembaga2 gereja dan yayasan di AS, Inggris dan Kanada. Inilah yang kemudian menyebabkan 3/4 dari seluruh konflik yang tercatat adalah konflik yang melibatkan misionaris Katolik dibanding misionaris Kristen. Tanah2 yang dimiliki oleh lembaga gereja Katolik di Tiongkok pada waktu itu sedemikian luasnya sehingga muncul anekdot di masyarakat waktu itu yang memelesetkan kata "Tian Ju Jiau = agama Katolik" menjadi "Di Ju Jiau = agama Tuan Tanah".

Demikian pula dengan monopoli perdagangan candu yang tentunya juga dijalankan oleh orang2 Katolik maupun Kristen Tiongkok yang punya koneksi dan hubungan ke supplier2 candu yang notabene adalah kekuatan asing. Jadi jangan menganggap semua orang Kristen/Katolik Tiongkok itu sebagai umat tak berdosa karena sebagian dari mereka telah mendompleng kekuatan asing untuk menindas rakyat kecil Tiongkok pada masa tersebut. Pada waktu tersebut, kekuatan asing malah lebih ditakuti daripada pemerintah Qing sendiri.

Friksi dengan Islam tidak boleh dibandingkan dengan konflik yang komposisi, karakteristiknya berbeda di zaman tersebut. Mengapa Islam, Orthodox dan agama2 lainnya dapat bersanding dengan damai tanpa ada peristiwa besar seperti Boxer dan konflik2 kecil lainnya yang melibatkan Kristen dan Katolik? Ini menunjukkan ada yang salah pada cara2 misionari dan penyebaran agama yang menyebabkan konflik tadi. Dan jangan menganggap bahwa semua orang bisa serasional kita di masa sekarang ini yang dapat bertoleransi terhadap misionari-misionari agresif seperti itu. Saya tidak setuju dengan konflik dan pembantaian tadi, tapi terus terang saya juga simpati terhadap mereka yang ingin bangkit dan melawan penindasan orang asing + misionaris tadi. Simpati tidak harus berarti setuju, tapi jangan sampai kita menggunakan kacamata orang sekarang untuk menghakimi orang di zaman tersebut, di mana humanisme belumlah sepopuler sekarang.

Kembali kepada kerusuhan Mei 1998, menghubungkan dan menyamakan kerusuhan Mei 1998 dengan Boxer adalah terlalu dipaksakan hanya karena motivasi di dalamnya. Boxer adalah satu perlawanan melawan penjajah dan ketidakadilan walaupun itu tidak benar, lain dengan kerusuhan Mei 1998 yang di dalamnya tidak ada faktor agresor (penjajah), misionari agama dan lain2. Boxer bisa disandingkan dengan invasi AS ke Irak, namun bila kemudian ada yang terbunuh atau menjadi korban di sana maka itu ada resiko yang memang harus ditanggung dan pasti disadari oleh orang2 yang menjadi korban tadi setelah memutuskan untuk terjun ke dalam daerah kalut dan tidak aman tadi. Kita tidak bisa mengharapkan teroris2 Irak maupun kaum fundamentalis dan nasionalis Boxer untuk mempunyai rasionalitas seperti kita. Singkatnya, terkadang pemikiran ala Barat walaupun itu lebih maju janganlah langsung mau memaksa orang Timur untuk berpikiran seperti Barat, apalagi dengan cara misionaris yang kurang etis yang langsung menghancurkan sendi2 budaya tradisional. Jadi, bila ingin menyalahkan Boxer, maka kita juga harus menyalahkan misionaris dan kekuatan asing yang menginvasi  dan meng-eksploitasi Tiongkok. Bila mereka tidak ada di sana, maka tidak akan ada peristiwa dan konflik tersebut dalam sejarahnya.

Bagi saya, anda masih terlalu sektarian dan sepihak tanpa melihat data2 serta sumber2 dari kedua belah pihak, saya yakin monopoli candu dan projek komersial seperti penyewaaan tanah, tengkulak dan lintah darat serta monopoli candu yang dilakukan sejalan dengan misionari asing dan lokal agama2 Barat dan juga umat2 lokal ini tidak akan pernah ada dalam sejarah Vatikan. Juga kelakuan2 yang tidak sesuai dengan etika dan nilai keagamaan dari sebagian misionaris juga tidak akan pernah ada dalam kacamata orang Barat. Tidak pernah mendengar dan melihat, tidak berarti tidak ada. Yang pasti, saya melihat adanya pandangan yang lebih objektif oleh ahli sejarah Tiongkok, Taiwan dan HK dalam melihat peristiwa Boxer dan konflik ini. Mereka juga mencatat adanya misionaris yang baik dan tidak menggeneralisasi, kontras dengan Vatikan dan sumber2 Barat lainnya yang tidak memandang sisi negatif dan faktor munculnya konflik tadi. Bagi orang Barat, humanisme adalah cuma berlaku pada orang2 sekaum (sektarian) dan penindasan terhadap orang lain (rakyat kecil) tidak akan dianggap sebagai pelanggaran humanisme.

Terakhir, saya juga tidak akan memungkiri nilai baru yang positif yang dibawa bersama2 oleh misionaris serta orang asing tersebut ke Tiongkok. Nilai2 baru ini memang mencerahkan dalam beberapa aspek terutama aspek politis-nya, namun jangan pernah punya pikiran bahwa hanya dengan mengadopsi seluruh nilai2 Kristen tersebut suatu bangsa baru akan bangkit dari keterbelakangannya. Taiwan, HK dan Singapura juga bisa makmur dan maju dengan nilai2 tradisionalnya dan menunjukkan eksistensi mereka ke dalam percaturan internasional. Bila ada yang tidak setuju dengan kita, jangan dipaksa untuk setuju menerima pendapat kita atau harus cerdas menurut definisi kita. Itu terlalu arogan. Saya dalam beberapa kesempatan selalu menyatakan kebebasan dan kemerdekaan untuk mempunyai pendapat, bila orang lain hidup bahagia dengan pandangannya, apa hak kita untuk mengganggu gugat kebahagiaan mereka terlepas dari di mana domain mereka berada.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/194-faktor-internal-dan-external-kemunduran-tiongkok-di-masa-dinasti-qing

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto