A+ A A-

Bedanya Menyadur , Terjemahan Bebas & Adaptasi

  • Written by  Zhou Fuyuan
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Sebenarnya, "menyadur" itu lain dengan menerjemahkan/ mengalih bahasakan . Istilah yang sekarang lebih umum digunakan adalah "adaptasi." Yang paling lazim, adaptasi dilakukan antar dua bidang seni, misalnya film yang ceritanya mengadaptasi sebuah novel. Dalam bidang sastra, bisa juga sebuah karya mengadaptasi sebuah cerita rakyat.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Adaptasi prinsipnya adalah mengambil bahan pokok untuk dikembangkan. Detail ceritanya bisa sama sekali baru, bahasa ungkapnya juga harus lain. Jadi, cerita-cerita silat dari Hongkong dan Taiwan yang beredar dalam bahasa indonesia sama sekali tak bisa disebut adaptasi atau menyadur. Karena tak ada pengembangan cerita ataupun memakai bahasa ungkap yang sama sekali baru.

Mereka tetaplah karya tejemahan. Istilah saduran yang sering ditempel di cover hanyalah sekedar akal-akalan agar terhindar dari gugatan hak cipta. Kembali ke istilah "menyadur", definisi resminya adalah:

"menyusun kembali cerita secara bebas, tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain" (KBBI  Edisi-II, Cetakan Ke-9, 1997, halaman 859).

Contoh karya OKT yang sering dianggap sebagai menyadur. Ini terlalu menggampangkan kerja "menyadur"! Saya kira definisi KBBI masih terlalu kasar. Belum bisa langsung dipakai untuk menggambarkan secara jelas.

Tapi, dari definisi ang sederhana itupun, "menyusun kembali cerita secara bebas, tanpa merusak garis besar cerita", kita akan tahu bahwa menyadur harus dengan "menyusun kembali."

Apakah menyusun kembali hanya sekedar membolak balik susunan kalimat atau susunan peristiwa? Atau sekedar mengedit, mengurangi dan menambah? Kalau hanya itu, baru pantas kita sebut terjemahan bebas!

Menyadur harus lebih dari itu. Harus ada sesuatu yang baru diluar cerita asli, "Tanpa merusak garis besar cerita". Pengembangan cerita tak berarti megubah garis besar cerita, misalnya kita tahu cerita garis besar cerita Sampek Engtai, tapi adegan pertemuan dan perpisahan mereka, detail percakapan mereka, bisa saja kita kembangkan sendiri.

Istilah OKT "dituturkan kembali" juga membingungkan, mahluk apakah ini? Kesannya tidak fair. Karena saya pernah periksa karya OKT sepenuhnya masih berupa terjemahan, pola kalimatpun masih sangat setia! Kalau dia mengubah disana sini karena selera dia, ini sebenarnya justru sebuah cacat! Ini berarti merusak karya orang lain! Lain halnya jika dia membuat adaptasi total, ending cerita mau dibelokkan juga haknya dia.

Karena banyak pembaca cerita silat disini merasa sangat behutang pada OKT,  sering kali sikap kritis juga ikutan hilang.

Zhou Fuyuan , 34.0.43.24.06.08

Budaya-Tionghoa.Net Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1945-bedanya-menyadur--terjemahan-bebas--adaptasi

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto